Laundry Yaya Dan Bening
Bab 1: Kado Pahit "Eh, besok sudah puasa. Sahur pertama di mana nanti?" Pertanyaan itu terdengar dari bangku di belakang Yaya saat bus Trans melaju membelah kemacetan pagi. Penumpang di sebelah
0
0
Aku
Suara rintik hujan masih terdengar. Aku membuka jendela kamarku, melihat sekeliling rumahku. Jalanan sangat sepi, tidak ada satu orangpun disana. Aku kembali duduk termenung, dan menunggu hujan berhen
0
0
Katanya Keindahan Ada di Sana
Manik hitam menatap lekat ke bawah sana, biru laut yang terlihat indah. Tapi apakah keindahan juga ada di dalamnya? Dia menginginkan sebuah hiburan, mungkin saja ‘kan keindahan dalam laut bisa menghil
0
0
Pilunya Nasib Seorang Hani
Cerita ini didasari dari sebuah perjuang hidup seorang wanita yang bernama Hani dalam memperjuangkan kebahagiaan dalam hidupnya. Hani yang usianya sekarang 28 tahun merupakan seorang wanita yang cukup
0
0
Last Melody
Hujan turun diluar, menemani siangku yang sepi. Aku memainkan biolaku, mencoba mengikuti irama hujan yang syahdu. Beberapa saat kemudian, pintu kamarku terbuka, dan muncullah bundaku sambil membawa pl
0
0
Andai Bisa Kuputar Waktu
Malam itu mata Aliya tak bisa terpejam, dia sudah berusaha menutup matanya rapat-rapat namun hasilnya nihil, dia tetap saja tidak bisa tertidur, tubuhnya mendadak lemas, lunglai dan panas dingin. Seak
0
0
Inner Contention
Segelas kopi hitam tersaji di atas meja Makan. Rasanya pahit, toples gulanya malam ini sudah terkikis sampai ke dasarnya. Sebenarnya aku ini siapa? Tamu atau bagian darimu? Aku menghela napas. Rasanya
0
0
Tak Bisa Mengulang Waktu
Pagi-pagi sekali, samar-samar sahutan ayam membangunkanku. Kala mentari masih malu-malu menampakkan dirinya. Kurasakan hembusan angin dingin membelaiku. Aku melirik ke jendela kamar yang sepertinya te
0
0
Arwah Yang Meminta Maaf Kepada Ibu
Ibunya sangat berharga baginya, bagaimana tidak. Setelah kepergian sang ayah tercinta yang sangat ia banggakan. Ibunya kini menjadi tulang punggung keluarga karena anak perempuan tercintanya masih dud
0
0
Sepenggal Kisah Dari Mereka Yang Tak Nyata (Masa Lalu Menyedihkan Si Pendiam)
Ini tentangnya, seorang makhluk dingin bernama Rasya Ananta Dirgantara. Laki-laki tampan, berbadan atletis, kaya, mendekati sempurna. Namun, ada yang orang lain tak tau. Makhluk sempurna itu memiliki
0
0
Cerita Kehidupan
“apa yang membuatmu kuat” “mereka” “keluargamu” “iya” “kenapa?” “aku hidup untuk keluargaku, bukan hanya untuk diriku sendiri. Ketika mereka bahagia, akupun ikut bahagia. Meskipun keadaannya tidak sam
0
0
Rain
Aku menangis dalam melodi hujan. Mengenang sebuah kenangan, yang tak mungkin kembali. Aku menjerit melampiaskan kemarahannya pada hujan. Yang telah melenyapkan seorang ‘Malaikat tak bersayap’ Pagi tel
0
0
Anakku Rumbun
Malam ini aku merasa bimbang menunggu kepulangan anakku Rumbun. Tak seperti biasanya dia pulang selarut ini. Rumbun anakku itu setiap harinya selalu mengemban tugasnya sebagai tulang punggungku dengan
0
0
Sepeda Bapak
Bocah lelaki itu sangat mengagumi Bapaknya. Tiap Bapaknya ada waktu luang setelah pulang dari kerja atau bertepatan ketika hari libur (tanggal merah), Bapaknya mengajarinya cara membuat layang-layang.
0
0
Neraka di Gang Sempit
“Lasmi.. Lasmi!”, teriakan Mak Ijom seraya mengetuk pintu rumah Lasmi. Suaranya ini terdengar hingga dua rumah di sampingnya. Pemilik rumah depan rumah Lasmi pun keluar, pasti dia mengira ada kejadian
0
0
Walau Tak Berarti
Saat kutermenung memandangi belahan langit biru yang luas. Aku merenung tentang sebuah hal yang ingin aku tanyakan. Apakah hakekat hidup itu? Itulah kata kata yang kutanyakan. Namun ini bukan soal itu
0
0
Atap
Di atas sebuah atap, seorang wanita berdiri mengambil ancang-ancang untuk melompat. Hatinya bergetar penuh keraguan atas konsekuensi dari tindakannya. Sementara orang-orang di bawah sibuk sendiri-send
0
0
Aku Menyesal Terlahir Sebagai Perenpuan
Dulu, aku teramat membencimu, sungguh. Kau telah melabrak keputusan Tuhan. Bukankah kita sama-sama telah dianugerahi dua gunung mustika dan satu gua permata yang ketika dijamah rasanya lebih nikmat ke
0
0
Mimpi
“Ayo, lompat saja! Tak apa, aku bersamamu” suara itu kembali muncul. Sejenak aku tertahan oleh hati nurani. Matahari mulai bersembunyi, langit berhenti menangis. Namun aku masih berdiri sendiri disini
0
0
Pergilah, Aku Hanyalah Monster
Di bawah naungan pohon besar itu, seorang remaja lelaki berusia 15 tahunan itu sedang duduk di bangku yang berada di situ. Dia Musa, seorang penuh akan kedukaan yang teramat menyedihkan. Dia sangat be
0
0