Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOLONG!
Tok! Tok!
Aletha menoleh ke arah pintu. Meski matanya tak bisa melihat, telinga wanita itu menangkap riuh langkah kaki yang mendekat ke arah ranjangnya.
"Pa, siapa?" tanya Aletha.
"Arsen dan Alex, Ma," jawab Nicolas.
Mendengar nama Alex, senyum manis langsung terbit di bibir Aletha. Pemandangan itu memicu sengatan cemburu di hati Deana, yang berdiri di dekat pintu bersama Vivian. Ia heran, bagaimana bisa seorang bocah asing begitu mudah membuat neneknya tersenyum?
"Iya, Nek. Ini Alex baru datang," sapa Alex sopan, langsung mendekati ranjang. "Maaf Alex jarang jenguk. Nenek sehat, kan?"
Deana yang berniat ikut masuk mendadak urung saat Nicolas dan Arsen berjalan keluar menghampiri mereka.
"Ma, aku bicara sebentar dengan Arsen. Mama sama Alex dulu, ya," ujar Nicolas, lalu menatap sang cucu angkat. "Alex, tolong jaga Nenek."
"Siap, Kek!" Alex memberi hormat dengan tegas.
Vivian yang curiga melihat gerak-gerik Nicolas dan Arsen langsung memutar otak. Ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan kedua pria itu.
"Deana, kamu masuk temani Nenek. Auntie ada urusan sebentar," bisik Vivian. Deana mengangguk patuh dan melangkah masuk, Vivian pun bergegas mengendap-endap membuntuti Nicolas dan Arsen yang berjalan menuju ruang kerja.
Di dalam kamar, Aletha langsung menyambut cucunya. "Deana, sini Nak. Kenalan dulu sama Alex."
Deana melangkah mendekat, namun ia tak langsung mengulurkan tangan. Matanya menatap Alex penuh selidik.
"Nek... anak ini siapa?"
Aletha tersenyum hangat. "Dia akan jadi kakakmu, Deana. Mulai sekarang, dia adalah kakak angkatmu. Alex memang bukan cucu kandung nenek tapi dia anak dari panti asuhan yang diadopsi. Kakek Nicolas sudah lama sekali ingin mengangkatnya jadi cucu," jelas Aletha lembut.
Bibir Deana pun mengerucut cemberut. Posisinya sebagai cucu kesayangan kini terasa terancam oleh kehadiran anak asing ini. Apalagi melihat Alex yang tampak begitu tenang dan sopan di depan orang tua.
"Kalian main yang rukun, ya. Nenek mau istirahat lagi," sambung Aletha kemudian.
"Siap, Nek!" sahut Alex patuh.
Namun di detik berikutnya, Alex langsung menarik pergelangan tangan Deana, membawanya keluar kamar agar tidak mengganggu ketenangan Aletha. Deana yang kebingungan terpaksa pasrah mengekor hingga mereka tiba di ruang tamu.
Begitu sampai, Alex langsung menghempaskan tangan Deana dengan kasar hingga gadis kecil itu terdorong ke belakang. Alex bersedekap dada, senyum miringnya terbit dengan angkuh.
Deana mendengus jengkel. Ternyata di rumah ayah maupun neneknya sama saja; selalu ada orang yang menyebalkan!
"Mulai sekarang, panggil aku Kakak," perintah Alex sombong.
"Ndak mau! Dasal Cendol!" ketus Deana melipat tangan di dada.
Tak terima diejek, Alex dengan cepat menyambar ikat rambut Deana hingga kuncirannya terlepas. Deana terpekik kaget. Ia pun panik dan berusaha merebutnya kembali, sebab itu adalah ikat rambut pemberian neneknya. Namun, Alex justru tertawa mengejek dan berlari ke luar rumah.
"Kembalikan!" teriak Deana terus-menerus mengejar bocah nakal yang sengaja mempermainkannya itu ke halaman.
Sementara itu di depan ruang kerja, Vivian fokus menguping pembicaraan berat di dalam sana.
"Maafkan saya, Om. Sampai sekarang saya belum bisa mengambil jasad Vivian dari tangan Kayden," ucap Arsen penuh penyesalan.
Kenyataan itu menghantam dada Vivian. Artinya, pemakaman yang diadakan keluarga Marvis waktu itu kosong! Tidak ada jenazah dirinya di dalam peti mati. Di balik pintu, tangan kanan Vivian mengepal erat. Amarahnya membubung tinggi pada Kayden yang begitu kejam, egois, dan gila kendali. Bahkan setelah ia mati, pria itu masih menyandera jasadnya!
"Saya janji akan cari tahu di mana Kayden menguburkan Vivian. Saya sudah mengirim mata-mata ke klan Marvis," lanjut Arsen tegas.
Nicolas menunduk dalam, meremas jemarinya yang gemetar hebat. Air matanya nyaris tumpah. Hatinya hancur membayangkan putri tercintanya mungkin tidak tenang di alam sana karena keluarga tidak bisa mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.
Mendengar kepedihan sang ayah, sekarang Vivian tahu alasan mengapa jiwanya ditransmigrasikan ke dalam tubuh Arini. Takdir tidak sedang bercanda, takdir memberinya kesempatan kedua untuk meluruskan penderitaan keluarganya dan membalas semuanya.
Tak tahan lagi melihat kehancuran ayahnya, Vivian hendak mendobrak pintu dan membongkar identitas aslinya. Tapi niat itu seketika buyar oleh lengkingan tangisan yang membelah langit halaman rumah.
"HUAAAAAA! TOLONGGGG!"
"Alex?" sahut Arsen terkejut dari dalam ruangan.
Pintu terbuka sentak. Nicolas, Arsen, dan Vivian langsung berlari menuju halaman depan mansion. Begitu menapakkan kaki di teras, area di sekitar mereka mendadak mendingin ekstrem. Langkah ketiganya terkunci. Tatapan mereka menajam, dipenuhi horor dan kemarahan.
Halaman depan telah berubah menjadi medan pembantaian yang sunyi. Belasan pengawal terlatih Arsen sudah terkapar tak berdaya di atas rumput.
Di tengah pusaran hawa kematian itu, berdiri sesosok pria dengan setelan hitam formal. Auranya begitu pekat, gelap, dan mengintimidasi, seolah malaikat maut sendiri yang sedang bertamu. Kayden Gilbert. Di belakangnya, Davin berdiri tegak dengan tatapan sedingin es.
Tangan kekar Kayden mencengkeram kerah baju Alex, mengangkat tubuh bocah itu tinggi-tinggi ke udara tanpa belas kasihan, seolah Alex tak lebih dari sekadar boneka kain.
"Paman jahat! Lepasin Alex!" jerit Alex frustrasi di sela tangisnya. Kakinya menendang-nendang udara, menatap tajam pada sang iblis di hadapannya.
Deana yang ketakutan langsung keluar dari tempat persembunyiannya di balik pilar. Gadis kecil itu berlari kencang dan bersembunyi di balik tubuh Vivian, mencengkeram ujung baju wanita itu dengan tubuh gemetar. Bersamaan dengan itu, tangis Baby Elvano pecah di dalam gendongan Vivian, memecah keheningan yang mencekam di bawah tatapan mata elang Kayden yang perlahan bergulir menatap mereka.
"Om budeg ya? Lepasin Alex—"
Bruk!
Tanpa aba-aba, Kayden melepaskan cengkeramannya begitu saja. Tubuh Alex menghantam tanah dengan keras.
"Akhh! Sakit!" jerit Alex kesakitan.
Melihat Alex diperlakukan seperti binatang, darah Arsen mendidih. "Kayden!" Raungan kemarahan Arsen menggema saat pria itu menerjang maju, melayangkan tinju maut ke arah wajah Kayden.
Namun, gerakan Kayden jauh lebih cepat. Dengan refleks, ia menepis hantaman Arsen dengan satu tangan, lalu membalasnya dengan serangan balik yang brutal.
"Bajingan sialan, beraninya kau muncul di hadapan kami! Sungguh tidak tahu malu!" murka Nicolas yang ikut tersulut. Pria tua itu maju memberikan perlawanan, mencoba membantu Arsen. Namun, Davin dengan sigap menghadang langkah Nicolas.
Baku hantam brutal antar empat pria itu pun pecah di halaman. Suara hantaman daging dan tulang beradu menimbulkan riuh yang mengerikan.
"BERHENTI!!"
Suara Vivian menggelegar bergetar penuh emosi, memecah udara halaman yang bising oleh perkelahian. Dada wanita itu naik turun, matanya merah padam menahan kilatan amarah. Keempat pria itu seketika mematung, seolah tersihir oleh dominasi suara Vivian.
Vivian menatap mereka satu per satu dengan murka. Bagaimana bisa mereka berkelahi di depan Deana yang ketakutan dan Baby Elvano yang histeris di dekapannya?! Merasa ada aura yang tidak biasa, keempat pria itu mendadak menghentikan aksinya.
Alex yang terduduk di tanah sampai terperangah tak percaya. Sementara Deana, melihat keberanian Vivian, ketakutannya langsung sirna digantikan senyum sumringah.
'Siapa Bibi ini? Dia keren sekali!’ batin Alex takjub.
Memanfaatkan celah, Alex buru-buru berdiri dan berlari pincang untuk ikut bersembunyi di belakang tubuh Vivian bersama Deana. Mereka berdua menjadikan Vivian sebagai benteng pertahanan.
Begitu merasa aman di balik punggung Vivian, Deana langsung menoleh ke arah Alex dan menjulurkan lidahnya.
"Huu... Dasal penakut! Belaninya sama pelempuan saja!" seru Deana dengan cepat menyambar kembali ikat rambutnya yang sempat terlepas di tangan Alex.
Alex yang tak terima langsung melototkan matanya, melupakan rasa sakit di tubuhnya akibat bantingan Kayden tadi. "Diam kamu, kunti cadel!" balas Alex sengit melalui bisikan.
.
.
.
next?
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁