Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan
Bambang terbangun sebelum alarm berbunyi. Matanya langsung terbuka lebar seperti orang yang tidak pernah tidur sama sekali. Padahal dia tidur sekitar empat jam. Seluruh tubuhnya terasa pegal, bukan karena kasur yang keras, tapi karena pikirannya yang tidak berhenti bekerja. Dia duduk di pinggir kasur dan memejamkan mata sejenak. Udara pagi masih dingin. Dari luar terdengar suara ayam tetangga yang bersahutan.
Dia menoleh ke arah jendela kecil kamarnya. Langit masih gelap. Mungkin pukul setengah lima. Waktu yang sama seperti kemarin pagi. Waktu yang sama seperti setiap pagi dalam tiga tahun terakhir. Tapi pagi ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya. Bukan kegugupan. Bukan ketakutan. Mungkin harapan. Harapan yang sudah lama tidak dia rasakan.
Bambang berdiri dan melipat kasur lipatnya. Ruangan itu langsung terasa lebih lega tanpa kasur terbentang. Dia membuka jendela dan menghirup udara pagi yang masih bercampur embun. Rumah-rumah di gang itu masih gelap. Hanya lampu jalan yang menyala redup di ujung gang. Suara azan subuh mulai berkumandang dari masjid yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari rumahnya.
Dia mengambil air wudu di kamar mandi belakang. Airnya dingin sekali. Tubuhnya menggigil, tapi dia tidak mempercepat gerakannya. Dia ingin wudunya sempurna. Untuk salat subuh terakhir di rumah sebelum berangkat entah sampai kapan.
Ibu sudah bangun ketika Bambang selesai salat. Ibu sedang menyiapkan bekal di dapur. Nasi bungkus dengan lauk telur dadar dan tempe goreng. Dibungkus dengan daun pisang, lalu dibalut kertas koran. Khas Ibu. Selalu begitu cara Ibu membungkus bekal untuk siapa pun yang akan bepergian.
"Ibu, jangan repot-repot. Nanti aku beli di bandara aja."
"Belum tentu ada yang jual di bandara jam segini. Bawa aja. Kalau tidak dimakan, tidak apa-apa."
Bambang tahu tidak ada gunanya menolak. Dia mengambil bekal itu dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Tas itu masih sama seperti semalam. Tidak ada yang dia tambahkan. Tidak ada yang dia kurangkan.
"Bapak masih tidur?" tanya Bambang.
"Iya. Biar aja. Kasihan kalau dibangunkan. Nanti Bapak sedih lihat kamu berangkat."
Bambang mengangguk. Mungkin lebih baik begitu. Perpisahan dengan Bapak akan terlalu berat. Bapak tidak bisa bicara banyak, tapi matanya bisa bicara lebih dari seribu kata. Dan Bambang tidak siap melihat mata itu pagi ini.
"Bu, aku titip Bapak. Obatnya sudah Ibu simpan?"
"Sudah. Ibu sudah pisahkan per hari. Jangan khawatir."
"Terima kasih, Bu."
Ibu berdiri di depan pintu dapur. Tangannya memegang ujung kain sarung yang dia pakai. Matanya merah, tapi dia berusaha tersenyum. "Ya sudah, berangkat sana. Jangan sampai ketinggalan pesawat."
Bambang memeluk Ibu. Pelukan yang lama. Tubuh Ibu kecil dan kurus. Tulang-tulangnya terasa saat lengan Bambang melingkar di punggungnya. Ibu tidak menangis. Tapi dadanya naik turun cepat.
"Sampai jumpa, Bu."
"Sampai jumpa, Nak. Hati-hati di sana."
Bambang mengambil tas ranselnya dan berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu perlahan. Udara pagi menyambutnya dengan dingin yang menusuk. Dia tidak menoleh ke belakang. Jika dia menoleh, dia mungkin tidak akan jadi pergi.
Dia berjalan melewati rumah Mamat. Rumah itu masih gelap. Mamat pasti masih tidur nyenyak setelah begadang nonton TV sampai larut. Bambang lega. Sekali lagi dia tidak perlu mendengar suara Mamat pagi ini.
Perjalanan ke bandara naik angkutan kota memakan waktu satu jam lebih karena jalanan macet di beberapa titik. Bambang duduk di kursi dekat jendela. Pemandangan di luar berganti dari gang sempit ke jalan raya, dari rumah-rumah padat ke perkantoran, dari pepohonan rindang ke gedung-gedung beton yang menjulang. Kota ini terasa asing padahal dia tinggal di sini sejak lahir.
Bandara sudah ramai ketika Bambang tiba. Orang-orang berlalu lalang dengan koper dan ransel. Ada yang tergesa-gesa, ada yang duduk santai sambil main ponsel. Bambang merasa asing di antara mereka. Dia belum pernah ke bandara sebelumnya. Paling jauh dia pernah naik pesawat? Tidak pernah. Ini pertama kalinya.
Dia berjalan ke loket maskapai yang disebutkan Pak Toni. Seorang petugas perempuan dengan seragam rapi menyapanya.
"Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau ambil tiket pesawat. Atas nama Bambang. Tapi tiketnya dikirim ke email, saya tidak punya email."
Petugas itu mengetik sesuatu di komputernya. "Bapak Bambang? Tujuan ke Kalimantan Tengah?"
"Iya, Bu."
"Tiket sudah kami siapkan. Bapak hanya perlu menunjukkan KTP."
Bambang mengeluarkan KTP dari map plastiknya. Petugas itu membandingkan foto di KTP dengan wajah Bambang. Dia tersenyum ramah. "Ini tiketnya, Pak. Gerbang keberangkatan nomor empat. Pesawat berangkat jam sepuluh tepat. Jangan sampai terlambat."
Bambang menerima tiket itu. Lembaran kertas tipis yang akan membawanya ke tempat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju ruang tunggu.
Duduk di kursi ruang tunggu, Bambang membuka bekal dari Ibu. Nasi bungkus daun pisang itu masih hangat. Dia makan perlahan sambil mengamati orang-orang di sekitarnya. Ada keluarga dengan tiga anak kecil yang ribut. Ada pasangan muda yang bergandengan tangan. Ada pria tua dengan koper besar sendirian. Semua orang punya tujuannya masing-masing. Bambang punya tujuannya sendiri. Pabrik karet di Kalimantan Tengah. Tempat di mana gaji lima belas juta menunggunya.
Pesawat lepas landas tepat waktu. Bambang duduk di kursi dekat jendela. Saat pesawat mulai bergerak di landasan, jantungnya berdebar kencang. Bukan karena takut terbang. Tapi karena ini adalah pertama kalinya dia meninggalkan kampung halaman sejauh ini. Pertama kalinya dia sendirian tanpa Ibu dan Bapak di dekatnya.
Saat pesawat naik ke udara, Bambang menatap ke luar jendela. Rumah-rumah, gedung-gedung, jalanan, semuanya mengecil. Kotanya terlihat seperti mainan dari ketinggian. Kemudian awan menutupi semuanya. Bambang hanya bisa melihat putih di mana-mana.
Dia memejamkan mata dan mencoba tidur. Tapi pikirannya kembali ke SMS yang dia terima beberapa malam lalu. SMS dari nomor tidak dikenal. SMS yang mengubah hidupnya dalam waktu singkat.
"Dibutuhkan satpam. Gaji 15 juta per bulan. Akomodasi lengkap. Lokasi Kalimantan Tengah. Hubungi 0812-XXXX segera."
Dia masih ingat setiap kata. Setiap huruf. Dia masih ingat tangannya yang gemetar saat membaca SMS itu. Dia masih ingat Ibu yang mendorongnya untuk menelpon. Dia masih ingat suara Pak Toni di ujung telepon.
Sekarang dia di pesawat. Menuju ke tempat yang belum pernah dia lihat. Menuju ke pekerjaan yang belum pernah dia lakukan. Menuju ke kehidupan baru yang dia harap akan lebih baik dari yang lama.
Pesawat terbang selama kurang lebih dua jam. Bambang hampir tidak sadar waktu berlalu. Dia terlalu sibuk memikirkan banyak hal. Ibu. Bapak. Mamat. Pak Toni. Kontrak. Denda lima ratus juta. Gaji lima belas juta. Semua angka itu berputar di kepalanya seperti komidi putar yang tidak mau berhenti.
"Selamat pagi, para penumpang. Kami akan segera mendarat di bandara Kalimantan Tengah. Mohon kembali ke tempat duduk masing-masing dan kencangkan sabuk pengaman."
Suara pramugari membuyarkan lamunan Bambang. Dia menoleh ke jendela. Di bawah sana, yang terlihat bukan lagi gedung-gedung beton. Yang terlihat adalah hamparan hutan yang luas. Hijau di mana-mana. Sungai-sungai berkelok seperti ular raksasa. Sesekali terlihat titik-titik kecil yang mungkin rumah atau bangunan lain.
Pesawat mendarat dengan mulus. Bambang keluar dari pesawat dan langsung disambut udara yang berbeda. Lebih lembab. Lebih panas. Bau tanah dan dedaunan bercampur dengan bau keringat penumpang lain. Ini bukan kotanya. Ini pedalaman.
Dia berjalan menuju ruang kedatangan. Bandaranya kecil. Hanya satu gedung sederhana dengan langit-langit rendah. Tidak banyak orang. Bambang melihat sekeliling mencari seseorang yang mungkin menjemputnya.
Seorang pria bertubuh tegap dengan jaket hitam mendekatinya. Wajahnya tanpa ekspresi. "Bapak Bambang?"
"Iya."
"Follow me."
Pria itu tidak memperkenalkan diri. Dia langsung berbalik dan berjalan ke arah luar bandara. Bambang mengikutinya dengan langkah cepat. Mereka melewati pintu keluar menuju area parkir. Di sana, sebuah mobil box tertutup berwarna putih sudah menunggu.
"Masuk," perintah pria itu sambil membuka pintu bagian belakang mobil box.
Bambang ragu. "Ini... mobilnya mobil box?"
"Ya. Cuma ini yang bisa lewat jalan ke pabrik. Jalanannya rusak parah. Mobil biasa tidak kuat."
Bambang mengendus aroma tidak enak dari dalam mobil box. Bau apek. Bau lembab. Bau yang tidak bisa dia identifikasi. Tapi dia tidak punya pilihan. Dia masuk ke dalam mobil box itu. Pria tadi menutup pintu dari luar.
Gelap.
Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari celah-celah pintu. Bambang duduk di lantai mobil yang dingin. Dia memeluk tas ranselnya. Mesin mobil menyala. Getarannya terasa sampai ke tulang punggungnya.
Mobil mulai bergerak. Bambang tidak tahu ke mana arahnya. Yang dia tahu, perjalanan ini akan memakan waktu enam jam. Kata Pak Toni dulu. Atau kata pria tadi. Dia lupa.
Enam jam di dalam mobil box gelap. Tanpa jendela. Tanpa udara segar. Tanpa siapa pun untuk diajak bicara karena supir di depan tidak mungkin mendengar suaranya.
Bambang menggigit bibirnya. Kenapa dia tidak bertanya lebih dulu? Kenapa dia setuju naik mobil box tanpa bertanya? Kenapa dia tidak minta naik mobil biasa saja?
Tapi sudah terlambat. Mobil box itu terus melaju. Bambang hanya bisa pasrah.
Enam jam. Enam jam sendirian dalam gelap. Enam jam memikirkan apakah ini semua adalah kesalahan besar.
Bambang belum tahu bahwa enam jam itu hanyalah awal. Bahwa setelah enam jam, dia akan sampai di sebuah tempat yang membuatnya merindukan kegelapan mobil box ini.