NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat Persembunyian Kita

Setelah melewati beberapa gang sempit yang pengap dan lembap, mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan tua yang tampak sangat tidak terawat. Cat dindingnya sudah mengelupas di sana-sini, dan bau udara khas pemukiman padat penduduk tercium tajam.

Viktor berhenti di depan pintu yang terlihat rapuh. Ia melirik ke arah Seravina, menunggu reaksi jijik atau setidaknya keterkejutan dari wanita yang mengenakan pakaian seharga satu unit apartemen di pusat kota itu.

Namun, yang ia dapati justru di luar dugaan.

Wajah Seravina tetap tenang. Tidak ada kerutan di dahi karena bau menyengat, tidak ada tatapan menghina, dan tidak ada gerakan menutup hidung. Ia justru menatap bangunan itu dengan tatapan yang sangat natural, seolah-olah dia sedang berdiri di depan butik mewah di Parisian Boulevard.

"Jadi, ini tempat persembunyianmu?" tanya Seravina sambil menyapu pandangan ke sekitar teras yang sempit. "Cukup tenang. Tidak ada orang yang akan mencarimu di tempat sesunyi ini... kecuali aku."

Viktor sedikit tertegun. Ia mengharapkan ejekan, tapi ketenangan wanita itu justru membuatnya semakin bingung. Ia merogoh kunci dari sakunya, lalu membuka pintu yang berderit nyaring.

"Kau sudah sampai. Sekarang pergilah," ucap Viktor datar sambil melangkah masuk ke dalam kegelapan ruangannya tanpa menawarkan Seravina untuk masuk.

Seravina tidak bergerak pergi. Ia tetap berdiri di ambang pintu, menatap punggung Viktor yang sedang meletakkan belanjaan berat itu di atas meja kayu yang juga sudah tua. "Kau tidak akan menawarkan air minum untuk orang yang sudah menemanimu belanja dan jalan kaki sampai ke sini?"

Viktor berbalik, menatapnya dengan tatapan tajam. "Aku tidak pernah mengundangmu."

Seravina hanya tersenyum tipis, lalu dengan santainya ia melangkah masuk melewati ambang pintu tanpa izin, seolah-olah ia adalah pemilik tempat itu yang baru saja pulang.

Begitu melangkah masuk, Seravina langsung disambut oleh ruang yang begitu sempit hingga ia merasa bisa menyentuh kedua dindingnya hanya dengan merentangkan tangan. Kamar itu hanya berisi satu tempat tidur dengan sprei abu-abu yang rapi, sebuah meja kayu tua, dan satu kursi besi yang tampak sudah berkarat. Tidak ada hiasan dinding, tidak ada televisi, bahkan tidak ada barang yang menunjukkan bahwa ada kehidupan di sana.

Seravina mengitari ruangan itu hanya dalam tiga langkah. Ia menyentuh permukaan meja yang kasar dengan ujung jarinya.

"Wah... kecil sekali," gumam Seravina. Suaranya tidak terdengar menghina, melainkan lebih ke arah keheranan yang murni. "Bagaimana bisa pria sebesar dirimu bergerak di dalam kotak korek api ini tanpa menabrak dinding setiap saat?"

Ia menoleh ke arah Viktor yang sedang mengeluarkan botol minyak zaitun dan daging dari kantong belanjaan. Keberadaan Viktor di ruangan itu membuat kamar tersebut terasa semakin sesak. Aura dominannya seolah memenuhi setiap sudut ruang, membuat langit-langit kamar terasa lebih rendah dari yang sebenarnya.

"Ini bukan tempat untuk tamu," sahut Viktor tanpa menoleh. Suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.

Seravina mengabaikan pengusiran halus tersebut. Ia justru duduk di pinggiran tempat tidur Viktor—satu-satunya tempat yang bisa diduduki selain kursi besi yang dingin. Ia merasakan kasur yang cukup keras di bawahnya, namun ia tetap duduk dengan punggung tegak dan anggun.

"Setidaknya tempat ini bersih," komentar Seravina lagi, matanya menyapu lantai yang tampak disapu dengan sangat teliti. "Kau sangat disiplin, bahkan untuk hal-hal kecil seperti ini. Aku suka pria yang teratur."

Viktor menghentikan kegiatannya sejenak. Ia berdiri tegak, memutar tubuhnya untuk menghadapi wanita yang sekarang dengan santainya menduduki tempat tidurnya.

"Apa sebenarnya maumu, Seravina?" tanyanya, untuk pertama kalinya ia menyebut nama wanita itu—atau setidaknya, nama yang ia dengar dari pengawal tadi—dengan nada yang menuntut kejelasan.

Mendengar namanya meluncur dari bibir Viktor, Seravina tersentak kecil. Matanya membulat selama beberapa detik, sebelum akhirnya binar kebahagiaan yang murni muncul di wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa pria sedingin es seperti Viktor benar-benar memperhatikan detail sekecil itu—atau setidaknya, sudi melafalkan namanya.

"Aww... kau menyebut namaku?" Seravina menutup mulutnya dengan satu tangan, berakting seolah-olah ia baru saja mendapatkan pernyataan cinta, padahal Viktor baru saja membentaknya. "Kau sungguh manis."

Ia tertawa kecil. Seravina merasa sangat bangga pada dirinya sendiri. Fakta bahwa Viktor tahu namanya adalah sebuah kemajuan besar—sebuah kemenangan kecil dalam misinya untuk menjinakkan monster ini.

"Aku merasa sangat terhormat," lanjut Seravina dengan nada yang dibuat-buat dramatis sambil meletakkan tangan di dadanya. "Jadi, kau diam-diam mendengarkan pembicaraanku dengan anjing tadi? Aku tidak tahu kau punya hobi menguping."

Viktor hanya bisa berdiri mematung dengan tatapan yang semakin tajam. Ia benar-benar tidak habis pikir. Wanita ini bukan hanya keras kepala, tapi juga memiliki gangguan jiwa tingkat tinggi yang membuatnya bisa merasa senang di tengah situasi penuh ancaman.

"Keluar," perintah Viktor lagi, kali ini lebih tegas.

Seravina justru semakin nyaman duduk di pinggir kasur Viktor. Ia mengayun-ayunkan kakinya yang jenjang dengan santai. "Kenapa terburu-buru? Kita baru saja mulai saling mengenal nama. Lagipula, kau belum memasakkan daging mahal yang kubelikan tadi, bukan? Aku lapar."

Benar-benar gila. Di ruangan sempit yang bisa berubah menjadi tempat pembunuhan kapan saja, Seravina justru bertingkah seolah ia sedang berada di ruang tamu rumah sahabat lamanya.

Kesabaran Viktor akhirnya mencapai batasnya. Meskipun wajahnya tetap sedingin es dan tanpa ekspresi, urat di pelipisnya berdenyut samar. Ia tidak akan membuang energi lagi untuk berdebat dengan logika wanita gila ini.

Tanpa peringatan dan tanpa sepatah kata pun, Viktor melangkah maju. Sebelum Seravina sempat bereaksi atau mengeluarkan godaan berikutnya, tangan kekar Viktor sudah menyusup di bawah ketiaknya. Dengan kekuatan yang begitu besar yang efisien, ia mengangkat Seravina dengan mudah—seperti mengangkat seorang bocah nakal yang keras kepala.

"Eh? Viktor—!" Seravina memekik kecil, kakinya yang jenjang bergelantungan di udara saat Viktor membawanya menuju pintu.

Viktor tidak mempedulikan protes atau kebingungan wanita itu. Ia melangkah dua kali, sampai di ambang pintu, lalu meletakkan Seravina di koridor luar yang berdebu. Begitu kaki Seravina menapak lantai, Viktor langsung menarik gagang pintu dan...

BRAK!

Pintu kayu tua itu tertutup tepat di depan wajah Seravina. Bunyi kunci yang diputar dua kali terdengar sangat jelas dari dalam.

Seravina berdiri mematung. Ia terkasima, menatap daun pintu yang sudah kusam itu dengan mata berkedip-kedip cepat. Selama hidupnya sebagai seorang Zharvok, tidak pernah ada satu orang pun yang berani menyentuhnya seberani itu, apalagi membuangnya keluar seperti barang bekas.

Keheningan menyelimuti koridor itu selama beberapa detik.

Lalu, tiba-tiba, sebuah suara tawa pecah.

Seravina tertawa pelan, yang kemudian berubah menjadi tawa yang lebih keras dan bergema di lorong sempit itu. Itu bukan tawa marah, bukan pula tawa terhina. Itu adalah tawa yang sulit dideskripsikan—campuran antara rasa geli, dan ketidakpercayaan.

Ia menyandarkan punggungnya ke pintu kamar Viktor yang tertutup rapat, masih tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Dia benar-benar membuangku keluar..." bisiknya pada diri sendiri dengan binar mata yang semakin liar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!