Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damian Hanya Diam
Makan malam keluarga Moretti berubah sunyi setelah nama itu disebut.
Octavian.
Tak seorang pun di meja tampak benar-benar mengenalnya, tetapi cara pelayan itu menyebut nama tersebut dengan gemetar membuat suasana langsung berbeda.
Seraphina berdiri kaku di sisi meja. Selene menatap ibunya bingung. Kepala pelayan menunduk lebih rendah dari biasanya.
Sementara Damian menatap satu orang.
Elara.
Gadis itu masih berdiri di dekat meja makan sambil memegang botol anggur. Wajahnya tenang seperti biasa, seolah nama yang baru saja disebut tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Namun Damian menangkap satu hal kecil.
Jari Elara menegang di leher botol kristal.
Sangat kecil.
Nyaris tak terlihat.
“Siapa dia?” tanya Seraphina tajam pada pelayan.
“Saya tidak tahu, Madam. Tapi… iring-iringan mobilnya memenuhi halaman depan.”
Selene mendengus.
“Mungkin penipu.”
Pelayan itu menelan ludah.
“Madam… salah satu mobilnya berpelat diplomatik.”
Ucapan itu membuat Seraphina terdiam.
Ia menoleh cepat pada Elara.
“Kau kenal orang itu?”
Elara menjawab datar.
“Saya tidak tahu siapa yang datang.”
Damian masih memperhatikannya.
Ia tahu gadis itu berbohong.
Entah bagaimana, ia yakin.
Seraphina menyilangkan tangan.
“Kalau begitu usir saja.”
“Madam…” kepala pelayan ragu. “Mereka meminta bertemu Nona Elara secara langsung.”
Selene tertawa kecil.
“Mereka salah alamat. Pelayan kita mana mungkin dicari orang penting?”
Semua mata kembali tertuju pada Elara.
Gadis itu perlahan meletakkan botol anggur ke atas meja.
“Saya izin melihat siapa tamunya.”
“Kau tidak ke mana-mana.”
Suara Seraphina dingin.
Elara menatap wanita itu.
“Madam?”
“Aku belum mengizinkan.”
“Ini tamu yang mencari saya.”
“Kau bekerja di rumah ini. Selama masih di sini, semua urusanmu harus lewat aku.”
Damian mengerutkan alis, tapi tidak bicara.
Elara melihatnya sekilas.
Lalu kembali menatap Seraphina.
“Kalau begitu, saya menunggu keputusan Madam.”
Nada suaranya sopan.
Terlalu sopan.
Itu justru membuat Seraphina semakin kesal.
Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan seseorang yang diam-diam menertawakannya.
Beberapa menit kemudian, ruang tamu utama mansion dipenuhi ketegangan.
Seraphina duduk di sofa tengah seperti ratu yang sedang menerima tamu. Selene duduk di sebelahnya sambil memainkan ponsel. Damian berdiri dekat jendela dengan kedua tangan di saku celana.
Elara berdiri sedikit di belakang.
Pintu utama terbuka.
Seorang pria tua masuk dengan langkah mantap, didampingi dua pria berbadan tegap berjas hitam.
Rambutnya putih rapi. Tongkat kayu hitam berada di tangan kirinya. Jas abu-abu tua yang dikenakannya sederhana, tetapi kualitasnya terlihat mahal.
Tatapannya tajam dan penuh wibawa.
Bahkan sebelum ia bicara, seluruh ruangan bisa merasakan aura kekuasaan.
“Selamat malam,” ucapnya tenang.
Seraphina mengangkat dagu.
“Siapa Anda?”
Pria tua itu tidak langsung menjawab.
Tatapannya melewati Seraphina, Selene, lalu berhenti pada Elara.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah dingin Elara sedikit berubah.
Hanya sedikit.
Seperti seseorang yang mengenali masa lalu.
Pria tua itu membungkuk hormat.
“Nona Elara.”
Seraphina tersentak.
Selene menatap tidak percaya.
Damian memicingkan mata.
Elara menjawab pendek.
“Paman Viktor.”
Nama itu keluar pelan, tapi cukup membuat Damian sadar satu hal:
Mereka saling kenal.
Seraphina berdiri cepat.
“Maaf, ada kesalahpahaman. Dia hanya pelayan di rumah ini.”
Pria tua bernama Viktor menoleh perlahan.
Tatapannya dingin.
“Kalau begitu, rumah ini buta.”
Selene mendengus.
“Kurang ajar.”
Namun Viktor tak menggubris.
Ia kembali menatap Elara.
“Tuan Besar menunggu Anda.”
Elara diam.
“Beliau sakit.”
Tatapan Elara mengeras sesaat.
“Itu bukan urusan saya lagi.”
“Beliau menyesal.”
“Penyesalan sering datang terlambat.”
Ruangan menjadi sunyi.
Damian merasa seperti sedang menonton sisi lain dari Elara yang tak pernah ia lihat.
Bukan pelayan.
Bukan gadis penurut.
Melainkan seseorang yang terbiasa ditunggu dan dihormati.
Seraphina tertawa kecil untuk menutup rasa gugupnya.
“Maaf, saya tidak paham drama apa ini. Kalau kalian selesai, kami sedang makan malam.”
Viktor menoleh padanya.
“Anda Madam Seraphina Moretti?”
Seraphina tersenyum angkuh.
“Tentu.”
“Saya paham.”
“Paham apa?”
“Kenapa Nona Elara memilih bersembunyi di rumah ini.”
Wajah Seraphina berubah.
“Apa maksud Anda?”
“Jika seekor singa hidup di kandang ayam terlalu lama… ayam akan merasa dirinya ratu.”
Selene berdiri marah.
“Berani sekali!”
Damian masih diam.
Ia melihat Elara.
Ia menunggu reaksi gadis itu.
Namun Elara tetap tenang.
Seolah penghinaan dan pujian sama sekali tak menyentuhnya.
Seraphina menunjuk pintu.
“Saya tidak peduli siapa Anda. Keluar dari rumah saya.”
Viktor mengangguk kecil.
“Tentu.”
Ia menoleh pada Elara.
“Nona, kami akan menunggu di luar. Sampai Anda siap.”
Ia membungkuk lagi, lalu berbalik pergi.
Dua pengawal mengikutinya.
Pintu tertutup.
Hening.
Selene langsung memecah suasana.
“Lucu sekali! Pelayan punya penggemar tua.”
Seraphina menoleh tajam ke Elara.
“Jelaskan.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”
“Kau kenal dia!”
“Dulu.”
“Siapa dia?”
“Seseorang dari masa lalu.”
“Dan kau menyembunyikan ini?”
Elara menatap wanita itu tenang.
“Madam tidak pernah bertanya.”
Seraphina maju satu langkah.
“Kau bermain-main denganku dari awal?”
“Saya hanya bekerja.”
“Bohong!”
Plak!
Tamparan ketiga mendarat di wajah Elara.
Kali ini lebih keras.
Kepala Elara berpaling. Sudut bibirnya pecah sedikit.
Marta yang berdiri jauh di koridor menutup mulut kaget.
Selene tersenyum puas.
Damian melihat semuanya.
Jelas.
Dekat.
Nyata.
Dan sekali lagi…
ia hanya diam.
Tangannya mengepal di saku celana, tetapi kakinya tak bergerak.
Entah karena kebiasaan.
Entah karena ego.
Entah karena ia sendiri tak mengerti mengapa peristiwa itu mengganggunya.
Elara perlahan menoleh kembali.
Matanya bertemu mata Damian.
Tidak marah.
Tidak memohon.
Tidak berharap.
Justru itulah yang menghantam Damian paling keras.
Di mata itu tidak ada permintaan tolong.
Hanya kesimpulan.
Bahwa pria bernama Damian Moretti… memang akan selalu diam.
Seraphina masih memaki.
“Perempuan licik! Mengundang orang asing ke rumahku! Membuat keluargaku terlihat bodoh!”
Elara tak menjawab.
Ia hanya menyeka darah tipis di bibirnya.
Lalu menunduk sedikit.
“Kalau Madam sudah selesai, saya ingin kembali bekerja.”
Kalimat itu membuat Seraphina terdiam sesaat.
“Keluar dari hadapanku!”
Elara berbalik dan berjalan pergi.
Langkahnya stabil.
Punggungnya tegak.
Tak ada satu pun tanda kalah.
Damian menatap punggung itu sampai menghilang di lorong.
Untuk pertama kalinya, ia membenci dirinya sendiri.
Malam semakin larut.
Di balkon lantai dua, Damian berdiri sendiri sambil menyalakan rokok, meski tak dihisap.
Pikirannya dipenuhi satu adegan.
Tamparan.
Dan mata Elara sesudahnya.
Pintu balkon terbuka.
Selene keluar sambil membawa gelas wine.
“Kau serius memikirkan pelayan itu?”
Damian tak menjawab.
Selene tertawa kecil.
“Kak, jangan bilang kau tertarik.”
“Diam.”
“Oho… jadi benar.”
Damian mematikan rokok tanpa menyentuhnya.
“Selene.”
“Apa?”
“Kalau kau menyentuh barang Ibu lagi, aku sendiri yang akan mengusirmu.”
Selene menegang.
Lalu ia mendengus dan pergi.
Damian kembali sendiri.
Di halaman depan, iring-iringan mobil hitam masih menunggu.
Lampunya menyala tenang di tengah gelap malam.
Seolah mereka tahu seseorang akan keluar.
Dan Damian mendadak merasa…
jika Elara pergi malam ini, rumah ini tak akan pernah sama lagi.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄