NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Kakak yang Hilang

Bab 7 — Kakak yang Hilang

“Aku kakakmu.”

Kalimat itu membuat dunia

Nayra seperti berhenti bergerak.

Suara sirine.

Lampu merah.

Langkah kaki para pria bertopeng.

Semuanya mendadak terasa jauh.

Yang tersisa hanya wajah pria di depannya.

Wajah yang… memang mirip dengannya.

Sorot mata tajam itu.

Bentuk rahangnya.

Cara bibirnya bergerak saat bicara.

Dan sesuatu dalam diri Nayra langsung terasa tidak nyaman.

Bukan karena asing.

Tapi justru karena terlalu familiar.

“Kamu bohong…” suara Nayra bergetar.

Pria itu tersenyum tipis.

“Kalau aku bohong, kenapa wajah kita mirip?”

Nayra langsung mundur.

“Kakakku meninggal waktu aku kecil.”

“Itu yang mereka bilang ke kamu.”

Deg.

Dada Nayra terasa sesak.

Ingatan samar mulai bermunculan lagi.

Potongan kecil.

Kabur.

Seorang anak laki-laki menggandeng tangannya.

Suara tawa.

Ruangan putih.

Dan seseorang berteriak—

“Bawa Subject 07 sekarang!”

Nayra langsung memegang kepalanya.

“AAAH…”

Pria itu ingin mendekat, tapi Nayra refleks mundur lebih jauh.

“Jangan sentuh aku!”

Pria itu berhenti.

Tatapannya berubah rumit.

“Nama aku Arsen.”

Nayra menatapnya dengan napas kacau.

“Aku nggak punya kakak bernama Arsen.”

“Karena nama aku juga dihapus dari hidupmu.”

Kalimat itu menusuk aneh di dada Nayra.

Pria-pria bertopeng di belakang Arsen tetap diam.

Tidak menyerang.

Tidak bergerak.

Seolah mereka hanya menunggu perintah.

Nayra mulai sadar.

“Mereka… anak buahmu?”

Arsen melirik sekilas ke belakang.

“Sebagian.”

“Kamu kerja buat organisasi ini?!”

“Aku kerja buat diriku sendiri.”

Jawaban itu tidak membuat Nayra lebih tenang.

Justru makin menyeramkan.

Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari lantai atas.

DUAK!

DUAK!

Nayra langsung tersentak.

“Zavian…”

Arsen memperhatikan ekspresi Nayra.

“Cowok Player 03 itu?”

“Dia bukan—”

“Kamu mulai percaya sama dia?”

Nayra langsung diam.

Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Arsen tertawa kecil.

“Hati-hati. Di permainan ini, orang yang kelihatan paling tenang biasanya paling berbahaya.”

Nayra mengingat tatapan dingin Zavian.

Cara cowok itu menembak tanpa ragu.

Cara dia selalu tahu lebih banyak.

Dan entah kenapa…

untuk pertama kalinya muncul rasa takut kecil dalam dirinya.

Arsen melihat perubahan ekspresi Nayra.

“Kamu sadar juga akhirnya.”

“Aku nggak tahu harus percaya siapa…”

“Itu memang tujuan mereka.”

Nayra menatapnya.

“Mereka siapa sebenarnya?!”

Arsen diam sesaat.

Lalu berkata pelan—

“Sebuah organisasi yang menjadikan manusia sebagai permainan.”

Lampu lorong berkedip.

Sirine mulai mengecil.

Tapi suasana tetap terasa mencekik.

Nayra memeluk dirinya sendiri.

“Kamu bilang aku Subject…”

Arsen mengangguk.

“Subject 07.”

“Itu artinya apa?”

Tatapan Arsen berubah dingin.

“Itu artinya kamu bukan peserta biasa.”

Nayra mulai muak mendengar kalimat itu.

“Dari tadi semua orang ngomong begitu tanpa jelasin apa-apa!”

Nada suaranya meninggi.

“Aku capek! Aku takut! Aku bahkan nggak tahu mana kenyataan lagi!”

Arsen menatapnya lama.

Lalu perlahan berjalan mendekat.

Kali ini Nayra tidak mundur.

“Aku bakal jelasin,” katanya pelan. “Tapi nggak di sini.”

“Kenapa aku harus percaya kamu?”

Arsen tersenyum tipis pahit.

“Karena aku satu-satunya orang yang tahu masa lalumu.”

Deg.

Kalimat itu langsung menghantam Nayra.

Masa lalu.

Bagian kosong dalam hidupnya.

Hal-hal aneh yang kadang muncul dalam mimpi.

Ruangan putih.

Orang-orang bertopeng.

Suntikan.

Dan rasa takut yang tidak bisa dijelaskan.

Semuanya terasa lebih nyata sekarang.

Tiba-tiba—

BRAKK!

Pintu lorong belakang terbuka keras.

Zavian muncul.

Napasnya berat.

Hoodie hitamnya sobek di bagian lengan dan ada darah menetes dari sana.

Tatapannya langsung jatuh pada Arsen.

Dan suasana berubah dingin seketika.

“Kamu.”

Arsen tersenyum kecil.

“Masih hidup ternyata.”

Nayra langsung berdiri di tengah mereka.

“Tunggu—kalian saling kenal?!”

Tatapan Zavian tidak lepas dari Arsen.

“Menjauh dari dia, Nayra.”

Arsen malah santai memasukkan tangan ke saku.

“Masih segalak dulu.”

“Kamu kerja sama mereka sekarang?”

“Kadang.”

Jawaban itu bikin rahang Zavian mengeras.

Nayra menatap keduanya bingung.

“Ada yang bisa jelasin apa yang sebenarnya terjadi?!”

Tak ada yang langsung menjawab.

Karena mereka saling menatap seperti dua orang yang punya sejarah buruk.

Dan Nayra tidak suka itu.

Sama sekali.

“Dia pembunuh.”

Kalimat itu keluar tiba-tiba dari Zavian.

Nayra langsung menoleh cepat.

“Hah?”

Zavian menunjuk Arsen.

“Jangan percaya dia.”

Arsen tertawa kecil.

“Lucu.”

“Kamu bunuh pemain di Batch 9.”

Ekspresi Arsen tidak berubah.

“Itu permainan.”

“Dan kamu menikmati itu.”

Hening.

Nayra merasakan udara di lorong terasa makin berat.

“Apa itu benar?” tanyanya pelan.

Arsen akhirnya menatap Nayra.

“Kalau aku bilang iya?”

Jantung Nayra langsung berdegup keras.

“Kamu serius…?”

Arsen berjalan pelan mendekatinya.

“Dengar, Nayra. Di tempat ini, kalau kamu nggak bunuh orang lain…”

Tatapannya turun tajam.

“…kamu yang mati.”

Nayra membeku.

Cara Arsen mengatakannya terlalu tenang.

Terlalu biasa.

Seolah membunuh sudah jadi sesuatu yang normal.

Zavian langsung menarik Nayra ke belakangnya.

“Dia udah rusak.”

Arsen tersenyum dingin.

“Dan kamu enggak?”

Hening lagi.

Nayra mulai sadar sesuatu.

Zavian tidak membantah.

Ponsel Nayra tiba-tiba berbunyi.

TING!

Semua langsung menoleh.

Layar aplikasi The Game Master menyala sendiri.

Tulisan merah muncul.

LEVEL 2 — FINAL PHASE

Di bawahnya ada timer baru.

01:00:00

Satu jam.

Dan suara Game Master kembali terdengar.

“Kepada seluruh pemain yang tersisa…”

Lampu lorong berubah merah total.

“Permainan berikutnya akan segera dimulai.”

Nayra menggigit bibirnya.

“Tolong jangan ada permainan lagi…”

Tapi tentu saja dunia tidak peduli.

Layar berubah.

Dan tulisan berikutnya membuat napas Nayra tercekat.

KILL THE TARGET

Hening.

Sunyi total.

Perlahan, mata Nayra bergerak ke gelang di tangannya.

TARGET.

Tubuhnya langsung dingin.

Game Master berbicara lagi.

“Hanya pemain yang membunuh Target yang dapat melanjutkan ke Level 3.”

Nayra langsung mundur.

“Tidak…”

“Jika Target tetap hidup…”

Suara itu terdengar hampir menikmati ini.

“…semua pemain akan dieliminasi.”

Deg.

Nayra langsung menatap Zavian.

Lalu Arsen.

Dua pria itu juga diam sekarang.

Karena artinya jelas.

Untuk bertahan hidup…

mereka harus membunuh Nayra.

“Aku benci permainan ini,” gumam Arsen.

Zavian tidak bicara.

Tapi tatapannya berubah.

Dan Nayra mulai panik.

“Kalian nggak mungkin serius kan…?”

Tak ada jawaban.

“Kalian nggak bakal—”

DUAK!

Tiba-tiba tembakan terdengar dari ujung lorong.

Peluru menghantam dinding dekat kepala Nayra.

“TIARAP!” bentak Zavian.

Semua langsung bergerak.

Pria-pria bertopeng di belakang Arsen membalas tembakan.

Lorong mendadak jadi kacau.

Peluru berterbangan.

Suara ledakan kecil terdengar di mana-mana.

Nayra menutup kepala sambil gemetar.

“Aku mau pulang…”

Zavian menarik tangannya.

“Kita pindah!”

“Tunggu, Arsen—”

“Dia bisa urus dirinya sendiri.”

“Apa?!”

Tapi Zavian sudah menarik Nayra lari.

Mereka masuk ke ruangan arsip tua.

Gelap.

Berdebu.

Zavian langsung menutup pintu dan menahan napas.

Suara tembakan masih terdengar samar dari luar.

Nayra bersandar ke dinding sambil gemetar hebat.

“Aku capek…”

Zavian duduk di depan pintu.

Pistol masih di tangannya.

Darah di lengannya makin banyak.

“Kamu terluka…”

“Cuma lecet.”

“Itu bukan lecet!”

Zavian melirik luka itu sekilas.

“Aku masih bisa gerak.”

Nayra menatapnya beberapa detik.

Lalu tanpa sadar bergerak mendekat.

“Diam.”

“Hah?”

Nayra mengambil kain dari meja lalu mengikat luka di lengannya.

Gerakan tangannya masih gemetar.

Zavian memperhatikannya diam-diam.

“Kamu terlalu baik buat tempat kayak gini.”

Nayra mendengus kecil.

“Kalau aku jahat, dari tadi aku udah ninggalin kamu.”

“Harusnya begitu.”

“Kenapa?”

Tatapan Zavian turun pelan ke wajah Nayra.

“Karena aku juga mungkin bakal bunuh kamu kalau keadaan memaksa.”

Jantung Nayra langsung mencelos.

Tapi anehnya…

ia tidak sepenuhnya takut.

Karena Zavian mengatakannya dengan jujur.

Dan kejujuran di tempat seperti ini terasa langka.

“Kalau kamu mau bunuh aku,” kata Nayra pelan, “kamu udah punya banyak kesempatan.”

Zavian diam.

Lalu memalingkan wajah.

“Jangan terlalu percaya sama aku.”

Kalimat itu terdengar seperti peringatan.

Dan juga… permohonan.

Tiba-tiba suara langkah terdengar di luar ruangan.

Pelan.

Mendekat.

Nayra langsung menegang.

“Siapa itu?”

Zavian mengangkat pistol perlahan.

Pintu bergerak sedikit.

KREEEK…

Lalu suara familiar terdengar.

“Kalau kalian mau romantis, pilih waktu lain.”

Arsen.

Nayra langsung menghela napas lega.

Zavian malah mendecih kesal.

“Kamu nggak mati ternyata.”

Arsen masuk santai sambil membersihkan darah di pipinya.

“Aku susah dibunuh.”

Tatapannya jatuh pada tangan

Nayra yang masih memegang lengan Zavian.

Alisnya naik sedikit.

“Oke. Aku kelewatan sesuatu?”

Nayra buru-buru melepas tangan.

“Bukan begitu!”

Arsen tertawa kecil.

“Tenang aja.”

Zavian terlihat makin malas.

“Apa maumu?”

Arsen langsung serius lagi.

“Kita nggak punya banyak waktu.”

“Sudah tahu.”

“Mereka mulai aktifin Protocol Zero.”

Kalimat itu membuat ekspresi Zavian berubah.

Buruk.

“Apa itu?” tanya Nayra.

Kali ini Arsen yang menjawab.

“Kalau Protocol Zero aktif…”

Tatapannya menajam.

“…semua pemain bakal dibunuh. Termasuk Target.”

Nayra langsung pucat.

“Tapi tadi mereka bilang Target harus dibunuh pemain lain!”

“Itu permainan buat penonton.”

“Penonton?”

Arsen tersenyum dingin.

“Mereka semua lagi nonton kita sekarang.”

Deg.

Nayra langsung melihat sekeliling.

Kamera.

Layar.

Mikrofon.

Mereka benar-benar sedang ditonton.

Seperti hewan percobaan.

Seperti hiburan.

Rasa mual langsung naik ke tenggorokan Nayra.

“Aku benci mereka…”

Arsen menatap Nayra lama.

Lalu berkata pelan—

“Kalau kamu benar-benar mau menghancurkan permainan ini…”

Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam lain dari sakunya.

Berbeda dari sebelumnya.

Di kartu itu terdapat simbol aneh seperti kode.

“...maka kita harus masuk ke pusat sistem mereka.”

Zavian langsung berdiri.

“Kamu gila.”

“Memang.”

“Apa maksudnya pusat sistem?” tanya Nayra.

Arsen tersenyum tipis.

“Tempat para Game Master berada.”

Dan entah kenapa…

untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Nayra merasa permainan sebenarnya baru akan dimulai sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!