NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Hari Kiamat
Popularitas:74.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada mangsa : 10

Cuaca suram dikarenakan tidak ada sinar matahari, bertambah muram kala kabut bergerak layaknya awan – perlahan menutupi pepohonan, membuat jarak pandang sangat terbatas.

Kali ini berbeda dari sewaktu awal mula Candra Kanti terjebak. Sebelumnya kabut datang lebih dulu, setelahnya digantikan oleh warna langit merah – sekarang seolah bumi berbagi fenomena. Putih dan warna nyala api.

“Kanti, langitnya mulai memerah. Kenapa cepat sekali, ya? Candra Kanti … kamu dimana?!” Aji mundur perlahan, mengira kalau sang gadis tidak mungkin masih bertahan di tempat semula. Dia seperti berjalan dalam gumpalan kabut pekat.

Kanti dapat mendengar panggilan Aji, tapi tidak bisa merespon. Badannya kaku, kedua tangan tertimpa dada.

‘Aji, aku disini!’ hatinya menjerit, ribuan kunang-kunang putih mengelilinginya, membuat perutnya bergejolak.

Buliran keringat menetes, terjatuh ke jurang, sekeras apapun dia berusaha, tetap anggota geraknya seakan dibelenggu kencang.

‘Apa yang harus aku lakukan? Kenapa sulit sekali bergerak?!’ gadis bermandikan keringat itu mulai frustasi, terlebih rimbun dedaunan hijau perlahan berubah warna merah serta berkabut tebal.

‘Siapa kamu? Jangan jadi pengecut!’ efek panik, putus asa, keberanian Kanti tiba-tiba muncul. Dia menantang cahaya kebiruan yang kini bertambah terang.

Rasanya bumi berputar, bukan sosok pemilik nerta biru yang menampakkan wujud, melainkan banyak kenangan berlomba-lomba merasuki pikiran, saling tumpang tindih.

Penampakan – sebuah tombak melesat secepat kilat menancap tepat di bola mata. Api berkobar membakar kawasan pemukiman. Jeritan pilu meminta tolong layaknya musik horor. Suara tebasan pedang saling beradu, dan ….

“Berhenti! Cukup!” akhirnya suara Kanti lolos, ia tidak sanggup menerima serangan mendadak ini.

Seketika suasana kembali hening, kabut tebal berangsur-angsur menipis, dan sepasang mata biru lenyap.

“Kanti!” Aji baru bisa melihat temannya. Sangat terkejut mendapati Candra Kanti masih berbaring telungkup seperti tadi. Ia balikan badan si gadis, lalu membopongnya, dan dibawa pergi.

“Kita harus cepat, jangan sampai kepergok masih di sini!” Aji berlari lumayan cepat, seolah tubuh Kanti sangatlah ringan.

Kanti belum bisa merespon, masih berusaha mengatur napas, hentakan langkah kaki Aji membuat perutnya bertambah mual.

“Tolong turunkan! Aku mau muntah!” pintanya seraya membekap mulut.

Begitu menjejak tanah, Kanti benar-benar muntah sampai tenggorokan terasa sakit.

Aji setia berada di sisinya, memijat tengkuk, menepuk-nepuk punggung.

Kanti menyeka mulut menggunakan ujung kaos. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah – pepohonan seolah bergerak.

“Kanti!” Aji merangkul pundak wanita yang sempoyongan, lalu berjongkok. “Naiklah. Kita gak mungkin berlama-lama disini.”

“Terima kasih, Ji.” Kanti mengalungkan tangannya pada leher si pemuda, ia pasrah.

“Jangan dari jalan besar, Ji. Pilih rute seperti tadi kita kesini,” katanya lirih, sangat berat menahan mata tetap terbuka.

Aji memutar arah, tadi selagi mereka jalan-jalan, ia sudah memperhatikan jalan setapak yang terhubung ke belakang rumah bu Sasmi.

“Aku sudah baikan, tolong turunkan!” pinta Kanti, tidak mungkin kembali dengan cara seperti ini.

Sesudahnya, mereka berdua berjalan tergesa-gesa, memilih rute semak belukar yang belum pernah dijelajahi.

“Pelan-pelan, rimbun banget tumbuhan ini. Apa gak pernah dibersihkan atau memang sengaja dibiarkan ya?” Aji berbisik, dengan menggunakan ranting kayu, dia memukul lebih dulu semak-semak, menghindari hewan melata.

Candra Kanti begitu hati-hati, perasaan was-was. Mencoba melirik kanan kiri. ‘Ada untungnya langit merah, tanpa perlu membawa alat penerang sudah terang meskipun seperti tengah dalam goa seraya memegang obor.”

Mereka sudah sampai pada bagian tengah semak belukar, masih harus terus maju baru bisa sampai pohon beringin belakang rumah bu Sasmi.

“Mayang lu di mana?!”

“Itu suara Sambara, kan?” sayup-sayup Aji mendengar jeritan temannya.

“Mereka memanggil Mayang, apa terjadi sesuatu dengannya?” perasaan Kanti kian kacau.

“Lebih cepat jalannya, Ji!” titahnya.

“Baik.” Aji menggenggam kuat kayu hendak memukul pohon menjalar, tetapi dia langsung terlonjak.

Akhhh!

Candra Kanti tidak dapat menghindar, ikut terjatuh dan kakinya tertimpa punggung Aji Sardi.

“Ada mangsa. Ada mangsa … hahaha,” seorang pria paruh baya berpenampilan lusuh, tengah bertepuk tangan sembari melompat-lompat kecil.

“Siapa dia?” Aji berusaha berdiri, tapi ditahan oleh Kanti.

“Diam, banyak langkah kaki menuju kesini. Berakting lah memasang ekspresi panik.” Kanti menarik kerah kaos belakang Aji.

‘Apa dia gangguan mental?’ tanya Kanti, matanya tidak beralih melihat pria yang ditaksir berumur lima puluh tahunan. Rambut gimbal panjang, kaos compang-camping, celana panjang warna entah apa sebenarnya, sebab seperti berlumpur, kotor sekali.

“Ada mangsa!” teriaknya lagi.

“Tolong! Tolong!” Kanti juga menjerit, ekspresinya ketakutan.

Aji mundur merapat ke gadis yang tengah berakting.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” Laki-laki jauh lebih muda menarik rambut gimbal pria paruh baya hingga terjengkang. Mulutnya masih berseru ‘ada mangsa’, seolah sama sekali tidak merasakan kesakitan.

“Pak, tolong kami!” Kanti mengiba, sangat menjiwai.

“Berdirilah! Kalian sudah aman. Jangan dipikirkan omongan dia tadi!”

Aji lebih dulu bangkit, dan kesempatan itu dimanfaatkan Kanti untuk memperhatikan lima orang pria menampilkan ekspresi datar, tinggi badan sekitar 170 cm.

“Maaf, bapak siapa?” Aji mengulurkan tangan.

“Saya Widi. Suaminya Sasmi.” Ia sambut salam perkenalan itu.

“Aji.” Dilepaskannya jabat tangan mereka.

“Saya Kanti. Terima kasih sudah menolong kami, Pak.” Kanti melakukan hal sama, dan juga dibalas salaman singkat.

“Kalian urus si gila itu!” titahnya tanpa mau memandang sosok masih terus tertawa.

Kelima pria tadi langsung menjalankan titah, salah satu dari mereka sangat mudah memanggul.

“Bapak tadi kenapa, dan siapa?” Aji yang mengajukan pertanyaan umum.

“Sebenarnya dia ayah saya. Supar namanya. namun mentalnya terganggu. Sering menyerang warga,” Widi berbicara dengan nada santai, ekspresi juga tenang.

“Ikuti saya!” sangat mudah dia berjalan tanpa harus memukul semak belukar.

Kanti dan Aji mengikuti jejak kaki pria berpostur lebih tinggi dari mereka, badan tegap, bahu lebar, dan wajahnya cukup tampan.

“Aji! Kanti! Kalian dari mana saja?!” Ahwaya memekik, penampilannya seperti bukan dia.

“Tadi kami membantu mencari Mayang, tapi gak ketemu,” Kanti menyahut cepat.

“Kalian tahu kalau Mayang hilang?” Abeer langsung menimpali.

“Iya. Sewaktu pulang dari jalan-jalan, kami mendengar kalian kelimpungan mencari Mayang, makanya berinisiatif ikut membantu,” sangat lancar dan meyakinkan Kanti berucap.

“Apa ketemu?” tanya Ahwaya, sorot matanya penuh harap.

“Sayangnya tidak. Padahal kami sudah masuk ke semak-semak, dan hutan belakang rumah, takut Mayang kesasar. Namun, sama sekali gak ada dia di sana,” suara Kanti berubah pelan, netranya berembun.

“Kemana sebenarnya dia?” Ahwaya kembali menangis.

“Kalian tenang saja, Mayang pasti ketemu. Istri dan anak serta menantu saya, sedang pergi ke orang pintar desa ini, menanyakan keberadaan teman kalian,” Widi mencoba menghibur jiwa-jiwa dilanda cemas luar biasa.

Sebenarnya Kanti sangat penasaran awal mula Mayang dinyatakan hilang, tapi terlanjur beralasan ikut mencari, maka tidak mungkin bertanya ke siapapun.

Sebuah mobil pickup, kendaraan sama seperti yang dilihat Kanti ketika dia pergi ke tepi jurang – memasuki halaman luas tidak berpagar.

Tejo turun dari bagian bak pickup, lalu membuka pintu, kemudian memanggul seseorang dalam keadaan lemas.

“Mayang!”

“Apa yang terjadi sama Mayang? Kenapa pakaiannya robek sana-sini?!”

.

.

Bersambung.

1
Betri Betmawati
siapa yg dincar sama siluman anjing itu
lanjut Thor
Teh Qurrotha
sereeeemmmmmm ihhh
Secret Admire
Aksata.. siapakah dirimu Aksata?🤭
Monica Lora
demi apa kanti menikmati sentuhan si kekasihku 🤭
Engkar Sukarsih
iih... takut...
Secret Admire
😭 semoga segera ada pertolongan buat Kanti dan teman temannya 😭
Secret Admire
🥹 semoga Kanti dan teman temannya selamat 😭 meskipun sedikit harapan 😭
Aprisya
huuuufffff ati2 kanti🥰🥰
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
mana ? ga ada yang jaga yak?
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
waduh 😳
Iis Dawina
ya Allah aku kebangun JM 3..ada notif langsung bc..tp bc nya sumpah deh ikut tegang tahan napas
Siti Umaroh
thor bikin mreka ber 5 kompak dan jangan ada korban lgi thorrrrr semangat upnya
Siti Umaroh
thor jangan BKIN Sambara SMA Aya mati thorrr
Siti Umaroh
semoga GK ada yg meninggal lgi thorrr semangatt
Siti Umaroh
Thor BKIN Sambara SMA Aya tetep hidup thorrrrr plisss suka bgt sma perannyah
Siti Umaroh
Thor plis slametin Aya SMA Sambara suka bgt sma peran mereka
Siti Umaroh
up thorrr semangat jangan buat Sambara SMA Aya mati thorrr
Marlina Prasasty
jgn aya dan aji,,, kalau ebeer biarkan saja
Ayani Lombokutara: 🤣🤣🤣 sitambun beleguk
total 1 replies
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽᴛ⑅⃝ˢ🐈
betul target selnjutnya siapa ya
ngeri kali
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝑲𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏"𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒋𝒅 𝒌𝒐𝒓𝒃𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕𝒏𝒚𝒂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!