NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Paling Konyol

Hari itu, matahari seolah bersinar lebih terik dari biasanya. Atau mungkin hanya perasaan Vira saja yang sedang mendidih, bagaikan kawah gunung berapi yang sudah terlalu lama menahan tekanan dan akhirnya siap meledak kapan saja.

Sudah berbulan-bulan mereka hidup satu atap. Berbulan-bulan pula Vira menelan ludah sendiri, menahan perasaan, dan berusaha menjadi "istri yang patuh" sesuai kontrak bodoh itu. Tapi kesabarannya itu bukanlah karet yang bisa diregangkan tanpa batas. Itu ada batasnya. Dan hari ini, batas itu sudah terlewati.

Pemicunya sederhana saja, tapi bagi Vira itu adalah titik jenuh yang mematikan.

Sore itu, Vira baru saja selesai menyetrika tumpukan baju Farzhan. Ia sudah bekerja sangat hati-hati, memastikan tidak ada satu lipatan pun yang tertoreh pada pakaian mahal itu. Dengan bangga, ia membawa setelan kemeja kerja Farzhan ke ruang tengah, di mana sang suami sedang asyik membaca koran sambil minum teh.

"Zhan, bajunya sudah siap. Sudah disetrika sampai licin lho," kata Vira sambil meletakkan baju itu di sofa dengan hati-hati.

Farzhan menoleh sekilas, lalu meraba baju itu dengan jari-jarinya yang teliti. Matanya menyipit, meneliti setiap serat kain.

"Hmm," Farzhan mendengus, lalu meletakkan baju itu kembali dengan wajah tidak puas. "Kurang rapi. Kerah nya masih agak kusut sedikit. Dan bagian lengan ini... kurang presisi lipatannya. Setrika ulang."

Jleb!

Jantung Vira rasanya mau keluar dari rongga dada saat mendengarnya. Ia sudah bekerja keras bahkan sangat keras, keringat bercucuran, dan ini hasilnya? Dihina begitu saja karena hal yang menurut Vira sangat sepele!

"Apaan sih kamu?!" Vira akhirnya kehilangan kesabaran. Suaranya meninggi, tidak lagi lemah lembut seperti biasanya. "Itu sudah sangat rapi, Zhan! Mata kamu ini apa harus pakai kaca pembesar apa gimana sih?! Orang lain lihat pasti bilang sempurna, cuma kamu aja yang tidak pernah puas!"

Farzhan terkejut bukan main. Ia menurunkan korannya, menatap Vira dengan mata melotot tak percaya. Seumur hidupnya, baru kali ini Vira berani membentaknya di saat ia sedang memberikan 'kritik membangun'.

"Hah? Kamu ngomong apa barusan? Berani ya kamu pakai suara tinggi sama aku?!" Farzhan ikut berdiri, alisnya bertaut rapat. "Ini namanya standar kualitas! Kalau kamu kerja, harus yang benar! Jangan asal jadi!"

"STANDAR KUALITAS YOUR HEAD!" Vira membentak balik, melupakan segala rasa takut dan hormat. "Kamu itu bukan mau bahas standar kualitas, kamu itu cuma mau cari kesalahan aku terus! Kamu senang ya lihat aku terus-terusan susah payah? Kamu senang ya melihat aku jadi babu di rumah sendiri?!"

Vira melangkah maju, menatap wajah Farzhan tajam-tajam. Matanya berkaca-kaca tapi bukan karena mau menangis, melainkan karena api kemarahan yang membara.

"Farzhan Ibrahim, dengar aku baik-baik!" suara Vira gemetar tapi tegas. "Aku sudah capek! Capek sekali! Setiap hari aku dandan jadi istri manis di depan orang tua, setiap hari aku masak, bersih-bersih, melayani kamu seperti pelayan kerajaan! Tapi apa balasan kamu? Dingin! Galak! Selalu cari salah! Kita ini suami istri atau majikan sama budak hah?!"

Farzhan terpaku. Ia tidak menyangka gadis kecil cengeng itu bisa berubah menjadi singa betina segarang ini.

"Kamu itu berhutang sama aku, Vira! Ingat itu!" serang Farzhan tak mau kalah, mencoba mengingatkan posisi.

"HAAAAH IYA AKU TAU AKU BERHUTANG!" Vira berteriak memekikkan telinga, emosinya memuncak. "TAPI AKU SUDAH BAYAR PAKAI KERINGAT DAN AIR MATA! AKU SUDAH KERJA KERAS! JANGAN PERLAKUKAN AKU SEENAKNYA! HARGA DIRI AKU MASIH ADA ZHAN! AKU BUKAN KAIN LAP YANG BISA KAMU INJAK-INJAK KAPAN SAJA!"

Suasana di ruang tamu itu mendadak mencekam. Suara beradu keras bergema di seluruh ruangan. Ini bukan lagi sekadar cekcok suami istri biasa. Ini adalah deklarasi perang!

"Oke... oke..." Farzhan menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri tapi wajahnya sudah merah padam menahan emosi. "Jadi sekarang kamu mau apa? Kamu tidak mau taat sama aturan?"

"YA!" Vira mendongak tegak, dagunya diangkat tinggi. "Mulai hari ini, aku berhenti jadi babu kamu! Aku istrimu! Hak aku sama hak kamu sama! Kalau rumah kotor, kita bersihkan bersama-sama! Kalau mau makan, kita masak bersama atau gantian! Aku tidak mau lagi melayani kamu sendirian seperti pembantu pribadi!"

"Oh, mulai berani kamu!" Farzhan menunjuk hidung Vira.

"BERANI! KARENA AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI!" Vira menepis tangan Farzhan dengan kasar. "Dan ingat ya! Mulai sekarang, aku tidak mau disebut ceroboh, tidak mau dibilang bodoh, dan tidak mau dibilang pembawa sial! Kalau kamu masih ngomong kasar atau merendahkan aku... siap-siap aja aku bikin kekacauan yang lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan!"

Farzhan menatap Vira lekat-lekat. Gadis di depannya itu benar-benar berubah. Matanya menyala, bibirnya mengerucut penuh tantangan, dan postur tubuhnya menunjukkan bahwa ia tidak main-main. Ini bukan Vira yang biasa menangis dan lari bersembunyi. Ini adalah Vira yang sudah mengibarkan bendera merah.

"Kamu! Benar-benar menyebalkan," gerutu Farzhan, tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. "Hidup sama kamu itu memang tidak akan pernah ada masa tenangnya."

"Karena kamu yang bikin jadi rumit!" balas Vira cepat. "Kamu itu hidupnya terlalu kaku! Terlalu aturan! Sampai lupa rasanya jadi manusia biasa!"

"Dan kamu hidupnya terlalu berantakan sampai tidak tahu mana yang benar dan salah!"

"SAMA AJA!"

Mereka berdua saling tatap tajam, napas mereka memburu, api pertengkaran berkobar hebat di antara mereka. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau menunduk.

"Baiklah," Farzhan akhirnya bersuara, suaranya rendah dan berat. "Kalau itu mau kamu. Mulai detik ini, aturan berubah. Tapi ingat resikonya."

"Oke siapa takut! Aku siap tanggung jawab!" jawab Vira tanpa ragu.

"Bagus," Farzhan tersenyum miring, senyuman penuh tantangan. "Kalau kamu mau setara, ya sudah. Tapi jangan harap aku akan mengalah kalau kamu salah. Dan jangan harap aku akan bantu kalau kamu kesusahan. Semuanya adil. Menang atau kalah, jalani sendiri."

"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" Vira membuang muka, kesal.

Dan begitulah, perang paling konyol dalam sejarah pernikahan mereka resmi dimulai.

Mulai hari itu, suasana rumah berubah total. Jika sebelumnya Vira yang sibuk mengurus segalanya, sekarang mereka seperti dua orang asing yang tinggal serumah dengan peraturan geng masing-masing.

Saat makan malam:

Farzhan mengambil piring sendiri, mengambil nasi sendiri, dan makan di ujung meja. Vira mengambil piring sendiri, makan di ujung meja yang lain. Tidak ada yang menyuapi, tidak ada yang menawarkan minum. Dingin sekali.

Saat cucian menumpuk:

Farzhan mencuci baju sendiri (atau lebih tepatnya memasukkan ke mesin cuci dengan settingan presisi), melipatnya sendiri dengan rapi. Vira mencuci bajunya sendiri, melipat seadanya. Tidak ada yang mau bantu.

Saat lantai kotor:

Mereka bersih-bersih tapi dengan cara masing-masing. Farzhan menyapu bagiannya dengan rapi dan teliti. Vira menyapu bagiannya dengan cepat dan kadang debunya malah terdorong ke arah Farzhan.

"HEH! KAU! KENAPA MENYAPU DEBU KE SINI!" teriak Farzhan kesal.

"SIAPA SURUH BERDIRI DI SITU!" balas Vira tak mau kalah.

Hidup di rumah itu menjadi seperti medan perang yang absurd. Ada-ada saja perdebatan kecil yang jadi masalah besar. Mulai dari soal suhu AC, soal siapa yang habiskan susu, sampai soal siapa yang lupa matikan lampu.

Tapi anehnya... di balik semua pertengkaran dan kemarahan itu, ada sesuatu yang berubah. Vira tidak lagi terlihat takut dan tertindas. Ia berdiri tegak, mempertahankan harga dirinya. Ia tidak lagi menjadi "babu" yang pasrah. Ia menjadi lawan yang seimbang bagi Farzhan.

Dan Farzhan... entah kenapa, saat melihat Vira yang berani melawan dan bersemangat mempertahankan pendapatnya, ada sudut kecil di hatinya yang justru merasa... terhibur? mungkin.

"Tunggu saja ya Vira..." gumam Farzhan sambil melihat punggung Vira yang pergi ke dapur dengan langkah banteng. "Kamu pikir kamu bisa menang melawanku? Perang ini baru saja dimulai, Nyonya."

Vira yang masuk ke dapur pun menyandarkan punggungnya ke pintu, napasnya masih memburu. "Hah! Jangan remehkan aku Zhan! Kali ini Vira Calista tidak akan mau diinjak-injak lagi!"

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!