NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Matahari pagi Xinglan terbit dengan enggan, terhalang oleh sisa-sisa awan kelabu yang masih menggantung pasca-badai semalam. Di dalam ruang istirahat dokter, Alin menatap cangkir teh nya yang sudah mendingin.

Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata. Kepalanya dipenuhi oleh bayangan wajah Rei saat pria itu menyentuh pipinya di laboratorium, juga tentang nasib Lu Minghan yang fajar ini resmi dibebaskan dari segala tuduhan.

Pintu ruang istirahat terbuka, dan Mei masuk dengan dua kantung roti hangat.

"Kau benar-benar punya malaikat pelindung yang ajaib, Alin," ujar Mei sambil meletakkan roti di meja. "Kementerian Hukum baru saja merilis pernyataan pers. Kasus Lu Minghan dinyatakan sebagai kesalahan administrasi forensik dari pihak ketiga. Nama Lu bersih dari segala tuduhan.”

Alin hanya tersenyum tipis, menyesap tehnya. Bukan malaikat pelindung, Mei. Tapi iblis berpakaian pangeran, batinnya.

"Dan ada satu lagi," Mei mencondongkan tubuhnya, berbisik misterius. "WHO baru saja mengeluarkan perintah pembekuan darurat untuk proyek rumah sakit di Neterdhem karena indikasi limbah beracun. Pihak keluarga besar Lu mengamuk di berita pagi, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa pun yang mengirimkan dokumen itu semalam benar-benar seorang pahlawan.”

"Baguslah kalau begitu," sahut Alin pelan. Ia berdiri, merapikan jas dokternya. "Aku harus visitasi pasien dulu."

Hari itu dirinya cukup lelah. Hanya dapat memejamkan matanya sebentar dan harus kembali bertugas. Ini sudah biasa ia jalani dengan hanya memejamkan mata paling lama tiga jam. Namun tidak seperti semalam yang setiap kejadian menguras isi otaknya.

...****************...

Malam harinya, Alin kembali mendatangi Hotel Grand Xinglan. Ini adalah hari terakhir Lu Minghan berada di negara ini. Besok pagi, pria itu akan terbang kembali ke Neterdhem untuk menata kembali puing-puing kekuasaannya yang sempat digoyang oleh keluarganya sendiri.

PIIP.

Suara bel kamar 809 terdengar saat Lu Minghan berada didalam kamar mandi, dia tertunduk senyum. Ia meminta Alin untuk datang berkunjung, setidaknya ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang sempat retak. Mengingat mereka dulu pernah memiliki hubungan akrab hingga Lu mengubahnya menjadi cinta dan Alin mulai menghindar.

“Masuk…” Pinta Lu pada Alin yang berdiri didepan pintu kamarnya. Aroma rumah sakit, perpaduan senyawa kimia antiseptik samar ada pada diri Alin, wanita itu bergegas menemuinya setelah pulang bertugas.

"Terimakasih.” Ujar Lu Minghan sesaat setelah menutup rapat pintu kamarnya. Ia sadar wanita itu menyempatkan diri untuk menemuinya disela kesibukannya.

Alin duduk di sofa besar ruangan itu, menerima sebotol minuman dingin dari mini bar yang diberikan Lu.

"Aku melakukannya semata karena tindakan mu memang benar." jawab Alin kaku, menjaga jarak di antara mereka. "Bagaimana dengan jaminan keselamatanmu di Neterdhem nanti?”

"Pihak istana Xinglan—atau lebih tepatnya, Pangeran Yan—telah mengirimkan memo diplomatik ke otoritas Neterdhem. Mereka menjamin posisiku sebagai direktur utama tidak boleh diganggu gugat selama proses investigasi lingkungan berlangsung. Pamanku tidak punya pilihan selain tunduk," Lu duduk tepat dihadapan Alin, menatapnya lekat-lekat. "Ia melakukan semua ini karena kau, bukan?"

Alin tidak menjawab. Keheningannya sudah cukup menjadi penegasan.

“Aku sudah menerima klausul dari Dokter Mei dan Dokter Han bulan lalu. Sepulangku dari Xinglan nanti, aku akan menyetujui pengadaan tenaga kerja medis baru. Perekrutannya pun sudah berjalan. Jadi, kalian bisa segera kembali ke Orinthal.”

Alin hanya mengangguk tanpa jawaban. Memang sudah seharusnya pria itu berbuat demikian.

“Maaf. Tidak seharusnya aku membiarkan perasaan ini terlibat terlalu dalam.” Lu menenggak kaleng birnya hingga tandas, berusaha mengusir rasa canggung yang merayap. “Jadi... apa kita bisa kembali seperti dulu lagi?” Ia memaksakan senyum yang getir, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.

Hening sejenak. Ingatan mereka berdua serentak ditarik kembali ke masa kuliah. Hubungan yang awalnya hanya sekadar senior dan junior, perlahan mengental menjadi persahabatan yang solid—atau setidaknya, begitulah Alin menganggapnya. Hingga malam itu, saat rahasia Lu terungkap.

“Kau menyukaiku?” Tanya Alin dengan nada kecewa dan kesal didalamnya saat mendengar curhatan Lu pada sahabatnya Zizi.

“Cara mu seperti ini hanya akan membuat hubungan diantara kita terasa canggung. Akhir bulan kau akan menerima surat pengunduran diriku.”

Lu sudah berkali-kali menyatakan cintanya, memaksa Alin masuk ke dalam dunianya, namun selalu berujung pada penolakan yang sama. Puncak kekecewaan itu adalah saat Lu, dengan otoritasnya yang dingin, justru membuang Alin ke wilayah Xinglan yang, pulau terjauh dari asalnya hanya karena ia tak sanggup melihat wanita itu terus menolaknya.

“Aku tidak pernah mengubah perasaan ku sejak awal. Kaulah yang merusaknya—- Mingming.” Senyum Alin menyebut nama kesayangan kecil, Lu Minghan.

Mendengar panggilan itu, pertahanan Lu Minghan runtuh. Ia tersenyum simpul, menahan tawa yang entah datang dari rasa geli atau keputusasaan yang memuncak. Panggilan "Mingming" itu seolah menariknya paksa kembali ke masa-masa paling tidak berdosa dalam hidup mereka.

Tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Lu, disusul oleh Alin. Dalam hitungan detik, mereka tertawa bersama di dalam kamar itu—sebuah tawa yang terdengar janggal namun jujur.

“Lalu apa hubungan mu dengan pangeran Yan?” Tanya Lu santai.

“Tidak ada. Apa yang ingin ku harapkan. Dia terlalu jauh untuk ku jangkau.”

“Jadi ternyata perasaanmu jatuh padanya?”

Alin menghela nafas berat, menenggak kembali minumannya. Seakan pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang perlu ia cari kebenarannya.

“Entahlah.” Jawab Alin singkat, terdengar dingin dan seakan kejam.

“Ternyata benar. Hatimu terlalu dingin. Banyak pria mengejarmu tapi tidak ada satupun yang kau perlakukan dengan baik.” Lirih Lu.

“Apa maksudmu? Aku memperlakukanmu dengan baik sampai detik ini meski kau membuangan ku ke Xinglan.”

“Itu tidak termasuk Lin.” Lu kembali menyesap bir dinginnya, wanita itu enggan menjalin hubungan dengan pria manapun, lalu apakah pangeran Yan akan menjadi cinta pertamanya?

“Jangan terlalu terbawa perasaan Ming. Yang kutahu, perasaan yang tidak rasional tanpa membawa logika hanya akan membawa mu lemah.” Ujar Alin.

“Kau berbicara itu seakan paham apa itu cinta.” Lirih Lu, “Kelak kau akan paham itu cinta jika kau takut kehilangannya, berada didekatnya membuatmu merasa tenang. Jika dia tidak disisi mu— kau akan memikirkannya tanpa henti. Dan— aku berharap kau tidak merasakan sakit karenanya.”

Lu mencengkeram botolnya erat, buku-buku jarinya memutih. Ada rasa sakit yang luar biasa saat harus mengajari definisi cinta kepada wanita yang ia cintai, namun justru sedang jatuh hati pada pria lain.

Alin meletakkan kalengnya yang masih setengah penuh.

"Jika definisi cintamu adalah rasa takut kehilangan, maka itu menjelaskan kenapa kau mengirimku ke Xinglan, Ming. Kau bukan mencintaiku, kau hanya takut kehilangan kendali atas diriku."

Lu terdiam. Hantaman kata-kata Alin lebih tajam dari alkohol mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!