NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: REZIM BARU DI SARANG VIPERA

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Gerbang baja raksasa dengan ukiran ular kobra yang saling melilit terbuka perlahan, menyambut iring-iringan mobil kami. Jika ini adalah kehidupan lamaku, aku akan menyebut tempat ini sebagai markas garnisun yang cukup layak. Namun, melalui mata seorang Marsekal yang telah memenangkan puluhan pengepungan benteng, mansion mewah di hadapanku ini hanyalah sebuah target empuk dengan bungkus estetika yang berlebihan.

​"Selamat datang di rumah, Leo, Lea," suara Damian terdengar berat, ada nada bangga yang terselip di sana saat ia menunjuk ke arah bangunan megah bergaya Eropa klasik itu.

​Aku tidak menjawab. Mataku bergerak taktis, memindai setiap jengkal perimeter dari balik jendela SUV yang antipeluru. Di balik kacamata hitamku, otakku sedang bekerja seperti komputer militer, memetakan setiap sudut yang bisa dijadikan lubang masuk oleh penyusup.

​“Kak, kau melihatnya? Sektor timur laut, dekat air mancur. Tiga orang penjaga berdiri dengan posisi kaki yang terlalu santai. Mereka tidak sedang berjaga, mereka sedang bergosip lewat radio,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.

​“Aku melihatnya, Lea. Bukan hanya itu. Sudut elevasi menara pengawas di lantai dua salah. Ada blind spot seluas tiga meter di area parkir bawah tanah. Jika aku adalah pembunuh bayaran, Damian Xavier sudah mati dalam lima belas menit pertama kita sampai,” balasku dingin melalui tatapan mata yang hanya dimengerti oleh kembaranku.

​Mobil berhenti tepat di depan tangga marmer utama. Barisan pelayan dan penjaga berbaju hitam sudah berdiri rapi, membungkuk serempak saat pintu mobil dibuka oleh Marco. Aroma kemewahan yang menyesakkan menyambut kami, namun bagiku, ini hanya medan perang baru yang perlu kutaklukkan.

​Damian keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Mama. Qinanti turun dengan langkah ragu, wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang mendalam. Ia menggenggam tanganku dan Lea dengan sangat erat, seolah-olah kami adalah satu-satunya jangkar di tengah lautan badai yang ia takuti.

​Seorang pria bertubuh kekar dengan luka parut di pipi kiri melangkah maju. Bram, Kepala Keamanan mansion. Ia menatap kami dengan tatapan meremehkan yang coba ia sembunyikan di balik topeng profesionalisme.

​"Tuan Damian, kamar untuk Nyonya sudah siap. Untuk Tuan Muda Leo dan Nona Muda Lea juga sudah dipersiapkan di sayap kanan," ucap Bram dengan nada datar, suaranya mengandung sedikit nada merendahkan yang hanya bisa dideteksi oleh telinga yang sudah biasa mendengar intrik politik.

​Aku berhenti tepat di depan Bram. Aku mendongak, menatapnya lurus ke mata. Meskipun tinggi badanku hanya mencapai pinggangnya, aku membiarkan aura komandoku meledak—aura yang pernah membuat para jenderal musuh bertekuk lutut di bawah kakiku.

​"Kau membiarkan lubang angin di sisi barat dapur terbuka tanpa sensor inframerah," ucapku tanpa basa-basi. Suaraku kecil, tapi memiliki ketajaman bilah pedang yang baru diasah.

​Bram tertegun, lalu tertawa kecil, melirik ke arah Damian seolah meminta izin untuk menertawakan 'celoteh' anak kecil. "Maaf, Tuan Muda, tapi sistem kami adalah yang terbaik di Asia Tenggara—"

​"Jangan membual tentang 'terbaik' jika kau bahkan tidak tahu cara mengatur rotasi patroli yang efisien," potongku datar. Aku mengalihkan pandangan pada Damian yang sedang mengamati interaksi kami dengan tangan bersedekap. "Papa, aku tidak akan membiarkan Mama tidur di rumah yang keamanannya setingkat dengan taman kanak-kanak."

​Damian menaikkan sebelah alisnya. "Taman kanak-kanak? Kau sadar kau sedang bicara tentang sistem keamanan senilai lima juta dolar, Leo?"

​"Harga tidak menjamin keamanan jika operatornya adalah sekelompok amatir yang lebih suka merokok di balik pilar daripada mengawasi monitor," balasku. Aku menarik tablet dari tas ranselku, jemariku bergerak cepat, menari di atas layar dengan kecepatan yang tidak mungkin dimiliki anak berusia delapan tahun biasa. "Dalam tiga detik, aku akan mematikan seluruh aliran listrik di mansion ini. Tiga... dua... satu."

​JLEP.

​Seluruh mansion gelap gulita dalam sekejap mata. Lampu taman padam. Gerbang baja terkunci secara otomatis. Suasana mendadak hening dan mencekam, hanya menyisakan deru napas orang-orang yang mulai panik. Para penjaga meraba-raba senjata dan lampu senter mereka dengan ceroboh.

​"Apa yang terjadi?!" seru Bram panik ke radionya, suaranya melengking karena terkejut.

​Aku menyalakan kembali lampu hanya di area tempat kami berdiri, memberikan efek lampu sorot yang dramatis di bawah temaram rembulan malam. Damian menatapku dengan binar kekaguman yang tak bisa ia tutupi lagi. Egonya sebagai penguasa terusik, tapi naluri predatornya menyukai apa yang ia lihat.

​"Protokol Blackout," gumamku. "Aku sudah mengambil alih kendali pusat dari tablet ini sejak kita melewati gerbang luar. Papa, jika Papa ingin kami tinggal di sini, Bram dan seluruh tim keamanannya harus menyerahkan lencana mereka malam ini. Aku akan mendidik ulang mereka, atau aku akan menggantinya dengan algoritma yang lebih setia."

​Damian menoleh pada Bram yang kini berkeringat dingin, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu teras. "Kau dengar itu, Bram? Kau baru saja dipermalukan oleh seorang bocah. Serahkan akses ruang kendali pada Leo sekarang. Aku tidak suka membayar orang yang membiarkan lubang di dinding rumahku."

​"Tapi Tuan—"

​"SEKARANG!" gertak Damian, suaranya menggelegar layaknya guntur.

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Aku mengamati kerumunan pelayan yang berdiri di belakang barisan penjaga. Sebagai mantan Profiler FBI yang sudah menghabiskan puluhan tahun membedah kebohongan di ruang interogasi, setiap kerutan di dahi, setiap kedipan mata yang terlalu cepat, dan setiap pergeseran tumpuan kaki adalah data mentah bagiku.

​Ada dua belas pelayan wanita dan delapan pelayan pria. Semuanya tampak tunduk, tapi ada satu variabel yang menarik perhatianku.

​“Kak, wanita paruh baya di baris kedua, sebelah kiri. Namanya Ratna, kepala pelayan. Dia menghindari kontak mata denganku, tapi pupil matanya melebar setiap kali Damian menyentuh lengan Mama. Itu bukan rasa hormat, itu kecemburuan yang beracun,” lapor kuku lewat Shadow Talk yang kupancarkan ke arah Leo.

​“Tangani dia, Lea. Aku sibuk merombak sistem firewall si bodoh Bram,” jawab Leo tanpa menoleh, jemarinya masih sibuk di atas tablet.

​Aku melepaskan genggaman tangan Mama pelan, memberinya senyum paling manis yang bisa kubentuk dari jiwa yang sebenarnya sudah sangat tua. "Mama, Lea haus. Lea mau minum susu cokelat, boleh?"

​Mama mengangguk lemah, terlihat sedikit lega karena aku meminta sesuatu yang terkesan 'normal' di tengah kegilaan ini. "Tentu, Sayang. Mari kita ke dapur."

​Ratna maju dengan sigap, mencoba memasang wajah ramah yang menurutku sangat amatir. "Biar saya yang menyiapkannya, Nona Muda Lea."

​Aku mengikuti Ratna ke dapur yang sangat luas dan dingin. Saat ia membelakangiku untuk mengambil susu dari kulkas, aku bisa merasakan perubahan atmosfer. Ia menghela napas kasar, bahunya menegang—tanda bahwa ia sedang menekan emosi yang meluap.

​"Paman Damian bilang, Mama adalah kurator seni yang hebat," ucapku tiba-tiba, suaraku menggema di antara peralatan dapur yang mengilap.

​Ratna sedikit terlonjak, bahunya gemetar sebelum ia berbalik dengan senyum yang dipaksakan. "Ah, ya, Nona Muda. Kami sudah mendengar banyak tentang Nyonya Qinanti."

​"Kau sudah bekerja di sini selama sebelas tahun, bukan? Tepat setelah Nyonya Qinanti pergi?" tanyaku sambil memiringkan kepala secara imut, memeluk boneka kelinciku erat-erat.

​Gelas di tangan Ratna beradu dengan meja counter dengan denting yang cukup keras. "Bagaimana Nona Muda tahu?"

​"Aku tahu banyak hal, Bi Ratna," aku mendekatinya perlahan. Langkah kakiku yang kecil tidak bersuara di atas lantai marmer. Aku menatapnya tajam—jenis tatapan yang biasa kugunakan untuk meruntuhkan pertahanan tersangka pembunuhan berantai. "Aku tahu kau berharap Mama tidak pernah kembali. Aku tahu kau menyukai aroma parfum Papa yang kau cium secara sembunyi-sembunyi saat membersihkan kamarnya. Dan aku tahu... kau adalah orang yang memberikan informasi pada Baron tentang keberangkatan Mama sebelas tahun lalu karena kau ingin dia menghilang selamanya dari sisi Damian."

​Wajah Ratna berubah menjadi seputih kertas, seolah seluruh darah di tubuhnya tersedot habis. Ia mencoba tertawa, tapi suaranya hanya berupa desisan yang tercekat di tenggorokan. "Nona Muda... Anda bicara apa? Itu... itu fitnah! Saya sangat setia pada Tuan Damian!"

​Aku tersenyum, tapi senyumku tidak sampai ke mata. "Aku tidak memfitnah, Bi. Aku hanya membaca profil. Gerakan tanganmu yang menyentuh leher saat aku menyebut nama Baron adalah tanda klasik dari kebohongan tingkat tinggi. Detak jantung di arteri lehermu melonjak drastis hingga 110 bpm. Kau ketakutan karena rahasia busukmu terbongkar oleh anak kecil."

​Ratna mundur hingga punggungnya menabrak lemari es. Ia melihat ke sekeliling dengan mata liar, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan kami.

​"Jika kau ingin tetap hidup dan tidak berakhir sebagai makanan ikan di dasar laut, kau akan mengikuti instruksiku mulai malam ini," bisikku, suaraku kini sedingin es. Aku mengambil gelas susu yang ia siapkan dengan tangan gemetar. "Kau akan menjadi mata dan telingaku. Kau akan melaporkan setiap bisikan pengkhianatan di mansion ini padaku sebelum mereka sampai ke telinga Papa. Mengerti?"

​Ratna mengangguk cepat, air mata ketakutan mulai mengalir membasahi pipinya yang keriput. Ia menyadari bahwa di balik wajah imut ini, ada predator yang bisa mencabik jiwanya hanya dengan kata-kata.

​"Anak pintar," ucapku, menyesap susu cokelat itu dengan nikmat. "Susu ini sedikit terlalu manis, tapi kerja sama kita akan jauh lebih manis jika kau patuh."

​POV: DAMIAN XAVIER

​Aku berdiri di ruang tengah mansionku, menatap punggung kecil Leo yang kini sedang duduk di kursi ruang kendali keamanan utama. Ia terlihat sangat mungil di kursi kulit eksekutif yang besar itu, namun pengaruh yang ia pancarkan memenuhi seluruh ruangan hingga ke sudut terkecil.

​Marco berdiri di sampingku, berbisik dengan suara yang belum pernah sebergetar ini selama ia melayaniku. "Tuan... ini tidak masuk akal. Dia baru saja menutup celah keamanan satelit kita dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Ahli IT kita butuh waktu satu bulan hanya untuk membangun enkripsi dasar itu."

​Aku tidak membalas. Mataku terfokus pada Qinanti yang duduk di sofa tak jauh dari kami. Ia tampak kebingungan, seolah dunianya baru saja terbalik 180 derajat. Matanya terus berpindah-pindah antara aku dan kedua anak kami.

​"Damian..." panggil Qinanti lirih.

​Aku mendekatinya, duduk di sampingnya dan merasakan aroma mawar yang selalu kucintai itu. "Ya, Qin?"

​"Siapa mereka sebenarnya?" suaranya pecah, ada getaran keputusasaan di sana. "Aku yang melahirkan mereka, aku yang membesarkan mereka setiap hari... tapi hari ini, aku merasa seperti membawa pulang dua orang asing yang sangat berkuasa. Leo bicara tentang strategi militer, Lea bicara seperti... seperti orang yang sudah melihat semua dosa di dunia ini. Aku takut, Damian."

​Aku meraih tangannya, meremasnya lembut, mencoba memberikan kehangatan yang selama sebelas tahun ini terkubur di bawah tumpukan kekejaman duniaku. "Mereka adalah anak-anak kita, Qinanti. Mungkin... dunia ini memang terlalu kecil untuk mereka. Tapi kau harus tahu satu hal: apapun mereka, mereka melakukan semua ini untuk melindungimu. Mereka mencintaimu lebih dari apapun yang ada di bumi ini."

​Qinanti menatapku, air mata jatuh di pipinya yang lembut. "Sejak kapan seorang bos mafia yang ditakuti seluruh negeri butuh perlindungan dari anak berusia delapan tahun?"

​Aku tersenyum miring, sebuah tawa kering keluar dari tenggorokanku. "Sejak hari ini, Qin. Sejak anak-anak kita memutuskan untuk mengambil alih papan catur ini dari tanganku."

​Tiba-tiba, suara Leo terdengar dari pengeras suara ruang kendali, suaranya berwibawa layaknya seorang jenderal memberikan briefing. "Papa, kumpulkan semua penjaga di lapangan tengah dalam sepuluh menit. Aku sudah memetakan siapa saja yang berpotensi menjadi parasit di organisasi Papa. Dan oh, Lea ingin Papa memecat Ratna secara administratif, tapi biarkan dia tetap di sini di bawah pengawasan Lea sebagai pelayan pribadi."

​Aku mengerutkan kening, menatap layar monitor. "Kenapa?"

​"Karena dia adalah pion pertama yang berhasil Lea jinakkan," suara Lea menimpali melalui Shadow Talk yang entah bagaimana bisa ia proyeksikan ke speaker. "Papa tidak ingin menyia-nyiakan informan ganda yang sudah tahu rahasia musuh, bukan? Anggap saja ini efisiensi sumber daya."

​Aku menghela napas panjang, menatap Marco yang hanya bisa mengangkat bahu tanda tak mengerti. Dua anak ini benar-benar gila. Mereka baru saja sampai, dan mereka sudah mulai membersihkan rumahku dari dalam ke luar dengan presisi yang mengerikan.

​"Marco, lakukan apa yang mereka katakan," perintahku akhirnya.

​Malam itu, mansion Vipera tidak lagi dipimpin oleh seorang raja tunggal. Mansion ini telah jatuh ke tangan dua kaisar kecil yang bersembunyi di balik wajah polos. Aku melihat para penjagaku—pria-pria yang bisa membunuh tanpa kedip—kini berdiri dengan lutut gemetar saat Leo mulai membacakan satu per satu kesalahan taktis mereka di tengah lapangan bawah guyuran lampu sorot.

​Kejam. Efisien. Tanpa ampun.

​Aku bersandar pada dinding marmer, melihat kekuasaanku yang perlahan bergeser. Tapi anehnya, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, aku merasakan rasa aman yang sejati menyelimuti hatiku. Aku melihat Qinanti mulai sedikit rileks saat Lea membawakannya selimut hangat dan membacakan sebuah cerita—yang kalau kudengar baik-baik, sebenarnya adalah analisis taktik perang yang disamarkan sebagai dongeng.

​"Checkmate, Papa," bisikku pada diri sendiri dengan senyum tipis.

​Ya, skakmat. Dan aku adalah pion paling beruntung di dunia karena akhirnya bisa memiliki keluarga ini kembali, meskipun aku harus menyerahkan mahkotaku pada dua bocah ajaib ini.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!