NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Tak ada jawaban, panggilan sebelumnya.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.

“Kak Harsa…” panggilnya sedikit lebih jelas.

Harsa bergerak pelan, alisnya berkerut sebelum akhirnya membuka mata. Ia tampak sedikit kebingungan.

“Arsyi?” gumamnya serak. “Ada apa?”

Seketika, kilatan petir kembali menerangi ruangan, diikuti suara guntur yang menggelegar. Harsa langsung memahami situasi tersebut. Ia bangkit perlahan dari sofa, menatap Arsyi yang terlihat gemetar di atas tempat tidur.

“Kamu takut?” tanyanya pelan.

Arsyi terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Aku … memang tidak pernah berani dengan petir sejak kecil,” jawabnya lirih, dan sedikit malu.

Harsa menghela napas pelan. Ia berjalan mendekati jendela dan memastikan tirainya tertutup rapat, lalu memeriksa apakah jendela sudah terkunci dengan baik. Setelah itu, ia kembali menatap Arsyi.

“Tidak apa-apa. Ini hanya badai, sebentar lagi juga reda,” ucapnya dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.

Arsyi mengangguk, meski tubuhnya masih terlihat tegang.

Harsa ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kalau kamu mau, lampunya bisa kita nyalakan.”

“Iya … boleh,” jawab Arsyi pelan.

Harsa menyalakan lampu kamar, membuat suasana menjadi sedikit lebih hangat dan mengurangi kesan mencekam dari kilatan petir di luar. Ia kemudian kembali duduk di sofa, menjaga jarak seperti sebelumnya.

Namun, sebelum ia sempat berbaring kembali, suara guntur yang sangat keras terdengar, membuat Arsyi refleks memejamkan mata dan menggenggam erat selimutnya.

Melihat hal itu, Harsa terdiam sejenak. Ada perasaan iba yang perlahan muncul di dalam dirinya. Ia kemudian berkata dengan hati-hati, “Kalau kamu masih takut … aku bisa duduk di sini sampai kamu tertidur.”

Arsyi menatapnya, sedikit terkejut. “Tidak apa-apa, Kak. Aku tidak ingin merepotkan.”

“Kamu tidak merepotkan,” jawab Harsa singkat namun tulus.

Hening sejenak menyelimuti mereka, namun kali ini tidak terasa canggung. Harsa tetap duduk di sofa, sementara Arsyi perlahan merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur. Sesekali, ia melirik ke arah Harsa, memastikan pria itu masih ada di sana.

“Terima kasih,” ucap Arsyi pelan.

Harsa hanya mengangguk. “Istirahatlah. Besok kita harus berangkat pagi.”

Suara badai di luar masih terdengar, namun kehadiran Harsa di ruangan itu memberikan rasa aman yang perlahan menenangkan hati Arsyi. Matanya mulai terpejam, dan napasnya berangsur menjadi lebih teratur.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya tertidur.

Harsa memperhatikan Arsyi sejenak sebelum menyandarkan tubuhnya ke sofa. Dalam hatinya, ia menyadari bahwa meskipun pernikahan ini dilandasi keterpaksaan, ada tanggung jawab yang tidak bisa ia abaikan.

Keesokan paginya.

Cahaya matahari pagi perlahan menembus celah tirai kamar penginapan, menghadirkan suasana hangat yang kontras dengan badai hebat yang terjadi semalam. Suara hujan telah menghilang, digantikan oleh keheningan yang menenangkan.

Harsa terbangun perlahan.

Alisnya berkerut saat ia merasakan sesuatu yang tidak biasa pada tubuhnya. Ada sensasi pegal dan sedikit nyeri pada lengan kanannya, seolah tertindih dalam waktu yang lama. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun terasa kaku dan berat.

Ketika ia membuka mata sepenuhnya, napasnya seketika tertahan.

Di sampingnya, Arsyi tertidur dengan sangat lelap. Wajah wanita itu tampak damai, jauh dari ketegangan yang menyelimuti hari sebelumnya. Tanpa ia sadari, lengan Harsa menjadi bantalan bagi kepala Arsyi, sementara tubuh mereka berada dalam jarak yang sangat dekat di atas ranjang yang sama.

Harsa membeku.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Bagaimana aku bisa … di sini?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Ia berusaha mengingat kembali apa yang terjadi setelah badai semalam. Ingatannya perlahan kembali, suara petir, ketakutan Arsyi, dan dirinya yang tetap terjaga di sofa untuk memastikan wanita itu merasa aman.

Namun, ada satu momen yang samar-samar muncul dalam benaknya. Harsa memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun kembali potongan-potongan ingatan itu.

Ia teringat bahwa di tengah tidurnya, ia sempat terbangun. Saat itu, kamar hanya diterangi cahaya lampu redup. Pandangannya tanpa sengaja tertuju pada Arsyi yang tertidur di atas ranjang. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.

Wajah itu, wajah yang begitu ia kenal. Untuk sesaat, ia melihat Nadin di sana, senyum lembut, ketenangan yang sama, dan bayangan kenangan yang belum pernah benar-benar pergi dari hidupnya.

“Mas Harsa…” suara itu seolah kembali terngiang di telinganya, meski ia tahu itu hanyalah ilusi dari kerinduan yang mendalam.

Tanpa benar-benar menyadari apa yang dilakukannya, Harsa bangkit dari sofa dan berjalan perlahan menuju ranjang. Seperti seseorang yang ditarik oleh kenangan, ia merangkak naik dengan hati-hati, takut membangunkan sosok yang ia kira adalah Nadin. Ia kemudian berbaring di sampingnya, membiarkan lengannya menjadi bantalan, seolah ingin memastikan bahwa sosok itu tidak akan menghilang lagi.

Dan kini, ketika kesadarannya telah sepenuhnya kembali, kenyataan itu terasa begitu jelas, itu bukan Nadin dan itu adalah Arsyi.

Harsa membuka matanya kembali dan menatap wajah Arsyi dengan saksama. Kemiripan di antara keduanya memang tidak dapat dipungkiri, namun tetap saja, mereka adalah dua individu yang berbeda.

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak dalam dirinya. Dengan sangat hati-hati, ia berusaha menarik lengannya agar tidak membangunkan Arsyi. Namun, gerakan kecil itu justru membuat Arsyi sedikit menggeliat.

Harsa segera membeku, khawatir wanita itu akan terbangun dan menyadari situasi yang canggung ini.

Namun, Arsyi hanya menghela napas pelan dan kembali terlelap. Tangannya tanpa sadar menggenggam ringan ujung kemeja Harsa, seolah mencari rasa aman.

Melihat hal itu, perasaan Harsa semakin rumit. Ada rasa bersalah, kebingungan, dan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan dengan jelas.

“Aku tidak seharusnya melakukan ini…” bisiknya pelan.

Ia kembali mencoba menarik lengannya dengan lebih hati-hati. Kali ini berhasil. Setelah lengannya bebas, Harsa perlahan bangkit dari ranjang dan duduk di tepinya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menyadarkan diri sepenuhnya dari bayang-bayang masa lalu.

Tatapannya kembali tertuju pada Arsyi yang masih tertidur. Wajah wanita itu terlihat polos dan damai, tanpa menyadari pergulatan batin yang sedang dialami oleh pria di sampingnya.

Harsa berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai sedikit, membiarkan cahaya pagi masuk lebih banyak ke dalam ruangan. Pemandangan kota Bandung yang segar setelah hujan semalam seharusnya memberikan ketenangan, namun pikirannya justru semakin dipenuhi oleh pertanyaan.

“Apa aku hanya melihat bayangan Nadin … atau memang ada sesuatu yang lain?” gumamnya lirih.

Ia menggeleng pelan, seolah menolak kemungkinan tersebut. Baginya, pernikahan ini tetaplah sebuah tanggung jawab, bukan awal dari perasaan baru.

Tak lama kemudian, Arsyi mulai menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Ia tampak sedikit kebingungan saat menyadari dirinya berada di atas ranjang penginapan, lalu perlahan duduk.

Pandangan Arsyi langsung tertuju pada Harsa yang berdiri di dekat jendela.

“Kak Harsa?” panggilnya pelan.

Harsa menoleh, wajahnya kembali datar seperti biasa. “Kamu sudah bangun?”

Arsyi mengangguk, lalu menyadari sesuatu. “Aku … tertidur dengan sangat lelap. Maaf kalau semalam merepotkan.”

Harsa menggeleng singkat. “Tidak apa-apa. Kita harus bersiap. Kita akan berangkat ke Jakarta pagi ini.”

Arsyi mengangguk pelan. Ia tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi semalam, termasuk fakta bahwa Harsa sempat berada di sampingnya. Baginya, malam itu hanyalah malam penuh badai yang akhirnya ia lewati dengan tenang.

Sementara itu, Harsa memilih untuk menyimpan kejadian tersebut untuk dirinya sendiri. Ada beberapa hal yang terlalu rumit untuk dijelaskan, bahkan mungkin untuk dipahami oleh dirinya sendiri.

1
Valen Angelina
cerai aja ya..... biar dia nikah sama Rina... Uda kegatelan tuh cewek🤭🤭😁😁
Teh Euis Tea
syukutlah ga ada jebakkan tdnya aku pikir si harsa di jebak si rina tp ternyata ga
ekomahoks mahoks
doubel up donk thor
neny
syukurlah tdk terjadi apa2 sm harsa,,hanya pancingan dr ucapan mentari yg mengingatkan bahwa bersama dia urusan bs terselesaikan
neny: ehrina,,kok jd mentari sih,,lp aq kak,,maafkeun yaa🙏😂😂
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat up nya 💪🥰
Eva Karmita
jangan terlalu dingin Harsa kalau jadi orang ...jgn buat penyesalan mu semakin besar nanti kalau Arsy pergi 💔 ... tunggu aja tanggal mainnya Arsy bakal ninggalin kamu dan ngk akan pernah nungguin kamu pulang dan disitu lah hari " penyesalan mu tiba 😏😤
Fitra Sari
lanjut donk thorr doubel up 🙏🙏🙏😍
Aditya hp/ bunda Lia
ntar saat Arsy pergi kamu baru kehilangan biasa juga gitu ... dasar cowok gak ada otak
Eva Karmita
dasar licik pelakor kegatelan semoga aja jebakan mu ngk berhasil dasar wanita gila pewaris otak setan 😤😏
Endang 💖
haraa siap2 kau di bodohin sama sekertaris mu, atau jgn2 pembatalan bisnis ini juga rencana dari rina
Nanik Arifin
Rina skretaris, tahu & sering berhubungan dg mitra" perusahaan. Rina dibalik pembatalan kerjasama.
caramu sungguh busuk, Ran
Nanik Arifin
Ayuk Harsa, kasih celah sekretarismu yg jatuh hati pdmu sejak dlu celah tuk masuk. biarkan rumah tanggamu, anakku & keluargamu hancur oleh hasutan Rani
Fitra Sari
lanjut Thor doubel up donk
mama
CEO ter oon masuk jebakan🤣..mudah2 jebakan ny berjalan dgn lancar,dan perceraian segera datang harsa..semangat buat rina..gas pool buat CEO goblok masuk perangkap mu..jgn ksih celah buat gagal🤣..baru kali ini baca nopelll CEO nny oon bin goblok🤭..gak punya detektip ato asisten apalagi kaki kan buat hendel masalah2 darurat🤣
neny
klau pun di beri obat perangsang,,smg dia lampiaskan sm istri nya
neny
smg harsa tdk terjebak ya sm ulat keket itu,💪💪😘
Teh Euis Tea
takutnya si harsa di jebak si rina minum obat perangsang
Rarik Srihastuty
fix ini akal2an Rina buat jebak di harsa
Ita rahmawati
fix kamu dikadalin SM buaya betina harsa² 🤦
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂
Ikaaa1605
Yyyaaahhh dasar licik emng si rina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!