Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Tiga Lapisan Dunia
Orang tua itu kembali meneguk sedikit arak sebelum melanjutkan penjelasannya. "Jika kau ingin berkembang lebih jauh, kau harus pergi ke dunia yang lebih tinggi dari tempat ini. Seberapa keras pun kau berlatih, kau tidak akan bisa mencapai puncak kultivasi jika tetap berada di Dunia Bawah."
Mendengar istilah yang belum pernah didengarnya itu, alis Cang Xuan langsung berkerut. "Dunia Bawah?"
Lelaki tua tersebut menganggukkan kepala pelan. "Tadi aku mendengar percakapanmu di depan makam itu. Kau ingin pergi ke Dunia Atas, bukan?"
Cang Xuan terdiam sejenak sebelum mengangguk perlahan. Keinginan itu memang tidak pernah berubah sejak hari ibunya mengungkapkan keberadaan ayahnya.
Melihat reaksinya, orang tua itu mengembuskan napas panjang. "Kalau begitu, ada satu hal yang harus kau pahami terlebih dahulu. Perjalanan menuju Dunia Atas akan jauh lebih sulit daripada yang kau bayangkan. Dalam perjalanan nanti, kau akan bertemu para kultivator yang kekuatannya jauh melampaui dirimu. Orang-orang seperti mereka bahkan mungkin mampu mengalahkanmu hanya dengan satu gerakan."
Kata-kata itu tidak membuat Cang Xuan mundur. Sebaliknya, rasa ingin tahunya justru semakin besar. Setelah memikirkan semuanya beberapa saat, ia akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Lalu apa sebenarnya Dunia Atas itu?"
Orang tua itu tersenyum tipis ketika mendengar pertanyaan tersebut. Seolah-olah ia sudah menunggu Cang Xuan menanyakannya sejak awal.
"Baiklah," katanya sambil menyandarkan tubuh ke dinding batu di belakangnya. "Aku akan menjelaskan sedikit mengenai apa itu Dunia Atas kepadamu."
Angin pagi kembali berembus melewati area pemakaman yang sunyi. Sementara itu, Cang Xuan berdiri diam di tempatnya dengan perhatian yang sepenuhnya tertuju pada lelaki tua di hadapannya. Ia memiliki firasat bahwa penjelasan berikutnya akan membuka sebuah rahasia yang selama ini tidak pernah diketahui oleh penduduk Desa Awan Timur maupun dirinya sendiri selama ini.
Lelaki tua itu mengangkat satu jarinya ke udara sambil berkata, "Dunia yang sedang kita pijak sekarang disebut Dunia Bawah." Nada suaranya tenang, tetapi setiap kata yang keluar membuat perhatian Cang Xuan semakin terpusat. Selama ini ia mengira dunia tempatnya tinggal adalah seluruh dunia yang ada, namun ternyata itu hanyalah permulaan.
Tak lama kemudian, jari kedua ikut terangkat. "Di atas Dunia Bawah terdapat Dunia Tengah, sebuah tempat yang menjadi pusat berkumpulnya para kultivator. Di sanalah sekte-sekte besar berdiri, berbagai aliran kultivasi berkembang, dan energi spiritual mengalir jauh lebih melimpah dibandingkan dunia ini."
Saat membayangkan tempat yang dipenuhi para kultivator, mata Cang Xuan sedikit berbinar. Hanya dengan mendengar penjelasan singkat itu saja, ia sudah dapat merasakan betapa besarnya perbedaan antara Dunia Tengah dan Desa Awan Timur yang terpencil.
Namun lelaki tua itu belum selesai.
Ia perlahan mengangkat jari ketiganya dan senyum tipis muncul di wajahnya. "Di atas Dunia Tengah terdapat Dunia Atas." Suaranya terdengar sedikit lebih serius ketika menyebut nama tersebut. "Itulah dunia para Kaisar, dunia tempat para penguasa sejati berdiri di puncak. Orang-orang yang hidup di sana jauh melampaui para kultivator biasa. Sebagian besar penghuninya memiliki umur ratusan hingga ribuan tahun, tetapi usia panjang itu tidak membuat mereka terlihat tua. Sebaliknya, banyak di antara mereka yang masih mempertahankan penampilan muda seperti saat berada di puncak kejayaan mereka."
Cang Xuan terdiam sambil mendengarkan setiap kata yang diucapkan lelaki tua itu. Semakin banyak penjelasan yang ia dengar, semakin ia menyadari betapa kecilnya dunia yang selama ini dikenalnya. Desa Awan Timur, hutan tempatnya berlatih, bahkan seluruh Dunia Bawah yang luas sekalipun ternyata hanyalah lapisan paling bawah dari dunia yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Namun setelah menjelaskan tentang Dunia Atas, lelaki tua itu kembali memperlihatkan senyum misterius yang sejak tadi sulit ditebak maksudnya. Ia memandang ke arah langit sejenak sebelum berkata, "Dan sebenarnya, di atas Dunia Atas masih ada dunia lain yang bahkan belum diketahui oleh sebagian besar kultivator."
Kalimat itu langsung menarik perhatian Cang Xuan.
Akan tetapi, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, lelaki tua itu sudah lebih dulu menggeleng pelan. "Tapi belum saatnya kau mengetahui hal itu sekarang. Jika suatu hari nanti kau benar-benar berhasil mencapai Dunia Atas, mungkin kau akan mengetahui sendiri dunia seperti apa yang kumaksud." Senyumnya semakin dalam. "Jangan terburu-buru. Suatu hari nanti kau akan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri."
Setelah itu, pembicaraan mereka beralih ke hal yang jauh lebih mendasar.
Dengan sabar, lelaki tua itu mulai menjelaskan sistem kultivasi yang berlaku di dunia para kultivator. Ia menerangkan bahwa terdapat lima belas ranah besar yang harus dilalui seseorang untuk mencapai puncak kekuatan, dimulai dari Ranah Ling Fan dan terus meningkat hingga mencapai Ranah Ling Zu. Setiap ranah dibagi menjadi sembilan tingkat bintang, dan setiap kenaikan bintang maupun ranah akan membawa perubahan besar bagi tubuh, energi spiritual, serta kekuatan seorang kultivator.
Cang Xuan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Selama ini ia hanya berlatih berdasarkan petunjuk yang terdapat dalam Kitab Pedang Langit Terbang tanpa pernah memahami sistem kultivasi secara menyeluruh. Kini, untuk pertama kalinya, ia akhirnya mengetahui posisi dirinya di jalur yang sedang ditempuh.
Setelah menyelesaikan penjelasannya, lelaki tua itu memandang Cang Xuan dari atas hingga bawah. Tatapannya terlihat santai, tetapi seolah mampu menembus seluruh rahasia yang tersembunyi di dalam tubuh pemuda tersebut.
Beberapa saat kemudian, ia menganggukkan kepala pelan.
"Kalau aku menilaimu sekarang, kau berada di Ranah Ling Fan Bintang 2."
Mata Cang Xuan langsung sedikit membesar.
Ia memang dapat merasakan bahwa dirinya lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu, tetapi selama ini ia tidak pernah mengetahui secara pasti berada di tingkat mana.
"Bagaimana kau bisa mengetahui tingkat kekuatanku?" tanyanya sambil menatap lelaki tua itu dengan rasa penasaran yang semakin besar.
Mendengar pertanyaan tersebut, lelaki tua itu hanya tersenyum santai tanpa memberikan jawaban langsung.
Karena sejak awal, ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah orang biasa. Bahkan semakin lama berbicara dengannya, semakin jelas bahwa sosok tua berpakaian lusuh yang berdiri di hadapan Cang Xuan menyimpan jauh lebih banyak rahasia daripada yang terlihat di permukaan.
Mendengar berbagai penjelasan yang diberikan lelaki tua itu, rasa penasaran di dalam diri Cang Xuan semakin sulit ditahan. Semakin lama mereka berbicara, semakin ia yakin bahwa orang di hadapannya bukanlah sosok biasa. Setelah terdiam beberapa saat, ia akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ada di benaknya.
"Sebenarnya siapa dirimu?"
Kali ini, lelaki tua itu tidak menghindari pertanyaan tersebut. Ia meneguk sisa arak dari kendinya terlebih dahulu sebelum menjawab dengan nada santai, "Sebenarnya aku berasal dari Dunia Atas."
Jawaban itu membuat mata Cang Xuan langsung membelalak.
"Dunia Atas?!"
Melihat reaksinya, lelaki tua itu justru tertawa kecil. "Kenapa? Terkejut?" Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Aku turun ke Dunia Bawah hanya untuk menikmati masa tua dengan tenang. Karena itulah aku membiarkan diriku terlihat seperti orang tua biasa."
Bagi Cang Xuan, penjelasan itu terdengar hampir mustahil. Selama bertahun-tahun, Dunia Atas hanya menjadi tempat yang ada dalam cerita ibunya dan tujuan yang ingin dicapainya suatu hari nanti. Namun sekarang, seseorang yang mengaku berasal dari tempat tersebut justru berdiri tepat di hadapannya.
Namun sebelum Cang Xuan sempat bertanya lebih jauh, ekspresi lelaki tua itu perlahan berubah lebih serius.
"Ada satu hal yang cukup mengejutkanku setelah tiba di dunia ini," katanya sambil memandang ke arah reruntuhan Desa Awan Timur di kejauhan. "Aku tidak menyangka Dunia Bawah ternyata dipenuhi oleh monster yang kalian sebut Abyss."
Cang Xuan langsung menangkap sesuatu yang aneh dari kalimat tersebut.
"Apa maksudmu?"
Lelaki tua itu menganggukkan kepala pelan. "Maksudku sangat sederhana. Di Dunia Tengah tidak ada yang namanya Monster Abyss."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Di Dunia Atas juga tidak ada."
Kalimat itu membuat Cang Xuan terdiam.
Angin pagi kembali berembus melewati area pemakaman, tetapi pikirannya seolah berhenti sesaat.
Sejak kecil, ia tumbuh dalam dunia yang selalu hidup di bawah ancaman Monster Abyss. Semua orang di Desa Awan Timur menganggap keberadaan monster-monster itu sebagai sesuatu yang normal. Mereka membangun pelindung desa, menghindari hutan saat malam hari, dan menjalani hidup dengan keyakinan bahwa ancaman tersebut memang bagian dari dunia.
Namun sekarang, lelaki tua ini justru mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Ternyata Dunia Tengah tidak mengenal Monster Abyss.
Dunia Atas juga tidak.
Artinya, keberadaan makhluk-makhluk itu bukanlah sesuatu yang umum di seluruh dunia.
Lelaki tua itu terdiam beberapa saat sebelum kembali melanjutkan penjelasannya. Tatapannya mengarah ke kejauhan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh dari Dunia Bawah ini. "Menurut dugaanku, semua ini mungkin berkaitan dengan Dewa Void."
Nama yang asing itu langsung membuat Cang Xuan mengernyit. "Dewa Void?"
Lelaki tua tersebut mengangguk pelan. "Ia adalah salah satu keberadaan paling misterius yang pernah dikenal oleh para kultivator. Tidak banyak yang mengetahui asal-usulnya, dan lebih sedikit lagi yang pernah melihatnya secara langsung. Namun ada satu rumor yang terus beredar selama bertahun-tahun." Senyumnya perlahan menghilang. "Konon, ia sangat menikmati penderitaan makhluk-makhluk yang lebih lemah darinya."
Mata Cang Xuan sedikit menyipit.
"Jika memang benar dia berada di balik semua ini," lanjut lelaki tua itu sambil memandang reruntuhan desa yang masih terlihat dari kejauhan, "maka Dunia Bawah tidak lebih dari sebuah taman bermain baginya."
Kata-kata itu membuat kepalan tangan Cang Xuan perlahan mengencang.
Bayangan Desa Awan Timur yang hancur kembali muncul di benaknya. Wajah-wajah para penduduk yang dikenalnya sejak kecil, pedagang tua yang selalu menyambutnya dengan ramah, dan semua orang yang kehilangan nyawa mereka dalam satu malam kembali memenuhi pikirannya.
Kemarahan perlahan muncul di matanya.
Lelaki tua itu jelas menyadari perubahan tersebut. Namun alih-alih menghentikannya, ia justru tersenyum tipis sebelum melangkah mendekat.
"Hei, anak muda." Suaranya terdengar lebih santai dibandingkan sebelumnya. "Kau ingin pergi ke Dunia Atas, bukan?"
Cang Xuan langsung mengangkat kepala dan menatapnya.
Selama bertahun-tahun, tujuan itu hanya menjadi keinginan yang jauh dan samar. Ia bahkan tidak mengetahui bagaimana cara meninggalkan Dunia Bawah, apalagi mencapai Dunia Atas yang begitu jauh. Namun sekarang, seseorang yang benar-benar berasal dari tempat itu sedang berdiri di hadapannya.
Untuk pertama kalinya sejak kehancuran desanya, ia melihat secercah harapan.
Melihat tatapan tersebut, lelaki tua itu menyeringai kecil.
"Kalau begitu..." Ia berhenti sejenak, seolah sengaja memberi waktu agar kata-katanya meresap. "Aku akan membantumu menuju Dunia Atas."
Mata Cang Xuan langsung membelalak.
Ia sempat mengira dirinya salah dengar.
Namun ekspresi lelaki tua itu menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak sedang bercanda.
Angin pagi kembali berembus melewati area pemakaman yang sunyi, menggoyangkan rerumputan dan bunga-bunga liar yang berada di depan makam ibunya. Sementara itu, Cang Xuan masih berdiri diam dengan berbagai emosi yang bercampur di dalam hatinya. Ia belum menyadarinya, tetapi sejak percakapan itu dimulai, jalan hidupnya perlahan telah berubah arah. Takdir yang sebelumnya terikat pada sebuah desa kecil di Dunia Bawah kini mulai bergerak menuju dunia yang jauh lebih luas, lebih berbahaya, dan lebih besar daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
End Chapter 10