NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang sama

Aroma kopi hitam bercampur harum nasi goreng memenuhi ruang makan apartemen mungil itu. Nadira berdiri di depan kompor dengan gerakan hati-hati, satu tangannya menopang punggung bawahnya yang pegal, sementara tangan lainnya mengaduk nasi goreng di wajan dengan spatula kayu. Perutnya yang membuncit besar... hamil delapan bulan membuat setiap gerakannya terasa lebih lambat, lebih berhati-hati.

Ia mengangkat wajan itu dan menuangkan nasi goreng ke dalam dua piring putih yang sudah disiapkan. Uap hangat mengepul, membawa aroma bawang putih dan kecap manis yang menggugah selera. Nadira tersenyum tipis sambil menata piring-piring itu di atas meja makan sederhana yang hanya cukup untuk dua orang.

Di sampingnya, dua cangkir kopi sudah terhidang. Satu dengan gula, untuk Raka. Satu lagi tanpa gula, untuk dirinya, meski akhir-akhir ini ia lebih sering hanya menghirup aromanya daripada meminumnya. Dokter bilang ia harus membatasi kafein.

Nadira melirik jam dinding. Pukul tujuh lewat lima belas menit. Sebentar lagi Raka akan turun.

Ia merapikan tatanan meja sekali lagi, memastikan semuanya sempurna. Sendok garpu tersusun rapi. Tisu dilipat di samping piring. Gelas air putih sudah terisi penuh. Nadira selalu melakukan ini, menyiapkan sarapan dengan sepenuh hati, seolah-olah itu adalah caranya mengatakan "aku mencintaimu" tanpa kata-kata.

Suara langkah kaki dari tangga membuat Nadira menoleh. Raka turun dengan langkah santai, kemeja putih lengan panjangnya sudah rapi terpasang, dimasukkan sempurna ke dalam celana kain abu-abu gelap. Dasi biru dongker melingkar longgar di lehernya, belum dikencangkan. Rambutnya yang hitam legam disisir rapi ke belakang, membuat wajahnya terlihat lebih tegas, lebih dewasa.

"Selamat pagi," sapa Nadira dengan senyuman manisnya yang khas. Senyuman yang selalu ia berikan setiap pagi, senyuman yang sudah menjadi bagian dari rutinitas mereka selama tiga tahun terakhir.

Raka mendongak, mata cokelatnya bertemu dengan mata Nadira. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. "Pagi."

Ia melangkah mendekat, mencium singkat puncak kepala Nadira sebelum duduk di kursi menghadap jendela. Kebiasaan. Raka selalu duduk di sana, di tempat yang sama setiap pagi.

"Kopi dan nasi goreng," ucap Nadira sambil ikut duduk di kursi seberangnya, gerakannya sedikit lambat karena perut besarnya. "Aku tambahkan telur ceplok dan potongan tomat. Kamu suka, kan?"

"Hmm." Raka mengangguk sambil mengambil sendok. "Terima kasih."

Mereka makan dalam diam yang nyaman. Suara sendok garpu bersentuhan dengan piring menjadi musik pagi itu. Sesekali terdengar desiran angin dari jendela yang terbuka sedikit, membawa kesegaran udara pagi yang sejuk.

Nadira memperhatikan Raka dari balik cangkir kopinya. Pria itu makan dengan tenang, sesekali mengunyah sambil melirik ponselnya yang tergeletak di samping piring. Wajahnya tampak fokus, mungkin sedang memikirkan pekerjaan, atau meeting pagi yang harus ia hadiri.

Sudah tiga tahun Nadira mengenal wajah itu. Tiga tahun ia mencintai pria itu. Tiga tahun ia setia menunggu, berharap, percaya bahwa suatu hari nanti mereka akan menikah. Menjadi suami istri yang sah di mata hukum dan Tuhan.

Tapi sampai detik ini, janji itu belum juga terwujud.

Nadira menarik napas pelan. Jari-jarinya meremas ujung daster baju rumahnya yang longgar. Di dalam dadanya, ada pertanyaan yang sama... pertanyaan yang sudah sering ia ajukan, tapi selalu mendapat jawaban yang sama pula.

Tapi pagi ini, ia harus bertanya lagi. Ia harus.

Karena perutnya sudah sebesar ini. Bayinya... bayi mereka akan lahir sebentar lagi. Mungkin dalam hitungan minggu. Dan Nadira tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

"Raka," panggilnya pelan.

"Hmm?" Raka tidak mengangkat kepalanya, masih fokus pada nasi goreng di piringnya.

Nadira menelan ludah. Tangannya turun, menyentuh permukaan perutnya yang membuncit besar. Ia merasakan gerakan lembut dari dalam, bayinya menendang. Sebuah kehidupan kecil yang sedang tumbuh di sana, menunggu untuk dilahirkan ke dunia.

"Kapan kita menikah?"

Pertanyaan itu keluar lebih lirih dari yang ia rencanakan. Nyaris berbisik. Tapi di tengah keheningan pagi itu, kata-katanya terdengar jelas. Terlalu jelas.

Suapan Raka berhenti di udara.

Jari-jarinya menggenggam sendok lebih erat. Tubuhnya menegang... sangat halus, tapi Nadira bisa merasakannya. Ia sudah cukup lama mengenal Raka untuk tahu kapan pria itu merasa tidak nyaman.

Raka menurunkan sendoknya perlahan. Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia meletakkan sendok itu di samping piring, lalu mengambil cangkir kopinya, menyesap pelan seolah membeli waktu.

"Nadira..." Suaranya rendah, hati-hati. Seperti seseorang yang berjalan di atas tanah rapuh.

"Aku sudah hamil delapan bulan, Raka," lanjut Nadira, kali ini suaranya sedikit lebih tegas meski masih lembut. "Sebentar lagi aku akan melahirkan. Bayi kita akan lahir. Dan... aku hanya ingin tahu. Kapan kita akan menikah?"

Raka menatap cangkir di tangannya. Rahangnya mengeras. Ada jeda panjang sebelum ia akhirnya angkat bicara.

"Aku... belum siap."

Tiga kata itu jatuh seperti palu. Berat. Dingin.

Nadira menundukkan kepalanya. Tangannya masih berada di atas perutnya, jari-jarinya gemetar sedikit. Belum siap. Tentu saja. Jawaban yang sama. Selalu sama.

"Belum siap," ulang Nadira pelan, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Kamu selalu bilang begitu."

"Nadira, dengarkan aku." Raka meletakkan cangkirnya dan menatap Nadira dengan serius. "Aku baru saja dipromosikan jadi manajer. Kamu tahu itu, kan? Ini posisi besar. Tanggung jawabnya juga besar. Aku harus fokus membuktikan diri. Aku tidak bisa tiba-tiba ambil cuti panjang untuk... hal seperti ini."

"Hal seperti ini?" Nadira mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca meski ia berusaha keras menahannya. "Maksudmu pernikahan? Atau kelahiran anak kita?"

"Bukan begitu maksudku." Raka mengusap wajahnya frustasi. "Kamu tahu aku tidak bermaksud seperti itu."

"Lalu apa maksudmu, Raka?" Nadira mencoba menjaga suaranya tetap tenang, tapi ada getaran di sana. Getaran kekecewaan yang sudah ia tahan terlalu lama. "Ini bukan kali pertama aku bertanya. Bahkan sebelum aku hamil, aku sudah bertanya berkali-kali. Dan kamu selalu bilang 'belum siap'. Kapan kamu akan siap? Setelah bayinya lahir? Setelah ia bisa berjalan? Atau setelah ia masuk sekolah?"

"Nadira, jangan seperti ini." Raka menggeleng. "Aku hanya butuh waktu. Karirku baru mulai menanjak. Kalau aku menikah sekarang, semua orang akan tahu kamu hamil duluan. Itu akan merusak reputasiku di kantor."

Nadira terdiam. Kata-kata itu menampar pelan, tapi sakitnya terasa sampai ke dalam. Reputasi. Karir. Itu yang lebih penting?

Ia menggigit bibirnya, menahan tangis yang hampir pecah. Ia tidak ingin menangis. Tidak di depan Raka. Tidak lagi.

"Baiklah," ucap Nadira akhirnya, suaranya berubah datar. "Aku mengerti."

Tapi di dalam dadanya, ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti kenapa pria yang ia cintai... pria yang mengaku mencintainya masih saja menolak untuk mengikatnya secara sah. Padahal ia sudah memberikan segalanya. Waktu, hati, bahkan tubuhnya.

Dan sekarang, ada kehidupan baru di dalam rahimnya. Kehidupan yang mereka buat bersama. Tapi bahkan itu tidak cukup untuk membuat Raka mau menikahi dia.

Nadira mengalihkan pandangannya ke jendela. Langit pagi berwarna biru muda dengan gumpalan awan tipis. Dunia di luar tampak begitu tenang, begitu damai. Kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dadanya.

Ia mencoba tersenyum. Sebuah senyuman tipis yang rapuh, hampir tidak terlihat. Tapi itu adalah yang terbaik yang bisa ia lakukan untuk menutupi kekecewaannya.

"Aku mengerti, Raka," ulangnya, kali ini dengan nada yang lebih lembut. "Kamu sedang fokus dengan karir. Aku tidak ingin mengganggu itu. Aku... aku hanya berharap kita bisa menikah sebelum bayi ini lahir. Tapi tidak apa-apa. Aku bisa menunggu."

Lagi.

Kata itu tidak ia ucapkan, tapi tersirat jelas di sana. Aku bisa menunggu lagi.

Raka menatap Nadira dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada rasa bersalah di sana, mungkin. Atau mungkin hanya bayangan yang Nadira ingin lihat.

Ia menyadari sorot mata Nadira yang berubah. Mata itu tidak lagi berbinar seperti biasanya. Ada kepedihan di sana, tertutup rapi di balik senyuman yang dipaksakan.

Raka menghela napas panjang. Ia meraih tangan Nadira yang tergeletak lemas di atas meja, menggenggamnya erat.

"Nadira," ucapnya lembut. "Lihat aku."

Nadira mengangkat wajahnya perlahan. Mata mereka bertemu.

Raka mengangkat tangan Nadira, menciumnya dengan lembut... sebuah kecupan singkat di punggung tangannya. Gerakannya penuh kelembutan, seolah ia sedang mencoba menenangkan, memberi jaminan.

"Aku pasti akan menikahimu," ucap Raka dengan suara rendah tapi tegas. "Aku janji. Hanya saja... belum sekarang. Beri aku waktu sedikit lagi. Oke?"

Nadira menatap mata cokelat itu. Mata yang dulu membuatnya jatuh cinta. Mata yang dulu penuh kehangatan. Tapi entah kenapa, hari ini ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dingin.

Tapi ia mengangguk. Karena apa lagi yang bisa ia lakukan?

"Oke," bisiknya pelan.

Raka tersenyum... senyuman yang tampak lega. Ia berdiri dari kursinya, mendekat ke sisi Nadira, lalu membungkuk untuk mencium keningnya dengan lembut. Kecupan itu hangat, familiar, menenangkan.

Kemudian tangannya turun, menyentuh perut Nadira yang membuncit. Ia mengusapnya pelan, merasakan kehangatan dan kehidupan di sana.

"Kamu yang terbaik," bisik Raka di dekat telinga Nadira. "Aku beruntung punya kamu."

Nadira memejamkan mata. Ia membiarkan kehangatan sentuhan itu mengalir, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa Raka memang mencintainya. Bahwa janji itu akan ditepati.

Suatu hari nanti.

Raka melepaskan tangannya, meluruskan tubuh, lalu mengambil tasnya yang tergeletak di sofa. Ia merapikan dasinya di depan cermin kecil di sudut ruangan, memastikan penampilannya sempurna.

"Aku berangkat dulu ya," ucapnya sambil meraih kunci mobil dari meja kecil. "Jangan lupa makan siang. Kalau ada apa-apa, telepon aku."

"Hati-hati di jalan," balas Nadira dengan senyuman lembutnya, senyuman yang sudah kembali terpasang di wajahnya, meski matanya masih menyimpan kekecewaan.

Raka mengangguk, lalu berjalan menuju pintu. Ia membukanya, melangkah keluar, dan menutupnya pelan.

Klik.

Suara pintu tertutup itu bergema di ruangan yang sepi.

Nadira masih duduk di sana, sendirian, dengan piring nasi goreng yang baru disentuh sedikit dan secangkir kopi yang sudah mendingin.

Ia menatap pintu yang baru saja ditutup Raka. Tangannya kembali menyentuh perutnya, mengusapnya lembut dengan gerakan melingkar.

"Tidak apa-apa, sayang," bisiknya pelan pada bayi di dalam perutnya. "Papa janji akan menikahi mama. Kita hanya perlu menunggu sedikit lagi."

Tapi bahkan saat ia mengucapkan kata-kata itu, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa kosong. Sesuatu yang mulai retak.

Karena janji yang sama sudah ia dengar berkali-kali.

Dan setiap kali, ia hanya bisa menunggu.

Menunggu dalam diam.

Menunggu dengan harapan yang semakin tipis.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!