Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: MALAM YANG GELAP DAN JEJAK RERUNTUHAN
Malam semakin larut. Kota Perak yang biasanya ramai kini mulai sepi, hanya tersisa lampu-lampu jalan yang menerangi gang-gang sempit.
Chen Si dan Wu Ye berjalan cepat menyusuri jalan belakang, kembali ke toko kecil mereka. Di dalam lengan baju Chen Si, terselip benda batu kuno yang baru saja mereka dapatkan. Rasanya hangat, seolah-olah sedang berkomunikasi dengan kotak kayu di punggung Wu Ye.
"Kita harus segera memeriksa hubungan antara kunci ini dengan kitab di dalam kotak," bisik Wu Ye. "Tapi pertama-tama, kita harus memastikan tidak ada yang mengikuti kita."
Mereka berbelok beberapa kali, menggunakan jalan tikus yang rumit. Setelah memastikan aman, mereka masuk ke dalam toko dan segera mengunci pintu ganda.
Serangan Mendadak
Begitu lampu dinyalakan, suasana di dalam ruangan terasa hangat dan aman. Namun, baru saja mereka hendak meletakkan barang-barang...
WUSSSSS!
Tiba-tiba, dari celah-celah jendela dan celah pintu, menyembur asap berwarna ungu pekat! Asap itu berbau tajam dan menyengat!
"Racun Tidur Nyenyak tingkat tinggi!" seru Wu Ye dengan wajah berubah drastis. "Cepat tahan napas, Si!"
Terlalu lambat. Chen Si sudah menghirup sedikit udara. Kepalanya langsung terasa berat, pandangannya kabur. Kakinya lemas seolah tak bertulang.
Brak!
Pintu kayu yang tebal itu meledak hancur berkeping-keping!
Serombongan orang meloncat masuk. Mereka semua mengenakan pakaian hitam penuh, wajah tertutup kain, hanya menyisakan mata yang dingin dan kejam. Di dada mereka, lambang ular hitam terlihat jelas meski samar.
"Sekte Ular Hitam...!" geram Wu Ye.
Ia segera menghentakkan kakinya ke tanah. BOOM! Gelombang energi menyebar, meniup semua asap racun keluar ruangan dalam sekejap. Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Ada sepuluh orang, dan semuanya adalah ahli bela diri tingkat menengah!
"Tangkap bocah itu dan benda yang mereka bawa! Bunuh yang tua!" teriak pemimpin penyerang yang suaranya serak.
"Mampus kalian!"
Wu Ye tidak mundur. Tongkat kayunya bergerak kilat. Wush! Wush! Setiap kali tongkat itu melayang, pasti ada satu orang yang terlempar keluar dengan tulang patah. Namun, musuh-musuh ini terlatih sangat baik. Mereka bekerja sama seperti gerombolan laba-laba, mengurung dan melemahkan lawan.
Di sisi lain, Chen Si berusaha keras untuk tetap sadar. Ia duduk bersila, mencoba mengendalikan darahnya yang mendidih untuk membakar racun di dalam tubuh.
'Jangan pingsan! Jangan pingsan! Kakek butuh bantuan!'
"Kau urus si tua itu, aku yang akan bawa bocahnya!" Seorang pembunuh menyelinap dari samping, pisau belatinya berwarna hitam pekat (beracun), siap menikam leher Chen Si yang sedang tidak berdaya!
Saat pisau itu tinggal beberapa inchi lagi...
TRANG!
Tiba-tiba sebuah cahaya kuning meledak dari tubuh Chen Si!
Bukan energi bela diri, tapi cahaya suci yang keluar secara otomatis dari dalam darah Naga yang ada di dalam dirinya!
Pembunuh itu terpental jauh hingga menabrak dinding, tubuhnya terbakar hebat oleh energi suci itu, menjerit kesakitan luar biasa.
"Heh? Darah Suci benar-benar ada padanya!" seru Pemimpin Penyerang kaget. "Serang lebih ganas! Jangan beri mereka kesempatan!"
Pertarungan semakin sengit. Toko obat itu hancur lebur dalam sekejap. Rak-rak obat pecah, obat-obatan berceceran, api mulai membesar di sudut ruangan.
Wu Ye mulai terdesak. Tubuh tuanya tidak sekuat dulu. Ia mendapat tebasan di lengan, darah mengalir deras.
"Kakek!!" teriak Chen Si. Amarahnya meledak. Racun di tubuhnya seketika hancur lebur oleh emosi yang meluap-luap.
"AKU MATIKAN KALIAN!!"
Chen Si melompat berdiri. Matanya berubah menjadi merah keemasan. Aura pembunuhnya meledak keluar, membuat lantai kayu di bawah kakinya hancur menjadi debu.
Ia tidak menggunakan teknik apa pun. Ia hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik murni yang didorong oleh Darah Naga.
BYUR!
Dalam sekejap mata, ia muncul di hadapan tiga orang pembunuh. Pukulannya tidak bisa dilihat mata telanjang. Hanya terdengar suara benturan keras dan jeritan keputusasaan.
Satu pukulan... satu orang terpental mati.
Ia seperti dewa perang yang turun ke dunia. Musuh-musuh yang tadi gagah berani kini gemetar ketakutan melihat anak muda yang satu ini.
"Impossible... Dia masih bocah! Bagaimana bisa sekuat ini?!"
"Cabut!!" teriak pemimpinnya panik melihat pasukannya habis terbantai dalam hitungan detik. Mereka sadar, jika tidak lari sekarang, mereka semua akan mati di sini.
Mereka melempar bom asap besar dan berusaha kabur lewat jendela.
"Tidak boleh lari!" Wu Ye yang masih sadar melempar sebuah jarum perak kecil dengan kecepatan kilat.
WUT!
"Aww!" Pemimpinnya terkena di bahu. Ia jatuh, tapi berhasil diseret anak buahnya kabur ke dalam kegelapan malam.
Jejak ke Reruntuhan
Kembali ke dalam toko yang sudah hancur. Api sudah padam. Hanya tersisa puing-puing dan mayat-mayat penyerang.
Chen Si segera berlari ke arah Wu Ye. "Kakek! Kau luka parah!"
Wu Ye tersenyum pahit, menekan luka di lengannya. "Tidak apa-apa... cuma luka gores biasa. Yang penting kita selamat dan benda-benda aman."
Wu Ye melihat sekeliling. "Kita tidak bisa tinggal di sini lagi. Besok pagi, seluruh kota akan tahu. Dan Sekte Ular Hitam pasti akan mengirim ahli yang jauh lebih kuat dari ini."
"Kita harus pergi malam ini juga," kata Chen Si tegas.
"Ya. Tapi kemana?"
Chen Si mengambil benda batu kunci yang ada di tangannya. Batu itu kini bersinar semakin terang, dan ujungnya menunjuk ke arah utara, ke arah pegunungan yang tertutup kabut tebal.
"Kunci ini... ia menunjuk ke suatu arah," kata Chen Si heran. "Seolah-olah ada sesuatu yang memanggilnya dari sana."
Wu Ye memejamkan mata, merasakan getaran energi. "Itu arah Lembah Mayat... kawasan terlarang yang konon adalah tempat kerajaan kuno runtuh ribuan tahun lalu."
Ia membuka mata lebar-lebar. "Jadi itu benar! Reruntuhan asli Raja Alkemis memang ada di sana! Kunci ini bereaksi karena merasakan adanya 'induknya' di sana!"
"Berarti... semua jawaban ada di sana?" tanya Chen Si.
"Benar. Cara membuka kekuatan penuhmu, asal usul orang tuamu, dan cara membalas dendam... semuanya ada di dalam sana."
Wu Ye berdiri dengan bantuan tongkatnya. Wajahnya penuh semangat namun juga waspada.
"Namun ingat, Si. Lembah Mayat bukan tempat main-main. Di sana penuh dengan jebakan kuno, monster yang sudah tidur ribuan tahun, dan juga... pasti sudah banyak kekuatan besar yang berkumpul di sana untuk memburu harta karun."
"Kita tidak takut," kata Chen Si sambil mengepalkan tangan. "Aku sudah membunuh banyak dari mereka. Kalau mereka menghalangi jalan, kita habisi saja!"
Perjalanan ke Utara
Mereka tidak membuang waktu. Mengambil tas punggung berisi kotak kayu, buku-buku, dan bekal obat-obatan, mereka melompat keluar dari reruntuhan toko, menghilang ke dalam kegelapan malam kota.
Mereka keluar dari gerbang utara Kota Perak dengan kecepatan penuh, meninggalkan kejadian malam itu menjadi cerita ngeri bagi warga kota.
Perjalanan ke utara memakan waktu tiga hari.
Semakin ke utara, suasana semakin aneh. Langit terlihat lebih gelap, tanaman tumbuh dengan bentuk yang aneh dan besar, dan udaranya terasa berat dan dingin, seolah-olah ada tekanan besar yang menekan dari langit.
Pada hari keempat, mereka akhirnya tiba di bibir lembah.
Di depan mereka, terbentang sebuah lembah yang sangat luas dan dalam. Kabut tebal putih menyelimuti seluruh bagian bawahnya, membuat isinya tidak terlihat. Namun, di tengah kabut itu, sesekali terlihat pucat-pucat bangunan kuno yang sangat megah dan besar, menandakan bahwa di sana pernah berdiri sebuah peradaban yang sangat maju.
Dan yang paling mengejutkan...
Di sekitar bibir lembah, sudah ada banyak orang!
Terlihat tenda-tenda besar didirikan. Bendera-bendera berbagai sekte berkibar tertiup angin. Ada bendera Daun Hijau, ada bendera Pedang Besi, dan yang paling banyak dan paling menyeramkan... bendera Ular Hitam!
"Mereka... mereka semua sudah ada di sini," bisik Chen Si dengan napas tertahan. "Ribuan orang..."
"Ya... Semua predator besar sudah berkumpul untuk mengamuk," kata Wu Ye dingin. "Tapi harta karun terbesar tidak akan jatuh ke tangan orang yang hanya mengandalkan jumlah. Hanya yang paling kuat, paling pintar, dan memiliki darah yang tepat... yang akan menjadi Raja di sana."
Ia menatap Chen Si dalam-dalam.
"Si, bersiaplah. Di dalam sana, tidak ada aturan. Hanya ada yang hidup dan yang mati. Dan kau... kau adalah pewaris sah tempat ini. Jadi, bertindaklah seperti tuan rumah."
Chen Si mengangguk mantap. Matanya menatap tajam ke arah kabut tebal di depannya.
"Aku datang... Ayah, Ibu... Aku datang untuk mengambil apa yang memang milikku!"