Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - Titik Balik
“Jadi Kak Arya nyelamatin lo yang hampir ke tabrak mobil saat mau menyeberang?”
“Yap!” Nala mengangguk-anggukkan kepalanya. Menyesap cangkir ocha miliknya dan memakan cookies yang tersedia.
“Dan dia ngajak lo ikut gabung acara amal keluarga Wijaya?” Nala kembali menganggukkan kepalanya. Selesai menjelaskan apa yang terjadi, Nala lelah melihat respon teman-temannya tampak tak percaya.
“Sebenarnya ini terdengar aneh, namun masuk akal.” Citra sungguh tak mengerti apa yang terjadi. Hanya saja, memikirkan apa yang terjadi sepertinya tebakan suaminya tidak meleset.
Zara dan Citra saling pandang, tersenyum kecil. Mereka berencana membahas hal ini dengan suami mereka. Sepertinya mereka memikirkan ulang soal tak ikut bergabung dengan rencana si kembar. Memikirkan Nala masuk ke dalam keluarga Wijaya, membuat mereka antusias. Bertiga akan bergabung dalam satu keluarga, membuat mereka akan mudah bertemu satu sama lain. Maya juga akan bisa ikut acara-acara yang ada karena masuk dalam jajaran keluarga.
“Memang masuk akal lah, kan emang itu yang terjadi. Darimananya yang terdengar aneh!”
Zara dan Citra tertawa kecil. Kemudian mereka bersendau gurau bersama.
“Nona, pesanan telah datang!” ujar Lila yang baru saja kembali bersama makanan yang telah dipesan.
“Bawa masuk!”
...****************...
ARYA POV
Di dalam mobil, memandang tas yang diberikan Nala untuknya. Bentuk perhatian yang sama, hanya melalui cara yang berbeda. Sungguh, perhatian seperti inilah yang membuatnya sangat merindukan Vika-nya. Cinta yang diberikan Vika-nya adalah alasan utama yang membuatnya jatuh hati sedalam ini.
“Tuan, apakah cara ini akan berhasil?” Melihat rasa tak yakin Kevin atas rencana yang ia susun tak membuatnya gusar. Dirinya sangat mengenal Vika-nya. Vika-nya adalah orang yang paling rendah hati, ramah dan penuh kasih. Cintanya begitu tumpah ruah saat melihat anak-anak.
“Aku tau kekhawatiran mu, Kevin. Hanya saja, jika ingin mendekati Vika maka cara mendekati perempuan biasa tak akan berlaku.”
Terbayang akan masa lalu, kenangan itu melintas layaknya sebuah film. Teringat akan pertemuan pertama mereka saat di Semarang. Membantu orang tanpa pamrih, terlihat tulus dan rendah hati.
Flashback On
Bugh!
Bugh!
Pukulan terus melayang mengenai target. Preman-preman itu jatuh tersungkur di jalan dengan wajah yang babak belur. Melihat seorang perempuan yang begitu berani melawan preman-preman itu sendirian, mana mungkin dirinya tak membantu.
“Kau gadis yang berani!” pujiku. Namun, kesan pertama yang ia lihat hanyalah wajah dingin dan tak tersentuh. Padahal dirinya baru saja membantunya.
“Adik-adik, sekarang bisa keluar!” Tak lama anak-anak keluar dari semak-semak. Pakaian mereka yang compang-camping, tubuh mereka penuh lumpur. Mereka sangat kotor.
“Kalian aman. Nah, uang kalian sudah kakak rebut lagi.” Melihat dia memberikan sejumlah uang. Nominalnya kecil, hanya pecahan uang seribu dan dua ribu. Jika dilihat, mungkin total uang itu hanya sejumlah 20 ribu saja.
“Terima kasih kak. Terima kasih banyak!” ujar anak-anak itu.
“Uang ini selamat. Jadi, kita bisa beli obat untuk ibu!” girang mereka yang merasa senang
“Obat?” tanyaku saat mendengar ucapan dari ketiga anak itu. Aku berjongkok, menyamakan tinggiku dengan anak itu.
“Ibu sedang sakit kak. Jadi kami ingin beli obat buat ibu.” Terdengar sangat polos. Aku mengerti maksud baik anak-anak itu. Hanya saja, sepertinya mereka tak mengetahui penyakit ibu mereka. Lalu obat apa yang akan mereka beli, pikirku.
“Kalian tau ibu sakit apa?” tanya gadis itu. Kupikir gadis itu tak akan bertanya mengenai hal itu. Melihat wajah datarnya saat melihatku, kupikir dia gadis yang cuek.
“Nggak tau kak.” Ketiga anak itu menggeleng bersamaan, menandakan mereka memang tak tau ibu mereka sedang sakit apa. Lalu kulirik gadis itu, dari pakaiannya jelas bahwa itu seragam SMA. Tapi wajahnya, sangat tak asing.
“Begini, antar kakak ke rumah kalian ya. Boleh? Kakak ingin lihat ibu kalian sakit apa.”
“Kau bisa?” Aku sedikit ragu dengan gadis ini. Melihat dia memakai seragam SMA, mana mungkin tau soal penyakit dan pemeriksaan.
“Bukan aku yang memeriksa, tapi dokter.” ujarnya sambil terus berbicara melalui telepon
“Bagaimana? Boleh?”
Ketiga anak itu mengangguk. Tampak sebuah senyuman tulus di wajah ketiga anak itu. Terlihat sekali bahwa ketiga anak itu merasa senang.
“Kau mau ikut?” Tawaran itu terdengar menarik. Lagipula aku penasaran dengan gadis itu. Sejenak tampak sama, hanya saja aku lupa siapa dia. Namun, teringat aku harus kembali ke asrama, jelas aku tak memiliki waktu untuk ke rumah mereka.
“Aku ada keperluan, kau saja yang bersama mereka.” “Oh iya, kita bertukar nomer saja. Nanti aku akan kesana sendiri!” Kami saling bertukar nomer. Aku melihat profil miliknya. Bunga melati.
“Siapa namamu?” tanyanya. Aku tersenyum, “Radit. Kau?”
“Vika.” jawabnya dengan datar. Sungguh ekspresinya sangat berbeda saat bersama anak-anak itu.
“Baiklah. Ayo pergi!” Aku berdiri, melihat mereka. Dia sangat baik, itulah kesanku yang kedua. Dilihat dia tampak biasa saja saat memegang tangan anak-anak itu. Kemudian, fokusku pada tas gadis itu. Benda yang selama ini ia cari. Gantungan kunci berbentuk lonceng berwarna emas.
“Gadis itu!” gumamku yang mungkin tak bisa di dengar orang lain.
Flashback off
“Tuan, selanjutnya apa rencana anda?” lamunku buyar, menatap ke arah Kevin yang berada di kursi depan. Semua laju rencananya akan sudah ia susun dengan rapi. Berjalan mendekat, perlahan, berawal dari teman. Jika ia sudah masuk, maka mendekatinya akan sangat mudah. Sama seperti dulu. Melalui kata teman, berubah menjadi cinta.
“Tenang saja. Dia akan mendekat dengan sendirinya. Akan kubuat dia ingat secara perlahan, bukan terburu-buru seperti waktu itu.”
“Kevin, jangan lupa siapkan segalanya dengan baik. Aku tak ingin ada celah apapun.” Meskipun ini adalah rencana untuk mendekati Nala, Vika-nya, dia tetap memerhatikan segalanya. Kesungguhan kegiatan amal ini bukanlah bualan semata. Kegiatan tahunan yang selalu ia lakukan harus berjalan semestinya, dengan atau tanpa Vika-nya.
“Kau tau kan, kegiatan ini tidak boleh ada kesalahan!”
“Baik tuan, saya mengerti!”
Arya POV End
...****************...
Dalam diam, Nala memikirkan tawaran yang diberikan kedua temannya itu. Kembali menjadi model karya seorang desainer. Karya dari seseorang yang selalu membantunya. Hanya saja, sudah lama dirinya tak kembali ke dunia permodelan.
Flashback On
“Eh, lo ingat desainer Tania?” tanya Zara
Nala terdiam. Cangkir teh yang ia pegang, ia genggam erat. Awalnya, masuk ke dunia permodelan hanya untuk memenuhi ambisi ibunya. Setelah mengingat sedikit masa lalunya, Nala mengingat ambisi ibunya. Ibunya sangat ingin dirinya masuk dunia hiburan dan menjadi artis terkenal. Ambisi yang dulu ia inginkan, namun tak bisa ia gapai karena kondisi keluarganya waktu itu.
“Gue inget. 5 tahun lalu, saat lomba piano terakhir kali gue pesen gaun padanya.”
“Jadi gimana? Tertarik?” Citra menyimak keduanya. Dia sangat tau bahwa Nala sedang dalam keadaan bimbang. Ingatannya yang masih berantakan, dan kemungkinan Nala juga teringat akan masa lalunya. Tentang ibunya. Apalagi, pekerjaan ini adalah pekerjaan ia tekuni sejak dulu. Kemungkinan ingatan Nala akan terdistraksi kembali.
“Jika tak yakin, jangan lakukan. Buat dirimu nyaman, Nala!” Nala merasa tenang. Tangan yang awalnya saling bertaut karena gugup menjadi tenang saat Citra memegang tangannya.
“Gue ikut!”
“Nggak sekalian balik ke agensi?”
“Jangan ngelunjak. Lagi pula, sudah lama gue putus kontrak.”
“Cih!” Zara tak suka akan hal itu. Mungkin yang lain tau bahwa Nala keluar karena tak memperpanjang kontrak. Namun, langkah ini adalah langkah yang keluarga pilih agar Nala bisa menghilang dan tak terlacak oleh ibunya.
“Lo masih kesal karena Nala nggak satu manajemen lagi kan?”
“Lo nggak mau jadi artis lagi? Jadi model bareng gue, satu agensi?”
“Nope. Pekerjaan gue sekarang juga menyenangkan dan untung banyak!” Nala kembali menyesap teh miliknya.
Flashback end