Bab 1: Kado Pahit
"Eh, besok sudah puasa. Sahur pertama di mana nanti?"
Pertanyaan itu terdengar dari bangku di belakang Yaya saat bus Trans melaju membelah kemacetan pagi.
Penumpang di sebelah penanya menjawab dengan nada yang tak kalah antusias. "Sahur pertama, kayaknya di rumah bareng keluarga."
Yaya terkekeh kecil mendengar percakapan itu. Walau dirinya tidak menunaikan ibadah puasa, mendengar binar suara orang-orang yang akan menjalankan ibadah tersebut terasa menghibur. Ada kehangatan yang menular; sebuah tradisi tahunan yang selalu membuat suasana terasa berbeda, lebih tenang sekaligus meriah.
Bus berhenti di halte tujuan. Yaya bangkit, lalu melangkah turun dengan mantap. Sebelum menuju tempat kerja, ia berhenti sejenak dan menarik napas panjang. Ia mengembuskan udara perlahan seolah mengumpulkan tenaga, kemudian mulai berjalan kaki menuju gedung kantornya.
Yaya adalah seorang pekerja biasa di bagian pembukuan yang menggantungkan hidupnya pada ketelitian angka.
Begitu tiba di ruangan, Yaya meletakkan tas dan segera duduk. Matanya langsung tertuju pada tumpukan map yang seolah tidak pernah berkurang. Ia mulai memeriksa deretan data pembukuan dengan teliti.
"Ah, sepertinya hari ini aku lembur lagi," keluhnya pelan sambil memijat pangkal hidung.
Yaya terus berkutat dengan berkas itu. Ia begitu larut hingga tidak menyadari jarum jam sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Yaya, sudah waktunya makan siang, ayo!" ajak salah satu rekan kerja yang berdiri di dekat kubikelnya.
Yaya menutup berkas, lalu menoleh dengan senyum tipis. "Duluan saja, nanti aku menyusul."
Rekan itu mengangguk paham dan pergi bersama rombongan lain.
Yaya tidak segera beranjak; ia kembali membuka map tadi. "Tinggal sedikit, aku akan menyelesaikannya baru makan," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Lima belas menit kemudian, Yaya menyandarkan punggung ke kursi dan tersenyum puas. Ia melirik jam tangan. "Cukup bagiku waktu lima belas menit untuk makan siang," pikirnya sebelum bergegas menuju kantin.
Salah satu hal yang paling disyukuri Yaya adalah fasilitas makan gratis. Perusahaan menyediakan makanan bagi seluruh karyawan, sehingga bagi perantau sepertinya, ini adalah keuntungan yang sangat berarti. Namun, suasana kantin hari itu terasa berbeda.
Saat sedang menyuap, telinga Yaya menangkap bisik-bisik dari meja sebelah.
"Aku dengar gosip, katanya nanti ada yang dipecat untuk mengurangi jatah THR?"
"Aku kok takut ..." sahut rekan di sampingnya dengan suara rendah.
Gerakan sendok Yaya melambat. Namun, ia segera menepis pikiran buruk itu dan kembali fokus menghabiskan makanannya. Ia tidak mau mengambil pusing hal-hal yang belum pasti.
Setelah waktu istirahat habis, Yaya kembali ke ruang kerja. Belum sempat ia duduk tenang, sebuah suara lantang memecah suasana.
"Semuanya kumpul dulu! Pak Jazz ada pemberitahuan penting!"
Jantung Yaya berdegup kencang. Ia berdiri berbaris bersama rekan-rekannya. Suasana ruangan mendadak hening dan tegang.
"Kalian pasti mendengar desas-desus mengenai pengurangan karyawan? Itu benar adanya," ujar Pak Jazz serius. "Pengurangan dilakukan karena perusahaan sedang mengalami pailit. Bagi yang dikeluarkan, akan mendapat gaji penuh dan sedikit bonus. Saya harap kalian menerima keputusan ini."
"Ya, Pak," jawab mereka kompak dengan nada lesu.
"Baik, akan saya umumkan siapa yang tidak bekerja mulai hari ini," lanjut Pak Jazz membuka catatan. "Pertama, Haikal Muhajir ... dan yang terakhir, Yaya Kristina."
Dunia Yaya seolah berhenti berputar. Ia tertegun dengan pandangan kosong. Ia sama sekali tidak menyangka namanya akan masuk dalam daftar pendek tersebut di saat Ramadhan tinggal menghitung jam.
"Untuk nama-nama yang disebut, silakan bersihkan barang kalian, lalu ke bagian keuangan untuk mengambil hak kalian. Saya meminta maaf dan berterima kasih atas dedikasi kalian," tutup Pak Jazz sebelum melangkah pergi.
Segera setelah Pak Jazz menghilang, beberapa rekan mendekati Yaya dengan wajah prihatin.
"Yaya, aku hanya bisa mendoakan agar kamu langsung dapat pekerjaan baru."
"Semoga pertemanan kita tidak putus ya, walau kamu tidak di sini lagi."
Yaya berusaha mengulas senyum tulus. "Terima kasih, ya," jawabnya pelan.
Ia kembali ke mejanya untuk terakhir kali. Dengan gerakan pelan, ia memasukkan barang-barang pribadinya ke kardus—mug kesayangan, catatan kecil, dan alat tulis. Sebelum beranjak, ia menatap ruangan itu sekali lagi.
Setelah menyelesaikan urusan di bagian keuangan, Yaya melangkah keluar gedung dengan memeluk kardus barangnya. Ia berhenti di depan gerbang, menatap gedung tinggi itu dengan napas berat.
"Ya sudahlah, tidak apa-apa," bisiknya menghibur diri sendiri sambil berjalan lunglai menuju halte.
****
Di sisi lain kota, Bening Aulia sedang berkutat dengan tumpukan pakaian di Laundry Sinar. Keringat membasahi keningnya saat sibuk memilah kain. Ia dibantu Bu Mentari, satu-satunya karyawan setia yang masih bertahan.
Laundry Sinar adalah warisan almarhumah ibundanya. Bisnis ini punya sejarah panjang; sempat tutup saat sang ibu sakit hingga mereka pulang ke kampung halaman. Ibu Bening meninggal setahun setelah menetap di desa. Awalnya,
Bening memilih menjadi petani, namun gagal panen parah melanda sawahnya. Atas saran bibinya, Bening kembali ke kota untuk menghidupkan lagi usaha ini demi ekonomi keluarga di desa.
Kini, Laundry Sinar sudah berjalan setahun.
"Bu Mentari sekarang menyetrika dan saya yang jemur," ujar Bening membagi tugas agar cepat selesai.
"Baik, Mbak Bening," sahut Bu Mentari.
Bening mengangkat bak besar penuh pakaian basah, lalu naik-turun tangga tiga kali untuk menjemur di lantai atas ruko. Napasnya tersengal, tapi ia tidak berhenti. Setelah selesai, ia bergabung kembali dengan Bu Mentari untuk melipat baju kering. Namun, keheningan pecah oleh suara ponsel Bu Mentari.
"Mbak Bening, saya angkat telepon dulu," izin Bu Mentari dengan wajah cemas.
Bening mengamati raut wajah Bu Mentari yang berubah pucat. Tanpa banyak tanya, Bening mengambil alih setrika.
Beberapa menit kemudian, Bu Mentari mendekat dengan mata berkaca-kaca. "Mbak Bening, ... anak saya di kampung sakit parah. Saya boleh izin pulang sekarang? Sepertinya bakal lama, Mbak."
Bening menghentikan gerakan setrikanya. Ia menatap Bu Mentari, lalu berjalan menuju lemari di pojok ruangan. Ia membuka brankas kecil dan mengambil sejumlah uang.
"Bu Mentari, ini uang gaji Ibu. Ini untuk pengobatan anak Ibu, dan ini tambahan dari saya," kata Bening menyodorkan uang.
Bu Mentari ternganga dengan air mata tumpah. "Mbak Bening, banyak banget. Terima kasih, Mbak." Ia hendak mencium tangan Bening, namun Bening segera mencegahnya.
"Sekarang, Ibu pulang. Hati-hati di jalan dan salam buat keluarga," ujar Bening lembut namun tegas.
Bening mengantar Bu Mentari sampai ke pintu depan.
Setelah sosok itu menghilang di tikungan, Bening kembali masuk ke ruko yang mendadak sunyi. Ia menatap tumpukan cucian yang masih menggunung.
Bening menarik napas dalam, lalu kembali memegang setrika yang panas. "Semangat, Bening," bisiknya pada diri sendiri.
■ Untuk membaca kelanjutannya, silahkan dowloand Apk : Kutubuku
■ Nama pena : Venezuella, Judul Buku : Laundry Yaya Dan Bening