Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tempat yang Mereka Sebut Rumah
“Pulang.”
Kata itu masih menggantung di udara.
Dan Veyra membencinya.
Karena anehnya… kata itu terasa familiar.
Bukan nyaman.
Bukan hangat.
Tapi familiar.
Seperti sesuatu yang pernah ia miliki… lalu dirampas.
Selene berdiri santai di tengah ruangan yang nyaris hancur, sementara anggota kelompok bertopeng di belakangnya tetap mengarahkan senjata ke semua orang.
Namun tidak satu pun dari mereka terlihat benar-benar fokus pada Lyra.
Atau pasukan pemerintah.
Atau hologram yang berdiri di belakang Veyra.
Tidak.
Tatapan mereka semua hanya tertuju pada satu orang.
Veyra Noctis.
Seolah menemukan dirinya adalah tujuan utama mereka sejak awal.
“Berhenti melihatku seperti barang hilang,” kata Veyra dingin.
Selene tersenyum kecil.
“Kalau bukan barang hilang…” ia memiringkan kepala sedikit, “kenapa semua orang mencarimu?”
Deg.
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu tepat.
Dan Veyra tidak suka saat seseorang bisa mengimbanginya dengan mudah.
Lyra langsung maju satu langkah.
“Selene. Mundur.”
“Wah,” Selene tertawa kecil. “Masih protektif ternyata.”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan suasana ruangan langsung berubah tegang.
Bukan sekadar tidak suka.
Lebih dalam dari itu.
Seperti dua orang yang pernah berdiri di sisi yang sama… lalu saling menghancurkan.
Veyra memperhatikan semuanya dalam diam.
Ia mulai sadar satu hal—
semua orang di ruangan ini punya hubungan dengan masa lalunya.
Semua tahu sesuatu tentang dirinya.
Dan semuanya… menyembunyikan bagian yang berbeda.
“Capek juga ya,” gumamnya pelan.
Semua langsung melirik.
Veyra tersenyum tipis.
“Setiap orang ngomong seolah mereka paling tahu siapa aku.”
Lampu di atas mereka berkedip lagi.
Data di layar terus bergerak liar.
Koneksi antara Veyra dan sistem masih aktif.
Dan semakin lama—
semakin stabil.
Hologram di belakangnya kini terlihat hampir sepenuhnya nyata.
Wajahnya identik dengan Veyra.
Namun lebih dingin.
Lebih kosong.
Lebih sempurna.
“Lucu,” lanjut Veyra sambil melirik hologram itu. “Bahkan benda ini mungkin tahu lebih banyak tentang aku dibanding diriku sendiri.”
“Benar.”
Jawaban hologram datang tanpa ragu.
Dan itu membuat semua orang di ruangan menegang lagi.
Selene langsung menyipitkan mata.
“Jadi inti sistemnya benar-benar memilih dia…”
Lyra mengepalkan tangan.
“Ini makin buruk.”
Veyra melirik mereka.
“Mulai bosan dengar kalimat itu.”
—
Di luar gedung, langit makin gelap.
Padahal seharusnya matahari mulai naik.
Namun awan hitam memenuhi kota seperti badai yang datang terlalu cepat.
Jaringan listrik di beberapa distrik mulai kacau.
Lampu lalu lintas mati.
Internet tidak stabil.
Orang-orang mulai panik.
Dan semua itu…
baru efek kecil.
—
Di dalam ruangan—
Selene melangkah mendekat perlahan.
“Aku datang bukan buat lawan kamu, Veyra.”
“Bagus. Karena aku juga belum mood bunuh orang.”
Selene tertawa kecil.
“Aku suka jawaban itu.”
Lyra langsung memotong.
“Jangan dengarkan dia.”
Selene mendecakkan lidah.
“Kamu tahu? Kadang aku heran kenapa dia masih percaya sama kamu.”
“Aku tidak butuh kepercayaanmu.”
“Tapi kamu butuh dia.”
Sunyi.
Kalimat itu membuat Lyra diam sepersekian detik.
Dan Veyra menangkapnya.
“Menarik,” katanya pelan. “Jadi siapa sebenarnya yang lebih membutuhkan siapa?”
Lyra langsung menatap tajam.
“Veyra.”
Namun Veyra tidak melepaskan tatapannya dari Selene.
“Katakan saja langsung. Apa yang kalian inginkan?”
Selene tersenyum.
“Kamu.”
“Terlalu umum.”
“Oke.” Selene mengangkat bahu santai. “Kami ingin membawa kamu kembali.”
“Kembali ke mana?”
Selene menunjuk simbol lingkaran diagonal di dadanya.
“Ke tempat asalmu.”
Deg.
Lagi.
Kata-kata itu terus memukul bagian dalam dirinya seperti palu.
Tempat asal.
Pulang.
Proyek.
Eksperimen.
Semua mulai tersambung menjadi sesuatu yang Veyra belum siap lihat sepenuhnya.
Dan itulah yang membuat emosinya makin kacau.
—
“Mereka tidak akan memberimu jawaban utuh.”
Suara hologram kembali terdengar di dalam kepalanya.
“Karena mereka juga takut pada kebenaran.”
Veyra menutup mata sejenak.
Sial.
Suara itu makin jelas sekarang.
Tidak lagi terdengar seperti benda asing.
Tapi seperti bagian lain dari dirinya sendiri.
“Diam,” bisiknya pelan.
Selene langsung mengangkat alis.
“Dia mulai bicara lebih sering ya?”
Lyra menoleh cepat.
“Kamu tahu soal itu?”
“Lebih dari yang kamu kira.”
Veyra membuka mata lagi.
“Kalian semua benar-benar menyebalkan.”
Selene tertawa kecil.
“Akhirnya kita sepakat dalam sesuatu.”
—
Tiba-tiba seluruh gedung bergetar.
DUUMM!
Beberapa bagian plafon runtuh.
Pasukan pemerintah langsung panik.
“Ada ledakan di lantai atas!”
“Mereka masuk lebih dalam!”
Pria yang sejak tadi diam langsung melihat layar cadangan.
Wajahnya langsung pucat.
“Tidak…”
“Apa lagi sekarang?” tanya Lyra cepat.
“Mereka mengaktifkan menara pemutus sinyal.”
Selene langsung berhenti tersenyum.
“Itu terlalu cepat.”
Veyra menyipitkan mata.
“Dan itu masalah besar karena…?”
Pria itu menatapnya serius.
“Karena kalau koneksi antara kamu dan sistem diputus secara paksa sekarang…”
Ia berhenti sejenak.
Lalu berkata pelan—
“…otakmu bisa hancur.”
Sunyi.
Semua orang diam.
Namun Veyra justru terlihat tenang.
Terlalu tenang.
“Jadi pilihannya cuma dua?” tanyanya santai. “Jadi boneka sistem… atau mati?”
“Tidak sesederhana itu!” bentak Lyra.
“Semua jadi sederhana kalau cukup lama hidup dalam kebohongan.”
Kalimat itu membuat Lyra membeku sesaat.
Karena semakin lama—
Veyra terdengar makin dingin.
Dan itu bukan pertanda bagus.
—
Selene tiba-tiba mendekat lebih dekat.
“Dengar,” katanya lebih serius sekarang. “Kalau mereka aktifkan alat itu sepenuhnya, kamu tidak punya banyak waktu.”
“Lalu?”
“Kita keluar dari sini.”
“Kita?”
Selene tersenyum tipis.
“Aku memang lebih suka kerja sendiri… tapi untuk kamu, aku bisa toleransi.”
Veyra mengangkat alis.
“Kedengarannya romantis.”
Lyra langsung memotong dingin.
“Itu manipulasi.”
Selene melirik santai.
“Kamu iri?”
“Tidak.”
“Tapi nada suaramu bilang sebaliknya.”
“Selene.”
“Oke, oke.”
Namun senyum tipis itu tidak hilang.
Dan anehnya—
Veyra mulai menikmati melihat mereka saling menyerang.
Karena untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai…
ia merasa punya sedikit kendali.
—
Tiba-tiba semua layar di ruangan berubah lagi.
Bukan glitch.
Bukan error.
Melainkan—
siaran langsung.
Wajah pria misterius itu muncul.
Jelas.
Untuk pertama kalinya.
Rambut gelap rapi.
Tatapan tenang.
Dan senyum yang terlalu damai untuk seseorang yang tampak seperti dalang kekacauan ini.
“Ah,” katanya santai. “Akhirnya semua berkumpul.”
Ruangan langsung tegang.
Selene mendecakkan lidah.
“Dia muncul sendiri…”
Pria itu tersenyum tipis saat melihat Veyra.
“Senang melihatmu berkembang begitu cepat.”
Veyra menatap layar tanpa ekspresi.
“Kamu yang paling bikin aku penasaran.”
“Itu kehormatan besar.”
“Sayangnya aku tidak suka kamu.”
Pria itu tertawa kecil.
“Tidak apa.”
Tatapannya perlahan berubah lebih dalam.
“Karena suatu saat nanti… kamu akan mengerti kenapa semua ini perlu terjadi.”
“Kalau maksudmu menjadikan aku eksperimen gila—”
“Kamu pikir manusia berkembang tanpa eksperimen?” potong pria itu tenang.
Sunyi.
Ia melanjutkan—
“Dunia selalu berubah karena seseorang berani melanggar batas.”
“Dan kamu pikir kamu penyelamat?”
“Tidak.”
Senyumnya perlahan melebar.
“Aku hanya orang pertama yang sadar manusia lama sudah tidak cukup.”
Deg.
Kalimat itu terasa dingin.
Namun yang lebih mengganggu—
sebagian kecil dari diri Veyra… setuju.
Dan ia membenci itu.
—
“Tapi kamu gagal,” kata Lyra tajam.
Pria itu meliriknya sebentar.
“Tidak. Aku berhasil.”
Lalu matanya kembali ke Veyra.
“Buktinya berdiri di sana.”
Sunyi.
Veyra mengepalkan tangan.
Emosinya naik lagi.
Dan sistem langsung bereaksi.
Lampu berkedip.
Data melonjak.
Gedung bergetar kecil.
Semua orang langsung sadar—
emosi Veyra kini benar-benar terhubung dengan jaringan.
Pria di layar tersenyum puas melihat itu.
“Lihat?”
“Diam…” suara Veyra mulai berubah lebih rendah.
“Kamu merasakannya kan?” lanjut pria itu pelan. “Dunia digital berbicara padamu.”
“AKU BILANG DIAM.”
BRAKKK!
Semua layar meledak.
Namun anehnya—
layar tempat pria itu muncul tetap utuh.
Masih menyala.
Masih memperlihatkan senyum tenangnya.
Dan itu membuat Veyra makin marah.
“Marah terus,” katanya lembut. “Semakin emosional kamu… semakin cepat sistem itu menyatu.”
Lyra langsung bergerak.
“Jangan dengarkan dia!”
Tapi terlambat.
Karena sekarang—
Veyra mulai merasakan sesuatu yang lain.
Bukan sekadar suara.
Melainkan—
dorongan.
Seolah sistem itu ingin keluar.
Ingin bergerak lebih jauh.
Dan jauh di dalam dirinya…
ada bagian kecil yang ingin membiarkannya.
—
Hologram di belakangnya mendekat.
Lalu berbisik dengan suara
yang sama seperti dirinya—
“Mereka menciptakanmu untuk menjadi akhir dari dunia lama.”
“Jadi kenapa terus melawan siapa dirimu sebenarnya?”
Deg.
Napas Veyra sedikit goyah.
Dan semua orang di ruangan itu langsung tahu—
mereka mulai kehabisan waktu.