NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Penyihir Musim Dingin

​“Apa yang membuatku ingin tetap hidup? Sebenarnya apa?” bisik Luvya pada dirinya sendiri.

​Pertanyaan itu terasa menyakitkan. Setiap kali ia mencoba membangun dinding keamanan, dunia selalu punya cara untuk meruntuhkannya. Pengkhianatan Ozon, wajah kecewa Hedelon, dan dinginnya salju utara seolah menjadi bukti bahwa ia tidak diinginkan di mana pun.

​“Aku hanya ingin menemukan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang nyatanya jarang aku dapatkan,” keluhnya. Air mata imajiner jatuh dalam ruang hampa batinnya. “Rasanya aku ingin menyerah saja. Tapi, sekali lagi, aku masih ingin tetap hidup. Aku ingin hidup kembali.”

​Hasrat untuk bertahan hidup itu seperti api kecil yang menolak padam meski disiram badai. Di tengah keputusasaan itu, memori tentang isi novel aslinya tiba-tiba melintas. Luvya teringat pada satu bab yang menceritakan tentang sebuah legenda yang jarang dipercayai orang yaitu Penyihir Musim Dingin.

​Dalam narasi novel, Penyihir Musim Dingin digambarkan sebagai sosok yang tragis sekaligus agung. Dahulu, ia adalah gadis manusia biasa yang diusir dari desanya sendiri karena memiliki kecantikan yang dianggap kutukan. Ia ditelantarkan oleh orang tuanya, dibuang oleh kerabatnya ke tengah badai salju agar mati membeku. Namun, dalam kedinginan yang mematikan itu, ia terus berdoa kepada Dewa agar diberi kesempatan untuk tetap hidup.

Dewa menjawabnya dengan anugerah keabadian, sebuah kekuatan besar yang membuatnya menyatu dengan musim dingin itu sendiri. Akan tetapi, keabadian ternyata adalah penjara yang membosankan. Ratusan tahun berlalu, dan ia hanya menjadi saksi bisu dari pergulatan manusia yang fana. ​Kini, sosok itu bukan lagi sekadar rangkaian kata di dalam kertas buku. Sosok itu nyata.

​"Bangunlah," suara wanita itu terdengar seperti denting es yang jatuh ke permukaan kaca. Dingin, namun begitu jernih.

​Luvya memaksakan kelopak matanya terbuka. Kesadarannya kembali secara perlahan, namun pemandangan di depannya telah berubah total. Ia tidak lagi berada di dasar jurang yang gelap. Ia kini berada di sebuah hamparan salju luas tak berujung yang berwarna putih bersih, seolah-olah salju di sini tidak pernah tersentuh oleh noda apa pun.

​Di atas sana, langit yang seharusnya hitam pekat kini dipenuhi oleh tirai cahaya aurora yang menari-nari. Warna hijau, ungu, dan biru berpendar indah, menerangi cakrawala dengan cara yang mustahil dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.

​Dan tepat di hadapannya, berdiri sang Penyihir Musim Dingin.

​Jubah merahnya berkibar pelan tertiup angin yang tidak terasa dingin lagi bagi Luvya. Matanya menatap Luvya dengan binar keabadian yang sangat dalam. Ia berdiri di sana, bukan sebagai legenda yang tertulis di buku-buku usang, melainkan sebagai entitas agung yang sedang menatap bidak kecil yang telah berhasil menarik perhatiannya.

​"Aku menunggumu bangun, Luvya," ucap sang penyihir dengan senyum tipis yang sarat akan makna. "Kau bilang, kau ingin hidup kembali?"

Luvya tersentak. Rasa dingin yang tadi membekukan tubuhnya seolah lenyap, digantikan oleh rasa heran yang mencekat tenggorokan. Bagaimana mungkin sosok legenda ini mengetahui namanya? Nama yang bahkan di dunia ini ingin ia hapus demi keselamatan dirinya sendiri.

​"Kenapa... kenapa kau tahu namaku?" tanya Luvya dengan suara bergetar.

​Wanita itu hanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gemerincing kristal es yang beradu. Ia melangkah mendekat, jubah merahnya menyapu hamparan salju putih tanpa meninggalkan jejak kaki sedikit pun. "Tentunya ini pertemuan seru kita yang kedua kalinya, Luvya."

​Luvya membelalak. Pertemuan kedua? Seingatnya, ia tidak pernah bertemu dengan entitas semacam ini selama ia hidup sebagai Luvya, apalagi saat ia masih menjadi Lily di dunianya yang dulu.

​"Bertemu? Di mana?" Luvya berusaha memutar otaknya, namun kepalanya terasa kosong. "Dan kenapa kau menyelamatkanku?"

​"Bukan aku yang menyelamatkanku," jawab sang penyihir sambil menatap langit yang dipenuhi aurora. "Tapi Dewa Kematian."

​"Dewa Kematian?" Luvya semakin bingung dengan teka-teki ini. Jantungnya berdegup kencang. Jawaban itu terdengar begitu mengerikan, seolah-olah ia baru saja ditarik kembali dari ambang kehancuran yang mutlak. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

​Penyihir Musim Dingin itu mengitari Luvya, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh selidik. "Semua ini menarik perhatianku, Luvya. Kau adalah manusia biasa yang mengubah segalanya. Aku ingin tahu, bagaimana kisah akhirnya nanti? Bukankah seharusnya alurnya tetap sama?"

​Deg. Jantung Luvya seakan berhenti berdetak sesaat. Kalimat itu bukan sekadar kiasan.

​"Tunggu! Kau... kau tahu tentang novel itu?" tanya Luvya setengah berteriak. Napasnya memburu. Ini adalah pertama kalinya seseorang di dunia ini mengakui bahwa kehidupan mereka sebenarnya adalah sebuah alur yang telah tertulis.

​Wanita itu tidak menjawab secara langsung. Ia hanya tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat begitu cantik namun menyimpan rahasia ribuan tahun. "Karena sudah membuat cerita yang menarik, izinkan aku memberimu hadiah, Luvya."

​"Tung—"

​Belum sempat kata-kata Luvya selesai terucap, sang Penyihir Musim Dingin mengangkat tangannya yang lentik. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Luvya dan meniupkan hembusan angin yang sangat dingin tepat ke wajah gadis itu.

​Angin itu tidak menyakitkan, namun rasanya seperti ribuan jarum es yang masuk ke dalam pori-pori dan menyatu dengan aliran darahnya. Seketika, cahaya yang sangat terang muncul dari tubuh Luvya, menelan bayangan sang penyihir, aurora di langit, dan hamparan salju yang luas.

​Seluruh pandangan Luvya menjadi putih terang, menyilaukan mata hingga ia tidak bisa melihat apa pun lagi. Di tengah cahaya itu, ia merasa tubuhnya tidak lagi berat. Rasa sakit hati dan pengkhianatan yang tadi menyesakkan dada seolah dicuci bersih, digantikan oleh kekuatan baru yang bergejolak di dalam dirinya. Sebuah kekuatan yang diberikan oleh sang penguasa keabadian sebagai tiket untuk melanjutkan ceritanya sendiri.

Cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan memudar, menyisakan keheningan yang mencekam. Luvya mengerjapkan matanya dengan berat. Ia menyadari bahwa dirinya telah kembali, tergeletak di atas hamparan salju di dasar jurang. Tempat terakhir kali kesadarannya direnggut oleh dingin yang mematikan.

​Anehnya, saat ia mencoba menggerakkan anggota tubuhnya, tidak ada rasa sakit yang menusuk. Ia jatuh dari ketinggian yang seharusnya bisa mematahkan seluruh tulangnya, namun tidak ada satu pun luka di tubuhnya. Bahkan memar pun tidak ada.

​Tiba-tiba, suara derap langkah kaki kuda yang berjumlah ratusan memecah kesunyian lembah salju itu. Suaranya bukan lagi denting pelana biasa, melainkan dentum barisan yang teratur dan berat, menciptakan getaran di permukaan es tempat Luvya terbaring.

​Sekelompok pasukan berbaju zirah lengkap muncul dari balik kabut badai. Mereka bergerak dengan kecepatan tinggi, namun langsung menarik kendali kuda saat melihat sosok kecil tergeletak di tengah jalur mereka.

​"Tuan! Ada seorang wanita di sini!" teriak salah satu prajurit di barisan depan.

​Beberapa prajurit dengan sigap meloncat turun, menyingkirkan tumpukan salju yang sempat menutupi sebagian tubuh Luvya dengan tangan-tangan mereka yang terbungkus sarung tangan besi.

​"Wanita di tengah medan perang?" gumam prajurit lainnya dengan nada tak percaya. "Sepertinya dia tertutup badai salju, tapi bagaimana bisa ada warga sipil yang sampai sejauh ini?"

​Luvya hanya bisa menatap mereka dengan pandangan kosong. Kepalanya masih sedikit pening, namun ia bisa merasakan kehadiran energi yang sangat besar dari arah belakang pasukan itu. Di dalam hatinya, ia sudah membisikkan terima kasih yang tulus kepada Penyihir Musim Dingin karena telah memberinya kesempatan kedua. Namun, kini ia bingung, ia baru saja selamat dari maut, dan tiba-tiba sudah dikepung oleh pasukan bersenjata lengkap.

​Ada apa ini? Siapa mereka? batin Luvya waspada.

​Seorang pria dengan zirah full-plate yang tampak lebih megah dan kokoh dari yang lain turun dari kudanya. Suara langkah sepatunya yang berat menghantam salju terdengar sangat berwibawa. Para prajurit segera membuka jalan saat pria itu berjalan mendekat ke arah Luvya.

​Luvya mencoba duduk tegak, tangannya meremas salju di bawahnya. Semenjak ia membuka mata tadi, rasa hangat yang meledak dari jantungnya membuatnya tetap tenang meski dikelilingi oleh pria-pria bersenjata. Ia tidak lagi menggigil. Sesuatu di dalam dirinya—hadiah dari sang penyihir—seolah memberitahunya bahwa ia tidak perlu takut pada dingin ataupun manusia-manusia ini.

Pria pemimpin itu berhenti tepat di depan Luvya. Helm perangnya yang dingin menutupi seluruh wajah, namun aura dominan yang terpancar darinya membuat udara di sekitar mereka terasa semakin tipis dan menghimpit. Luvya menahan napas, tangannya yang mungil meremas jubahnya sendiri, bersiap untuk kemungkinan terburuk. ​Namun, hal yang tak terduga terjadi.

​Pria berzirah megah itu tiba-tiba berlutut di atas salju, tepat di hadapan Luvya. Ia melakukannya dengan perlahan, seolah takut jika gerakannya yang tiba-tiba akan membuat gadis di depannya menghilang bagai fatamorgana. Cukup lama ia terdiam dalam posisi itu, sebelum akhirnya mengulurkan tangan yang terbungkus sarung tangan besi untuk meraih tangan Luvya.

​Bagi pria itu, kulit Luvya terasa sangat dingin seperti es yang membeku selama ribuan tahun. Padahal, Luvya sendiri justru merasakan kehangatan yang nyaman mengalir dari dalam jantungnya.

​"Ini dingin sekali," kata pria itu dengan suara serak yang bergetar, terdengar seperti seseorang yang hampir menangis namun mencoba menahannya sekuat tenaga.

​Luvya tertegun, lidahnya kelu. Mengapa pria asing ini terdengar sangat terluka?

​Tanpa menunggu jawaban apa pun, pria itu melepaskan tangan Luvya dan langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya yang kokoh. Ia mengangkat Luvya dengan satu gerakan mantap, menggendongnya seolah Luvya adalah harta paling berharga yang baru saja ditemukan kembali dari dasar jurang kematian.

​"Ayo kita kembali ke ibu kota!" seru pria itu dengan lantang kepada pasukannya, suaranya kini kembali penuh wibawa namun terselip nada urgensi yang mendalam.

​Dalam gendongan pria itu, hidung Luvya menangkap aroma yang sangat tajam, bau amis darah. Ia melirik ke sekeliling dan menyadari bahwa hampir seluruh prajurit di sana mengenakan zirah yang penuh dengan goresan senjata dan noda merah yang mulai membeku.

​Mereka habis berperang, batin Luvya terkesiap.

​Luvya merasa bingung. Seharusnya, jika ada peperangan besar di sekitar wilayah riset mereka, Profesor Ozon dan Profesor Hedelon pasti mengetahuinya. Berita perang bukanlah hal yang kecil, apalagi di wilayah Pegunungan Utara yang strategis. Mengapa tidak ada satu pun pengumuman? Ataukah mereka baru saja menyelesaikan perang di tempat lain dan hanya melewati rute ini?

​Memikirkan semua keanehan itu membuat kepala Luvya terasa sangat berat. Energi yang baru saja ia terima dari Penyihir Musim Dingin seolah menuntut tubuhnya untuk beristirahat agar bisa menyatu sepenuhnya.

​Perlahan, pandangan Luvya mulai kabur. Kelopak matanya terasa seberat timah. Namun, sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya ke dalam kegelapan yang hangat, ia mendengar bisikan lirih yang sangat dekat dengan telinganya. Suara yang berasal dari balik helm perang pria yang menggendongnya.

​"Aku menemukanmu lagi, Luvya."

​Kalimat itu menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum dunianya menjadi gelap.

1
aku
eh, si teman dansa kah??? 😯😯
aku
jadikan cambuk untuk bangkit jk km dikasih ksempatan hdp luvya. jadilah kuat. ratakan semua yg nyakitin kamu. 😭😭
kiu kiu
lanjut thor...bagaimna nasib luvya...mengapa takdir selalu mempermainkannya di dunia itu.semoga ada kebahagiaan utk luvya..
Susilowati Jais
Hadelon sangat mengecewakan😤😤
Susilowati Jais
semangat up thor🥰🥰
Rembulan Pagi: terima kasih kak 🙏
total 1 replies
kiu kiu
updatenya lebih banyakin thor...biar enggak keburu habis ngebacanya.nunggu lagi besok besok...
Rembulan Pagi: terima kasih atas masukannya kak 🙏
total 1 replies
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
aku: ouh iya sih, jd kyk trauma ya
total 2 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!