NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Penyusupan ke Sarang Musuh

Sinar matahari pagi menembus kaca besar penthouse, merefleksikan bayangan Renata yang kini telah bersiap dengan identitas barunya. Tidak ada lagi sweter rajut longgar milik Renata sang pustakawati, tidak ada pula gaun malam sutra hitam milik Papillon si dewi malam.

​Hari ini, ia mengenakan setelan kerja formal berupa blazer dan rok pensil berwarna abu-abu gelap yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan kemeja putih sutra di bagian dalam. Rambut cokelatnya dikuncir kuda dengan sangat rapi menampilkan kesan wanita karier yang tegas, cerdas, dan profesional. Satu-satunya hal yang tersisa dari identitas lamanya adalah kacamata dengan bingkai tipis transparan bukan lagi kacamata bulat tebal yang sengaja ia pakai untuk memberikan kesan genius dan teliti.

​Adrian berjalan keluar dari kamarnya, sudah rapi dengan setelan jas hitamnya yang legendaris. Ia sempat menghentikan langkahnya sejenak menatap Renata dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kilat kepuasan kembali melintas di mata elang sang CEO.

​"Kamu terlihat meyakinkan," ujar Adrian sambil memakai jam tangan mewahnya. "Ingat, mulai hari ini jabatanmu di kantorku adalah Kepala Asisten Analis Data Keuangan Pribadi CEO. Posisi ini memberimu akses legal untuk memeriksa alur keluar masuk dana di seluruh divisi, termasuk divisi milik Paman Bram dan Arsen."

​Renata mengangguk mantap. "Saya sudah mempelajari struktur organisasi Dirgantara Group yang Anda berikan semalam, Tuan Adrian. Saya tahu ke mana harus mencari celah."

​"Bagus dan satu hal lagi," Adrian melangkah mendekat, membetulkan kerah blazer Renata yang sedikit miring dengan gerakan yang sengaja dibuat intim. "Di kantor, aku adalah bosmu yang kejam. Jangan tunjukkan kelemahan sedikit pun karena mata-mata Arsen ada di setiap sudut koridor."

​"Saya mengerti, Tuan," jawab Renata, menahan napasnya sejenak karena jarak mereka yang terlampau dekat.

​Gedung pencakar langit Dirgantara Group berdiri angkuh di pusat segitiga emas Jakarta. Begitu Adrian dan Renata melangkah masuk ke dalam lobi utama, seluruh karyawan langsung menunduk hormat. Kehadiran Renata di sebelah Adrian dengan pakaian formal tentu saja memicu bisik-bisik darurat di antara para staf. Berita tentang 'gadis miskin yang beruntung' kini telah berubah menjadi 'istri kontrak yang ternyata berpendidikan tinggi'.

​Adrian membawa Renata langsung ke lantai tertinggi, lantai 50, tempat ruang kerja CEO berada. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota Jakarta serta meja kerja marmer hitam yang dipenuhi perangkat komputer canggih.

​"Ini mejamu," Adrian menunjuk sebuah meja kerja yang terletak tepat di dalam ruangan yang sama dengannya, hanya terpisah beberapa meter. "Dengan begitu, aku bisa mengawasimu dan orang luar akan mengira aku tidak bisa jauh dari tunanganku."

​Renata langsung duduk dan menyalakan komputernya. Jemarinya dengan cepat menari di atas papan ketik, memasukkan kode akses khusus yang diberikan Adrian untuk masuk ke dalam sistem main frame keuangan perusahaan.

​Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang produktif. Renata fokus memilah ribuan data transaksi digital selama tiga tahun terakhir. Namun, ketenangannya terusik ketika pintu ruang kerja CEO tiba-tiba terbuka tanpa diketuk.

​"Wah, wah... lihat siapa yang menempati kursi baru di sini," sebuah suara sinis yang sangat familiar bergema.

​Arsen Dirgantara melangkah masuk dengan gaya angkuhnya memegang beberapa berkas di tangannya. Matanya langsung tertuju pada Renata. Ada kilat kemarahan yang tertahan di balik senyum liciknya setelah kejadian di Kupu-Kupu Bar semalam.

​Adrian mendongak dari dokumennya, tatapannya langsung menajam. "Arsen. Sejak kapan ruangan CEO boleh dimasuki tanpa izin?"

​Arsen terkekeh, mengabaikan teguran Adrian dan justru berjalan mendekati meja kerja Renata. Ia melempar berkas yang dibawanya ke atas meja gadis itu. "Aku hanya mengantarkan laporan bulanan divisi pengadaan barang, Sepupuku. Dan kudengar... kamu mempekerjakan tunangan tercintamu di sini? Apakah Dirgantara Group kekurangan dana hingga harus mempekerjakan seorang pustakawati untuk mengurus uang miliaran rupiah?"

​Renata tidak menunjukkan kepanikan. Ia menegakkan punggungnya, menatap Arsen langsung dari balik kacamata tipisnya dengan senyuman formal yang sangat dingin.

​"Tuan Arsen yang Terhormat," suara Renata terdengar sangat tenang dan profesional. "Latar belakang saya mungkin memang dari perpustakaan, namun perpustakaan tempat saya bekerja sebelumnya adalah pusat arsip data hukum dan keuangan negara. Menemukan 'buku yang salah tempat' atau... 'angka yang sengaja disembunyikan' adalah keahlian utama saya. Jadi, Anda tidak perlu khawatir tentang kompetensi saya."

​Mendengar jawaban telak itu, rahang Arsen mengeras. Ia tahu ada makna ganda di balik kata 'angka yang sengaja disembunyikan'. Arsen mencondongkan tubuhnya di atas meja Renata, berbisik dengan nada mengancam. "Berhati-hatilah dengan ucapanmu, Nona Renata. Angka-angka di perusahaan ini bisa sangat kejam. Salah hitung sedikit saja kamu bisa tergelincir dan... lenyap, sama seperti orang-orang tidak kompeten lainnya."

​"Cukup, Arsen!" bentak Adrian, berdiri dari kursi kebesarannya aura penindasannya langsung memenuhi ruangan. "Keluar dari ruanganku sekarang sebelum aku memanggil tim keamanan untuk menyeretmu."

​Arsen menarik tubuhnya kembali, merapikan jasnya sambil mendengus remeh. "Nikmatilah masa-masa serumu ini, Adrian. Kita lihat saja siapa yang akan tertawa paling akhir di rapat dewan komisaris minggu depan."

​Arsen berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, membanting pintu dengan cukup keras.

​Begitu Arsen pergi, Renata kembali fokus pada layarnya. Namun kali ini, senyum kemenangan terukir di wajah cantiknya. Jantungnya berdegup kencang karena kegembiraan yang luar biasa.

​"Tuan Adrian..." panggil Renata, suaranya sedikit bergetar karena bersemangat.

​Adrian segera berjalan mendekati meja Renata. "Ada apa? Apa kamu menemukan sesuatu?"

​Renata menunjuk ke arah baris kode transaksi terenkripsi yang baru saja berhasil ia pecahkan di layar komputer. "Lihat ini, laporan bulanan yang baru saja dibawa Arsen secara fisik sangat rapi. Tapi di dalam sistem digital main frame ada aliran dana keluar setiap tanggal 15 ke sebuah perusahaan cangkang bernama 'Papillon Holding' yang terdaftar di luar negeri."

​Adrian menyipitkan matanya. "Papillon Holding? Bajingan itu sengaja menggunakan nama bar tempat dia bermain wanita untuk menyamarkan rekening penampungannya."

​"Bukan hanya itu," Renata menggulirkan layarnya ke bawah, menampilkan dokumen digital lampiran yang berisi tanda tangan digital pemberi otorisasi. "Untuk mencairkan dana ini, dibutuhkan tanda tangan dari kepala divisi pengadaan... dan asisten pribadinya yang bernama Rendra."

​Renata menoleh menatap Adrian, matanya berkilat penuh tekad. "Rendra... dia adalah asisten pribadi Arsen yang malam itu berjaga di depan pintu kamar Kak Maya. Dia adalah saksi kunci sekaligus orang yang memegang buku catatan keuangan rahasia Arsen."

​Adrian menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Renata, wajahnya berada tepat di sebelah wajah gadis itu. "Kerja bagus, Renata. Kamu berhasil menemukan hulu ledaknya. Sekarang, kita hanya perlu memancing Rendra agar dia mengkhianati Arsen."

​Renata bisa merasakan kedekatan fisik mereka yang begitu intim, namun fokusnya mengalahkan segalanya. "Bagaimana caranya?"

​Adrian tersenyum misterius, sebuah senyuman yang penuh dengan rencana matang yang mematikan. "Rendra adalah seorang penjudi berat yang memiliki hutang besar di kelab malam lain. Malam ini, Arsen ada janji temu bisnis di luar kota. Itu berarti Rendra akan bebas. Kita akan menjebaknya di tempat yang paling dia sukai... dan kamu, Renata... malam ini kamu harus kembali mengenakan topengmu sebagai Papillon."

​Aliansi mereka kini bergerak dengan kecepatan penuh. Penyusupan di siang hari telah membuahkan hasil dan malam ini, sang Kupu-Kupu malam siap menyebarkan jaring racunnya untuk menangkap mangsa pertama mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!