NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 25: FLASHBACK - KENANGAN YANG MEN

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 25: FLASHBACK - KENANGAN YANG MENYAKITKAN

(FLASHBACK ON)

Dulu, sebelum semua kepahitan itu datang, hidup kami bahagia sekali. Ayah adalah laki-laki yang sangat baik, sangat penyayang, dan sangat perhatian sama Bunda dan kami anak-anaknya. Walaupun anak kami banyak sekali — ada tujuh orang — Ayah tidak pernah mengeluh atau merasa berat. Justru Ayah terlihat sangat senang dan bangga punya keluarga besar. Apalagi aku, Ria, satu-satunya anak perempuan, diapit oleh tiga kakak laki-laki dan tiga adik laki-laki. Aku lah yang paling disayang, paling dimanja, dan paling dekat sama Ayah. Kata orang, anak perempuan itu adalah cinta pertama bagi seorang ayah, dan aku merasakan itu benar adanya. Ayah tidak pernah memarahi kami, tidak pernah kasar, hidup kami damai, dan saat itu kami sudah punya rumah yang cukup besar, jauh berbeda dengan masa lalu kami yang dulu masih tinggal di gubuk kecil di kebun.

Semuanya berubah semenjak datang seorang perempuan dari Jawa, bernama Bibi Rakis. Dia dikenalkan Ayah sebagai saudara jauh kami. Awalnya biasa saja, Bibi Rakis sering membantu bekerja di kebun, rajin, dan diam saja. Tak terasa, dia sudah tinggal bersama kami selama dua tahun penuh.

Hingga tibalah saat panen kopi. Saat itu cuaca sangat bagus, musim kemarau panjang, matahari bersinar terang setiap hari. Buah kopi tumbuh sangat lebat, kualitasnya luar biasa bagus, tidak ada yang rusak atau busuk. Ayah bekerja keras memetik kopi, sedangkan Bunda di rumah mengolah dan menjemurnya sampai kering sempurna. Hasilnya pun sangat memuaskan, terkumpullah kopi kering sebanyak 7 ton lebih, semuanya siap digiling. Waktu itu cuma ada satu penggiling kopi milik warga desa, jadi Ayah harus antre. Butuh waktu sampai 3 hari baru semuanya selesai digiling dengan bersih dan rapi.

Di hari keempat, Ayah bicara sama Bunda dengan santai.

"Bu, aku mau pergi ke kota mau jual kopi ini. Uangnya nanti buat kebutuhan makan sehari-hari dan keperluan kita."

Bunda sama sekali tidak curiga, Bunda percaya penuh sama Ayah. "Iya Mas, hati-hati di jalan ya. Nanti apa saja yang perlu dibeli, aku sudah tulis di kertas kecil ini, tolong dibelikan ya." Bunda tidak ikut pergi karena saat itu adik bungsuku, Fajar, masih sangat kecil, baru berumur satu tahun setengah, harus ada yang menjaga di rumah.

Pagi itu hari Minggu, suasana masih sejuk. Saat Ayah bersiap berangkat, aku mendekat, memegang ujung baju Ayah sambil tersenyum manja.

"Ayah... Ayah... hari ini kan hari Minggu, Ria boleh ikut ya ke pasar? Ria mau ikut sama Ayah..."

Ayah diam saja, tidak menjawab, wajahnya terlihat kaku dan gelisah. Aku mengira Ayah tidak dengar, aku merengek lagi, makin erat memegang bajunya.

"Ayah... Ria ikut ya... Ria mau ikut..."

"Sana main lagi sana!" ketus Ayah singkat.

Aku diam, bingung, dan heran. Ayah yang biasanya lembut dan manja sama aku, kok hari ini beda sekali. Tak lama, aku melihat Ayah mondar-mandir ke belakang rumah, terlihat gelisah sekali. Karena penasaran, aku ikuti diam-diam. Di dekat tumpukan kayu bakar, ada tas besar milik Ayah yang sudah terisi penuh. Tangan kecilku iseng membuka sedikit tas itu, dan jantungku seolah berhenti berdetak.

"Loh... kok begini...?" batinku kaget.

Di dalam tas itu, Ayah membawa banyak sekali baju ganti, barang-barang pribadinya, dan juga benda-benda khusus yang biasa dipakai Ayah untuk beribadah atau mengobati orang — barang yang tidak mungkin dibawa kalau cuma mau jual kopi saja. Ayah memang punya kelebihan, dia bisa mengobati orang yang sakit keras atau yang diganggu makhluk halus, barang-barang itu sangat berharga dan biasanya ditaruh rapi di lemari khusus.

Aku masih bingung dan mau melihat lebih lanjut, tiba-tiba...

"RIAAA!! APA YANG KAMU LAKUKAN HAH?!"

Ayah berdiri tepat di belakangku, matanya melotot marah, wajahnya merah padam. Aku kaget luar biasa sampai gemetar ketakutan, tanganku melepas tas itu.

"Ma... maaf ya Ayah... Ria cuma liat... kok Ayah bawa baju banyak sama ini barang-barang buat ngobatin orang juga dibawa? Kan biasa gak pernah dibawa..." jawabku terbata-bata sambil menunduk takut.

Belum selesai aku bicara, tiba-tiba tangan Ayah menutup mulutku rapat dengan telapak tangannya yang besar dan kasar. Aku tercekik, mau berteriak pun tidak bisa.

Ternyata Bunda mendengar suara bentakan itu, Bunda berjalan mendekati dengan heran.

"Ada apa ini Mas? Kenapa bentak Ria? Ingat ya, dia satu-satunya anak perempuan kita! Ingat betapa susahnya kita punya anak perempuan, dulu setiap melahirkan anak perempuan selalu meninggal, hanya Ria yang bertahan hidup sampai besar! Ingat itu Mas! Jangan kasar sama dia!" bentak Bunda marah dan tidak terima aku dibentak.

Ayah melepas tanganku dengan kasar. Aku mau bicara, mau bilang apa yang aku lihat tadi, tapi tiba-tiba Ayah menyubit pinggangku sangat keras sampai aku hampir menangis keras menahan sakit.

"Bun... Ria ikut Ayah ya... Ria mau ikut..." pintaku lagi sambil menangis, berusaha memeluk kaki Ayah.

"GAK BOLEH! UDAH DI RUMAH AJA! DIEM SANA!" bentak Ayah keras sekali, wajahnya menakutkan sekali. Ini pertama kalinya Ayah semarah ini sama aku, padahal selama ini aku anak kesayangannya. Ayah mendorong pelukanku sampai terlepas, lalu buru-buru pergi naik kendaraan meninggalkan halaman rumah, tidak menoleh sedikit pun.

Aku menangis sejadi-jadinya di dekat Bunda. "Bun... Ayah kenapa bawa baju sama barang-barang pengobatan itu Bun? Gak mungkin kan kalau cuma mau jual kopi... Kayaknya Ayah mau pergi jauh deh Bun..."

Bunda mengelus kepalaku sambil mencoba menenangkan, padahal di hati Bunda juga mulai ada rasa curiga. "Gak mungkin nak... Mungkin kamu salah liat saja ya. Kamu kan belum dewasa, mungkin salah sangka. Nurut ya, Ayah cuma sebentar kok."

Jam demi jam berlalu. Biasanya kalau Ayah pergi ke pasar, paling telat sesudah Maghrib sudah sampai rumah. Tapi hari ini, jam 8 malam Ayah belum pulang juga. Bang Hamza bertanya sama Bunda dengan bingung.

"Bun... itu Bibi Rakis kok gak kelihatan dari siang tadi ya? Masih di kamar terus dari tadi gak keluar-keluar?"

Bunda mengerutkan kening, makin bingung dan gelisah. "Iya ya Hamza... mana Bibi Rakis? Kok seharian gak kelihatan...". Kami semua menunggu sampai jam 11 malam, tapi Ayah tetap belum ada kabar, belum pulang juga.

Pagi harinya, Ayah tetap tidak pulang. Hatiku makin gelisah, ada rasa takut yang besar sekali menyelimuti dada. Aku bertanya sama Bunda, tapi Bunda hanya diam dan terlihat pucat.

Akhirnya aku memberanikan diri pergi ke ruangan khusus tempat Ayah biasa beribadah dan menyimpan barang-barang pengobatan. Aku buka lemari besar itu perlahan... Kosong. Semua barang hilang. Aku buka lemari baju Ayah... Kosong, tidak ada selembar pun baju tertinggal. Aku diam terpaku, hatiku hancur. "Kalau begini adanya... berarti Ayah beneran pergi dan gak akan pulang lagi..." batinku menangis.

Dengan kaki gemetar, aku berlari ke kamar Bibi Rakis yang dari semalam tidak kelihatan. Kubuka pintunya... Kosong. Semua baju-baju miliknya lenyap, bersih tak bersisa. Aku makin ketakutan, tubuhku gemetar hebat.

"BUUUUNDAAAA... BUUUUNNNN!!!!" teriakku sekeras-kerasnya.

Bunda berlari menghampiri dengan panik. "Kenapa nak?! Ada apa?!"

"Lihat Bun... lihat sini... Astaghfirullah... Ya Allah... Kenapa ini semua kosong? Baju Ayah gak ada, barang-barang Ayah gak ada, Bibi Rakis pun gak ada semuanya bersih..." tangisku pecah sejadi-jadinya.

Bunda lari secepatnya ke ruang ibadah dan lemari baju, melihat kenyataan pahit itu, Bunda langsung jatuh terguling, histeris memanggil nama Ayah. "Ya Allah... Ya Rohbi... Mas... Kenapa begini... Kenapa..."

Bang Hamza, Bang Arefin, Bang Ardiansyah, dan adik-adikku berlari mendatangi, mereka kaget bukan main melihat semua lemari kosong melompong, mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ayah kami pergi meninggalkan kami, membawa semua harta, membawa perempuan lain itu, dan tidak meninggalkan apa-apa untuk kami.

Tak lama kemudian, Bunda pingsan dan tidak sadarkan diri selama tiga jam lamanya. Bang Hamza berlari memanggil tetangga dan kerabat untuk membantu menyadarkan Bunda. Banyak sekali orang datang, Bu Salama, Bu Rini, Bu Guru Sri, dan seluruh warga desa. Saat tahu apa yang terjadi, semua orang marah besar sama Ayah.

"Dasar laki-laki gak punya hati! Gak punya otak! Dulu dia hidup melarat, tidur di gubuk kebun, makan susah! Semuanya berubah karena kerja keras Maria (Bunda)! Sekarang hidup enak, punya rumah besar, punya kebun kopi, punya tanah, punya anak banyak... eh malah pergi sama perempuan gak jelas! Cantik juga enggak! Dasar gak tahu diuntung!" teriak warga dengan marah dan kasihan sama kami.

Selama tiga minggu penuh, Bunda sakit parah, tidak mau makan, tidak mau minum, dan berhenti menyusui adik Fajar. Fajar menangis terus karena lapar, kami anak-anak bingung dan panik tidak tahu harus berbuat apa. Aku yang akhirnya berusaha mengurus adikku, aku belajar memasak nasi, lalu air cucian beras (air tajin) kuberikan ke adikku agar dia diam dan kenyang. Setiap hari aku lakukan itu, berjuang sendiri menenangkan adik dan mengurus rumah.

Setelah tiga minggu lewat, Bunda mulai sadar kembali. Bunda menangis sejadi-jadinya memeluk kami semua.

"Maafkan Bunda ya anak-anak... Maafkan Bunda... Ayolah anakku sayang, kita jalani hidup ini tanpa Ayah kalian. Biarkan saja dia pergi, biarkan dia bahagia sama perempuan licik itu, hidupnya gak akan berkah pasti. Kita buktikan kita bisa hidup dan kuat."

Hingga di hari ke dua puluh lima kepergian Ayah, malam itu aku sedang shalat Isya. Dalam sujud dan doaku, aku mengadu semua pada Tuhan, meluapkan semua rasa sakit hatiku.

"Ya Allah... bagaimana kami hidup selanjutnya... Ayah jahat sekali... Ria tahu Ayah mau pergi dan gak akan pulang lagi... Ayah jahat bawa semuanya..."

Tanpa sengaja, Bang Hamza lewat di depan pintu dan mendengar doaku itu. Dia langsung masuk, matanya melotot marah besar.

"RIAAA...!!! Berarti kamu tahu kan?! Kamu tahu dari awal Ayah mau pergi gak pulang?! KAMU TAU! TERUS KENAPA GAK KAMU BILANG SAMA KAMI HAH?!"

Bang Arefin dan Bang Ardiansyah pun datang mendengar keributan itu, mereka sama-sama marah, wajah mereka merah padam penuh amarah dan rasa kecewa.

Mereka tidak sendirian... SEMUA ADIK-ADIKKU PUN IKUT MARAH DAN BENCI SAMA AKU. Mereka semua menuduh aku, mereka semua menyalahkan aku, seolah-olah akulah penyebab Ayah pergi.

"Kamu diam saja kan?! Kamu senang kan Ayah pergi?! Kamu jahat Ria! Kami benci sama kamu! Kami gak mau BERGAUL sama kamu! Kami gak mau ngomong sama kamu lagi!" teriak mereka semua serentak.

Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa, mulutku terkunci rapat oleh rasa sedih dan takut. Aku hanya menangis tersedu-sedu, jatuh berlutut memohon supaya mereka percaya, tapi tak ada yang mau dengar.

Hingga akhirnya aku pun ikut marah, hatiku sakit sekali dituduh begitu.

"ABANG SEMUA DAN ADIK-ADIK KENAPA SAMA RIA?! KALIAN BOLEH MARAH SAMA RIA, TAPI RIA JUGA KEHILANGAN AYAH! BUKAN KALIAN SAJA YANG SAKIT HATI! RIA JUGA SAKIT! RIA JUGA SEDIH! KENAPA KALIAN SALAHKAN RIA TERUS?!"

Bang Hamza makin meledak emosinya, dia berteriak kasar dan menyakitkan hatiku.

"KALAU KAMU SAYANG BANGET SAMA AYAHMU ITU, KENAPA GAK IKUT SEKALIAN PERGI DIAH?! PERGI SANA IKUT DIA! KAMI GAK BUTUH KAMU DI SINI! MULAI SEKARANG KAMI GAK PUNYA KAKAK PEREMPUAN NAMANYA RIA!"

DI SITILAH AWAL MULA PENDERITAANKU DIMULAI.

Sejak saat itu, selama DUA TAHUN PENUH, mereka semua — mulai dari Abang yang paling besar sampai adik yang paling kecil — membenci aku, mendiamkan aku, menjauhi aku, dan bersikap dingin seolah aku tidak ada. Aku hidup seperti orang asing di rumahku sendiri. Tidak ada yang mengajak bicara, tidak ada yang peduli, tidak ada yang bertanya kabar. Aku makan sendiri, tidur sendiri, berangkat sekolah sendiri, pulang sekolah sendiri, dan berjuang menahan lapar serta kesusahan sendirian.

Di rumah besar itu, aku tidur di pojok ruangan, di lantai yang keras, dengan alas seadanya. Makanan pun aku ambil yang sisa saja, atau aku cari sendiri di kebun, aku masak sendiri, karena aku malu dan takut mau makan di dekat mereka. Aku berjuang mati-matian membantu Bu Rini bekerja berat, mengangkat air, mencuci piring, demi dapat sedikit uang jajan dan makanan. Di sekolah pun aku sendirian, dikatai anak gembel, anak miskin, dijauhi teman.

Dua tahun lamanya aku menanggung semua rasa sakit itu sendirian... Dua tahun lamanya aku menangis dalam diam... Dua tahun lamanya aku hidup seperti orang yang tidak dianggap ada, hanya karena kesalahpahaman yang menyakitkan itu. Hanya Bunda lah satu-satunya yang tetap menyayangiku, tapi Bunda pun saat itu masih lemah dan sedih, jadi aku berusaha menutupi penderitaanku supaya Bunda tidak makin sedih.

Itulah sebabnya dulu aku begitu pendiam, begitu sabar, dan begitu terbiasa menahan segalanya sendiri. Itulah luka terbesar di hatiku yang baru sembuh perlahan saat Abang-abang sadar dan menangis minta maaf waktu aku sakit parah dulu.

(FLASHBACK OFF)

 

MASA KINI - RIA KELAS 2 SMP

Ingatan pahit itu kembali hilang, dan aku kembali sadar di masa kini, saat aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku menatap ke arah ketiga kakakku dan adik-adikku yang kini sudah berubah total, yang kini sangat menyayangiku, menjagaku mati-matian, yang sudah menangis dan minta maaf berkali-kali atas semua kesalahan dan perlakuan jahat mereka kepadaku di masa lalu.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!