Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 : Cemburu buta
“DIA ORANG NYA.” Tunjuk seorang pemuda pada Alin yang saat itu tengah memesan minumannya dan akan kembali kedalam mobil.
“Kau lagi ternyata?!” Geram salah seorang pria yang memiliki perawakan lebih besar, dengan tato dipunggung tangannya.
Alin kenal tato tersebut. Ingatannya kembali ke beberapa minggu lalu saat ia memberikan pertolongan pada pimpinan mafia yang mengalami luka tusuk. Pria dihadapannya adalah bawahan dari pimpinan tersebut.
Sedangkan pemuda yang menunjuknya adalah orang yang dengan sengaja menusuk pimpinan mafia tersebut. Alin mengetahui hal ini bersama Mei ketika mendengar percakapan antara pemuda itu dengan atasannya nya. Pemuda itu gagal dalam menjalankan tugas pembunuhan.
“Dia tahu kau yang memerintah ku untuk membunuh pemimpin mu.” Lanjut pemuda itu lagi.
Setidaknya ada lima orang di hadapannya kini. Alin tidak memiliki kemungkinan untuk melawan, ia tidak memiliki ilmu bela diri selain mulutnya yang jago melawan.
BRUUUUUKK
Alin menyiram mereka dengan air minum yang ia beli. Dan ia berlari semampunya, setidaknya kakinya saat ini adalah andalannya. Di ruang IGD dia sudah sering berlari cepat untuk menangani pasien-pasiennya.
“TANGKAP DOKTER ITU.”
“Sial… kenapa harus bertemu mereka lagi.” Alin terus berlari dan menghubungi kakaknya.
“Ya Lin, kenapa lama? Aku sudah sewa Yacht sesuai permintaan mu tuan putri.” Ujar Yuhan terdengar dari seberang telepon.
“KAKAK AKU DIKEJAR.” Sahut Alin dengan nafas terengah-engah.
Yuhan dengan segera mencari titik lokasi Alin berada, raut wajahnya berubah panik dan takut.
“Aku menemukan mu.” Kejar Yuhan.
“CEPATLAH KAKI KU SAKIT.” Alin baru merasakan efek dari luka pasca kejadian kapal tenggelam itu. Pergelangan kaki nya membuat sarafnya terasa nyeri. Ia tak pernah lari secepat itu, tidak menggunakan sepatu tingginya.
Rei melihat kepanikan Yuhan hanya dapat tersenyum puas. Ia hanya ingin tahu seberkuasa apa pria yang mendekati Alin dan setangguh apa ia untuk melawan para mafia itu. Pria itu sudah terbakar cemburu saat Alin dengan mesra menggandeng lengan Yuhan dan terlebih ketika merek makan bersama didalam mobil dalam waktu yang cukup lama. Saat ini semakin menjadi murkanya saat tahu Yuhan akan menaiki Yacht bersama Alin dimalam itu.
“YANG MULIA…” Yuchen berlari dengan panik dan terengah-engah.
“Do-dokter Yi… dia dikejar pembunuh bayaran, mafia yang membelot pemimpinnya. Dia mengincar Alin.” Jelasnya.
“Dimana Tuan Xa?” Tanya Rei, Tuan Xa merupakan mafia yang ia perintah untuk menghajar Yuhan dengan tidak melukai Alin.
“Aku menyuruhnya untuk mengejar kelompok itu. Sekarang mereka semua…”
Rei dengan sigap tanpa menunggu perkataan Yuchen segera mengemudikan mobilnya.
“Tuan Xa, lindungi dokter Yi. Jika aku sampai melihatnya terluka, kau dan seluruh anak buah akan kuhancurkan.” Tajam Rei memberi tihtanya saat menghubungi Tuan Xa.
Alin saat itu tengah terjebak diantara batas pagar laut dan dermaga. Ia tak bisa lari lagi. Nafasnya sudah tersengal ditambah kakinya yang mulai memerah.
“Sepatu sialan.” Alin melepas sepatu tingginya dan melempar ke laut.
Dari kejauhan ia dapat mendengar suara perkelahian entah antara geng mafia atau polisi sudah datang menyelamatkannya. Tapi yang jelas pria bertato itu kini berdiri dihadapannya.
“Sudah cukup kau mencari masalah dengan ku.” Geramnya.
DAP DAP DAP
Derap langkah dengan menyeret tongkat bisbolnya, pria itu berlari menuju Alin.
“Kakak kau dimana.” Ucap Alin dalam hatinya, matanya terpejam bersamaan dengan air mata yang mengalir disudut matanya.
Ia benci tempat itu.
BAGGHH
“Kau tidak apa?” Tanya Yuhan.
“Kakak.” Tangisnya saat Yuhan menahan lengan pria itu.
Melihat kondisi adiknya yang kacau, Yuhan secara brutal menghajar habis-habisan pria bertato itu. Tidak hanya berhenti sampai disitu, perkelahian itu sudah menjadi perkelahian antar geng mafia. Beberapa anak buah pria bertato mulai berdatangan, Yuhan melawan anak buah itu dengan mudah.
Disisi lain anak buah Tuan Xa juga ada disana turut membantu Yuhan.
“Kau bisa bangun? Pergi ke atas sana. Mobil mu tidak jauh terparkir diatas sana.” Pinta Yuhan.
Alin mencoba beranjak berdiri, pergelangan kakinya sungguh menjadi beban untuknya saat ini. Namun ia harus menghindar dari tempat itu, ia tak khawatir pada kakaknya. Mereka semua bukanlah tandingan bagi Yuhan.
“LIN AWAS…”
Alin tersentak saat melihat pembunuh itu dihadapannya, hingga membuat dirinya terdorong jatuh. Ia juga sudah tak kuat menahan bengkak pergelangan kakinya, ia jatuh dari tangga itu menuju air laut.
BRAAAAK
BYUAAARR
“KAU BERANINYA.”
BUG BAGH BUUGH BAAGH
BYAAARR
Disaat Yuhan menghajar para pembunuh itu, disaat bersamaan juga Rei melompat kedalam air.
Didalam air laut tawar itu sungguh gelap. Rei mencoba mencari kesekitarnya, terdapat gelembung air, Alin disana kehabisan nafas. Wanita itu tidak dapat berenang, sekalipun pergelangan kakinya normal.
“YANG MULIA…” Panik Yuchen.
Disaat bersamaan pasukan Tuan Xa memblokade tempat tersebut, pria bertato itu juga sudah bertekuk lutut.
“Yang mulia?!” Sebut ulang Yuhan menatap Yuchen, dengan tatapan bingungnya.
“Bantu pangeran Yan.” Perintah Tuan Xa.
“Alin… bangunlah…” Cemas Rei berulang kali menepuk pipi Alin.
Dengan sigap Rei melakukan CPR pada Alin dan membuat nafas buatan. Berulang kali pula ia memohon sebut nama Alin untuk membuka matanya, “Kumohon bangunlah… kumohon…” Cemasnya.
“Eheuuk…” Alin tersadar memuntahkan semua air laut tawar itu x
“Alin syukurlah.” Dekap Rei penuh panik.
“Rei… Kakak… dimana kakak ku…” Tanyanya dengan nafas berat.
“Yang Mulia Yan?!” Tatap dingin Yuhan pada pangeran yang berlutut di hadapannya.
Alin menoleh kebelakang, Yuhan berdiri tegap dengan luka di kepalan tangannya.
“Kakak?!” Sebut ulang Rei tak percaya.
Alin berusaha melepas dekapan Rei dan beranjak berdiri. Yuhan yang tahu kaki adiknya sakit segera menggendongnya.
“Kak dingin.” Ujar Alin, saat itu hawa dingin malam menghembus hingga ke tulang, musim salju akan segera tiba memperparah keadaan basah Alin dan Rei.
“Kita kembali.” Ujar lembut Yuhan, “Terimakasih, kami pamit.” Sahut Yuhan tertunduk pada Yang mulia Yan.
Rei memejamkan mata seakan mengontrol emosi yang berkecamuk dalam dirinya.
“Bawa pria itu. Aku ingin hukuman mati jatuh padanya.” Perintah Rei.
“YA-YANG MULIA. MAAFKAN HAMBA YANG MULIA HAMBA TIDAK TAHU…”
BUUUUGGGHH
Rei menghantam kepala pria bertato itu dengan tongkat bisbol. “Kau berniat melukainya dengan tongkat ini.”
Murkah Rei tak dapat diredam malam itu. Pria bertato dengan komplotannya dibawa ke penjara kerajaan. Sang pangeran membantai habis-habisan komplotan itu dengan bengis.
“Siapkan mobil, aku akan menemuinya.” Perintah nya pada Yuchen.