Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menulis di Atas Bara
Pagi itu, Jakarta terasa seperti oven raksasa yang siap memanggang siapa saja yang tidak punya nyali. Aku meninggalkan rumah aman di Bogor saat embun masih menempel di kaca jendela, meninggalkan secarik memo di atas bantal Bimo yang masih hangat: “Ada urusan mendadak soal yayasan di Jakarta. Jangan susul aku, aku butuh waktu sendiri untuk berpikir. Love, Nara.”
Bohong. Itu adalah kebohongan paling pahit yang pernah aku tulis sebagai seorang pengarang. Tapi dalam dunia yang sedang kumasuki sekarang, kejujuran adalah kemewahan yang tidak bisa kubayar dengan murah. Aku butuh ruang untuk menghadapi bayang-bayang ini tanpa harus melihat sorot mata Bimo yang penuh rasa bersalah—sorot mata yang belakangan ini mulai menggerogoti ketenangan kami berdua.
Aku melaju menuju Jalan Veteran menggunakan taksi daring. Sepanjang jalan, aku menatap layar ponselku, memastikan email ancaman itu tidak menghilang secara ajaib. Alamat yang dituju adalah sebuah gedung perkantoran tua yang fasadnya sudah mulai mengelupas. Dulu, ini adalah pusat jurnalisme independen di era 90-an, tempat di mana ayah kandungku, Adrian, menghabiskan malam-malamnya untuk mengetik kebenaran di atas mesin ketik yang berisik sebelum maut menjemputnya.
Begitu aku turun, suasana sepi langsung menyergap. Gedung itu hampir kosong, hanya ada beberapa kantor logistik di lantai dasar yang sibuk dengan paket-paket harian. Aku naik ke lantai empat menggunakan lift yang berderit ngeri, suaranya seperti keluhan besi tua yang sudah lelah memikul beban. Saat pintu lift terbuka, aku disambut oleh lorong yang temaram dan debu yang menari-nari di bawah celah sinar matahari yang masuk lewat jendela retak.
"Lantai empat, ujung lorong," bisikku pada diri sendiri, mencoba menguatkan kaki yang terasa seperti jeli. Setiap langkahku bergema di lorong yang sunyi itu, membuat jantungku berdegup makin kencang.
Di ujung lorong, sebuah pintu kayu dengan kaca buram bertuliskan “Lensa Merdeka – Investigasi” terbuka sedikit. Aku mendorongnya perlahan. Di dalam, ruangan itu penuh dengan rak buku berdebu dan arsip-arsip yang menggunung. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja flanel lusuh, sedang asyik menyesap kopi dari cangkir kaleng.
Dia bukan Bram. Dia juga bukan orang suruhan Kakek Wijaya yang terlihat sangar. Pria ini tampak seperti... jurnalis tua yang sudah lelah dengan dunia, namun masih memiliki sisa-sisa api di matanya.
"Nara Adrian. Kamu punya mata yang sama persis dengan ayahmu," sapa pria itu tanpa menoleh ke arahku.
"Siapa Anda?" tanyaku, tetap berdiri di dekat pintu. Tangan kananku meraba ponsel di saku, siap menekan nomor darurat jika keadaan memburuk.
"Namaku Lukman. Aku adalah partner Adrian sebelum dia... yah, sebelum dia dihilangkan oleh keluarga suamimu," katanya sambil mempersilakan aku duduk di kursi plastik yang kusam. "Jangan takut. Aku bukan orang jahat. Tapi aku punya tugas yang sangat buruk hari ini, tugas yang seharusnya sudah selesai puluhan tahun lalu."
"Anda yang mengirim email itu? Soal Ayah Hendra?" suaraku bergetar antara marah dan penasaran.
Lukman mengangguk pelan. Dia mengeluarkan sebuah laptop tua dari bawah tumpukan kertas. "Bram memang bodoh, tapi dia punya tim IT yang licin. Sebelum dia ditangkap sepenuhnya, dia mengaktifkan fail-safe di server bayangan Wijaya Group. File itu berisi seluruh kronologi bagaimana Hendra mengganti identitasmu secara ilegal. Jika aku tidak memasukkan kode khusus setiap 48 jam, file itu akan terkirim secara otomatis ke divisi kriminalitas Mabes Polri. Ayahmu, pria yang menyelamatkanmu itu, akan dituduh menculik dan memalsukan dokumen negara."
"Jadi Anda memeras saya?" aku mendekat, rasa marah mulai mendominasi rasa takutku.
"Bukan memeras, Nara. Aku melindungi. Bram tahu aku satu-satunya orang yang tahu letak server fisik cadangan itu. Dia mengancam akan menghancurkan hidup Hendra jika aku tidak mendapatkan kunci akses Aethelred darimu. Tapi aku punya rencana lain yang lebih elegan."
Lukman memutar laptopnya ke arahku. Di layar, ada ribuan baris kode yang berkedip merah. "Aethelred bukan cuma soal dana perwalian sebesar ratusan miliar itu. Itu adalah kunci enkripsi untuk membuka 'Kotak Pandora' yang sesungguhnya. Selama ini, semua orang mengira itu hanya soal uang untuk panti asuhan. Padahal, di dalam folder terenkripsi itu ada rekaman suara asli Andra Wijaya dan Ratih saat merencanakan eksekusi Adrian."
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah mau melompat keluar dari rusukku. "Rekaman suara? Mereka merekamnya?"
"Ya. Andra Wijaya—ayah Bimo—selalu merasa bersalah. Dia merekam semua percakapannya dengan Ratih sebagai jaminan atau mungkin penebusan dosa di masa depan. Dia tahu suatu saat dia mungkin harus menyerahkan diri, atau setidaknya memberikan senjata pada seseorang untuk menjatuhkan dominasi istrinya sendiri jika keadaan sudah tidak terkendali. Dan sekarang, senjata itu ada di tanganmu, Nara. Lewat dokumen digital yang Bimo berikan padamu sebagai mahar pernikahan kalian."
Aku terdiam, merenungi ironi yang terjadi. Jadi, kunci yang dicari Bram, yang dicari Lukman, dan yang selama ini tersimpan dalam memoriku adalah kunci untuk menghancurkan Ratih dan seluruh warisan hitam Wijaya secara total. Tapi harganya sangat mahal: keselamatan Ayah Hendra.
"Kalau aku memberikan kodenya, apa jaminannya Ayah Hendra aman?"
"Aku bisa menghapus file kasus Hendra dari server itu secara permanen sebelum aku menyerahkan rekaman suara itu ke pihak berwajib. Kita bisa melakukan barter yang adil. Kebenaran soal pembunuhan ayah kandungmu, ditukar dengan keamanan pria yang membesarkanmu dengan penuh kasih sayang," Lukman menatapku dalam, seolah mencari keraguan di mataku. "Tapi kita harus melakukannya sekarang. Karena Bram punya orang dalam di kepolisian yang mungkin bisa mengakses server itu lebih cepat dari kita."
Aku meragu sejenak. Ini terasa seperti adegan dalam novel thriller yang biasa kutulis dengan santai di kafe, tapi taruhannya adalah nyawa dan kebebasan orang yang paling kucintai di dunia nyata. Aku mengeluarkan buku catatan kecil dari tas. Di sana, di antara coretan plot novel dan daftar belanjaan, ada serangkaian angka dan huruf rumit yang Bimo bisikkan padaku sebelum kami resmi menjadi suami istri.
“Simpan ini, Nara. Ini adalah perlindungan terakhirmu jika aku sudah tidak bisa lagi menjagamu,” kata Bimo waktu itu dengan wajah yang sangat serius. Sekarang aku mengerti kenapa.
Aku mulai mengetikkan kode itu di laptop Lukman. Jemariku bergetar hebat, keringat dingin membasahi telapak tanganku. Satu persatu, kunci enkripsi itu terbuka dengan bunyi ping yang memuaskan sekaligus mengerikan. Sebuah folder bernama “AETHELRED_FINAL” muncul di layar. Lukman dengan cepat mengklik sebuah file audio di dalamnya.
Suara statis terdengar sebentar, suara bising dari masa lalu, lalu muncul suara wanita yang sangat kaku namun tajam. Suara Ratih Wijaya.
“...Dia tidak bisa dibiarkan bicara, Andra. Adrian sudah memegang bukti soal sengketa tanah di Kalimantan. Kalau ini bocor ke publik, kita tidak akan pernah melantai di bursa saham bulan depan. Lakukan apa yang harus dilakukan. Hendra? Biar dia yang menanggung bebannya. Dia teman dekatnya, kan? Publik akan lebih percaya kalau teman yang mengkhianati teman demi uang.”
Lalu terdengar suara pria yang gemetar, penuh keraguan. Suara Andra Wijaya. “Tapi Ratih, ada bayi di sana. Anak Adrian baru saja lahir. Kita tidak bisa sekejam itu, dia masih merah.”
“Anak itu tidak ada hubungannya dengan bisnis kita. Buang saja ke panti asuhan atau ke mana pun asal jauh dari jangkauan kita. Fokus pada tujuan utama kita, Andra! Jangan biarkan perasaan mengacaukan warisan keluarga kita!”
Rekaman itu berakhir. Aku menutup mulutku, air mata tumpah tanpa bisa dicegah. Jadi benar, Ratih-lah sang sutradara yang begitu dingin, jauh lebih dingin dari yang pernah kubayangkan. Dia bahkan tidak peduli pada nyawa bayi yang tidak berdosa, yang hanya ingin mengenal wajah ayahnya.
"Selesai," Lukman mengetik dengan kecepatan luar biasa. "File soal Hendra sudah kuhapus dari log manapun. Server itu sekarang hanya berisi rekaman ini dan bukti pendukungnya. Aku akan mengirimkannya ke Panji sekarang melalui jalur aman. Dia tahu cara menggunakan ini untuk membungkam pengacara-pengacara Ratih di Swiss selamanya."
Saat aku keluar dari gedung tua itu, matahari sudah tepat di atas kepala, membakar aspal Jakarta. Aku merasa kosong, seolah-olah seluruh emosiku sudah terkuras habis di ruangan lantai empat tadi. Tapi di sisi lain, aku merasa bersih. Seperti baru saja mandi di bawah air terjun yang sangat dingin setelah bertahun-tahun hidup dalam lumpur.
Namun, kejutan hari ini belum berakhir. Di depan gedung, sebuah mobil hitam mewah yang sangat kukenali sudah menunggu. Pintu belakang terbuka, dan Bimo keluar dari sana. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, meskipun aku tahu aku baru saja melanggar janjinya untuk tidak pergi sendiri. Dia hanya tampak... sedih. Sangat sedih.
"Bim..." suaraku nyaris hilang tertiup angin jalanan.
Bimo berjalan mendekat tanpa ragu. Di tengah trotoar yang ramai dengan orang kantoran yang sedang mencari makan siang, dia menarikku ke dalam pelukannya. Dia memelukku begitu erat sampai aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, seolah-olah dia takut jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan menguap menjadi debu.
"Panji memberitahuku soal Lukman," bisiknya di telingaku, suaranya serak. "Kenapa kamu nggak bilang, Nara? Kenapa kamu harus menanggung beban seberat ini sendirian di tempat tua seperti ini? Aku suamimu, seharusnya aku yang berada di sana, bukan kamu."
"Aku nggak mau kamu mendengar rekaman itu, Bim. Aku nggak mau kamu tahu seberapa buruk ibu dan ayahmu sebenarnya melalui rekaman suara mereka sendiri. Itu akan menghancurkanmu," isakku di dadanya, membasahi kemeja mahalnya yang kini tak lagi penting bagiku.
Bimo melepaskan pelukannya, menatap mataku dengan sorot mata yang penuh tekad dan cinta yang mendalam. "Aku sudah tahu, Nara. Aku sudah menduga semua itu sejak lama, tapi aku terlalu pengecut untuk mencari buktinya sendiri karena aku takut pada bayanganku. Terima kasih sudah menjadi jauh lebih berani dariku. Terima kasih sudah menyelamatkan Ayah Hendra dengan cara yang tidak pernah terpikirkan olehku."
Kami berdiri di sana, di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tidak peduli pada drama manusia yang baru saja terjadi. Di gedung tua di belakang kami, rahasia kotor selama tiga puluh tahun telah dikubur dan bangkit kembali dalam bentuk keadilan yang tak terbantahkan.
"Apa sekarang semuanya benar-benar selesai, Bim?" tanyaku sambil menghapus air mata dengan punggung tanganku.
Bimo menggandeng tanganku menuju mobil dengan langkah pasti. "Belum sepenuhnya. Kita masih harus ke kantor polisi bersama Panji untuk memastikan rekaman itu diproses secara resmi. Tapi setelah itu, kita akan benar-benar pulang. Kita akan ajak Ayah Hendra makan malam yang paling mewah yang pernah ada, dan kita akan bicara soal masa depan. Benar-benar masa depan yang jernih, tanpa ada 'Aethelred', tanpa ada bayangan Kakek, atau rahasia lainnya."
Malam harinya, rumah kami di Jakarta terasa sangat berbeda. Ada rasa lega yang luar biasa, seolah-olah oksigen di ruangan ini baru saja diganti dengan yang lebih segar. Panji datang membawa kabar gembira bahwa pengacara Ratih di Swiss langsung mengundurkan diri setelah menerima salinan rekaman tersebut. Ratih kini resmi kehilangan segala pengaruh hukum dan finansialnya. Dia akan tetap tinggal di Swiss, namun sebagai pasien dalam pengawasan ketat pemerintah setempat, tanpa hak sedikit pun atas kekayaan Wijaya Group yang selama ini dia banggakan.
Aku duduk di meja kerjaku yang menghadap ke arah lampu-lampu kota. Aku membuka draf novelku yang sudah lama terbengkalai. Dengan jari yang kini stabil, aku menghapus seluruh bab terakhir yang pernah kutulis—bab yang penuh dengan dramatisasi fiksi yang terasa hambar. Hidupku nyata, dan jauh lebih liar daripada imajinasi manapun yang pernah kucatat.
Aku mulai mengetik baris-baris baru, membiarkan jemariku menari bebas di atas keyboard.
Keadilan seringkali tidak datang dengan tiupan terompet yang megah atau kemenangan yang disiarkan di seluruh stasiun televisi. Kadang, ia datang di sebuah ruangan berdebu yang pengap, lewat suara-suara lirih dari masa lalu yang akhirnya menemukan pendengarnya yang tepat. Aku bukan lagi Nara yang mencari jati diri di antara tumpukan hutang. Aku adalah Nara yang tahu bahwa akar yang kuat tidak selalu tumbuh dari tanah yang bersih, tapi dari bagaimana kita memilih untuk tetap tumbuh meski tanah itu penuh dengan bara api.
Bimo masuk ke kamar kerja, membawa segelas susu cokelat hangat dengan aroma kayu manis yang menenangkan. Dia berdiri di belakangku, melihat ke arah layar laptop.
"Judul barunya apa, Nyonya Penulis?" tanyanya dengan nada santai yang kusukai.
Aku tersenyum, lalu mengetikkan judul besar dengan huruf tebal di bagian atas halaman.
"DI BALIK NAMA"
"Bagus," kata Bimo sambil meletakkan susu itu di sampingku. "Tapi kamu lupa satu hal yang sangat penting untuk bagian penutupnya."
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu lupa menuliskan di bagian dedikasi paling depan: 'Untuk suamiku yang paling hebat dalam membuat Lego, paling payah dalam menyembunyikan rahasia, tapi paling jago dalam mencintai seorang Nara Adrian'."
Aku tertawa lepas, rasa sesak yang tadi pagi menghimpit kini benar-benar hilang. Aku mengambil bantal kursi dan melemparkannya ke arahnya. Hidup mungkin masih punya seribu teka-teki lagi di bab-bab selanjutnya. Mungkin esok akan ada masalah baru di yayasan, atau mungkin paparazzi akan kembali mengganggu. Tapi malam ini, aku tahu satu hal pasti: selama tintaku belum habis, dan selama Bimo ada di sampingku untuk memegang kertasnya, aku tidak akan pernah takut untuk terus menulis kisah kami.
Lampu kamar kemudian meredup, menyisakan cahaya laptop yang masih menyala, merekam awal dari kehidupan kami yang sebenarnya. Tanpa topeng, tanpa kontrak, hanya ada aku dan dia di tengah dunia yang luas ini.