NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:894
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik ufuk timur, menyelinapkan cahayanya yang masih redup di antara kabut tipis yang menyelimuti kota pesisir itu, saat keduanya sudah beranjak dari tempat menginap sementara mereka.

Hari itu adalah hari terpadat dalam jadwal survei pasar. Dari pagi buta, saat sebagian besar penduduk kota itu masih terlelap dalam tidur mereka, Sherina dan Arsya sudah berada di lokasi pertama. Pasar induk dan pusat perdagangan besar yang menjadi urat nadi ekonomi daerah itu. Dengan catatan di tangan dan semangat yang tak tergoyahkan, mereka berdua bergerak lincah di antara kerumunan pedagang dan pembeli. Mereka bergantian bertanya, mencatat, mengamati, dan mendata setiap rincian yang dibutuhkan untuk proyek besar mereka.

Arsya bekerja dengan ketajaman dan ketegasan yang biasa ia tunjukkan, namun kini disertai dengan kesabaran yang jauh lebih besar. Ia berbicara dengan para pedagang, mendengarkan keluh kesah mereka mengenai pasokan barang, harga, dan kualitas, lalu menganalisis informasi itu dengan cepat dan tepat.

Di sampingnya, Sherina tidak kalah tangguh. Meski matanya terasa sedikit berat dan kepalanya sesekali berdenyut samar, ia tetap berdiri tegap, mencatat data dengan tulisan tangan yang rapi, mengajukan pertanyaan cerdas yang sering kali melengkapi kekurangan yang terlewatkan, dan berbicara dengan siapa pun dengan keramahan yang khas.

Pagi berganti siang, siang berubah menjadi sore, hingga akhirnya matahari mulai meluncur turun ke barat, mewarnai langit dengan rona jingga kemerahan yang indah. Mereka terus bekerja tanpa henti, hanya beristirahat sejenak untuk sekedar mengisi perut dengan makanan sederhana di pinggir jalan.

Dari satu lokasi ke lokasi lain, dari pertemuan dengan dinas terkait hingga kunjungan ke toko-toko pengecer kecil, semuanya mereka jalani dengan sangat baik dan profesional. Hasilnya pun luar biasa, data yang terkumpul lengkap, mendalam, dan sangat berharga, jauh melampaui target yang ditetapkan kantor pusat. Kerja sama mereka berjalan mulus, saling melengkapi, seolah keduanya telah terlatih bekerja bersama selama bertahun-tahun lamanya.

"Bagus sekali," ucap Arsya pelan saat mereka berjalan keluar dari lokasi terakhir, nada suaranya penuh kepuasan dan rasa bangga.

"Semua data yang kita butuhkan sudah ada. Lebih lengkap dan lebih jelas dari yang saya bayangkan. Kau hebat, Sherina. Tanpa ketelitian dan cara bicaramu yang luwes, kami mungkin tidak akan mendapatkan gambaran sejelas ini."

Sherina tersenyum tipis, berusaha sekuat tenaga agar senyum itu terlihat wajar dan cerah, meski di baliknya rasa sakit di seluruh tubuhnya semakin menjadi-jadi.

"Terima kasih, Pak. Itu juga berkat arahan dan ketajaman analisis Bapak. Saya hanya membantu sedikit saja."

Namun, saat ia hendak melangkah mengikuti Arsya menuju mobil, kakinya tiba-tiba terasa begitu berat dan lemas seolah tak ada tenaga lagi yang tersisa. Pandangannya sedikit kabur, dan kepalanya berdenyut hebat seolah ada palu yang dipukul-pukul di dalamnya. Ia terhuyung sedikit, hingga harus berpegangan pada dinding bangunan di dekatnya agar tidak jatuh. Rasa dingin menjalar di sekujur tulangnya, namun di saat yang sama, kulit wajah dan tangannya terasa panas menyengat.

Arsya yang berjalan beberapa langkah di depannya, segera berbalik saat menyadari langkah kaki di belakangnya tak lagi terdengar. Ia melihat Sherina berdiri diam, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya senja, bibirnya sedikit menggetar, dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Wajah gadis itu yang biasanya berseri dan penuh semangat, kini tampak lelah dan kesakitan.

"Sherina?" Arsya segera berjalan cepat mendekat, raut wajahnya yang tenang seketika berubah menjadi cemas. Ia melihat jelas tanda-tanda itu. Kulit yang panas, mata yang berair dan sayu, serta tubuh yang terlihat berusaha keras mempertahankan keseimbangan.

"Kau tidak apa-apa? Sejak kapan kau merasa begini?" tanyanya cemas.

"Saya... saya baik-baik saja, Pak," jawab Sherina dengan suara yang sedikit serak dan lemah, berusaha berdiri tegak kembali meski rasanya sangat sulit.

"Mungkin hanya sedikit kelelahan karena berjalan seharian. Mari kita kembali ke penginapan."

Arsya tidak percaya begitu saja. Ia dengan sigap meraba dahi Sherina dengan punggung tangannya, gerakan yang spontan dan penuh perhatian, tanpa ia sadari seberapa dekat ia melakukannya. Panas. Sangat panas.

"Kau demam, Sherina," ucap Arsya tegas namun lembut, nada suaranya berubah menjadi khawatir.

"Dan ini bukan sekadar kelelahan biasa. Kenapa kau tidak bilang sejak tadi? Kenapa kau memaksakan diri bekerja sekeras ini dalam kondisi seperti ini?"

"Saya tidak mau mengganggu kerja kita, Pak..." jawab Sherina pelan, matanya mulai terasa berat sekali untuk dibuka.

"Saya pikir... akan hilang sendiri."

Arsya menggeleng pelan, tak habis pikir dengan ketegaran gadis itu. Tanpa banyak bicara lagi, ia merangkul bahu Sherina dengan hati-hati, menopang sebagian berat tubuh gadis itu agar bisa berjalan menuju mobil.

"Sudah, jangan bicara dulu. Kita segera kembali ke hotel. Istirahat adalah kewajibanmu sekarang."

Perjalanan menuju penginapan yang memakan waktu sekitar dua puluh menit itu terasa sangat panjang bagi keduanya. Di dalam mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan seharusnya menenangkan, namun bagi Sherina, udara itu terasa menusuk hingga ke tulang. Ia menggigil hebat, memeluk tubuhnya sendiri dengan tangan yang gemetar. Berkali-kali ia mencoba menahan rasa mual dan pusing yang berputar hebat di kepalanya.

Arsya menyetir dengan kecepatan yang cukup namun tetap hati-hati, berusaha membuat perjalanan senyaman mungkin agar tidak menambah rasa sakit Sherina. Berkali-kali ia melirik ke samping, wajahnya penuh kekhawatiran yang mendalam. Sosok dingin dan kaku yang biasa orang lain kenal kini benar-benar hilang. Digantikan oleh sosok yang penuh perhatian, sigap, dan lembut. Sesekali ia mengulurkan tangan, memastikan suhu tubuh Sherina, atau menyelimuti tubuh gadis itu dengan jaket tebal miliknya yang tersedia di kursi belakang.

"Tahan sebentar lagi, Sherina," bisik Arsya pelan, suaranya lembut menenangkan. "Sebentar lagi sampai. Sabar ya."

Saat mobil akhirnya berhenti di depan pintu utama hotel, hari sudah mulai gelap. Arsya turun lebih dulu, lalu segera membukakan pintu untuk Sherina. Ia tidak membiarkan gadis itu berjalan sendirian. Dengan perlahan dan sangat berhati-hati, ia menuntun Sherina masuk ke dalam lobi, menuju lift, hingga sampai ke depan pintu kamar gadis itu.

Begitu masuk ke dalam kamar yang nyaman dan hangat, Arsya segera mengantar Sherina berbaring di atas tempat tidur empuk. Ia melepas sepatu dan jaket luar gadis itu, menata bantal agar posisi kepalanya lebih nyaman, lalu menutupi tubuh Sherina dengan selimut tebal hingga ke dada. Gerakan-gerakannya begitu terampil, lembut, dan penuh kehati-hatian, seolah sedang menangani benda paling rapuh dan berharga.

"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," perintah Arsya pelan.

Ia bergegas keluar, kembali tak lama kemudian membawa botol air hangat, obat penurun panas, dan satu mangkuk kecil berisi air hangat serta kain bersih. Rupanya ia sempat mampir ke kedai obat di seberang jalan dan meminta air panas ke bagian dapur hotel.

Ia duduk di tepi tempat tidur, kemudian membuka bungkus obat itu, lalu membantu Sherina duduk perlahan.

"Minum obat ini dulu. Nanti badanmu akan terasa lebih enak," ucapnya lembut.

Sherina menurut saja, menelan obat itu dengan bantuan tangan Arsya yang memegang gelas. Matanya yang sayu menatap wajah pemuda itu dalam remang cahaya kamar. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya, sosok yang dulu begitu dingin, keras, dan penuh prasangka, kini ada di sini, merawatnya dengan perhatian sedemikian rupa. Tak ada lagi ketegasan, tak ada lagi kritikan, tak ada lagi tembok pemisah. Yang ada hanyalah kelembutan yang tulus dan kepedulian yang mendalam.

Setelah memastikan Sherina kembali berbaring dengan nyaman, Arsya mengambil kain bersih, merendamnya ke air hangat, memerasnya hingga kering, lalu dengan sangat hati-hati mengusapkan kain itu ke dahi, pelipis, leher, dan lengan Sherina. Tindakan sederhana untuk membantu menurunkan suhu tubuh itu dilakukannya dengan penuh kesabaran. Gerakan tangannya, meski satu tangannya tidak utuh, tapi sangat lembut dan terampil, karena ia telah terbiasa melakukan hal ini sejak lama.

Ingatan masa lalu perlahan menyelinap ke benak Arsya. Dulu, saat orang tuanya masih ada, saat salah satu dari mereka jatuh sakit, dialah yang selalu sigap merawat, mengganti kompres, dan menjaga di samping tempat tidur hingga sembuh. Keterampilan itu hilang seiring berlalunya waktu dan kesedihan, namun kini, di saat melihat Sherina yang lemah dan kesakitan, naluri itu kembali muncul dengan sendirinya, begitu alami dan kuat.

"Tenang saja," bisik Arsya pelan, matanya menatap lekat wajah gadis itu yang memejamkan mata karena rasa nyaman yang didapatnya.

"Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini sampai suhumu turun dan kau tertidur nyenyak. Istirahat lah."

Sherina merasakan sentuhan hangat itu, mendengar suara lembut itu, dan menyadari keberadaan pemuda itu yang tetap tinggal di sampingnya, menjaganya di tengah malam yang asing di kota orang ini. Rasa sakit di tubuhnya perlahan terasa berkurang, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar dari dada hingga ke seluruh jiwanya.

Ini adalah kehangatan yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya. Bukan kehangatan keluarga yang penuh kewajiban, bukan perhatian rekan kerja yang bersifat formal, dan bukan pula kasih sayang masa lalu yang penuh keraguan dan beban.

Ini adalah kehangatan murni dari seseorang yang peduli, yang hadir tanpa syarat, yang melayani dengan tulus meski dulu mereka saling bermusuhan. Kehangatan yang membuatnya merasa aman, berharga, dan dilindungi sepenuhnya.

Di tengah kabut demam yang mulai membuatnya mengantuk, Sherina menoleh perlahan ke arah Arsya yang masih sibuk mengompres tangannya. Di bawah cahaya lampu kamar yang redup, wajah Arsya terlihat damai, tenang, dan sangat tampan. Sifat dinginnya yang dulu begitu menakutkan kini lenyap sepenuhnya, tergantikan oleh sosok pelindung yang lembut.

"Terima kasih, Pak..." gumam Sherina pelan, hampir tak terdengar, matanya mulai berat menutup.

"Terima kasih sudah ada di sini... merawat saya..."

Arsya tersenyum tipis, senyum yang sangat lembut dan hangat. Ia menyeka rambut yang jatuh menutupi wajah gadis itu dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh kasih sayang.

"Istirahatlah, Sherina," jawab Arsya berbisik.

"Semua akan baik-baik saja. Aku ada di sini."

Malam itu, di kamar hotel yang tenang itu, terjalin ikatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sherina terlelap dalam tidur yang nyenyak dan damai, diiringi rasa hangat dan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Sementara Arsya tetap duduk di tepi tempat tidur, matanya tak lepas dari wajah damai gadis itu, menjaganya dari dekat, menyadari sepenuhnya bahwa di balik sikap dingin yang ia bangun selama ini, hatinya ternyata masih mampu merasakan rasa peduli dan sosok Sherina Mutiara lah yang perlahan namun pasti membangkitkan kembali segala keindahan perasaan itu.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget pemilihan diksinya 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe plus iklan 👍
Rocean: mantappp🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!