NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di dalam kabin mewah Rolls-Royce Phantom yang senyap, atmosfer terasa begitu tenang dan damai.

Luna masih asyik menikmati perjalanan sembari mengunyah permen mint-nya yang memberikan sensasi dingin dan segar yang kuat di tenggorokan.

Rasa mint yang dominan itu membuat lidahnya terasa beku, sehingga ia sama sekali tidak berniat atau merasa perlu untuk meminum air mineral yang tersedia di dalam mobil.

Sebaliknya, situasi berbeda dialami oleh pria di sebelah kemudi.

Mahendra yang sejak tadi fokus menyetir membelah jalur tol Trans-Java yang mulai terik, perlahan-lahan mulai merasa tenggorokannya kering dan haus.

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, tangan kekar sang Titan Bisnis bergerak turun menjangkau mini-fridge yang tertanam di konsol tengah kabin.

Jemari kokohnya menarik keluar sebuah botol air mineral premium—botol yang tanpa ia ketahui, sebenarnya telah disuntik obat perangsang dosis tinggi oleh orang suruhan Mila sebelum mereka berangkat tadi pagi.

Klik!

Mahendra memutar tutup botolnya dengan satu tangan yang terlatih, lalu membawa botol itu ke bibirnya.

Pria paruh baya itu meminum air dingin tersebut dengan tegukan berat hingga tandas setengah botol, mencoba membasahi tenggorokannya yang gersang.

Luna yang melihat suaminya baru saja minum, berinisiatif merogoh tas tangannya kembali.

Ia menyodorkan sebutir permen yang baru ke arah Mahendra.

"Mas, mau permen juga? Ini segar sekali, biar Mas tidak mengantuk menyetir," tawar Luna dengan perhatian yang tulus.

Mahendra menoleh sekilas, menatap wajah polos istri kecilnya yang begitu menggemaskan.

Ia mengulas sebuah senyuman hangat yang penuh pesona matang, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak usah, Sayang. Air ini sudah cukup menghilangkan hausku. Kamu makan saja sendiri," sahut Mahendra lembut sembari meletakkan kembali sisa botol air mineral itu ke tempatnya.

Mahendra kembali melemparkan pandangannya lurus ke depan, mengendalikan kemudi Rolls-Royce membelah aspal tol dengan kecepatan stabil.

Pria berusia setengah abad itu sama sekali belum menyadari, bahwa cairan bening yang baru saja mengalir masuk ke dalam tubuh primanya adalah sebuah bom waktu beracun yang sengaja disiapkan untuk meruntuhkan seluruh wibawa dan pengendalian dirinya dalam hitungan menit.

Kombinasi kandungan kimia keras dari obat perangsang dosis tinggi tersebut bereaksi secara ekstrem di dalam tubuh Mahendra.

Alih-alih membangkitkan gairah seperti yang direncanakan Mila, zat aktif berbahaya itu justru memicu lonjakan tekanan darah secara drastis hingga mencapai titik hipertensi\ maligna, sekaligus memacu detak jantung sang Titan

Bisnis secara abnormal melampaui batas aman, menjebaknya dalam kondisi takikardia yang mematikan.

Di kursi penumpang, Luna yang semula tenang mulai menyadari ada sesuatu yang sangat aneh pada suaminya.

Aroma mint yang segar di mulutnya mendadak terasa hambar saat pendengarannya menangkap suara napas Mahendra yang berubah memburu dan berat.

Luna menoleh dan seketika membelalak panik. Wajah matang Mahendra yang biasanya kokoh laksana karang kini memerah padam, sementara butiran keringat dingin bercucuran deras membasahi kemeja golf premium yang dikenakannya.

Kedua tangan kekar yang biasanya begitu stabil mengendalikan kemudi kini mulai gemetar hebat, kehilangan cengkeraman kokohnya.

"Mas Mahendra? Mas kenapa?!" teriak Luna.

Mahendra tidak mampu menjawab. Pria berusia setengah abad itu mendadak melepaskan tangan kirinya dari setir dan mencengkeram dada kirinya dengan sangat kuat.

Dadanya terasa begitu sesak, seolah dihantam oleh godam keras yang tak kasat mata.

Paru-parunya mendadak hampa, menjebaknya dalam kondisi sesak napas akut—sebuah gejala fatal dari serangan jantung akibat beban kerja jantung yang melonjak brutal.

"Aghhh..." Mahendra mengerang rendah, suaranya tercekat di tenggorokan.

Akibat hilangnya kendali, mobil Rolls-Royce Phantom seharga miliaran rupiah itu seketika oleng ke kanan dan ke kiri di jalur cepat jalan tol Trans-Java.

Klakson dari kendaraan lain di belakang mereka mulai bersahut-sahut dengan nyaring.

"Mas Mahendra!!! Buka matamu, Mas!" menjerit Luna panik setengah mati.

Melihat nyawa suaminya dan dirinya berada di ujung tanduk, seberkas keberanian yang nekat mendadak bangkit di dalam diri Luna.

Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, ia melepaskan sabuk pengamannya, mencondongkan tubuhnya ke arah kursi kemudi, dan dengan berani ikut mencengkeram setir mobil demi menstabilkan posisi kendaraan.

"Mas, lepas gasnya! Lepas!" teriak Luna histeris.

Dengan sekuat tenaga, ia menggunakan kaki kirinya untuk menendang dan memaksa kaki kemudi Mahendra agar lepas dari pedal gas.

Sambil terus menangis panik, tangan lentik Luna memutar kemudi dengan sisa tenaga yang ia miliki, mengarahkan moncong mobil Rolls-Royce itu memotong jalur secara perlahan menuju ke bahu jalan tol.

BRAKKK!!

Benturan pelan namun cukup keras terdengar saat bodi samping mobil mewah itu menggesek pembatas jalan tol, menjadi penahan terakhir yang akhirnya menghentikan laju kendaraan sepenuhnya.

Begitu mobil berhenti total, Mahendra mengerang kesakitan untuk terakhir kalinya.

Cengkeraman tangannya di kemeja dadanya perlahan melonggar, sepasang netra tajam yang biasanya memancarkan aura otoritas mutlak itu mendadak terbalik, sebelum akhirnya kelopak matanya tertutup rapat.

Sang penguasa Dirgantara Holdings runtuh, pingsan tak sadarkan diri dengan tubuh yang terkulai lemas di atas roda kemudi.

"Mas Mahendra!!! Bangun, Mas! Jangan menakut-nakuti aku! Mas!!!"

Tangis Luna pecah seketika di dalam kabin mobil yang mendadak sunyi.

Dengan tangan gemetar, ia meraba leher Mahendra, merasakan denyut nadi suaminya yang berpacu terlalu cepat namun terasa melemah.

Di tengah jalan tol yang sepi dari pertolongan, Luna mendekap tubuh pingsan suaminya dengan rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa, sama sekali tidak menyadari bahwa dalang dari petaka ini sedang tersenyum puas di kediaman Dirgantara.

Di tengah kepanikan yang mencengkeram dada, Luna memaksa otaknya untuk tetap berpikir jernih.

Dengan tangan yang bergetar hebat laksana diguncang gempa, ia segera meraih ponsel milik Mahendra yang tergeletak di konsol tengah.

Tanpa membuang waktu, ia menghubungi nomor darurat tim medis jalan tol, lalu dengan cepat menekan nomor asisten pribadi sekaligus kepala pengawal Mahendra yang mengawal mereka di dalam mobil SUV hitam beberapa kilometer di belakang.

"Halo! Tolong! Tuan Mahendra terkena serangan jantung! Mobil kami berhenti di bahu jalan tol KM 72 arah Bandung! Cepat panggil ambulans terdekat untuk bersiap di gerbang tol terdekat menuju rumah sakit terbaik di Bandung! Cepat!!!" teriak Luna histeris ke dalam sambungan telepon, sebelum akhirnya memutus panggilan secara sepihak.

Ponsel itu terlempar begitu saja ke lantai mobil. Luna segera memundurkan kursi kemudi Mahendra semaksimal mungkin untuk memberi ruang.

Mengingat kembali pelatihan pertolongan pertama yang pernah ia pelajari, Luna mencondongkan tubuhnya di atas dada bidang suaminya.

Ia memosisikan kedua pangkal tangannya di tengah dada Mahendra, lalu mulai memberikan tindakan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) dengan ritme yang konstan dan kuat.

Satu, dua, tiga, empat...

Luna menekan dada tegap itu dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, diselingi dengan pemberian napas buatan yang intim namun sarat akan keputusasaan.

"Mas, tolong bangun!! Jangan tinggalkan aku, Mas!!" jerit Luna di sela-sela tangisnya yang pecah.

Air matanya luruh tanpa henti, membasahi wajah matang Mahendra yang masih tampak memerah padam dengan suhu tubuh yang mendadak mendingin.

Luna tidak menyerah. Meski kedua lengannya mulai terasa kebas dan pegal luar biasa, ia terus menekan dada suaminya, menyalurkan seluruh detak kehidupannya demi mempertahankan nyawa sang Titan Bisnis.

"Mas Mahendra, aku mohon. Kamu sudah berjanji untuk melindungiku! Kamu tidak boleh pergi seperti ini!"

Hingga pada tekanan yang kesekian kalinya, tubuh Mahendra mendadak tersentak pelan. Sebuah erangan berat dan samar lolos dari tenggorokannya.

Perlahan, kelopak mata pria berusia setengah abad itu bergerak membuka.

Sepasang netra tajam yang kini tampak sayu dan kehilangan fokus itu sempat menatap wajah menangis Luna selama dua detik, merekam bayangan istri kecilnya yang sedang berjuang demi nyawanya.

"Lu... na..." bisik Mahendra sangat lirih, hampir tak terdengar di antara bisingnya arus lalu lintas tol.

Namun, itu hanya terjadi sesaat. Detik berikutnya, pasokan oksigen yang menipis kembali merenggut kesadarannya.

Sepasang mata tegas itu kembali terbalik dan terpejam rapat.

Mahendra kembali tumbang, pingsan tak sadarkan diri sepenuhnya ke dalam kegelapan yang pekat.

"Mas Mahendra!!! Tidak, Mas! Buka matamu lagi! Mas!!!"

Tak lama kemudian, suara derit ban terdengar nyaring saat mobil pengawal dan ambulans darurat akhirnya tiba di lokasi kejadian dengan sirine yang meraung memecah langit siang.

Beberapa petugas medis dan pengawal berbadan tegap langsung berhamburan keluar, dengan cekatan memindahkan tubuh kokoh Mahendra ke atas tandu darurat di pinggir jalan tol untuk segera dilarikan ke rumah sakit rujukan di Bandung.

Luna yang ikut keluar dari mobil hanya bisa terduduk lemas di aspal pembatas jalan.

Sambil terus terisak, ia memeluk erat tubuh pingsan Mahendra yang kini tengah dipasangi masker oksigen oleh petugas.

Luna berbisik histeris di dekat telinga suaminya, terus memohon dengan sangat agar pria paruh baya yang teramat dicintainya itu bertahan hidup menembus masa kritis ini.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!