NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan yang Tergantung di Ujung Malam

Aditya membawa Kinanti ke kamarnya. Kinanti sudah waspada saat akan masuk ke dalam. Ia ingin menolak, tetapi kekuatan tangannya tak sebanding dengan cengkeraman Aditya.

CEKLEK!

Pintu terkunci dari dalam. Sang pemilik kamar berbalik menatap Kinanti sambil tersenyum kecil.

"Jangan takut."

Kinanti kembali digiring pelan ke tengah ruangan. Nuansa monokrom yang elegan langsung menyambut gadis itu. Ia menatap sekitarnya dengan pandangan menjelajah, tanpa menyadari Aditya masih memperhatikannya.

DUGH!

Tiba-tiba, lengan Kinanti ditarik kuat. Tubuhnya langsung ambruk dan terasa menduduki sesuatu yang keras. Kinanti membelalakkan matanya terkejut bukan main! Kini, ia berada di pangkuan pria yang baru saja menariknya ke kamar itu. Raut wajah Kinanti memerah karena gugup, terlihat sangat menggemaskan bagi Aditya yang diam-diam tersenyum miring.

*Ya Tuhan, mengapa gadisku sangat menggoda sekali malam ini?* batin Aditya, menelan ludah.

Dress batik sederhana dengan potongan asimetris dengan detail lipatan yang tidak simetris dipadukan dengan motif batik dan warna polos namun sangat cocok dengan Kinanti yang berkulit putih bersih, membuatnya tampak sangat cantik. Kinanti rupanya sangat tahu style yang cocok untuknya.

"Ju-Juragan..." ucapan Kinanti terdengar terbata-bata.

"Hm?"

*Ini tidak benar...* Batin Kinanti ingin beranjak, namun pinggangnya terasa dicengkeram kuat oleh Aditya.

"Kinanti," panggilnya. Suara serak dan berat itu memanggil nama sang pujaan hati dengan lembut.

"Iya?" sahut Kinanti spontan. Tidak ada sahutan lanjutan, hanya senyuman menawan yang Kinanti dapat.

*Pria ini terlihat sangat berbahaya,* batin Kinanti, merasa waspada.

DEG! DEG! DEG!

"Saya yakin kau sudah tahu tentang lamaran saya, kan?" Jari Aditya terulur, menyingkirkan helai rambut milik gadisnya ke belakang telinga. Tatapan tajam pria matang itu menatap manik mata Kinanti.

"Jadi, bagaimana jawabanmu, hm?"

Kinanti mengerjapkan matanya berulang kali. Topik ini sangat ingin dia bicarakan. Kinanti berpikir keras, merangkai kalimat yang tepat guna menjawab pertanyaan Aditya.

CUP!

Kecupan ringan di hidungnya sontak mengagetkan Kinanti.

"Kok melamun?"

"Ehm, sa-saya..." Dengan gugup, gadis itu mulai merespons.

"Sebelumnya, ada yang ingin saya tanyakan. Tapi, tolong biarkan saya turun dulu," ucap Kinanti yang sudah menguasai kegugupannya.

"Baiklah," Aditya membiarkan Kinanti turun dari pangkuannya, lalu mengajaknya duduk di sampingnya.

"Saya masih belum percaya," ucap Kinanti pelan sambil memainkan jemari lentiknya. Alis pria tampan itu terangkat sebelah.

"Ini terlalu mendadak, Jura—"

"Panggil Mas Adi," serobot Aditya cepat.

"Eh?"

Debaran jantung Kinanti sudah seperti lari maraton di dalam dada. Sambil mengulum bibir, gadis itu kembali bicara dengan tatapan ragu kepada pria yang tengah menatapnya.

"Kenapa harus saya? Masih banyak gadis di luaran sana."

Aditya mendengarkan dengan baik suara lembut milik Kinanti. Tatapan elangnya tak beranjak sedikit pun dari gadis yang sedang berada di sampingnya itu.

"Hanya denganmu saya tidak berminat dengan lainnya," jawab Aditya tenang. Suara berat itu seakan melemahkan seluruh saraf Kinanti.

DEG!!!

Kinanti tertegun mendengarnya. Ia menatap penuh ke arah Aditya yang dibalas dengan senyuman manis.

"Kita bahkan tidak saling kenal. Umur kita juga terpaut jauh. Apa mungkin kita bisa saling melengkapi?" Kinanti kembali bertanya.

Kedua mata elang Aditya menunduk sekilas, tak sengaja menatap paha mulus Kinanti yang tertutup dress, dengan cepat ia kembali menatap wajah cantik gadisnya.

"Saya tidak masalah umur kita terpaut jauh. Kita bisa belajar untuk saling melengkapi, agar terbiasa nantinya. Kamu juga tidak masalah, kan?"

*Ya, iya sih, tapi sebentar!* batin Kinanti, ragu.

"Kalau aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, bagaimana, Mas?"

"Mas yang akan membimbing kamu."

"Lalu, bagaimana dengan perempuan yang datang itu? Bukankah dia cocok dengan Mas Adi? Dia juga—"

"Saya tidak peduli dengannya. Saya hanya ingin denganmu. Tidak minat yang lain," tegas Aditya. "Perempuan yang datang kemari bersama orang tuanya, dia memang ingin menikah dengan saya. Tapi, saya tidak tertarik. Waktu dia datang ke gudang ingin bertemu saya, saya langsung pergi karena Pak Wisnu memanggil saya," jelas Aditya, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

"Jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak, cantik," tambah Aditya, menggoda Kinanti.

"Kamu terima lamaran saya?" tanya Aditya kembali, perlahan mendekati wajah Kinanti hingga jaraknya cukup dekat. Bahkan, aroma napas mereka pun saling berembus.

"Mas Adi, saya mohon izin diberi waktu untuk menjawab."

Aditya yang mendengarkan permintaan Kinanti pun menghela napas panjang.

"Baiklah, saya akan memberikan waktu hingga besok. Dan, jawabannya tidak boleh mengecewakan," ujar Aditya.

Kinanti mengangguk pelan dan bangkit dari duduknya. "Terima kasih, Mas Adi. Saya permisi dulu," pamit Kinanti.

Aditya menahan Kinanti hingga gadis itu menoleh ke arahnya. "Ayo, kita keluar bersama." Aditya menggandeng Kinanti keluar kamar menuju pesta di lantai bawah.

❀❀❀ ❀❀❀ ❀❀❀ ❀❀❀ ❀❀❀

💔 Kecemburuan dan Kekalutan Sang Juragan

Berbeda dengan suasana di lantai atas, di lantai bawah, Lidia sedang bingung mencari keberadaan pria pujaannya.

"Mas Aditya ke mana, sih? Perasaan dia di sini," gumamnya.

Lidia berkeliling di sekitar sana, mencari Aditya dan Kinanti. Ia sudah menaruh curiga dan rasa penasaran yang besar terhadap hubungan mereka.

"Mereka ke mana, sih? Kenapa menggandeng perempuan itu?" geram Lidia, menghentakkan kakinya dengan kesal.

Saat menuruni tangga, deringan telepon terdengar dari ponsel Kinanti.

"Siapa?"

Nama 'Bapak' tertera di layar ponsel gadis itu. Kinanti segera mengangkat sambungan telepon, sedangkan Aditya hanya diam memandangi Kinanti yang tak ada habisnya membuat hatinya berdebar.

"Sudah larut, Bapak mengajak pulang," ucap Kinanti setelah menutup telepon.

Keduanya menuruni tangga, menuju ke arah Bapak Wisnu dan orang tua Aditya.

"Sekali lagi terima kasih sudah datang ya, Wisnu dan Nak Kinanti."

"Sama-sama, Juragan. Kami juga terima kasih sekali sudah diundang," balas Bapak Wisnu dengan sopan. Kinanti hanya mengangguk kecil seraya tersenyum.

"Kalau begitu, kami pamit, Juragan Jaya, Bu Juragan, Juragan Adi."

"Eh, bagaimana kalau diantar Aditya saja? Kasihan Kinanti sudah larut begini, kena angin malam," cegah Bu Sarasvati sambil melirik putranya yang terlihat menunduk saat ia pandang.

*Ada apa ini?* batin Bu Sarasvati.

"Iya, usulan istri saya ada benarnya," sahut Pak Wijaya ikut menimpali.

"Tidak usah, Juragan. Tidak apa-apa, Kinanti sama Bapak saja naik motor," tolak Kinanti secara halus.

Bu Sarasvati pun mengangguki pelan. Bapak dan anak itu segera berlalu.

Bu Sarasvati menahan Aditya saat ia ingin beranjak dari sana.

"Ada apa, Aditya? Kenapa wajahmu terlihat sedih saja? Apa ada hubungannya dengan Kinanti?" tanya Bu Sarasvati beruntun.

"Kinanti minta waktu sampai besok, Bu."

"Lalu, apa masalahnya?" tanya Pak Wijaya yang sedari tadi menyimak.

"Adi takut jawabannya tidak sesuai harapan," jawab Aditya, menghela napas.

"Ya sudah, Nak. Kita tunggu saja sampai besok. Semoga jawabannya sesuai harapan," ujar Pak Wijaya bijak.

Aditya mengangguk sebagai jawaban.

"Ayo, masuk ke dalam," Bu Sarasvati mengelus bahu sang Putra.

Mereka bertiga pun kembali ke dalam rumah, sementara acara berlangsung hingga pukul 10 malam.

Bersambung__

___

GAUN KINANTI

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!