Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Petugas itu menjeda ucapannya sejenak, lalu menambahkan, "Jadi, tidak ada unsur kejahatan di sini. Justru Nona yang tadi membuat keributan dan memancing emosi warga."
Jleb!
Wajah Gina seketika berubah merah padam, bukan karena marah, tapi karena rasa malu yang luar biasa.
Kata-kata polisi itu bagaikan tamparan keras di hadapan umum. Ia merasa sangat dipermalukan.
"Ah... i-iya, maafkan saya Pak... saya tidak tahu..." jawabnya terbata-bata, kepalanya langsung tertunduk dalam, tidak berani lagi menatap mata petugas itu.
"Hati-hati lain kali," kata polisi itu singkat.
Bruummm!
Mesin mobil dinyalakan kembali, dan perlahan mobil patroli itu menjauh, meninggalkan Gina yang berdiri terpaku di pinggir jalan dengan perasaan campur aduk antara malu, kesal, dan tetap tidak mau mengakui kesalahan.
"Huh, beruntung sekali kau hari ini. Padahal aku sangat berharap kau ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Kalau kau sampai masuk penjara, aku janji akan jadi orang pertama yang datang ke sana... dan aku akan menyumpahi kau agar cepat membusuk di dalam penjara!" gumamnya sinis sambil memandang ke arah Arhan.
Gengsi dan rasa malunya, ia tak mau mengakui jika dia yang salah. Ia pun pergi dari sana dengan wajah manyun.
Tak lama setelah kerumunan bubar, seorang dokter menghampiri Arhan.
"Pak, pasien sudah sadar dan ingin berbicara dengan Anda sebentar," kata dokter itu ramah.
"Ah, iya Dokter. Mari," jawab Arhan mengangguk pelan.
Mereka berdua berjalan masuk menuju ruang perawatan IGD. Di sana, terbaringlah wanita yang tadi hampir tewas dalam mobil itu. Kini ia sudah sadar sepenuhnya, wajahnya masih sedikit pucat namun matanya sudah terlihat jernih dan bercahaya.
Saat melihat Arhan masuk, wanita itu langsung mencoba duduk dan menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.
"Tuan... Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan nyawa saya. Saya sungguh tidak tahu bagaimana nasib saya kalau saja Tuan tidak lewat dan menolong saya tadi. Saya rasa hari itu adalah hari kematian saya."ucapnya dengan nada sungguh-sungguh, matanya berkaca-kaca
Arhan tersenyum simpul, lalu berkata dengan santai.
"Sama-sama Nona. Tapi... maaf ya tadi kaca mobilnya terpaksa saya pecahkan. Soalnya dari luar pintunya terkunci semua dan situasinya darurat sekali, jadi tidak ada cara lain," kata Arhan dengan sopan.
Wanita itu tertawa kecil, suaranya lembut dan menenangkan.
"Ah, masalah mobil itu sepele sekali, Tuan. Mobil bisa dibeli yang baru, bisa diganti kapan saja. Tapi nyawa saya tidak bisa. Saya berhutang budi yang sangat besar pada Anda," kata wanita itu dengan tulus.
"Sudah tidak usah dipikirkan Nona, anggap saja saya kebetulan numpang lewat dan ingin membantu. Semoga Nona cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali. Hm... kalau begitu, saya permisi dulu ya," jawab Arhan rendah hati. "
"Loh? Kemana? Buru-buru sekali?" tanya wanita itu heran, ia sebenarnya masih ingin mengobrol lebih lama.
"Oh, iya... saya harus segera pulang menjemput anak saya," jawab Arhan jujur.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...