NovelToon NovelToon
Dinikahi Sang Ahli Forensik

Dinikahi Sang Ahli Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.

​Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.

​"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."

​Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."


​Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Interogasi Singkat

​​"Tato kalajengking berkepala naga," desis Ronan sangat tajam. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan pelayan palsu itu makin kuat hingga tulang sendinya berderak pelan. "Simbol anjing pelacak peliharaan organisasi Zeta."

​Pelayan itu menggeram kesakitan. Bibirnya terkunci rapat. Ia menolak memberikan informasi apa pun meski tangannya nyaris patah di bawah pijakan sepatu pantofel Ronan.

​Kekacauan di dalam Restoran Lumina semakin menjadi-jadi. Para tamu undangan berlari-lari berhamburan menuju pintu keluar utama. Meja-meja bundar bergeser kasar menabrak kursi. Suara pecahan piring kaca dan teriakan histeris wanita bercampur baur memekakkan telinga. Asap putih tipis dari sisa cairan asam pekat di lantai masih mengepul perlahan, menyebarkan bau kimia yang membuat tenggorokan terasa terbakar.

​Cala berdiri mematung di belakang tubuh Ronan. Gaun merah marunnya aman tanpa noda sedikitpun. Jantungnya berdetak liar. Matanya menatap ngeri pada lantai marmer yang kini berlubang dan menghitam akibat cairan asam korosif tersebut.

​"Bicara sekarang," perintah Ronan dengan suara bariton yang sangat datar namun memancarkan ancaman maut. "Siapa yang menyuruhmu melempar asam pekat ini ke wajah tunanganku?"

​Pelayan itu meronta keras. Ia memalingkan wajah dan meludah ke arah sepatu Ronan. "Pergi ke neraka, Dokter," umpat pria itu dengan napas tersengal-sengal.

​Wajah Ronan tidak berubah sama sekali. Pria itu tidak terpancing emosi oleh ludahan kotor tersebut. Ia justru menunduk semakin rendah. Jari telunjuk dan ibu jari kirinya menemukan sebuah titik kecil di pangkal lengan atas sang pelayan.

​Tanpa belas kasihan sedikit pun, Ronan menekan titik saraf radialis pria itu dengan tenaga penuh.

​"Argh!" Jeritan melengking keluar dari mulut pelayan palsu itu. Tubuhnya mengejang hebat di atas lantai. Urat-urat di lehernya menonjol keluar menahan rasa sakit yang tidak tertahankan.

​"Titik saraf ini terhubung langsung dengan pusat reseptor rasa sakit di otakmu," urai Ronan layaknya dosen yang sedang menjelaskan materi kuliah anatomi di depan kelas. Suaranya tetap tenang di tengah kekacauan restoran. "Tekanan seberat lima kilogram pada titik ini akan memberikan sensasi seperti lenganmu sedang direbus di dalam minyak mendidih. Aku bisa membuatmu lumpuh permanen dalam waktu kurang dari enam puluh detik jika kamu terus tutup mulut."

​Pelayan itu merintih keras. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya. Matanya melotot menahan siksaan saraf tersebut.

​"Kamu tidak akan mendapat informasi apa pun dariku," rintih pria itu terbata-bata. "Kami sudah tahu identitas asli wanita itu."

​Ronan menekan titik saraf itu semakin dalam. "Berapa banyak orang yang kalian kirim ke tempat ini? Di mana kalian memarkir kendaraan operasionalnya?"

​"Hentikan, Dokter!" Cala berteriak panik dari belakang. Ia menarik lengan jas Ronan dengan kuat. "Polisi sungguhan sedang dalam perjalanan kemari. Jangan sampai kamu membunuhnya di sini! Kita butuh dia hidup-hidup untuk bersaksi di pengadilan!"

​Ronan tidak melepaskan tekanannya sama sekali. Mata tajam pria itu terus menatap wajah lawannya. "Dia tidak akan bersaksi di pengadilan, Cala. Orang-orang Zeta tidak pernah membiarkan anjing pelacak mereka hidup jika gagal menjalankan tugas."

​Mendengar ucapan Ronan, pelayan itu tiba-tiba tertawa sengau. Tawanya terdengar sangat menyeramkan di tengah rintihan kesakitannya.

​Pria itu memutar lehernya dengan gerakan yang sangat aneh. Giginya langsung menggigit keras kerah kemeja seragam pelayannya sendiri. Bunyi retakan plastik kecil terdengar samar namun pasti.

​Mata Ronan membulat sempurna. Ia langsung melepaskan kuncian sarafnya dan melangkah mundur dengan cepat. Ia menarik tubuh Cala untuk ikut mundur menjauh dari pria tersebut.

​"Mundur, Cala! Jauhkan wajahmu!" teriak Ronan memberi peringatan.

​Dalam hitungan detik, tubuh pelayan itu kejang-kejang hebat. Mulutnya mengeluarkan busa putih tebal yang tumpah membasahi lantai marmer. Mata pria itu bergulir ke atas hingga hanya menyisakan bagian putihnya saja. Tubuhnya menghentak-hentak keras ke lantai beberapa kali sebelum akhirnya terkulai lemas tanpa pergerakan sama sekali.

​Cala menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rasa mual langsung mengaduk isi perutnya melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. "Dia bunuh diri? Dia menelan racun sungguhan?"

​Ronan berjongkok perlahan dengan jarak yang sangat aman. Pria itu tidak menyentuh tubuh tersebut. Ia hanya mengamati pola busa putih dan gerakan dada pria itu dari jauh.

​"Bukan racun mematikan," desis Ronan tajam. "Ini kapsul bius dosis tinggi yang dirancang untuk meniru efek serangan jantung mendadak. Dia memalsukan kematiannya untuk menghindari introgasi lanjutan dari pihak kepolisian. Otot dadanya masih bergerak sangat halus. Dia masih bernapas normal."

​Suara sirene melengking keras membelah jalan raya di luar restoran. Cahaya lampu rotator berwarna merah dan biru menembus kaca antipeluru bangunan tersebut, menyapu wajah tegang Cala.

​"Itu pasti tim komandan," ucap Cala dengan napas lega yang luar biasa. Ia merasa beban berat di pundaknya sedikit terangkat.

​Pintu utama restoran didobrak terbuka. Enam orang pria berpakaian petugas medis lengkap dengan rompi hijau terang dan menenteng tandu lipat berlari masuk dengan sangat tergesa-gesa. Mereka menerobos sisa kerumunan tamu yang masih bersembunyi di sudut ruangan, langsung menuju ke arah tubuh pelayan yang tergeletak di lantai.

​"Minggir! Kami tim medis darurat! Beri kami ruang untuk menyelamatkan pasien!" teriak salah satu petugas medis berbadan paling besar.

​Cala segera melangkah mundur, memberi jalan agar mereka bisa bekerja. Ia merasa bersyukur bantuan medis datang secepat ini.

​Namun, tangan Ronan bergerak kilat menahan lengan Cala. Pria itu menarik wanita itu mundur bersamanya hingga punggung mereka menabrak meja kayu. Wajah Ronan berubah sangat gelap dan penuh kewaspadaan tinggi.

​Tim medis itu langsung mengangkat tubuh pelayan yang tidak sadarkan diri ke atas tandu lipat. Gerakan mereka sangat kasar dan sembarangan. Mereka sama sekali tidak memeriksa denyut nadi di leher pasien. 

Mereka tidak memberikan bantuan pernapasan tabung oksigen. Mereka bahkan tidak mencoba membersihkan busa di mulut pria itu. Mereka memperlakukan tubuh itu layaknya barang rongsokan yang harus segera dipindahkan ke dalam truk angkut.

​"Ada yang salah, Dokter?" bisik Cala saat menyadari cengkeraman tangan Ronan di lengannya terasa semakin kuat hingga sedikit menyakitkan.

​Mata tajam Ronan memindai seluruh atribut yang dipakai oleh keenam pria tersebut dalam hitungan detik. Otak forensiknya bekerja melampaui batas normal.

​"Mereka bukan tim medis darurat kepolisian," jawab Ronan dengan suara sepelan embusan angin.

​"Bagaimana kamu bisa tahu?" Cala bertanya bingung. "Seragam mereka sangat lengkap. Mereka membawa tandu rumah sakit."

​"Lihat kaki mereka," perintah Ronan tanpa menunjuk secara langsung.

​Cala menundukkan pandangannya. Ia memperhatikan alas kaki yang dipakai oleh para pria berseragam hijau terang tersebut. Alih-alih memakai sepatu karet medis yang higienis dan antislip seperti petugas rumah sakit pada umumnya, keenam pria itu memakai sepatu bot tempur berwarna hitam pekat. Sepatu taktis militer berbahan kulit tebal yang biasa dipakai oleh tentara bayaran di lapangan keras.

​Tidak hanya itu, saat petugas berbadan besar yang memberi instruksi tadi membungkuk untuk mengangkat tandu, ujung rompi hijaunya sedikit tersingkap. Di pinggangnya, melingkar sebuah sabuk hitam yang terbuat dari bahan serat karbon sintetis. Bahan yang sama persis dengan jaket pembunuh di lorong hotel waktu itu.

​Cala menahan napasnya keras-keras. Lututnya mendadak lemas tanpa tulang.

​"Mereka komplotan Zeta," gumam Cala dengan suara bergetar pelan. Kepanikan baru kembali mencengkeram akal sehatnya. "Mereka berpura-pura menjadi kru ambulans untuk membawa teman mereka kabur dari sini sebelum polisi asli datang."

​Keenam pria itu mengangkat tandu dengan sangat cepat. Mereka berbalik arah menuju pintu keluar. Petugas berbadan besar itu sempat menoleh ke arah Ronan dan Cala. Mata pria itu menatap tajam, menyunggingkan senyum miring yang sangat meremehkan, seolah mengejek mereka berdua yang tidak bisa berbuat apa-apa di tengah keramaian.

​"Kita harus menghentikan mereka sekarang!" Cala berseru panik, bersiap melangkah maju mengejar rombongan tersebut.

​Ronan menahan bahu Cala kuat-kuat, memaksa wanita itu tetap diam di tempatnya. "Jangan bertindak konyol. Mereka berenam, bersenjata lengkap di balik rompi, dan mereka tidak peduli pada nyawa pengunjung lain di ruangan ini."

​Cala hanya bisa berdiri mematung. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sindikat hantu itu bekerja dengan sangat rapi dan terorganisir. Mereka berhasil menyelundupkan senjata cairan ke dalam restoran, memalsukan kematian, dan kabur menggunakan penyamaran sempurna di depan ratusan pasang mata yang sedang ketakutan.

​"Mereka akan terus memburu kita, Dokter," bisik Cala putus asa melihat rombongan itu masuk ke dalam mobil ambulans palsu.

​Ronan menatap pintu kaca yang baru saja tertutup rapat itu. Wajahnya sangat kaku. Rahangnya mengeras penuh perhitungan matematis yang mematikan.

​"Biarkan mereka lari-lari membawa sampah itu," ucap Ronan datar. "Setidaknya sekarang aku sudah menempelkan alat pelacak mikro di kerah bajunya saat aku mencekiknya tadi."

1
Anbu Hasna
Tanteku punya hotel. dan benar, dia lebih jujur ke pihak WO biar printilan pesta bisa masuk tanpa menganggu pelanggan, daripada ke pihak paspampres. masa bodo sama keselamatan presiden, biarkan dia lewat pintu depan 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ronan takut terjadi sesuatu pada cala. dia takut gagal dalam melindungi cala.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
puyeng aq
ElHi
seruuu euyyy....kyk detective conan🔥🔥
Savana Liora: maacii
total 1 replies
Nor aisyah Fitriani
uppp truss thirt
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai terkuak semoga saja cepat tertangkap ya mereka" yg jahat sama Cala biar mereka mendekam dlm sel penjara dan di hukum mati 😡😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wajarlah Ronan kesel sama kepolisian karna nyawa mereka td dipertaruhkan untung Ronan bisa menghindar dan saksi satu"nya malah di bawa pergi lelet banget atasan dan bawahannya 😏😏
Watie Zack
semoga kebongkar dalangnya
Watie Zack
wow Ronan aku padamu😍
Watie Zack
ada apa dgn tasnya Cala????
Watie Zack
awalnya drama lama² kecantol beneran nih si Rolan
Watie Zack
jgn² orang dekat cala ada yg terlibat😄
Watie Zack
semakin penasaran semangat Thor
Deasy Suryandari
ikut deg²qn bacanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Ronan kamu sdh antisipasi dngn menancapkan alat pelacak ke pelayan palsu itu 👍👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo bawa ke markas Ronan biar th dalang semuanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
gerakan Ronan gercep banget sigap kl enggak pasti Cala dlm bahaya oleh cairan itu 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Cala bawa tas mu dr sana
Fariedha Rahman Khan
suka bngett
berasa nonton adegan action
Fariedha Rahman Khan: mesame kak
semngt trus up nya ya
total 2 replies
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai lg dramanya 🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!