Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali dan Perawatan
Lin Han menyimpan pedang peraknya ke dalam cincin penyimpanan. Tangannya gemetar saat melakukan gerakan sederhana itu. Ia berbalik dan melangkah mendatangi ayah ibunya. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya diikat batu besar. Tubuhnya kehilangan seluruh kekuatan.
Tentu saja.
Kekuatan besar yang ia tunjukkan sebelumnya merupakan seluruh Qi yang ia miliki, diledakkan dalam satu waktu tanpa sisa. Efeknya kini terasa di setiap otot dan tulangnya. Pusing. Lemas. Mual.
Lin Feng dan Ji Lianyue melihat putra mereka terhuyung. Mereka langsung menghampiri dan memeluknya erat, tanpa mempedulikan luka luka di tubuh mereka sendiri yang masih menganga.
"Nak, kau sangat hebat." Puji Ji Lianyue. Suaranya bergetar, campuran antara bangga dan khawatir.
Lin Han tersenyum lembut.
Lin Feng menepuk bahu putranya dengan tangan yang terluka. "Ayah bangga padamu. Dan apa ini... kultivasimu sekarang sudah di Foundation Establishment."
Ekspresinya berubah jadi kebanggaan. "Ternyata keputusan ayah menikahkanmu adalah pilihan yang tepat."
Lin Han mengangguk pelan. Ia tidak punya energi untuk menjawab panjang lebar.
Dari gerbang halaman yang hancur, Liu Bei masuk bersama rombongan ahli Foundation Establishment lainnya. Tubuhnya juga terluka di beberapa bagian, tapi ia masih bisa berjalan tegak. Matanya menyapu halaman Klan Lin yang dipenuhi mayat iblis, lalu berhenti pada Lin Feng.
"Saudara Lin Feng, apakah kau masih hidup?"
Lin Feng terbatuk mendengar sapaan itu.
"Kurang ajar kau ini. Apa kau mengharapkan kematianku?"
Liu Bei tertawa pendek, meskipun tawanya terpotong oleh rasa sakit dari luka di rusuknya.
"Jika kau mati... aku tidak tahu bagaimana menenangkan kesedihan menantuku. Jadi lebih baik kau tetap hidup."
Lin Feng hanya menggelengkan kepalanya, terlalu lelah untuk membalas.
Liu Bei mengalihkan pandangannya ke Lin Han sejenak, lalu kembali ke Lin Feng.
"Sepertinya serangan kali ini terjadi karena retaknya dimensi di Gunung Jati. Jadi meskipun kita berhasil membunuh seluruh iblis yang datang, ini bukan berarti akhir dari segalanya."
Lin Feng mengangguk setuju. "Kau benar. Kita perlu membahas ini dengan kedua penguasa kota. Agar ada tindakan pencegahan di Gunung Jati."
Liu Bei mengangguk. "Besok kita bahas."
Lalu Liu Bei menatap Lin Han lagi. "Ayo kita kembali. Ayah ibumu baik baik saja. Mereka hanya perlu diobati."
Lin Han mengernyitkan dahinya. Ia ragu.
Ji Lianyue menepuk bahu putranya dengan lembut, tepat di bagian yang tidak terluka.
"Yang dibilang ayah mertuamu benar. Kembalilah, dan minta istrimu untuk merawat lukamu."
Lin Han mengangguk pelan. "Baik, Ibu. Tapi..."
Liu Bei terkekeh memotong kalimatnya.
"Sepertinya Lin Han tidak tahu, kalau ayah ibunya adalah pemburu iblis di masa muda. Meskipun bukan ahli tingkat tinggi, namun ketahanan keduanya tidak perlu diragukan lagi."
Lin Feng ikut terkekeh, lalu meringis karena luka di perutnya tertarik.
"Kau masih saja mengingatnya. Itu hanya masa lalu, jangan membuat kami malu di depan putraku."
Liu Bei tertawa bersama beberapa ahli yang ikut dengannya. Suasana yang tadinya mencekam sedikit mencair.
Lin Feng menatap putranya. "Pergilah. Besok ayah dan ibu akan berkunjung ke Klan Liu."
Lin Han mengangguk. Ia menunduk hormat pada kedua orang tuanya, lalu berbalik. Langkahnya masih sedikit terhuyung, tapi ia memaksakan diri untuk berjalan tegak.
Liu Bei memberi isyarat pada rombongannya. Mereka semua kemudian berpamitan dan mulai bergerak kembali menuju Kota Baishi.
Di halaman Klan Lin yang tersisa, semua anggota klan masih berdiri terpaku. Mata mereka tidak lepas dari sosok Lin Han yang semakin menjauh.
Lin Feng mengedarkan pandangannya ke seluruh anggota klan yang tersisa.
"Kalian semua istirahat dan pulihkan diri secepatnya. Kita tidak tahu kapan akan diserang lagi."
Semua orang mengangguk dan mulai bergerak, mencari tempat untuk merawat luka atau sekadar beristirahat. Lin Dan masih duduk di sudut, menatap kosong ke arah pintu gerbang tempat Lin Han tadi pergi. Ekspresinya campur aduk antara tidak percaya, takut, dan malu.
Ji Lianyue memegang tangan suaminya.
"Ayo kita obati luka. Jika kau mati... putra kita bisa menjadi pemarah."
Lin Feng terkekeh pelan. "Itu baru pertama kalinya aku melihat dia semarah itu. Biasanya dia selalu datar, tidak peduli seberapa parah hinaan yang dia terima."
Ji Lianyue menghela nafas.
"Di satu sisi aku sangat senang, karena putra kita tampak sangat menyayangi orang tuanya. Tapi kemarahannya tadi... itu sesuatu yang mengerikan. Bagaimana bisa seorang Foundation Establishment Awal mengalahkan iblis setara Foundation Establishment Akhir? Iblis yang kita berdua di tahap Akhir tidak bisa berbuat banyak."
Lin Feng mengangguk setuju sambil berjalan pelan menuju ruang dalam ditemani istrinya.
"Ini sangat aneh. Terutama untuk orang yang baru saja naik tingkat. Dulu saat mengandungnya, apakah kau pernah memakan hal aneh? Seperti menelan pedang utuh... atau menelan gudang senjata?"
Ji Lianyue mengangkat tangannya, siap dilayangkan ke pipi suaminya.
Lin Feng menunduk refleks. "Aku hanya bertanya. Apa salahnya?"
Sementara itu, Lin Han dan rombongan Liu Bei sudah tiba di depan gerbang Kota Baishi. Perjalanan pulang terasa lebih lambat karena banyak dari mereka yang terluka. Mereka masuk ke dalam kota, dan segera disambut oleh kerumunan penduduk yang cemas.
Para warga langsung menyerbu dengan pertanyaan bertubi tubi.
"Apakah kedua kota kita akan diserang iblis seperti dua puluh tahun yang lalu?"
"Bagaimana pendapatmu, Patriark Liu!"
"Apakah kita akan aman?"
Liu Bei mengangkat tangannya untuk menenangkan kerumunan. Suaranya lantang dan tegas.
"Tenanglah. Kami berusaha sebaik mungkin untuk keamanan setiap orang. Jadi jangan terlalu panik dalam kondisi ini."
Jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan, tapi cukup untuk membuat para warga minggir dan memberi jalan. Rombongan terus berjalan menyusuri jalan utama Kota Baishi hingga akhirnya tiba di kediaman Klan Liu.
Di depan gerbang, Liu Mei dan Hong Jie sudah menunggu bersama anggota klan lainnya. Wajah mereka tegang dan cemas. Begitu melihat Liu Bei dan Lin Han muncul, Liu Mei langsung menatap suaminya. Matanya bergerak cepat, memeriksa kondisi Lin Han dari atas ke bawah.
Liu Bei mengangkat tangannya lagi, kali ini ditujukan pada keluarganya sendiri.
"Jangan khawatir. Kejadian di masa lalu tidak akan terulang."
Semua orang di halaman Klan Liu menghela napas lega. Sebagian besar dari mereka masih ingat serangan iblis besar puluhan tahun lalu yang menewaskan banyak anggota klan.
Liu Bei menoleh ke arah putrinya.
"Liu Mei, bawa suamimu ke kamar. Dia sangat kelelahan."
Liu Mei tertegun sejenak, lalu mengangguk.
Lin Han menangkupkan kedua tangannya dengan hormat ke arah Liu Bei dan Hong Jie.
"Ayah Mertua, Ibu Mertua, menantu pamit istirahat."
Liu Bei dan Hong Jie mengangguk.
Setelah itu Lin Han berjalan menuju kamarnya. Langkahnya masih berat dan sedikit goyah. Liu Mei mengikuti di belakangnya tanpa bersuara.
Begitu sampai di kamar, Liu Mei langsung menutup pintu dan membantu Lin Han melepaskan pakaiannya. Jubah biru yang tadinya bersih sekarang berlumuran darah ungu iblis yang sudah mengering. Baunya menusuk hidung, campuran antara anyir darah dan bau asam yang khas dari tubuh iblis.
Lin Han hanya berdiri diam, membiarkan istrinya melakukan tugasnya. Ia terlalu lelah untuk bergerak sendiri. Liu Mei melepaskan jubahnya, lalu pakaian dalamnya. Semua kain itu ia singkirkan ke sudut, tidak ada gunanya dicuci. Darah iblis terlalu sulit dibersihkan dari kain biasa.
Setelah Lin Han benar benar telanjang, Liu Mei membimbingnya ke kamar mandi di ujung lorong. Tangannya memegang lengan Lin Han dengan hati hati, menuntunnya seperti menuntun orang buta.
Di dalam kamar mandi, Liu Mei mengambil kain basah dan mulai membersihkan tubuh Lin Han. Darah ungu yang menempel di kulitnya ia usap perlahan. Di beberapa bagian, darah itu sudah mengeras dan sulit dibersihkan, sehingga ia harus menggosoknya lebih keras. Tapi Lin Han tidak mengeluh, bahkan tidak bereaksi.
Lin Han hanya memejamkan matanya. Air hangat mengalir di tubuhnya, membawa pergi kotoran dan darah iblis. Tangan Liu Mei bergerak efisien, membersihkan setiap inci kulitnya tanpa kecanggungan. Tidak ada rasa malu di antara mereka sekarang. Hanya ada kelelahan di satu pihak, dan kewajiban di pihak lain.
Liu Mei tidak berbicara selama proses itu. Ia hanya bekerja dalam diam. Tangannya yang biasanya memegang pedang, sekarang memegang kain basah, mengusap bahu suaminya, lalu lengannya, lalu dadanya, lalu punggungnya. Gerakannya metodis, seperti sedang melakukan tugas rutin.
Lin Han membiarkan semuanya terjadi. Pikirannya kosong, tubuhnya menyerah pada kelelahan total. Satu satunya hal yang ia sadari adalah... sentuhan tangan Liu Mei yang hangat di kulitnya yang dingin.
Ketika akhirnya seluruh darah iblis bersih dari tubuhnya, Liu Mei membimbingnya kembali ke kamar. Ia mengambil pakaian bersih dari lemari dan membantu Lin Han mengenakannya. Setelah itu ia membaringkan Lin Han di ranjang.
Lin Han membuka matanya sedikit, menatap langit langit kayu di atasnya. Suara Liu Mei yang membereskan peralatan mandi terdengar samar samar. Perlahan, matanya terpejam, dan ia jatuh ke dalam tidur yang dalam tanpa mimpi.