Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjara Mafia yang Berubah Jadi Ruang Karaoke
Setelah insiden penculikan Vigo yang berakhir dengan tragedi bubuk cabai, Leon Vancort memutuskan untuk melakukan pembersihan total. Sisa-sisa pengikut Vigo dan beberapa informan dari klan Black Cobra yang tertangkap kini mendekam di "The Dungeon"—fasilitas penahanan bawah tanah di bawah mansion Vancort yang dirancang untuk menghancurkan mental pria paling tangguh sekalipun. Dindingnya terbuat dari beton kedap suara, suhunya diatur agar selalu dingin, dan pencahayaannya remang-remang untuk menciptakan rasa putus asa.
Namun, semua kemegahan intimidasi itu runtuh seketika saat Ailen Gavril merasa bosan karena Leon sedang sibuk dengan rapat dewan keamanan selama enam jam berturut-turut.
"Mas Marco, saya mau ke bawah ya. Mau jenguk Mas Vigo dan kawan-kawan. Kasihan, mereka pasti kesepian di dalem sana," ucap Ailen sambil menenteng sebuah tas belanja besar dan sebuah kotak misterius yang dicolokkan ke kabel rol panjang.
Marco, yang sudah mulai lelah melarang Ailen, hanya bisa menghela napas. "Nona, itu penjara mafia, bukan panti jompo. Mereka adalah penjahat berbahaya."
"Ah, Mas Marco jangan gitu. Penjahat juga manusia, butuh hiburan biar nggak stres terus malah gigit jeruji besi," sahut Ailen enteng.
Di dalam sel nomor 04, Vigo duduk merenung dengan mata yang masih sedikit merah. Ia sedang menyusun rencana untuk tetap terlihat angker meskipun harga dirinya sudah hancur. Tiba-tiba, lampu di lorong penjara yang biasanya redup berubah menjadi kerlap-kerlip warna-warni.
Jedag-jedug... jedag-jedug...
Suara bas yang dalam mulai menggetarkan jeruji besi. Ailen muncul dengan membawa speaker portable raksasa yang dilengkapi lampu disko mini di atasnya. Ia mengenakan bando telinga kelinci yang bisa menyala dan memegang sebuah mik kabel yang panjangnya sampai ke ujung lorong.
"HALO SEMUANYA! SELAMAT MALAM PENGHUNI DUNGEON VANCORT!" suara Ailen bergema melalui pengeras suara, membuat beberapa penjaga penjara hampir menjatuhkan senjata mereka karena kaget.
Vigo berdiri, menempelkan wajahnya ke jeruji. "Kau lagi?! Mau apa lagi kau ke sini?! Mau nyebar bubuk merica?!"
"Dih, Mas Vigo sensi amat. Saya ke sini mau ngajakin Mas dan temen-temen buat healing," jawab Ailen sambil meletakkan mik di depan sel Vigo. "Mas tahu nggak, menurut penelitian yang saya karang sendiri, menyanyi itu bisa ngilangin dendam kesumat sebanyak 80%. Jadi, daripada Mas mikirin gimana cara kabur yang ujung-ujungnya gagal, mending kita duet!"
"Nggak sudi!" teriak Vigo.
Ailen tidak peduli. Ia menekan tombol play pada ponselnya. Detuman musik dangdut koplo yang sangat energetik memenuhi ruangan bawah tanah itu.
"AYO SEMUANYA! TANGAN DI ATAS! KITA GOYANG BERSAMA!" Ailen mulai bernyanyi lagu "Pamer Bojo" dengan suara yang sangat lantang dan penuh penghayatan, lengkap dengan cengkok khas yang dipelajarinya dari tukang sayur keliling.
Awalnya, para tahanan menatap Ailen dengan pandangan benci. Namun, Ailen memiliki bakat terpendam untuk merusak kewibawaan orang. Ia mengeluarkan sekotak besar martabak telur dan aroma gurih itu mulai merayap masuk ke dalam sel-sel yang pengap.
"Yang mau martabak, syaratnya cuma satu: Harus ikut nyanyi bagian 'Cendol Dawet'-nya!" teriak Ailen.
Para tahanan, yang sudah bosan makan roti gandum dan air mineral selama berhari-hari, mulai goyah. Seorang anak buah Vigo yang bertubuh kekar dan penuh tato di lengannya, tiba-tiba berdehem.
"Cendol... cendol dawet..." gumamnya pelan.
"KURANG KENCENG, MAS BERTATO!" tantang Ailen.
"CENDOL DAWET! CENDOL DAWET SEGER!" teriak si tato akhirnya, tidak kuat menahan godaan martabak telur yang masih mengepul.
Dalam waktu tiga puluh menit, suasana Dungeon Vancort berubah total. Lorong yang biasanya dingin kini terasa panas karena semangat para tahanan yang mulai bergoyang di balik jeruji masing-masing. Ailen bertindak sebagai Host acara, membagikan mik dari satu sel ke sel lain.
Bahkan Vigo, sang pemimpin pemberontak, kini terlihat sedang memegang jeruji besi seolah-olah itu adalah tiang panggung, sambil menyanyikan lagu "Kandas" dengan penuh emosi. Ternyata, Vigo baru saja diputusin pacarnya tepat sebelum ia berkhianat pada Leon, dan lagu itu sangat mewakili perasaannya.
"Zayank... opo kowe krungu... jerit tangis pipiku..." Vigo bernyanyi dengan mata berkaca-kaca.
"CAKEEEP! LANJUTKAN MAS VIGO! LUAPKAN SEMUA SAKIT HATIMU!" dukung Ailen sambil membagikan tisu.
Di atas sana, rapat Leon baru saja selesai. Ia berjalan menuju ruang kendali keamanan untuk memeriksa status tahanan. Namun, saat ia melihat layar monitor yang terhubung ke Dungeon, ia membeku.
Di layar, ia melihat para tahanan paling berbahaya di Asia Tenggara sedang melakukan koreografi sederhana yang dipandu oleh Ailen di tengah lorong. Marco berdiri di pojok ruangan dengan wajah yang ditutupi kedua tangan, tampak sangat malu.
"Marco," panggil Leon, suaranya sangat datar namun mengandung ancaman badai.
"Maaf, Tuan... saya sudah mencoba melarangnya," bisik Marco tanpa menatap Leon.
Leon tidak berkata apa-apa. Ia berjalan menuju lift bawah tanah. Saat pintu lift terbuka di lantai Dungeon, ia disambut oleh suara musik disko yang memekakkan telinga dan bau martabak telur yang sangat kuat.
"Lagi-lagi... lagi-lagi ku tak bisa tidur..." Suara Vigo sedang mencapai nada tinggi saat ia melihat bayangan Leon Vancort berdiri di ujung lorong.
Musik tiba-tiba berhenti. Ailen menoleh, wajahnya berkeringat tapi tampak sangat bahagia. "EH! MAS LEON! Sini Mas, gabung! Mas Vigo lagi dapet giliran solo nih, suaranya lumayan lho, kayak knalpot racing tapi ada manis-manisnya."
Leon berjalan perlahan menuju Ailen. Setiap langkahnya membuat para tahanan kembali masuk ke pojok sel masing-masing dengan ketakutan. Vigo segera melepaskan miknya dan duduk bersila di lantai sel, pura-pura bermeditasi.
Leon menatap Ailen, lalu menatap speaker raksasa yang masih menyala redup. "Ailen Gavril... apa yang kau lakukan di tempat eksekusi psikologis ini?"
"Lagi ngadain terapi vokal, Mas," jawab Ailen santai. "Liat deh, mereka jadi nggak galak lagi kan? Tadi Mas Vigo bahkan cerita kalau dia sebenernya pengen jadi penyanyi kafe tapi malah dipaksa kakaknya jadi mafia. Kasihan kan, bakatnya terpendam di balik pistol."
Leon menatap Vigo. Vigo hanya bisa menunduk, tidak berani menatap mata bosnya yang baru saja ia dengarkan lagu galaunya.
Leon mengambil mik dari tangan Ailen. Suasana menjadi sunyi senyap. Semua orang mengira Leon akan membentak atau memerintahkan penembakan di tempat. Namun, Leon justru menatap layar ponsel Ailen yang masih menampilkan daftar lagu.
"Kenapa lagunya berhenti?" tanya Leon singkat.
Ailen bengong. "Hah? Mas Leon nggak marah?"
"Aku marah karena kau tidak mengajakku makan martabak itu," ucap Leon sambil mengambil sepotong martabak telur dari kotak Ailen. "Dan aku juga marah karena kalian menyanyi tanpa menggunakan teknik pernapasan yang benar. Marco, nyalakan kembali musiknya."
Marco melongo, tapi ia segera menjalankan perintah. Musik kembali menyala. Kali ini lagu yang diputar adalah "My Way" dari Frank Sinatra—lagu favorit keluarga Vancort.
Leon Vancort, Sang Iblis yang ditakuti dunia, berdiri di tengah penjara bawah tanah, memegang mik dengan gaya yang sangat elegan. Dan saat ia mulai bernyanyi, seluruh lorong itu terdiam. Suaranya bariton, halus, dan sangat berwibawa.
"And now... the end is near..."
Ailen menatap Leon dengan mata berbinar-binar. "WAAAH! Mas Leon suaranya kayak pangeran di film Disney tapi versi antagonis! Keren banget!"
Para tahanan yang tadinya ketakutan, kini justru terpaku. Mereka merasa sedang menonton konser privat dari penguasa dunia bawah tanah. Kehadiran Leon yang ikut serta dalam "kegilaan" Ailen justru memberikan tekanan psikologis yang berbeda: mereka menyadari bahwa Leon bukan lagi sekadar bos yang kejam, tapi seseorang yang memiliki kendali mutlak bahkan atas suasana hati mereka.
Setelah sesi karaoke selesai, Leon memerintahkan para penjaga untuk tetap membagikan makanan yang layak kepada para tahanan, namun tetap dengan pengawasan ketat.
"Vigo," panggil Leon di depan selnya.
Vigo mendongak. "Ya, Vancort?"
"Jika kau bisa menyanyi dengan tulus seperti tadi, mungkin kau masih punya kesempatan untuk hidup. Tapi ingat, jika kau berkhianat lagi, aku sendiri yang akan memastikan lagu terakhir yang kau dengar adalah suara tembakan di kepalamu."
Vigo mengangguk lemah. "Aku paham."
Leon merangkul pundak Ailen dan membawanya keluar dari Dungeon. Marco mengikuti di belakang sambil membawa speaker yang sekarang terasa sepuluh kali lebih berat karena rasa malu yang belum hilang.
"Mas Leon, makasih ya nggak marah," ucap Ailen saat mereka sudah di dalam lift.
"Aku tidak marah, Ailen. Aku hanya terpikir sesuatu," Leon menatap Ailen dengan intens. "Bagaimana kalau kita ubah strategi interogasi kita? Daripada menggunakan alat setrum, mungkin kita bisa menggunakan suaramu yang menyanyikan lagu dangdut koplo selama 24 jam nonstop. Kurasa itu jauh lebih efektif untuk membuat orang mengaku."
Ailen tertawa renyah sambil memukul pelan lengan Leon. "Ih, Mas Leon jahat amat! Suara saya kan indah, masa dijadiin alat siksa?"
"Indah bagiku, tapi mematikan bagi orang lain," balas Leon sambil mencium puncak kepala Ailen.
Malam itu, Mansion Vancort terasa jauh lebih hangat. Di bawah sana, para tahanan tidur dengan perut kenyang martabak dan hati yang sedikit lebih tenang. Dan di atas sana, Sang Iblis dan Gadis Semprul-nya duduk di balkon, membicarakan tentang kemungkinan membuka bisnis karaoke resmi di masa depan—dengan syarat, tidak boleh ada bubuk cabai di dalam menu makanannya.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍