Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bilah kapak raksasa itu meluncur turun, membelah udara dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Angin kematian yang dihasilkan dari tebasan itu bahkan telah menggores pipi Lin Ruoxue, meneteskan darah sebelum besi berkarat itu benar-benar menyentuh kulitnya. Di bawah bayangan maut yang absolut, waktu terasa melambat. Lin Ruoxue tidak menutup matanya; ia mengungkapkan kematian dengan kebencian yang membekukan.
Namun, tepat seperseribu detik sebelum kapak itu membelah tengkoraknya, sebuah suara datar dan pastinya memenuhi kekacauan aula.
"Tukar!"
Di sisi ruangan lain, Jiang Xuan menghentakkan jari telunjuknya yang berlumuran darah tepat ke titik pusat susunan formasi yang baru ia selesaikan di atas lantai batu.
BZZZT!
Niat Formasi yang ditenagai oleh Niat Membunuh murni meledak dalam kilatan cahaya merah gelap. Array ilusi tingkat lanjut, Teknik Bayangan Tinta, aktif seketika.
Ruang di sekitar Lin Ruoxue tiba-tiba terdistorsi hebat. Sebuah sulur energi hitam tak kasat mata melilit pinggang gadis itu dan menariknya dengan kecepatan yang menembus hukum dasar fisika. Di saat yang sama, sebuah pilar batu patah seberat ratusan kati yang terletak di tengah aula ditarik paksa untuk menggantikan posisinya.
KRAAAANG!
Kapak pemenggal Golem Besi Darah menghantam sasarannya. Mengirimkan serpihan debu dan terciptalah batu. Namun, alih-alih menghancurkan daging dan tulang manusia, kapak raksasa itu hanya membelah pilar batu menjadi butiran kerikil. Guncangan keras meretakkan lantai hingga radius sepuluh meter dari titik hantaman.
Lin Ruoxue terlempar dengan keras ke atas lantai batu di tengah aula, diayunkan beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dengan napas tersengal. Ia meraba kepalanya, meraba kakinya. Utuh. Dia masih hidup.
Di sudut barat laut, Golem Besi Darah perlahan mengangkat kapaknya dari puing-puing batu. Dua titik cahaya merah di balik helm zirahnya berkedip pembohong. Ia menyadari umpan utamanya telah menghilang. Mesin pembunuh itu berputar secara mekanis, dan langsung mengunci sosok Jiang Xuan.
Sang Cendekiawan Tinta Hantu berdiri tegak di tengah-tengah Array Penghancur Jiwa yang memancarkan pendar darah. Wajahnya pucat, namun seringai yang terukir di tepinya adalah perubahan dari arogansi maut itu sendiri. Ia tidak memegang senjata apa pun, hanya menatap Golem itu layaknya menatap tumpukan rongsokan yang belum didaur ulang.
ROAAAR!
Golem itu meraung marah, merasa diprovokasi. Ia menghentakkan kakinya yang terbuat dari baja padat, menerjang ke arah Jiang Xuan seperti gunung besi yang berpenghasilan. Jarak di antara mereka terkikis dalam hitungan detik. Kapak raksasa itu kembali diayunkan, kali ini dengan tebasan horizontal yang bertujuan memotong Jiang Xuan menjadi dua bagian sekaligus menghancurkan formasi di bawah kakinya.
Jiang Xuan tidak menghindar. Ia berdiri mematung, matanya yang gelap dan Cincin Roda Langit di mata kirinya menghitung setiap milimeter pergerakan kapak tersebut.
Tiga... dua... satu.
Tepat ketika angin dari bilah kapak meniup rambutnya, Jiang Xuan menjatuhkan dirinya ke satu lutut dan menekan telapak tangannya yang berdarah ke pusat Array Penghancur Jiwa dengan kekuatan penuh.
"Meledaklah dari dalam, rongsokan," desisnya tajam.
BLAAAR!
Lantai batu di bawah Golem Besi Darah hancur berkeping-keping. Array Penghancur Jiwa tidak meledakkan api atau gelombang kejut fisik. Alih-alih, formasi itu melepaskan ribuan jarum Niat Membunuh murni yang tidak kasat mata. Jarum-jarum energi gelap itu melesat ke atas, sepenuhnya mengabaikan zirah baja eksternal Golem yang dirancang untuk menahan serangan fisik tingkat Inti Emas.
Jarum-jarum Niat Membunuh itu menyusup masuk melalui celah-celah sambungan zirah: di balik lutut, di celah leher, dan menembus langsung ke bagian dalam pelindung dada Golem.
Di dalam dada zirah raksasa itu, tersimpan sebuah Inti Siluman berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa yang berdenyut memancarkan energi. Itu adalah jantung sang mesin.
Niat Membunuh Jiang Xuan menghantam Inti Siluman itu dari segala arah. Inti energi yang tidak memiliki pertahanan internal itu tidak mampu menahan tekanan mental dari jiwa berusia tiga ratus tahun.
KRAK... CRANK!
Suara sesuatu yang pecah terdengar dari dalam tubuh Golem. Cahaya merah di mata monster zirah itu berkedip-kedip, lalu padam seketika. Kapak raksasa yang hanya berjarak lima sentimeter dari leher Jiang Xuan berhenti total di udara, kehilangan seluruh daya dorongnya.
Detik berikutnya, Inti Siluman di dalam dada Golem meledak berantakan.
BOOM!
Baja hitam yang tak tertembus itu menggembung dari dalam, lalu robek. Asap hitam pekat menyembur dari celah-celah zirahnya. Raksasa besi seberat ribuan kati itu kehilangan keseimbangannya, jatuh berlutut hingga menghancurkan ubin lantai, sebelum akhirnya ambruk ke depan dan hancur berserakan menjadi tumpukan besi tua yang tidak berguna.
Kapak raksasa itu jatuh berdenting keras di samping Jiang Xuan, sementara sang remaja masih berlutut di tengah sisa-sisa pendaran formasinya.
"Ukh!"
Jiang Xuan membungkuk tajam. Darah kehitaman menyembur dari mulutnya, membasahi lantai batu. Ia terbatuk-batuk hebat, mencengkeram dadanya yang terasa seperti dirobek dari dalam. Tubuh tahap empat Kondensasi Qi-nya dipaksa menanggung beban recoil dari mengaktifkan dua formasi pembunuh secara beruntun. Garis-garis meridian di lengan kanannya pecah, meninggalkan memar biru gelap yang mengerikan.
Di kejauhan, Lin Ruoxue duduk membeku di atas lantai berdebu. Matanya terbelalak lebar menatap tumpukan baja yang beberapa detik lalu nyaris memenggalnya. Napasnya tersengal parah.
Gadis itu menatap sosok Jiang Xuan yang sedang menghapus darah dari bibirnya. Rasionalitas Lin Ruoxue akhirnya merangkai seluruh kepingan kejadian gila ini. Jiang Xuan tidak pernah berniat membiarkannya mati dibelah kapak. Ia tidak disuruh berlari untuk dikorbankan secara sia-sia. Ia digunakan secara presisi—dijadikan umpan bernyawa untuk menarik Golem ke sudut, memberinya waktu dan jarak yang cukup untuk menggambar Array Penghancur Jiwa, dan kemudian menukar posisi di milidetik terakhir.
Kalkulasi taktis itu begitu sempurna, begitu dingin, dan begitu kejam hingga membuat darah Lin Ruoxue berdesir. Jika Golem itu bergerak sepersekian detik lebih cepat, atau Jiang Xuan menunda pemicunya sedikit saja, Lin Ruoxue benar-benar akan terbelah. Majikannya itu tidak melihatnya sebagai rekan bertarung, melainkan sebagai sebuah pion catur yang digerakkan di atas papan kematian.
Jiang Xuan bangkit berdiri. Ia sama sekali tidak memedulikan tatapan Lin Ruoxue. Rasa sakit di meridiannya diabaikan oleh otaknya yang murni rasional. Fokusnya kini tertuju sepenuhnya ke depan.
Ia berjalan tertatih melewati tumpukan besi berkarat itu, menginjak pelat dada Golem yang telah hancur, dan terus melangkah menuju singgasana obsidian di tengah aula makam.
Jiang Xuan memfokuskan sisa Qi-nya ke Mata Roda Langit.
Bzzzt.
Di mata kirinya, ruangan yang gelap itu kembali dipenuhi oleh pandangan takdir. Dan di sana, menempel di punggung singgasana obsidian kuno tersebut, sebuah Benang Takdir Emas yang sangat terang memancar, mengalahkan cahaya lumut merah di sekitarnya. Benang itu memanggilnya.
"Monster zirah itu tidak menjaga ruangan ini. Ia menjaga singgasana ini," gumam Jiang Xuan datar. Seringai antisipasi terbentuk di wajahnya yang pucat.
Ia tiba di depan singgasana yang terbuat dari batu hitam solid. Di bagian sandaran lengan kanannya, terdapat sebuah celah kecil yang disamarkan oleh ukiran naga purba. Tidak ada mekanisme tuas atau tombol; celah itu hanya bisa dibuka menggunakan Niat Formasi.
Jiang Xuan menyusupkan dua jarinya yang masih berlumuran darah ke dalam celah tersebut. Ia mematahkan sisa segel kecil di dalamnya, lalu menarik benda yang tersembunyi di sana.
Sebuah benda silindris sepanjang jengkal orang dewasa keluar dari kegelapan.
Jiang Xuan mengangkatnya ke udara. Debu ribuan tahun rontok dari permukaannya.
Benda itu adalah sebuah kuas kaligrafi. Tangkainya tidak terbuat dari bambu atau kayu cendana, melainkan dari sepotong tulang putih pucat yang memancarkan aura kematian pekat. Tulang itu diukir dengan pola-pola pembuluh darah yang sangat detail. Ujung kuasnya terbuat dari helaian bulu berwarna hitam pekat—bulu dari ekor Binatang Legendaris atribut kegelapan yang tak diketahui jenisnya. Bulu-bulu itu terlihat sangat lembut, namun meneteskan hawa Niat Membunuh murni yang membuat udara di sekitarnya menjadi sedingin es.
Ini bukanlah senjata dewa yang bisa membelah gunung dengan satu ayunan. Ini adalah medium formasi pamungkas. Sebuah artefak yang diciptakan khusus untuk mengukir nyawa dan mengukir kematian.
Bagi orang lain, ini hanyalah rongsokan tulang. Bagi Jiang Xuan, ini adalah taring aslinya yang telah lama hilang.
Jemari Jiang Xuan mencengkeram tangkai tulang itu. Sensasi dingin dan familiar langsung menembus meridiannya. Kuas kuno itu bernapas seolah-olah, mengenali Niat Membunuh dari jiwa Cendekiawan Tinta Hantu yang selaras dengan kutukannya. Kuas murahan yang patah sebelumnya tidak ada apa-apanya dibandingkan benda ini.
Seringai mereka kejam dan brutal di wajah Jiang Xuan. Ia tidak lagi menahan tawanya. Tawa rendah yang dipenuhi kepuasan gelap dan arogansi mutlak bergema di aula makam yang sunyi.
"Pena Kuas Tulang," bisik Jiang Xuan, menggerakkan ujung bulu hitam itu dengan ibu jarinya, sementara noda darahnya terserap rakus oleh kuas tersebut tanpa sisa. "Akhirnya. Mulai sekarang, tidak ada satupun rangkaian takdir di Benua Biru ini yang tidak bisa dipotong."
Di sudut ruangan, Lin Ruoxue hanya bisa menatap punggung remajanya dalam diam. Gadis itu menyadari satu kebenaran yang mengerikan: monster asli di Reruntuhan Kuno ini bukanlah siluman atau Golem baja, melainkan pemuda yang kini memegang kuas tulang itu. Dan jiwa, kini telah terikat secara mutlak padanya.
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏