Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : CEO Yang Menjelma Menjadi Bayi
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama mansion Arlan, menyinari wajah Kinara yang perlahan mulai terbangun.
Hal pertama yang ia rasakan bukanlah kesunyian seperti biasanya, melainkan beban berat yang melingkar di pinggangnya dan deru napas hangat yang menerpa tengkuknya dengan teratur.
Kinara mencoba bergerak, namun pelukan itu justru semakin mengencang.
Ia menoleh sedikit dan mendapati wajah Arlan yang tertidur lelap dengan ekspresi yang sangat damai—sangat berbeda dengan wajah ketat, dingin, dan penuh emosi yang ia tunjukkan semalam.
Tangan pria itu memeluk pinggang Kinara seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan luas yang siap menelan Arlan kapan saja.
"Arlan... lepaskan, aku harus ke bawah. Aku harus menyiapkan sarapan," bisik Kinara pelan sambil berusaha melepas cengkeraman tangan Arlan yang kokoh.
"Mmm... tidak mau," gumam Arlan tanpa membuka mata.
Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun nadanya terdengar sangat aneh di telinga Kinara. Itu adalah nada rengekan—sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam kamus seorang Arlan Group.
Kinara mengerutkan kening.
"Arlan, ini sudah jam tujuh. Kamu ada rapat penting jam sembilan nanti, kan? Bangunlah, mandi, dan segera bersiap."
Alih-alih bangun, Arlan justru semakin menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Kinara, menghirup aroma sabun mandi istrinya itu dalam-dalam, seolah itu adalah candu.
"Batalkan semua rapat hari ini. Katakan pada Maya aku sedang sakit parah dan tidak bisa diganggu."
"Sakit apa?" tanya Kinara panik, ia refleks membalikkan badannya untuk memegang dahi Arlan.
"Badanmu tidak panas. Apa yang sakit? Perutmu? Atau kepalamu pusing?"
Arlan membuka matanya sedikit, menatap Kinara dengan mata yang sayu namun penuh dengan binar manja yang berlebihan.
"Aku sakit rindu, Kinara. Hatiku sakit kalau kau bangun dan pergi jauh-jauh dariku. Jadi, diamlah di sini. Temani aku tidur satu jam lagi."
Kinara tertegun.
Ia mematung di tempatnya.
Apakah pria ini benar-benar Arlan yang sama dengan pria yang kemarin menghancurkan bisnis keluarga Aditama hanya dengan satu telepon? Kenapa dalam semalam ia berubah menjadi pria yang seolah tidak bisa hidup tanpa oksigen bernama Kinara?
Setelah melalui perdebatan panjang selama tiga puluh menit, Kinara akhirnya berhasil meloloskan diri ke dapur dengan syarat yang sangat konyol: Arlan boleh mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Dan di sinilah mereka sekarang.
Kinara sedang sibuk memotong sayuran untuk membuat sup ayam, sementara Arlan—sang CEO yang ditakuti ribuan karyawan—berdiri tepat di belakangnya.
Arlan memegang ujung daster Kinara dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang cangkir kopi hitam. Ia mengikuti setiap langkah Kinara seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
"Arlan, bisakah kau duduk saja di meja makan? Aku sulit bergerak kalau kau terus menempel seperti ini. Aku sedang memegang pisau, ini berbahaya," tegur Kinara, merasa risih karena setiap langkah kecilnya selalu diikuti oleh bayangan besar Arlan.
"Tidak mau. Kalau aku duduk di sana, jarak kita jadi dua meter. Itu terlalu jauh. Aku ingin di sini saja," jawab Arlan dengan wajah polos, seolah-olah ucapannya adalah logika paling masuk akal di dunia.
Para pelayan yang lewat di sekitar dapur hanya bisa menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk membersihkan debu yang sebenarnya tidak ada.
Beberapa dari mereka menahan tawa sampai wajahnya memerah, tidak menyangka bahwa Tuan Besar mereka yang biasanya memancarkan aura membunuh, kini bertingkah seperti anak kucing yang baru diselamatkan dari jalanan.
Saat sarapan siap, tingkah ajaib Arlan semakin menjadi-jadi.
Ia duduk di meja makan, namun hanya menatap piringnya dengan lesu, lalu menatap Kinara dengan tatapan penuh permohonan.
"Kenapa tidak dimakan? Supnya sudah hangat, Arlan," tanya Kinara heran.
"Tanganku lemas sekali karena semalam aku menangis terlalu banyak. Aku tidak kuat memegang sendok," bohong Arlan dengan ekspresi paling menyedihkan yang bisa ia buat.
Ia menopang dagunya, menatap Kinara dengan mata puppy eyes.
"Suapin..."
Kinara menghela napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak melempar sendok ke wajah tampan yang kini terlihat sangat menyebalkan itu.
"Arlan, kau punya dua tangan yang sehat. Jangan berlebihan. Kau bukan anak kecil."
"Tega sekali... Padahal aku baru saja mengembalikan seluruh kontrak Bright Media dan memberi agensi Devan proyek baru yang lebih besar tadi subuh melalui email. Aku melakukannya demi kamu, tapi kamu bahkan tidak mau menyuapiku sesendok saja," ucap Arlan sambil membuang muka, pura-pura merajuk.
Mendengar hal itu, hati Kinara sedikit melunak.
Ia tahu Arlan sedang berusaha menebus kesalahannya meski dengan cara yang sangat—sangat—aneh.
Akhirnya, dengan sisa-sisa kesabarannya, Kinara menyendokkan nasi dan sup, lalu menyuapkannya ke mulut Arlan.
Seketika, wajah Arlan bersinar terang. Ia mengunyah dengan semangat.
"Enak! Masakanmu memang yang paling enak di dunia. Aku tidak akan pernah makan di luar lagi kalau kau yang masak."
Siang harinya, ponsel Arlan yang tergeletak di atas meja ruang tamu berdering tanpa henti.
Nama "Maya - Sekretaris" muncul di layar berkali-kali.
Maya pasti sedang kelimpungan di kantor karena bosnya tidak muncul tanpa kabar di hari yang seharusnya penuh dengan pertemuan penting.
Namun, Arlan sama sekali tidak peduli. Dengan gerakan malas, ia mematikan ponselnya dan melemparnya ke sofa seberang.
"Arlan, kau benar-benar tidak akan ke kantor? Maya pasti sedang kebingungan," tanya Kinara saat mereka berada di ruang keluarga.
Kinara sedang mencoba membaca buku di sofa, sementara Arlan berbaring dengan kepala yang diletakkan di pangkuan Kinara.
"Kantor bisa diurus Maya. Tapi kamu... tidak ada yang mengurus kalau aku tidak di sini," ucap Arlan sambil memainkan ujung rambut Kinara dengan jemarinya.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri, Arlan.
Sebaiknya kau pergi, banyak orang yang bergantung padamu di sana."
Arlan mendongak, menatap Kinara dengan tatapan serius yang tiba-tiba muncul.
"Mereka hanya butuh uangku, Kinara. Mereka hanya butuh tanda tanganku. Tapi aku... aku butuh kamu untuk tetap merasa hidup. Biarkan aku seperti ini sebentar saja. Aku ingin mengganti waktu-waktu di mana aku mengabaikanmu dulu. Aku ingin tahu apa warna favoritmu, apa buku yang sedang kau baca, dan kenapa kau sangat suka bau bunga melati."
Arlan kemudian mulai bercerita tentang hal-hal kecil yang tidak pernah ia bagi sebelumnya—tentang betapa bosannya ia di rapat direksi, tentang betapa ia sebenarnya benci rasa kopi pahit tapi harus meminumnya agar terlihat kuat, hingga ketakutannya yang luar biasa saat mengira Kinara benar-benar sudah jatuh cinta pada Devan.
Kinara hanya mendengarkan sambil sesekali mengelus rambut Arlan tanpa ia sadari.
Ada rasa hangat yang perlahan merayap di hatinya, menggantikan rasa dingin yang selama ini ada.
Meskipun ia masih waspada, ia tidak bisa memungkiri bahwa sisi manja Arlan ini jauh lebih manusiawi daripada sisi dinginnya yang dulu.
Namun, Kinara tidak tahu bahwa sifat manja ini hanyalah awal dari ujian kesabaran yang sesungguhnya.
Karena ternyata, menghadapi Arlan yang terlalu menempel dan menuntut perhatian setiap detik jauh lebih melelahkan daripada menghadapi Arlan yang sedang marah.