NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pagi itu, udara Jakarta terasa cukup lembap. Di SMA Nusantara, rutinitas tidak pernah berubah. Bel masuk sekolah berbunyi nyaring, memecah kebisingan koridor yang penuh dengan siswa-siswi yang sedang terburu-buru. Bagiku, Andini, suara bel itu adalah batas antara dua dunia. Saat kakiku melangkah masuk ke dalam kelas, aku harus menanggalkan identitas "istri Charles Utama" dan kembali menjadi Andini, seorang siswi kelas sebelas yang hanya memikirkan nilai ulangan Biologi dan apakah kantin masih menyediakan soto ayam favoritku.

Aku duduk di bangkuku, mengeluarkan buku catatan tebal dari dalam tas. Siska, sahabatku, langsung menyenggol lenganku dengan sikunya.

"Din, lo kenapa sih? Dari tadi gue liatin melamun terus. Tugas Sejarah kemarin udah dikerjain belum? Gue nyontek dong, paragraf terakhir aja!" seru Siska dengan nada khasnya yang ceria, sangat kontras dengan perasaanku yang kacau.

Aku tersenyum tipis, mencoba memaksakan tawa agar tidak terlihat aneh. "Udah kok, Sis. Bentar ya, gue ambil dulu di tas."

Saat aku merogoh tas, jemariku tidak sengaja menyentuh ponsel yang kusembunyikan di balik buku-buku. Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan, tapi aku hafal mati siapa pemiliknya.

*Jangan lupa nanti sore sopir akan menjemputmu tepat waktu di gerbang depan. Ada acara formal. Kenakan sesuatu yang pantas.*

Hanya pesan itu. Tidak ada sapaan, tidak ada tanya kabar. Dingin, singkat, dan sangat... Charles. Aku segera mematikan layar ponsel, jantungku berdegup kencang. Bagaimana jika ada guru yang lewat dan melihat isi pesanku? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika Siska melihatnya dan bertanya, "Siapa itu?"

Aku menarik napas panjang, menatap papan tulis di depan kelas. Pak Haris mulai menjelaskan tentang Perang Diponegoro. Suaranya terdengar seperti dengungan lebah di telingaku, jauh sekali. Pikiranku justru melayang ke apartemen mewah tempat Charles tinggal. Di sana, di dalam lemari besar yang isinya penuh dengan pakaian desainer yang tak pernah kubeli, ada gaun-gaun yang harus kupakai setiap kali Charles memintaku mendampinginya.

"Din? Woi, bengong lagi!" Siska menyenggolku lebih keras.

"Eh, iya, sorry," jawabku tergagap.

"Lo akhir-akhir ini aneh banget, deh. Kayak ada beban hidup yang berat banget. Jangan bilang lo lagi naksir cowok tapi nggak kesampaian?" Siska tertawa kecil, memandangku dengan tatapan menyelidik.

Aku hanya bisa tersenyum getir. *Kalau saja kau tahu, Sis. Kalau saja kau tahu bahwa cowok yang sedang kupikirkan bukan cuma sekadar naksir, tapi dia pria yang memegang kunci kehidupanku di rumah.*

"Nggak kok. Cuma kurang tidur aja, banyak tugas," jawabku berbohong. Lagi-lagi, kebohongan itu keluar begitu lancar dari mulutku, seolah-olah aku memang dilahirkan untuk menjadi pembohong profesional.

Waktu berlalu dengan lambat. Di kantin, saat istirahat, aku duduk di pojok bersama Siska dan teman-teman lainnya. Mereka asyik membicarakan tren TikTok terbaru, gosip tentang kakak kelas yang baru putus, dan rencana liburan akhir pekan ke Bandung. Aku mendengarkan, tertawa di saat yang tepat, dan memberikan komentar-komentar standar. Tapi di dalam hati, aku merasa seperti alien. Aku hidup di antara mereka, tapi pikiranku tidak ada di sana.

Aku melihat sekeliling kantin. Siswi-siswi lain dengan seragam putih abu-abu yang bersih, tertawa tanpa beban. Mereka mengeluh soal ujian, soal orang tua yang galak, atau soal uang jajan yang pas-pasan. Aku cemburu. Sangat cemburu. Aku ingin menjadi mereka. Aku ingin bisa mengeluh tentang hal-hal sepele seperti itu tanpa harus memikirkan tanggung jawab sebagai istri dari seorang CEO yang memiliki ribuan karyawan.

"Din, minggu depan kan ada *prom night* sekolah. Lo udah ada gandengan belum?" tanya salah satu teman sekelas kami, Maya.

Aku tersedak minumanku sendiri. *Gandengan?*

"Belum... belum kepikiran sih," jawabku terbata-bata.

"Yah, harusnya cari dong! Jangan jomblo terus. Masa lo cakep-cakep gini nggak ada yang naksir?" sahut Siska.

Aku tersenyum kecut. *Kalau mereka tahu siapa suamiku, mereka tidak akan menyuruhku mencari gandengan. Mereka mungkin akan pingsan atau justru memohon-mohon padaku untuk memperkenalkan mereka pada Charles.*

Tiba-tiba, ponsel di saku rok seragamku bergetar lagi. Aku tidak berani membukanya di depan mereka. Aku tahu itu Charles. Dia pasti sedang sibuk di kantornya, mungkin sedang berdebat dengan jajaran direksi, tapi di sela-sela kesibukannya, dia terus memberiku instruksi. Pria itu benar-benar tidak bisa berhenti mengendalikan situasi.

"Gue ke toilet sebentar ya," kataku tiba-tiba, berdiri dari meja.

"Buruan ya, habis ini pelajaran Bu Retno!" teriak Siska.

Aku berjalan cepat menuju toilet, menjauh dari kerumunan siswa. Begitu masuk ke dalam bilik toilet yang sempit dan mengunci pintunya, aku baru berani membuka ponselku.

*‘Ingat, Andini. Kau adalah istriku. Bersikaplah dewasa. Jangan mempermalukanku di depan kolegaku nanti malam.’*

Pesan itu seperti tamparan. Aku meremas ponselku kuat-kuat hingga buku-buku jariku memutih. *Mempermalukan?* Jadi itu yang dia pikirkan? Dia tidak khawatir tentang bagaimana perasaanku, tentang bagaimana lelahnya aku harus menjalani hidup ganda ini? Yang dia pikirkan hanyalah reputasinya.

Aku menatap cermin di atas wastafel setelah keluar dari bilik. Wajahku terlihat pucat. Gadis di cermin itu terlihat sangat muda, sangat polos. Seragam ini—lambang kedewasaanku yang seharusnya—kini terasa seperti penyamaran. Di balik seragam ini, aku adalah wanita yang terikat, wanita yang harus selalu terlihat sempurna di samping pria dingin itu.

Aku menyeka sedikit debu di wajahku, membetulkan letak kerah seragamku. Aku harus kuat. Aku tidak boleh membiarkan Charles melihat sisi lemahku. Jika dia menganggapku sebagai "anak sekolah" yang tidak tahu apa-apa, maka aku akan membuktikan padanya bahwa dia salah.

Aku berjalan kembali menuju kelas dengan langkah yang sedikit lebih mantap. Saat melewati koridor, aku melihat foto-foto kegiatan siswa yang ditempel di mading. Ada foto tim debat, foto anak basket, dan foto kegiatan OSIS. Aku melihat fotoku sendiri di sana, saat aku masih sangat bahagia, saat aku masih menjadi Andini yang bebas.

Aku berhenti sejenak, menyentuh permukaan foto itu. *"Sabar ya, Din,"* bisikku pada diriku sendiri. *"Suatu hari nanti, semuanya akan berakhir. Suatu hari nanti, kau bisa melepas semua topeng ini."*

Bel pulang sekolah berbunyi, memecah lamunanku. Siska langsung menghampiriku, merangkul pundakku. "Din, balik bareng nggak? Motor gue lagi di bengkel nih, mau naik angkot aja."

"Eh, sorry, Sis. Gue... gue ada urusan keluarga. Dijemput sama sopir paman," jawabku, lagi-lagi menggunakan alasan yang sudah disiapkan.

"Yah, padahal mau mampir toko buku dulu," keluh Siska.

"Besok ya, janji!"

Aku bergegas menuju gerbang depan. Di sana, sedan hitam mewah itu sudah menunggu. Pengemudi yang sudah kukenal dengan baik membukakan pintu untukku. Aku masuk ke dalam mobil, merasakan dinginnya AC yang kontras dengan panasnya cuaca di luar.

Saat mobil melaju, aku menatap sekolahku yang semakin menjauh. Pintu gerbang itu perlahan tertutup dari pandanganku. Aku menarik napas panjang, menatap gedung sekolah yang kutinggalkan, dan memejamkan mata. Sekarang, aku harus kembali ke "rumah". Aku harus kembali ke Charles. Aku harus kembali bersiap untuk malam panjang yang penuh sandiwara.

Dan entah kenapa, di tengah rasa kesal dan lelah yang mendera, ada secercah perasaan aneh di hatiku. Rasa penasaran. Rasa ingin tahu, apakah malam ini, di balik semua formalitas dan dinginnya sikap Charles, aku bisa melihat sedikit saja sisi manusianya? Atau apakah dia akan tetap menjadi patung es yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu?

Apapun itu, aku siap. Karena sekarang, aku bukan lagi Andini si siswi SMA biasa. Aku adalah Andini yang sedang belajar bertahan hidup di dunia orang dewasa yang kejam. Dan aku tidak akan menyerah begitu saja.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!