NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20.

Maura mengerjabkan matanya berkali kali, reflek ia pun duduk dan melihat ke arah sekeliling.

Namun, yang Maura lihat hanya sebuah kesunyian di ruang inapnya.

Ke dua orang tua kandungnya yaitu Lian dan Stela, maupun ke dua orang tua angkatnya Cherly dan juga Aron.

Semuanya tidak ada di ruang inapnya, hal itu sungguh membuat Maura merasa sedih.

"Kenapa tidak ada yang peduli pada ku? Tidak ada yang datang kesini untuk menemani ku," gumam Maura dengan suara irih, pandangannya terus melihat ke arah jendela dengan matahari yang menyongsong ke atas. Menandakan jika sekarang ini sudah siang hari.

"Tenang saja, aku di sini untuk menemani mu Maura," ujar seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.

"Pak Pin," celetuk Maura dengan wajah bingung, kala melihat gurunya itu sekarang berada di dalam ruang inapnya.

"Hmm, kenapa kamu sedih? Gara gara ke empat orang tua mu itu tidak ada di sini, ya?" tanya Vince sembari berjalan mendekat ke arah muridnya.

Vince habis mandi, sekarang ini rambutnya tampak basah. Hal itu sungguh menambah ketampanan Vince.

Maura sendiri menatap gurunya itu dengan tatapan melongo, bahkan saat Vince mengibas ngibaskan rambutnya sendiri di bawah terik panasnya matahari yang masuk ke dalam ruangan melalui jendela kaca.

"Ke - kenapa Pak Pin ada di sini?" tanya Maura dengan suara terbata bata.

"Ya sekarang aku berada di sini karena permintaan ke dua orang tua mu itu, eh bukan maksudnya ke tiga orang tua mu itu."

"Maksudnya itu gimana Pak? Saya benar benar tidak mengerti dengan maksud ucapan Bapak." Maura nampak menggeleng gelengkan kepalanya.

"Coba sekarang kamu itu lihat jam yang ada di dinding! Lihatlah jam berapa itu!" titah Vince pada Maura sembari menunjuk tangannya ke arah jam yang ada di dinding.

"Sekarang pukul 10 siang," sahut Maura polos dengan wajah bingung, ya dia bingung apa hubungannya antara jam dengan kedatangan orang tuanya.

Melihat kepolosan dan juga kebingungan yang di tunjukkan oleh wajah muridnya Vince hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.

"Astaga Maura, kamu itu beneran tidak mengerti!" Vince memijat pelipisnya, sepertinya ia mulai kehilangan kesabarannya.

"Mengerti apa? Pak Pin sungguh orang aneh." Maura dengan kesal memalingkan pandangannya itu ke arah lain.

"Gimana sih? Masak orang seperti itu pantas menjadi seorang guru? Di tanya apa jawabannya apa? Hubungannya apa ke empat orang tuaku itu enggak datang sama jam yang ada di dinding," gerutu Maura dengan suara yang sengaja di kerjakan. Ia berharap gurunya itu sadar, jika Vince itu tidak pantas jadi guru, karena bagi Maura, Vince itu bodoh.

"Astaga anak ini, beneran ngajak ribut!" Vince benar benar memasang ekspresi wajah kesal, saat ia ingin mengajak Maura untuk adu mulut, akhirnya ia baru menyadarinya.

Maura dan juga mendiang Naura adalah dua sosok gadis yang sangat berbeda, walaupun secara fisik, dari bola mata, bentuk tubuh bahkan bentuk rambut itu sama. Tapi untuk kepintaran dan juga kepribadian, Vince sadar jika keduanya sungguh bertolak belakang.

Jika dulu waktu jaman SMA, saat Vince berbicara atau pun berinteraksi dengan mendiang Naura. Walaupun dengan bahasa isyarat atau bahasa planet, tentu saja Naura itu mengerti. Lah ini, dengan anak kandungnya. Tentu saja berbeda.

Hembusan kasar nampak keluar dari ke dua rongga hidup Vince. Jika dulu Naura tipe orang yang galak namun tidak suka ngambek.

Hal ini sungguh jauh berbeda, Maura model orang galak, ngambekan dan juga tidak peka.

"Maura sekarang kan udah pukul 10 siang, tentu saja ke tiga orang tua mu itu sibuk bekerja. Kamu sih, jadi perempuan bangunnya juga kesiangan! Jadi mereka meminta bantuan ku yang sedang menganggur ini untuk menjaga mu dan menemani mu selama di rumah sakit," jelas Vince dengan kesabaran seluas samudra.

"Astaga Pak Pin, kenapa gak bilang dari tadi? Ya gak papa sih kalau mereka itu bekerja, tapi Pak Pin itu salah berbicara. Orang tua ku itu ada empat bukan ada tiga."

"Iya tahu, kalau orang tuamu itu ada empat Maura. Tapi tadi pagi yang datang kesini cuman tiga orang, yaitu Lian, Cherly dan juga Aron," sahut Vince sembari merapatkan gigi giginya.

Rasa geram mulai menyelimuti dirinya. Maura tiba tiba merasa tersinggung, kala Vince tidak menyebutkan nama Stela.

"Tapi kan sama saja, Pak Pin nyebutnya kata orang tua. Kalau orang tua aku itu ada empat, emang sih Mamah Stela terlihat tidak menyukai ku. Tapi bagaimana pun juga dia itu adalah ibu kandungku, seorang ibu yang melahirkan ku, masak Mamah Stela tidak di anggap sebagai orang tua sih!" kilah Maura dengan ekspresi tidak mau kalah saat berdebat.

"CUKUP MAURA! Bapak itu hanya menyebutkan orang tuamu yang tadi datang kesini. Bukan semua orang tua mu, ayolah hal itu tidak perlu di perdebatkan lagi!" bentak Vince dengan suara yang terdengar begitu keras, karena mati matian, ia menahan rasa geramnya.

Mendengar bentakan Vince sontak Maura mewek, bahkan air mata terus luruh luruh dan membasahi ke dua pipinya.

"Pak Pin jahat! Aku gak mau di tungguin sama Pak Pin, mendingan aku sendirian di rumah sakit," ujar Maura kesal sembari menghapus air mata yang membasahi ke dua pipinya.

Vince hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar berkali kali, seketika kepalanya juga menjadi pening.

******

****

**

Di sebuah ruangan UGD, Aron mencoba menenangkan istrinya, Cherly, yang tengah dilanda kepanikan. Ia menggenggam erat pergelangan tangan Cherly, berusaha membuatnya merasa lebih aman dan nyaman.

"Tenanglah Cherly," ucap Aron sambil mengelus-elus kepala istrinya dengan tangan yang satunya. "Percayalah, kita akan melewati ini bersama."

Cherly menatap Aron dengan wajah yang pucat pasi, "Bagaimana aku bisa tenang, Aron? Dokter bilang kemungkinan untuk aku hamil lagi setelah keguguran 15 tahun lalu itu sangatlah kecil, bahkan kemungkinan untuk aku hamil hanya beberapa persen saja. Tapi, bagaimana jika benar aku hamil, lalu terjadi sesuatu karena kelalaianku?" air matanya mulai menggenang, mengungkapkan betapa takutnya ia.

Aron mencoba keras untuk tetap bersikap tenang dan memberi dukungan, "Sayang, mungkin saja ini terjadi karena kamu terlalu lelah, sehingga mengalami pendarahan. Atau bisa jadi siklus menstruasi kamu yang memang sedang tidak stabil. Kita harus bersabar menunggu hasil pemeriksaan, dan jangan berpikir yang tidak-tidak."

Cherly mencoba menghirup udara dalam-dalam, mencari ketenangan di tengah kekacauan pikiran dan perasaannya. "Aku hanya takut, Aron. Aku takut semua ini salahku. Aku takut kehilangan kesempatan untuk memiliki anak lagi," bisik Cherly lirih, perasaan bersalah dan ketakutannya seakan-akan merajai dirinya.

"Aku di sini untukmu, Cherly. Kita akan menghadapi ini bersama, apapun hasilnya nanti," Aron menggenggam erat tangan istrinya, berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkannya sendirian dalam menghadapi segala cobaan.

"Jadi bagaimana dengan pertemuan penting di kantor hari ini? Aku rasa lebih baik kamu pergi saja ke sana!" ucap Cherly, mencoba meyakinkan suaminya. Ia menduga bahwa pendarahan yang dialaminya hanyalah akibat kelelahan, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Memang Cherly harus mengakui bahwa ia sudah tidak haid selama tiga bulan terakhir, tetapi ia juga pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Oleh karena itu, ia yakin bahwa dirinya tidak mungkin hamil.

"Sayang, aku sudah memutuskan untuk membatalkan semua pertemuan hari ini demi kamu. Bukankah tujuan utamaku selama ini mencari uang untuk membahagiakanmu? Apalah artinya kesuksesanku jika aku mengabaikan kesehatanmu?" jawab Aron, tegas namun penuh kasih sayang.

Tak lama kemudian, dokter dan beberapa perawat datang sambil membawa hasil pemeriksaan Cherly.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pendarahan yang Ibu alami disebabkan oleh kehamilan, jadi selamat untuk kehamilan ibu," ungkap dokter tersebut. Mendengar hal itu, Cherly merasa terkejut sekaligus haru.

Bagaimana mungkin dirinya hamil, padahal insiden 15 tahun yang lalu membuatnya divonis tak akan bisa hamil? Bahkan jika ada kemungkinan, peluangnya hanyalah beberapa persen.

"Apa benar aku sedang hamil, dok? Mengapa bisa begitu?" bisik Cherly tercekat, hatinya tercampur aduk antara kebahagiaan dan kekhawatiran.

"Bagaimana ini, apakah kehamilan ini berbahaya bagi diriku dan bayi?" Aron pun tampak bingung dan cemas, tapi ia berusaha menjadi penopang kekuatan untuk istrinya.

Keduanya bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, dengan keyakinan bahwa cinta mereka akan menghadapi rintangan apapun demi keluarga kecil yang sedang tumbuh.

"Tapi ... Kehamilan ibu sendiri ..." Dokter itu menjeda ucapannya, bahkan ekspresi wajah dokter itu tiba tiba berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!