Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Sang Ratu
Aaron segera berlari menggendong Anna pergi dari tempat itu... Di depan istana Ratu Leonard yang kaget dengan kondisi Anna menghadang Aaron.
"Apa yang terjadi, kenapa tiba tiba Yang Mulia seperti ini?" tanyanya cemas.
"Minggir!!" Aaron mendorong Leo yang menghalanginya.
Begitu Aaron pergi para dayang dan pelayan Ratu berhamburan keluar dengan panik, Leo pun akhirnya mengetahui bahwa Ratu yang meninggal memicu trauma Putri.
Kaisar yang berada di aula pesta pun mendapat laporan, setelah Kaisar pergi dengan tergesa gesa mulailah tersebar kabar bahwa Ratu baru saja mengakhiri hidupnya sendiri. Semua orang di aula pesta menjadi sangat heboh.. Pesta pun berakhir dengan ricuh.
Tak lama setelah itu bunyi lonceng Kematian Istana menggema dengan keras.
Kaisar mendampingi Putrinya yang masih tak sadarkan diri, ia terus menggenggam tangan Anna di sampingnya. Meski dokter sudah memberikan obat tetapi kondisi Putri sama sekali tidak membaik.
Menurut Dokter gejala saat ini adalah yang paling parah dari semua gejala yang sudah dialami Putri sejak awal.
"Sylvanna kesulitan bernafas Dokter! Lakukan sesuatu!!" teriak Kaisar panik.
"Anda harus tenang Baginda.." jawab dokter.
"Kau kira aku bisa tenang saat Putriku sekarat begini!! Lakukan sesuatu atau kuhabisi kau!!" Teriak Kaisar.
Deryl mendekati Kaisar "Tenangkan diri anda dahulu Baginda.. Biarkan dokter melakukan tugasnya"
"Maaf tapi tubuh Putri harus dalam keadaan tetap bersih, keringat dingin putri terus mengalir membuat pakaiannya basah, seseorang harus menggantinya secara berkala" ucap Dokter.
"Saya ijin berjaga di sisi Yang Mulia Putri, Baginda Kaisar" ucap Daisy.
"Itu keputusan yang baik Baginda" ucap Deryl. "Anda harus menenangkan diri terlebih dahulu"
"Baiklah.. Laporkan padaku jika keadaannya semakin parah" ucap Kaisar.
"Baik" jawab Daisy.
Setelah itu dokter mengarahkan apa saja yang harus dilakukan oleh Daisy agar Kondisi Anna semakin membaik.
Malam pun terus berlalu.. Kaisar memeriksa keadaan putrinya setiap satu jam. Baginya malam malam seperti itu sangatlah panjang dan menyiksanya.
Sementara Leonard hanya bisa menatap jendela kamar Anna dari kejauhan di seberang pintu rahasia, hingga matahari mulai terbit barulah dia meninggalkan tempat itu.
.
Paginya Leonard kembali ke kediaman Duke, begitu ia membuka pintu ia disambut oleh Rossana yang menunggunya semalaman.
"Kemana saja!! Kenapa kau tiba tiba menghilang!!!" teriakan Rossana membuat seisi rumah menghampirinya.
Sementara itu Leonard hanya terdiam dengan raut wajahnya yang lelah dan lesu, Leo tak menghiraukan wanita yang terus merengek itu.. Dan malah mengunci pintu kamarnya.
Rossana terus menerus menggedor-gedor pintu kamarnya sambil menangis sampai sampai membuat Duke dan Duchess kebingungan.
Selang beberapa saat Baron Kenneth datang menjemput putrinya.. Meski merengek tak ingin pulang bersama Baron tetapi melihat ekspresi Duke dan Duchess yang sudah cukup muak membuat Baron menyeret putrinya membawanya pulang.
Begitu wanita itu pulang suasana kediaman Duke menjadi tenang.
"Tok tok tok.. Leo..ini ibu, Ross sudah pergi, buka pintunya" Duchess memanggil sambil mengetuk pintu kamar Leonard.
Leo membuka pintunya, Duchess melihat putranya yang biasanya selalu berpenampilan rapi dan raut wajah yang teduh itu saat ini terlihat sangat berantakan, apalagi lingkaran hitam pada matanya.
"Semalaman kau dari mana saja? Ayah dan Ibu sudah mencarimu kemana mana tapi kau tidak pulang dan kembali dengan keadaan berantakan seperti ini.. Katakan kepada ibu.. Ada masalah apa?" ucap Duchess lembut.
"Aku berada di sekitar Istana Putri.."
"Kau sangat mengkhawatirkannya?"
"Sangat"
"Ternyata kau benar benar menyukai Yang Mulia Putri Sylvanna yaa.."
"Aku sangat menyukainya.."
"Sejak meninggalkan Istana, Rossana terus menggumamkan tentang kau dan Putri, rupanya anak itu juga sudah menyadarinya.."
"Aku sangat muak dengannya Ibu.. Apa tidak ada cara menyingkirkannya dari hidupku?" ucapnya santai tapi dingin.
"Soal itu.. Akan ibu coba bicarakan dengan Ayahmu terlebih dahulu.. kau tahu kan.. Meski tidak ada Rossana hubunganmu dan Putri Sylvanna juga sulit karena jika kalian bersama maka secara otomatis keluarga Duke akan bergabung dengan faksi Kaisar, lalu semua usaha yang telah ayahmu lakukan selama ini untuk menjadi pihak yang Netral akan sia sia, kemudian keluarga kita bisa saja menjadi target dari faksi Bangsawan yang memihak Count Angelos dan sekutunya.. Ada banyak hal-hal yang harus kita relakan"
"Aku tidak takut jika harus berhadapan dengan faksi Bangsawan Ibu.. Keluarga kita lebih dari mampu untuk melawan mereka"
"Itu pendapatmu.. Bagaimana pendapat kepala keluarga ini?"
Leonard terdiam, ia merasa tak berdaya..
"Yasudah.. Jangan terlalu dipikirkan, istirahatlah.. ibu dan Ayah akan menghadiri upacara pemakaman Mendiang Ratu"
Leonard merenung cukup lama..
"Sylvanna Hayden Maximilian.. Aku merindukanmu..lekaslah sehat.. Lihatlah aku..panggil namaku..cintailah aku.." gumamnya.
.
Siang itu.. Kaisar terdiam di depan peti jenazah Diana.. Tidak ada perasaan simpati sedikitpun dihatinya meski Diana mengakhiri hidupnya sendiri dengan tragis.
"Bahkan sampai akhir, sampai tidak ada lagi yang tersisa kau masih berusaha menyakiti Putriku! Aku membencimu.. Kuharap kau mendapatkan balasan yang setimpal dan jiwamu tidak pernah tenang!" gumam Kaisar.
Tiba tiba datang Count Angelos dengan terisak tangis mendekati peti Diana.
"Oh putriku yang malang.. Aku tidak percaya kau mengakhiri hidupmu sendiri karena merasa tersiksa hidup di dalam istana yang semua orang tak menginginkan kehadiranmu.. Ohh Diana... Apa yang harus ayahmu ini lakukan jika kau pergi dengan cara seperti ini...." isaknya di samping Kaisar.
"Akting yang buruk!" gumam Kaisar.
"Semua ini salah Baginda Kaisar! Kalau saja anda tidak mengurungnya dengan kejam Diana tidak akan melakukan hal seperti itu" teriak count seraya terus menangis.
Seketika Orang orang menjadi heboh.. Mereka berbisik bisik menanggapi tuduhan Count kepada Kaisar.
"Kau bisa diam atau ku sumpal mulutmu dengan pedangku?" balas Kaisar.
"Semuanya dengarkan aku!!" teriak Count menghadap orang orang. "Kaisar ini tidak pernah menyentuh Diana meski Diana sangat mencintainya hingga rela di acuhkan sepanjang hidupnya. Barulah saat itu Diana memberanikan diri mendatangi kamar tidur Baginda Kaisar tapi Kaisar malah menyodorkan pedangnya lalu mengurungnya tanpa seseorang disisinya!! Kaisar Tiran yang sudah melenceng terlalu jauh dari kebenaran harus kita sadarkan atau Tuhan akan memberikan hukuman yang setimpal pada kerajaan kita ini!!"
"Jika kau melanjutkan ucapanmu kau hanya akan mendapat tuduhan sebagai pemberontak Count!! Aku akan berbaik hati karena saat ini mentalmu pasti sedang terguncang karena kepergian putrimu.. Hentikan itu..Penjaga!! Usir Count Angelos yang sedang bicara omong kosong ini, kehadirannya hanya akan menghambat jalannya upacara pemakaman Mendiang Ratu"
Karena tak Sudi diseret oleh para penjaga Count akhirnya pergi dengan kakinya sendiri.
Ucapan Count memicu perdebatan diantara orang orang yang mendengarnya.
Kaisar pun ikut pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengikuti proses upacara pemakaman.
Bersambung.