Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PARAH
ARMILA
"Oh, ya kapan dia mau minta maaf, ya. Sudah seminggu lebih. Kata mas Andra bagaimana?"
Aku membuang pandangan ke arah kanan. Aku tak mau menjawab pertanyaan yang lebih tepatnya penyelidikan.
"Aku hanya ingin memberi pelajaran pada manusia toxic. Kalau dibiarkan bisa keenakan. Nanti melakukan yang lebih jahat. Kamu hebat, Mil, bisa bertahan dengan orang seperti itu."
Dokter Reiga membuatku harus berbagi bangku yang terbuat dari semen. Ia memberi jarak hingga duduknya tak saling berdekatan. Setelah ini bi Cicah mengambil Affan dari tangannya, barulah dia kembali buka suara.
"Sekali lihat saja aku sudah bisa menebak, Resti bukan wanita baik-baik. Ditambah fitnah pada kita. Terbayang hidup di posisi kamu."
Aku masih diam dengan pancingannya. Buat apa juga mengatakan perihal hidup pada orang lain. Apalagi seorang lelaki.
"Poligami memang boleh, aku paham itu. Ditujukan untuk membangun rumah tangga bahagia dengan banyak istri, bukan pemuas biologis semata. Sama saja dengan monogami 'kan harusnya tercipta sakinah. Kalau kenyataannya tidak, artinya ada yang salah dalam pelaksanaannya. Bagi kaum pria harusnya bukan hanya kesenangan diri sendiri yang dipikir, tapi apakah mampu mencipta bahagia pada istri-istrinya.. Maaf, ya kadang aku gemas dengan kasus begini. Apalagi dulu sepupu mengalami pernikahan toxic. Syukurlah sekarang dia sudah bebas. "
"Sepupunya bercerai?"
"Ya, aku katakan padanya saat ragu untuk berpisah. Mempertahankan pernikahan adalah harus dilakukan, tapi bertahan dalam sakit tak berujung itu kebodohan! Madunya berkarakter seperti Resti, ia selalu jadi korban fitnah. Toxic'kan begitu namanya?"
Kata-kata Reiga bukan hanya ditujukan pada sepupunya, tapi secara tidak langsung padaku. Ia mungkin sungkan memberi nasehat secara langsung, tapi tak bisa diam saja melihat teman masa lalunya menderita.
"Aku juga bilang, silakan bertahan jika mampu menyelesaikan. Tapi jangan mengeluh lagi padaku sebab itu tak berguna. Kunci solusi itu ada pada pribadi masing-masing, apakah ia akan bertahan atau melepaskan."
Karena Affan menangis, obrolan harus dihentikan. Kami juga harus pulang sebab matahari sudah berwarna emas tua.
Dokter Reiga menggendong Affan saat kami kembali. Di tangannya, tangisan anak itu berhenti. Anakku itu mungkin memang rindu pada sosok lelaki dewasa yang memang jarang di rumah akhir-akhir ini. Ia sibuk dengan kesenangannya sendiri hingga lupa pada putra yang dahulu sangat diinginkan.
Dunianya telah berbeda kini. Ia tak lagi mencurahkan waktu sisa kerja untuk kami. Pria itu punya kesenangan baru yang mampu menghapus kebahagiaan masa lalu.
"Aku sering jail padamu dulu sebab tak suka melihatmu murung apalagi menangis. Makanya mending diusilin supaya teriak-teriak! Jelek banget emang kalau lagi teriak, tapi aku lebih senang begitu daripada matamu berkabut."
"Oh, aku jelek, ya kalau marah. Hish, dasar jail!"
Kak Reiga tertawa sambil membalikkan badan. Tawanya masih terdengar meski langkah itu makin jauh.
*
"Aku ke sini ingin memberitahu kalau mas Andra akan lebih sering di rumahku dibanding di sini. Itu wajar karena ibu hamil butuh lebih banyak perhatian. Untuk itu kamu harus berbesar hati, oke!"
Resti datang bersama pembantunya sore ini. Aku harus waspada sebab pasti ada niat buruk yang sedang direncanakan. Pada wanita culas itu memang perlu mengedepankan prasangka.
"Oh, ya kakak madu, aku juga ingin memperlihatkan sesuatu padamu. Semoga ini bisa menambah imunmu!"
Resti maju ke arahku dan menyodorkan HP nya. Layar benda itu telah terbuka dan menampilkan sebuah sebuah video.
Emosiku langsung tersulut ketika melihat adegan tak pantas dilihat ini. Bagaimana tidak, Resti dengan kurang ajar memperlihatkan aktivitas hubungan ranjangnya dengan mas Andra. Benar-benar tak beradab.
"Mas Andra hebat banget di ranjang, ya. Tahu tidak berapa ronde dia minta tiap harinya. Sampai cape, loh aku! Dari situlah aku yakin kalau mas Andra sangat, sangat mencintaiku! Pantas saja berpaling dari kamu!"
Aku sudah tak tahan lagi dengan kata-kata keji perempuan laknat ini.
"Keluar dari sini atau-!"
"Atau apa, hah! Mau memukulku, ayo pukul! Kenapa, gak berani, hah! Kalau begitu, biar aku yang pukul kamu!"
"Kamu mau apa? Lepas, Resti!"
"Ayo, Bu hajar, hajar!"
"Bantu, dong, Mimin Tenang pembantunya gak ada. Ga ada CCTV juga di sini! Mimin ayo bantu!"
Aku kewalahan dijambak dua wanita gila ini. Ketika ada kesempatan, aku lari ke tangga supaya bisa masuk kamar. Tak ada yang bisa dimintai tolong sebab mang Dadang dan bi Cicah lagi belanja.
"Kejar, Bu!"
Di tangga, aku kembali dibully. Tapi, kali ini hanya oleh Resti. Bi Mimin ada di sebelah kami, tapi hanya mengompori.
"Bu, sekarang lepasnya!"
Aku berontak dari cekalan tangan Resti hingga menariknya ke depan kuat-kuat. Saat sudah sangat kencang, tiba-tiba Resti melepas cekalan hingga dia dia terjengkang dan menggelinding ke bawah.