NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

"Mila mana paham. Atau kamu yang ajari ya,"

"Enggak bisa, aku nggak punya standar yang bisa diajarin. Semua mengalir saja seperti air." Sunyi. Kalimat itu sederhana. Tapi sarat makna. Sekar tidak sedang membalas. Ia hanya tidak lagi merasa perlu menolong dengan cara yang mengorbankan dirinya. Lagipula Sekar pernah menolong Mila, tapi Mila membalas dengan mencuri keluarga Sekar. Kalau Sekar memberi kesempatan lagi, apalagi yang akan dicuri Mila?

Aji menghela napas panjang. Wajahnya terlihat lebih tua dari yang Sekar ingat. Lebih lelah. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.

Lalu Sekar bersuara lagi tenang, tapi kini lebih dingin. “Kalau cuma itu yang mau kamu omongin… kamu bisa pulang sekarang.”

Aji terdiam. Seperti ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya tidak jadi. Ia hanya mengangguk kecil. Lalu berbalik. Pergi.

Sekar tetap berdiri di tempatnya, sampai langkah itu benar-benar menghilang. Baru setelah itu… ia menghembuskan napas panjang. Bukan lega. Bukan juga marah. Hanya… selesai. Dan untuk pertama kalinya dalam pertemuan mereka Sekar tidak merasa lebih kecil.

***

Malam itu, Sekar duduk di ruang kerjanya dengan lampu yang sengaja diredupkan. Laptopnya terbuka, tapi bukan untuk menulis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, yang ia hadapi bukan lembar cerita… tapi kenyataan yang harus ia susun dengan rapi.

Pertemuan dengan Aji sore tadi masih terngiang jelas di kepalanya. Setiap kata. Setiap tatapan. Setiap nada suara yang berubah dari merendahkan menjadi meminta.

Sekar menarik napas panjang, lalu meraih ponselnya. Ia tahu, ini bukan sesuatu yang bisa ia simpan sendiri. Ia mengetik pesan singkat pada Lita.

“Aku perlu cerita. Sekarang.”

Tidak butuh waktu lama, ponselnya berdering.

“Sekar?” suara Lita langsung terdengar, cepat, penuh waspada. “Kamu kenapa?”

Sekar terdiam beberapa detik. Bukan karena tidak tahu harus bicara apa… tapi karena ia sedang memastikan dirinya tetap tenang. “Aji datang ke rumah,” katanya akhirnya.

Di ujung sana, Lita langsung terdiam.

.

“Dia tahu soal rumah baru aku,” lanjut Sekar. “Terus… dia tanya aku kerja apa. Dari mana uangku.” Nada suaranya datar. Terlalu datar untuk cerita seperti itu.

“Terus?” tanya Lita pelan.

Sekar tersenyum tipis, tapi kosong. “Dia minta kerjaan buat Mila.”

Sunyi.

Lita menghembuskan napas panjang di seberang sana. “Serius?”

Sekar mengangguk, meski Lita tak bisa melihat. “Katanya mereka lagi susah. Aji belum dapat kerja. Mila… hamil.” Kata terakhir itu keluar pelan.

Lita langsung mengerti kenapa suara Sekar berubah sedikit di bagian itu. “Dan kamu bilang apa?”

“Aku nolak,” jawab Sekar singkat. “Aku bilang dia bisa cari sendiri.”

Ada jeda. “Bagus,” ucap Lita tegas. “Itu keputusan yang benar.”

Sekar menutup matanya sejenak. “Lit…” suaranya melemah sedikit, “aku nggak salah kan? Aku takut kondisi Sea sekarang. Mereka tinggal di rumah orangtuanya Aji. Apa Sea akan baik-baik saja?" Pertanyaan itu… bukan tentang logika. Tapi tentang hati yang masih berusaha menjadi baik, bahkan pada orang yang pernah menghancurkannya.

“Kamu nggak salah,” jawab Lita tanpa ragu. “Sekar, denger ya… kamu bukan lagi istri dia. Kamu juga bukan penanggung jawab hidup mereka.”

Sekar menggigit bibir bawahnya pelan. “Tapi dia lagi susah…” bisiknya.

“Dan dulu kamu juga hancur,” potong Lita, kali ini lebih tegas. “Dia mikir kamu?”

Sekar terdiam. Jawabannya jelas. Tidak.

Lita melanjutkan, lebih pelan tapi dalam. “Jangan kebalik, Sekar. Empati itu baik. Tapi kalau kamu kasih ke orang yang salah… itu jadi bumerang.”

Sekar membuka matanya. Pandangannya jatuh ke meja, ke tumpukan berkas yang tadi siang ia rapikan. Berkas-berkas yang berisi bukti. Tentang Sea. Tentang kondisi di sana. “Ada satu hal lagi…” ujar Sekar pelan.

“Apa?”

“Aji bilang kondisi mereka nggak stabil… dia belum kerja… Mila hamil…” Sekar berhenti sejenak. “Lit, ini bisa jadi… bukti tambahan nggak?” Nada suaranya berubah. Lebih fokus. Lebih sadar arah.

Lita langsung menangkap itu. “Bagus.” Tidak lama kemudian, Lita berkata, “Kita jangan ambil risiko. Besok aku hubungi pengacaramu. Kita bahas ini bareng.”

Sekar mengangguk pelan.

***

Keesokan harinya, mereka bertiga duduk di satu mejaSekar, Lita, dan pengacara yang selama ini menangani kasusnya. Sekar menceritakan semuanya dengan runtut. Tidak ada yang dilewatkan. Dari cara Aji bertanya, kecurigaannya, permintaannya, hingga pengakuan tentang kondisi ekonomi dan kehamilan Mila.

Pengacaranya mencatat dengan serius. “Ini penting,” ujarnya setelah Sekar selesai.

Sekar menatapnya. “Kenapa?”

“Karena ini menunjukkan kondisi rumah tangga di sana sedang tidak stabil,” jelasnya. “Apalagi kalau benar anak Anda tidak sekolah dan kebutuhan dasar tidak terpenuhi dengan baik… ini bisa memperkuat posisi Anda dalam hak asuh.”

Sekar menelan ludah pelan. Untuk pertama kalinya, semua potongan kejadian itu… mulai terasa seperti jalan. Bukan lagi sekadar luka. “Jadi… ini bisa membantu aku?” tanya Sekar, suaranya hampir seperti bisikan. Pengacara itu mengangguk.

“Iya. Tapi kita tetap harus hati-hati. Jangan sampai Anda terlihat menyerang. Fokusnya tetap satu—kepentingan anak.”

Sekar mengangguk. Kepentingan anak. Sea. Selalu Sea.

Lita menyentuh tangan Sekar pelan di bawah meja. “Kamu lihat?” bisiknya. “Semua yang kamu lalui… nggak sia-sia.”

Sekar diam. Dadanya terasa penuh. Bukan oleh rasa sakit seperti dulu. Tapi oleh sesuatu yang lain. Harapan. Kecil. Tapi nyata. Dan kali ini Sekar tidak hanya menunggu. Ia sedang berjalan… menuju anaknya.

***

Sore itu, langkah Sekar terasa lebih ringan dari biasanya. Ada getaran kecil di dadanya, bukan cemas, bukan takut… tapi sesuatu yang hangat.

Ia berdiri di dalam showroom, menatap deretan mobil yang berjajar rapi, mengilap di bawah lampu-lampu terang. Di sampingnya, Lita sibuk berbicara dengan sales, sementara Sekar sesekali menyentuh bodi mobil yang akan ia beli.

Mobil pertamanya. Bukan pemberian. Bukan fasilitas. Bukan pinjaman. Miliknya sendiri. Cash. Sekar tersenyum kecil, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia bahkan tidak menyangka akan sampai di titik ini. “Ini beneran ya…” gumamnya pelan.

Lita menoleh sambil tersenyum lebar. “Ini baru permulaan, Bu penulis sukses.”

Sekar tertawa kecil, tapi pikirannya sudah melayang jauh. Ke seseorang yang bahkan tidak ada di sana. Sea. Bayangan itu langsung hadir begitu saja, wajah kecil itu berseri-seri, duduk di kursi penumpang, menunjuk-nunjuk dashboard dengan penuh rasa ingin tahu. Sekar menelan ludah. “Sea pasti senang banget…” bisiknya tanpa sadar.

Lita mendengarnya. Ia menoleh, ekspresinya sedikit melunak. “Pasti,” jawabnya pelan. “Dan nanti… dia bakal naik mobil ini tiap hari.”

Kalimat itu sederhana. Tapi cukup membuat dada Sekar menghangat sekaligus perih. Ia hanya bisa mengangguk. Dulu… saat Sekar masih bekerja dan mendapat fasilitas mobil kantor, Sea sudah begitu bahagia meski tidak bisa bebas memakainya. Selalu minta duduk di depan, pura-pura jadi navigator kecil, menunjuk jalan dengan suara cerianya. Dan sekarang Sekar punya mobil sendiri. Tapi anaknya… tidak ada di sampingnya.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!