NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Jejak Vetiver dan Titah Sang Kaisar

​Kesadaran Kanaya Larasati tidak kembali secara instan. Ia ditarik dari kedalaman alam bawah sadarnya yang pekat secara perlahan, lapis demi lapis, oleh ritme konstan decit penyeka kaca (wiper) mobil dan suara gemuruh badai Jakarta yang teredam nyaris sempurna oleh lapisan kaca antipeluru setebal dua sentimeter.

​Ada sesuatu yang sangat salah dengan orientasi spasialnya malam ini. Otaknya, yang masih diselimuti kabut kantuk tebal akibat kelelahan kronis selama berhari-hari, mulai mengirimkan sinyal-sinyal anomali ke sistem saraf pusatnya.

​Permukaan di bawah pipi kanannya terasa terlalu solid, terlalu berstruktur, dan memancarkan radiasi panas tubuh yang sama sekali tidak masuk akal untuk ukuran sebuah bantalan kursi mobil berbahan kulit Nappa, semahal apa pun mobil mewah itu. Lebih jauh lagi, bantalan aneh yang menyangga kepalanya itu tidak diam. Benda itu memiliki tekstur kain katun yang sangat halus, dan tepat di balik lapisan kain itu, Naya bisa merasakan ada sebuah denyut nadi—sebuah ritme biologis yang berdetak konstan, pelan, dan stabil, seirama dengan embusan napasnya sendiri.

​Lalu, hal yang paling mengacaukan sistem kewarasannya adalah aroma yang mengudara di sekitarnya.

​Bau apak sisa kopi dari meja kerjanya yang biasa menemani malam-malam lemburnya telah lenyap tak berbekas. Sebagai gantinya, indra penciumannya diinvasi secara total oleh aroma vetiver murni, kayu aras yang kering, dan sedikit jejak lada hitam yang sangat elegan. Aroma itu begitu pekat, begitu maskulin, dan begitu eksklusif, seakan-akan meresap langsung ke dalam pori-pori wajahnya, mengunci sistem pernapasannya dalam sebuah kurungan kasatmata.

​Naya membuka kelopak matanya perlahan. Matanya terasa seberat timah. Pandangannya masih mengabur selama beberapa detik, menciptakan bayangan ganda dari objek-objek di sekitarnya yang diterangi oleh cahaya lampu jalanan ibu kota yang sesekali melintas dari luar jendela.

​Namun, ketika lensa matanya akhirnya berhasil memfokuskan cahaya di tengah keremangan kabin Maybach tersebut, siluet deretan kancing kemeja putih tanpa cela dan bentangan dada bidang yang sedang bernapas perlahan memenuhi seluruh jarak pandangnya.

​Napas Naya terhenti di pangkal tenggorokan. Oksigen seolah divakum habis secara paksa dari paru-parunya dalam satu tarikan napas.

​Dengan gerakan patah-patah bak robot berkarat yang kekurangan pelumas, Naya mendongakkan kepalanya ke atas dengan sangat lambat. Dan di sana, berjarak kurang dari dua jengkal dari ujung hidungnya, Arjuna Dirgantara sedang duduk bersandar dengan postur tegak yang tak tergoyahkan.

​Pria itu tidak sedang tidur. Mata hitam kelamnya menatap lurus ke bawah, tepat ke arah wajah Naya. Tidak ada keterkejutan di dalam sepasang mata elang itu. Tidak ada kepanikan. Yang ada hanyalah sebuah observasi yang luar biasa dingin, tajam, dan sangat mengintimidasi.

​Butuh waktu tiga detik penuh bagi sinapsis otak Naya untuk menyambungkan titik-titik realita dan menyadari fakta visual yang sangat fatal ini: Kepalanya sama sekali tidak bersandar pada kaca jendela mobil yang keras. Kepalanya sedang disangga, dijaga, dan dikurung sepenuhnya oleh telapak tangan kanan bos besarnya itu.

​'Mati saja kau, Kanaya Larasati. Tolong, ya Tuhan, biarkan petir menyambarku menembus atap mobil berlapis baja ini detik ini juga,' batin Naya menjerit histeris dalam keputusasaan yang absolut.

​Darahnya berdesir hebat dengan kecepatan penuh, memompa suhu panas yang langsung membakar kedua belah pipinya hingga merona merah padam sampai ke ujung telinga. Rasa malu yang luar biasa masif menghantam ulu hatinya. Ia baru saja tertidur pulas, kehilangan kendali dirinya, dan menjadikan telapak tangan pria paling ditakuti di Dirgantara Group sebagai bantal pribadinya.

​Insting bertahan hidup primitifnya segera mengambil alih. Naya menarik tubuhnya menjauh dari Juna secepat kilat, berniat merapatkan punggungnya ke pintu kiri mobil untuk menciptakan jarak aman secara instan.

​Namun, karena kepanikannya yang tidak terukur dan orientasi spasialnya yang masih kacau, pergerakan mendadaknya itu membuat ubun-ubunnya menghantam ujung atas tuas pegangan (grab handle) yang berada di atas pintu mobil.

​Buk!

​"Aduh," desis Naya refleks, memegang puncak kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia merapatkan punggungnya ke pintu mobil dengan napas tersengal, memeluk ransel kanvasnya seolah benda itu adalah tameng anti peluru terakhirnya. Matanya membelalak lebar, memancarkan kepanikan absolut dan rasa malu yang menggerogoti sisa-sisa harga dirinya hingga ke akar.

​"Maaf! Astaga, Pak Arjuna, saya benar-benar minta maaf," rutuk Naya dengan suara bergetar dan putus-putus. Tangannya sibuk merapikan rambutnya yang mencuat ke segala arah dengan sangat canggung dan panik. "Saya tidak bermaksud... saya bersumpah saya tidak tahu sejak kapan saya tertidur dan jatuh ke arah Anda. Saya... saya sangat lelah setelah presentasi tadi pagi. Maafkan kelancangan dan ketidakprofesionalan saya, Pak."

​Juna tidak bergeming sedikit pun. Wajahnya mempertahankan ekspresi stoik yang tanpa cela, seolah ia baru saja melihat seekor lalat lewat, bukan seorang perempuan yang tertidur lelap di atas telapak tangannya selama empat puluh menit penuh menembus kemacetan Jakarta.

​Perlahan, dengan gerakan yang luar biasa terkontrol, Juna menarik tangan kanannya yang sejak tadi menggantung kaku di udara. Ia meletakkan tangan itu di atas pahanya, mengepalkan dan membuka jemarinya beberapa kali secara ritmis. Naya bisa melihat urat-urat di punggung tangan pria itu menonjol saat ia mencoba mengembalikan sirkulasi darah yang sempat kebas dan kesemutan akibat menahan beban kepala Naya.

​"Saya berasumsi fasilitas bantalan di kabin mobil saya cukup memadai untuk menggantikan kasur apartemen Anda yang mungkin kurang ergonomis, Kanaya?" respons Juna dengan bariton yang sangat datar, memecah keheningan yang mencekik.

​Nada suara pria itu tidak naik satu oktaf pun. Tidak ada kemarahan eksplisit di sana. Namun, kalimat pendek itu sarat akan sarkasme dingin yang selalu menjadi senjata pemusnah massal andalannya di ruang rapat.

​'Dia menyindirku. Tentu saja dia akan menjadikanku bahan sindiran seumur hidupnya,' Naya mengutuk di dalam hati, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan diri agar tidak membalas. 'Beraninya dia menghina kasur apartemenku. Pria arogan ini tidak akan pernah melepaskan satu pun celah kesempatan untuk membuatku merasa seperti debu di bawah sol sepatu mahalnya.'

​Mobil Maybach hitam itu perlahan mengurangi kecepatannya. Ban-ban mewahnya membelah genangan air di jalanan yang berlubang dengan suara mendesih pelan, sebelum akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan kanopi lobi sebuah gedung apartemen sederhana.

​Bangunan apartemen tempat Naya tinggal itu tampak lusuh, cat dindingnya terkelupas di beberapa bagian di bawah guyuran hujan lebat malam itu. Pemandangan itu sangat kontras, bahkan terlihat ironis, jika disandingkan dengan kemewahan kendaraan miliaran rupiah yang baru saja mengantarkannya.

​Supir pribadinya, Pak Karta, segera mematikan mesin, bergegas turun menembus hujan badai, dan membuka payung raksasa berwarna hitam legam untuk membukakan pintu di sisi Naya.

​"Kita sudah sampai di destinasi Anda. Silakan turun sekarang, sebelum Anda memutuskan untuk menginap kembali di mobil saya dan menagih biaya akomodasi ke departemen keuangan besok pagi," ucap Juna dengan kedinginan yang absolut.

​Tatapannya kini beralih sepenuhnya ke luar jendela di sisi kanannya, dengan sengaja menolak melakukan kontak mata lebih lanjut dengan Naya. Garis rahangnya mengeras, seolah ia sedang menahan sesuatu.

​'Lihatlah arogansinya. Dia bahkan tidak sudi melihat wajahku lagi setelah insiden ini. Menyebalkan. Pria ini sangat menyebalkan,' gerutu Naya dalam sanubarinya, meski jantungnya sendiri masih berdebar dengan ritme yang sama sekali tidak karuan akibat kedekatan fisik mereka barusan.

​Pak Karta menahan guyuran air hujan yang terbawa angin monsun dengan payungnya. Naya segera menyandang ransel beratnya dan bergerak menggeser tubuhnya keluar. Udara basah dan dingin malam Jakarta langsung menampar wajahnya tanpa ampun, memberikan sedikit kelegaan pada pipinya yang masih terbakar rasa malu.

​Namun, tepat sebelum ia sepenuhnya melangkah keluar dan menutup pintu mobil yang tebal itu, Naya menghentikan gerakannya. Logika dan gengsinya bertarung sesaat dengan hati nuraninya. Ia memutar tubuhnya setengah derajat, menoleh kembali ke dalam kabin mobil yang temaram.

​"Terima kasih atas tumpangannya, Pak Arjuna," ucap Naya dengan nada yang sungguh-sungguh, meskipun suaranya sedikit bergetar karena dingin angin malam. Ia menekan seluruh ego dan gengsinya ke dasar perut, menyadari bahwa bagaimanapun kasarnya pria itu, Juna telah menyelamatkannya dari kemungkinan pingsan karena hipotermia di lobi kantor sore tadi. "Dan... sekali lagi, saya benar-benar minta maaf atas insiden yang sangat tidak pantas tadi."

​Juna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan sebuah anggukan mikro—sebuah gerakan kepala yang sangat kecil, kaku, dan nyaris tak kasatmata—tetap tanpa menolehkan wajahnya.

​Naya menarik napas pendek, lalu menutup pintu mobil hidrolik itu dengan bunyi klik yang halus namun definitif. Ia berbalik dan berjalan cepat memasuki lobi apartemennya yang sepi, tanpa berani menoleh ke belakang lagi.

​Apa yang Kanaya Larasati sama sekali tidak ketahui adalah, tepat setelah pintu mobil itu tertutup rapat dan mengunci dunia luar, pertahanan stoik Arjuna Dirgantara seketika runtuh.

​Di balik kaca film mobil yang sangat gelap dan tidak tembus pandang, sepasang mata hitam Juna yang tadinya menatap ke arah luar, kini dengan cepat berputar dan terus mengikuti punggung mungil gadis itu. Ia menatap lekat-lekat hingga tubuh Naya menghilang ditelan pintu kaca apartemen yang kusam.

​Juna memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menghembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan dan menyiksa rongga dadanya yang sesak. Denyut jantungnya yang ia paksa untuk berdetak normal selama gadis itu terbangun tadi, kini bergemuruh kembali tanpa bisa dikendalikan.

​Dengan gerakan lambat yang dipenuhi oleh sebuah keraguan yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya, Juna mengangkat tangan kanannya ke udara—tangan yang tadi menjadi penyangga pipi Naya. Ia menyapukan ujung-ujung jemarinya yang panjang ke dekat hidungnya sendiri.

​Aroma vanila yang manis, sedikit kekanak-kanakan, bercampur dengan aroma hujan yang segar, kini menempel dengan sangat pekat di kulit tangannya. Aroma Naya. Aroma itu menenggelamkan sisa-sisa parfum vetiver mahalnya sendiri, menolak untuk enyah dari indra penciumannya dan dari kewarasannya.

​'Kau telah melewati batas teritorial yang sangat berbahaya malam ini, Arjuna,' batin Juna berbisik, memperingatkan dirinya sendiri dengan suara batin yang kejam. Ia menjatuhkan tangannya kembali ke pangkuan dan mengepalkannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

​'Dia adalah bawahanmu. Dia adalah variabel liar yang tidak bisa diprediksi, yang bisa mengancam stabilitas logikamu kapan saja. Dia hanyalah seorang desainer idealis yang sedang kau eksploitasi otaknya untuk menyelamatkan megaproyekmu. Jangan pernah mencampuradukkan anomali fisik ini dengan profesionalisme berdarah dingin. Pastikan insiden kelemahanmu malam ini terkubur selamanya.'

​Juna mengusap wajahnya, kembali menarik topeng pualamnya, mengubah dirinya kembali menjadi mesin. "Kita kembali ke penthouse kantor, Pak Karta," perintah Juna pada supirnya. Suara baritonnya telah kembali menjadi sedingin dan tanpa emosi seperti biasa.

​Mobil mewah itu melesat membelah kegelapan malam, membawa Juna kembali ke dalam benteng kesepiannya yang berlapis emas, meninggalkan Naya di dunianya yang jauh berbeda.

​Keesokan paginya, udara di lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara terasa jauh lebih ringan secara visual. Badai semalam telah menyapu bersih polusi udara Jakarta, menyisakan langit biru cerah tak berawan yang menyilaukan. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca panorama raksasa, mencetak bayangan geometris yang presisi di atas karpet tebal bernuansa monokrom di area divisi desain.

​Namun, cuaca cerah di luar sana sama sekali tidak berbanding lurus dengan badai internal yang sedang melanda Kanaya Larasati.

​Naya berdiri mematung di depan mesin pembuat espresso otomatis di area pantry kantor. Matanya menatap kosong pada aliran kopi hitam pekat yang mengalir ke dalam cangkir kertasnya. Tidur enam jam di kasurnya semalam memang mengembalikan sedikit energinya, namun otaknya terus-menerus memutar ulang adegan memalukan di dalam mobil Juna bagai kaset rusak yang diputar paksa.

​'Fokus, Naya. Hari ini adalah hari kerja normal. Desainmu sudah disetujui kemarin pagi. Tinggal mematangkan data teknis untuk vendor,' Naya merapal sugesti pertahanan di dalam hatinya, meniup uap kopinya. 'Anggap saja insiden di dalam mobil semalam adalah sebuah ilusi konyol. Lupakan saja. Pria manusia es itu pasti juga sudah melupakannya dan menganggapmu tidak ada.'

​"Selamat pagi, Cinderella. Sepertinya kereta kencana labu milikmu semalam sudah di-upgrade secara ekstrem menjadi Maybach S-Class?"

​Suara melengking yang dibalut nada manis beracun itu langsung menghancurkan kedamaian rapuh Naya. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara yang sangat menyakitkan telinga tersebut.

​Siska.

​Desainer senior yang selalu mencari mangsa untuk melampiaskan rasa iri hatinya itu berjalan masuk ke dalam pantry dengan sepatu hak tingginya yang berderik di atas lantai. Siska menyandarkan pinggulnya ke meja pantri di sebelah Naya sambil melipat kedua tangannya di bawah dada. Senyum asimetris yang sangat merendahkan terbentuk di bibir wanita berlipstik merah marun menyala itu.

​Naya menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang meraih sachet gula pasir menegang di udara selama satu detik penuh, menyerap informasi dari kalimat Siska.

​'Dari mana ular berbisa ini tahu soal mobil itu?' batin Naya meradang tajam, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat karena waspada. 'Gosip di perusahaan ini menyebar lebih cepat daripada mutasi virus influenza. Pasti ada staf resepsionis, petugas keamanan lobi, atau mungkin petugas parkir yang melihatku ditarik masuk ke dalam mobil Pak Arjuna di lobi kemarin sore.'

​Naya menarik napas panjang. Ia melanjutkan gerakannya dengan sangat tenang, merobek kemasan gula itu dan menuangkannya ke kopinya tanpa meneteskan sebutir pun.

​"Selamat pagi juga, Mbak Siska. Kopi saya sepertinya kurang pahit pagi ini, tapi terima kasih banyak sudah menambahkan komentar Anda yang selalu pahit untuk melengkapinya," balas Naya dengan ketenangan yang mematikan. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Siska tanpa berkedip sedetik pun.

​Siska mendengus pelan, matanya memindai Naya dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang sangat sinis.

​"Kau tahu, Naya, di dunia arsitektur korporat, kita sering sekali melihat anak-anak junior baru yang menggunakan segala macam 'cara kreatif' untuk naik ke posisi atas dengan cepat," ucap Siska, mengitari Naya dengan langkah pelan seperti predator yang sedang mencari celah kelemahan.

​Siska mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik dengan nada mengejek yang merendahkan martabat. "Kudengar dari staf keamanan, semalam kau pulang dijemput langsung oleh mobil Pak Arjuna di tengah badai. Sangat kebetulan yang luar biasa, bukan? Pagi harinya desainmu disetujui, dan sore harinya kau mendapat layanan antar-jemput VVIP dari CEO yang terkenal tidak pernah mau menyentuh bawahannya. Hati-hati, Naya. Mencari muka dengan cara menjual empati sebagai gadis lemah, atau menumpang kendaraan atasan di malam hari, tidak akan pernah bisa menutupi kekurangan pengalamanmu di lapangan."

​Rahang Naya mengeras seketika. Ujung kuku di tangan kirinya secara otomatis menancap kuat ke telapak tangannya sendiri—mekanisme pertahanan psikologis tubuhnya setiap kali ia merasa tersudutkan dan dilecehkan karakternya.

​'Dia pikir aku menggunakan trik murahan? Dia pikir aku mengemis simpati untuk meloloskan desainku?' Naya meradang di dalam kepalanya. Rasa insecure tentang latar belakangnya yang hanya lulusan universitas biasa, berhadapan dengan senior-senior penuh privilese, kembali membara. 'Kau tidak tahu seberapa banyak darah dan jam tidur yang kukorbankan untuk memenangkan persetujuan blueprint lobi itu kemarin pagi, Siska. Kau hanya iri karena desainmu tidak pernah dilirik.'

​Naya memutar tubuhnya sepenuhnya untuk menghadapi Siska. Ia memaksakan sebuah senyum profesional yang luar biasa tipis, ramah, namun mematikan. Posturnya ditegakkan secara maksimal, menantang dominasi senioritas Siska secara visual.

​"Saya menumpang mobil atasan karena Pak Arjuna tidak ingin proyek bernilai triliunan rupiahnya ini tertunda atau gagal hanya karena desainer utamanya pingsan kedinginan di lobi akibat badai, Mbak Siska," jawab Naya, artikulasinya dipotong dengan sangat tajam, jelas, dan sarat akan arogansi intelektual yang baru ia pelajari dari bosnya. "Itu namanya manajemen risiko korporat level eksekutif. Beliau mengamankan aset intelektual perusahaannya. Mungkin... jika draf desain Mbak Siska tidak ditolak berulang kali oleh direksi operasional bulan lalu, Mbak juga akan mendapatkan perlakuan manajemen risiko yang sama berharganya dari beliau."

​Mata Siska terbelalak lebar. Wajahnya yang dilapisi foundation mahal itu seketika memerah padam menahan amarah yang meledak karena egonya diinjak tepat di titik kegagalannya. Mulutnya terbuka untuk membalas sindiran itu, namun kerongkongannya tercekat.

​"Adapun soal desain saya yang Anda ragukan kualifikasinya," Naya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka untuk memberikan tekanan mental terakhir, "saya telah membuktikan presisinya kemarin di ruang CEO. Saya memenangkan approval itu dengan otak saya, bukan dengan mencari muka. Permisi, saya harus kembali bekerja."

​Tanpa repot-repot menunggu balasan atau teriakan amarah dari seniornya, Naya meraih cangkir kopinya dan berjalan keluar dari pantry dengan derap langkah yang konstan dan percaya diri.

​Namun, begitu ia berada jauh di luar jarak pandang Siska dan kembali ke meja kubikelnya, tangan Naya yang memegang cangkir kopi bergetar hebat. Ia duduk dan memijat pelipisnya. Politik kantor ini benar-benar menyedot sisa energi kehidupannya.

​Belum sempat Naya menyelesaikan minumannya, suara dering telepon internal di mejanya memecah lamunan.

​Naya mengangkat gagang telepon. "Kanaya Larasati, Divisi Desain."

​"Mbak Naya," suara datar Riko, asisten pribadi CEO, terdengar di seberang sana. "Pak Arjuna meminta Anda segera naik ke ruangan beliau. Bawa serta draf final data vendor material lantai dasar yang sudah beliau setujui kemarin."

​Jantung Naya merosot tajam ke dasar perutnya. Panggilan dadakan di pagi hari? Apakah Juna berubah pikiran tentang persetujuan desainnya? Atau pria itu memanggilnya khusus untuk memarahinya secara formal karena insiden tidur di mobil semalam?

​"B-Baik, Mas Riko. Saya segera naik."

​Lima menit kemudian, Naya sudah berdiri di dalam ruang kerja CEO yang luar biasa luas, monokrom, dan sangat mengintimidasi itu.

​Arjuna Dirgantara sedang duduk di balik meja mahoninya yang memancarkan kekuasaan absolut. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sangat formal. Saat Naya masuk, pria itu bahkan tidak repot-repot mengalihkan pandangannya dari layar komputernya selama satu menit penuh, sengaja membiarkan Naya berdiri mematung dalam ketegangan.

​"Duduk," perintah Juna singkat tanpa menoleh.

​Naya menarik napas, lalu duduk di kursi kulit di seberang meja. Ia meletakkan dokumen cetak birunya di atas meja dengan sangat hati-hati.

​"Saya sudah meninjau ulang persetujuan teknis desain lobi yang kita sepakati kemarin pagi, Kanaya," Juna akhirnya memulai pembicaraan. Ia menautkan jemari kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke dalam mata Naya. Matanya sangat tajam, sepenuhnya memancarkan aura seorang CEO yang tidak pernah berbuat salah.

​Tidak ada satu pun jejak kerentanan dari pria yang semalam membiarkan tangannya menjadi bantal bagi Naya. Pria di hadapannya ini telah membangun kembali dinding pualamnya setinggi langit.

​"Perancangan visual dua dimensi Anda di atas kertas itu memang mengesankan. Konsep pencahayaan amber Anda berhasil menyelesaikan masalah fasisme dari material Calacatta," Juna memberikan pujian yang terdengar seperti sebuah analisis laporan forensik di kepolisian. "Tapi, eksekusi presisi tiga dimensi dari sebuah blueprint kertas ke lapangan nyata adalah hal yang sama sekali berbeda."

​Naya mengerutkan dahinya, merasa ada sesuatu yang sangat mengancam dan tidak beres sedang bergerak cepat ke arahnya. Firasat buruk mulai merayap naik menyentuh tengkuknya.

​"Maksud Bapak? Apakah ada masalah teknis dengan spesifikasi materialnya?"

​"Marmer Travertine hitam dan Calacatta Gold yang Anda hitung margin presisi pemotongannya dengan sangat percaya diri kemarin, Kanaya, material mentah tersebut tidak dijual dalam bentuk cetakan siap pakai di toko bangunan pinggir jalan," jelas Juna dengan nada menggurui yang sangat klinis dan merendahkan, seolah sedang mengajari mahasiswa magang.

​"Material alam itu harus dipotong, dilengkungkan, dan diukir menggunakan mesin laser hidrolik presisi tinggi, menyesuaikan dengan setiap milimeter sudut lengkungan dinamis dari pilar yang Anda gambar. Satu milimeter saja meleset, sirkulasi cahaya 'Breathing Stone' Anda akan cacat."

​Juna menekan tombol di komputernya, menutup layarnya. "Pabrik pemotongan batu alam presisi tinggi dan fabrikasi furnitur kustom utama milik Dirgantara Group berpusat di Gianyar, Pulau Bali."

​Pintu kayu ruangan terbuka tanpa suara. Riko masuk membawa sebuah map kulit tebal berwarna navy dan menyerahkannya langsung kepada Juna. Juna membuka map tersebut, menarik selembar tiket elektronik cetak, lalu melemparnya perlahan melintasi meja kaca hingga berhenti tepat di depan Naya.

​Naya menatap kertas itu. Matanya membelalak lebar membaca rute penerbangannya yang dicetak tebal: CGK - DPS. Keberangkatan esok hari.

​"Siapkan koper dan mental Anda malam ini juga, Kanaya Larasati," titah Juna. Nada suaranya mutlak, tanpa kompromi, dan sepenuhnya final. "Besok pagi pukul delapan tepat, pesawat kita berangkat. Anda akan terbang ke Bali bersama saya. Kita akan menginspeksi seluruh proses fabrikasi material tersebut di pabrik secara langsung tanpa perantara."

​Naya mematung. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis ke luar angkasa, membuatnya kesulitan menarik napas. Seluruh pembuluh darahnya terasa membeku.

​"K-Kita? Ke Bali? Hanya... berdua?" tanya Naya terbata-bata, dinding profesionalisme yang ia bangun susah payah pagi ini goyah dan nyaris runtuh seketika di bawah hantaman informasi mendadak tersebut. Otaknya langsung dipenuhi skenario horor terburuk. Menghabiskan waktu berhari-hari dalam radius dekat dengan tiran ini di pulau lain?

​"Ini adalah desain orisinal Anda. Anda adalah satu-satunya orang di perusahaan ini yang paling tahu presisi setiap milimeter lengkungannya. Saya tidak akan mempertaruhkan modal triliunan rupiah saya pada asumsi buta teknisi pabrik," Juna memutar tubuhnya, bersandar santai ke kursinya seolah ia baru saja membahas pengadaan alat tulis kantor, bukan sebuah perjalanan bisnis eksklusif yang mematikan saraf Naya.

​"Riko sudah mengurus semua kebutuhan akomodasi Anda," Juna memberikan lirikan peringatan terakhir yang seolah menembus langsung pertahanan Naya. "Pastikan Anda tiba di Terminal Tiga Bandara Soekarno-Hatta besok pagi tanpa terlambat satu menit pun, Kanaya. Saya tidak memiliki ruang toleransi untuk sebuah keterlambatan."

​Juna memajukan tubuhnya sedikit ke depan, mengunci tatapannya pada mata Naya yang membulat panik, lalu menjatuhkan kalimat skakmatnya.

​"Dan saya sarankan Anda tidur yang cukup malam ini di kasur Anda," ucap Juna dengan suara bariton yang merendah, menyayat tepat ke memori memalukan Naya semalam. "Agar besok Anda tidak perlu lagi menggunakan fasilitas fisik saya sebagai bantal untuk beristirahat di dalam penerbangan. Saya tidak menerima tagihan layanan ekstra."

​Wajah Naya memerah padam seketika bagai disiram air mendidih. Wajahnya terasa panas hingga ke telinga.

​Juna baru saja melempar insiden memalukan di mobil semalam tepat ke wajahnya secara terang-terangan sebagai senjata pamungkas untuk membungkam protes apa pun dari bibir gadis itu.

​"B-Baik, Pak Arjuna," Naya menunduk kaku, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang berantakan, lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu secepat kakinya bisa membawanya.

​Sepeninggal Naya, Juna bersandar dalam diam di kursinya. Jantungnya, yang baru saja ia paksa untuk berdetak dengan ritme normal dan dingin selama interogasi tadi, kini kembali berdegup dengan ketukan yang tidak stabil. Pria itu menatap pintu kayu yang baru saja ditutup oleh bawahannya itu, menyadari bahwa ia baru saja menyeret gadis itu ke dalam pusaran dunianya yang jauh lebih berbahaya dari sekadar ruang rapat.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​Kamera mengambil sudut pandang melebar (wide shot), menyorot sebuah area pabrik pengolahan baja tua yang kotor, panas, dan berdebu di pinggiran kota. Suara mesin pemotong besi dan mesin cetak (press) terdengar memekakkan telinga.

​Enam belas tahun yang lalu.

​Arjuna remaja, yang saat itu baru berusia dua belas tahun, sedang diajak oleh ayahnya, Chairman Dirgantara, untuk menginspeksi sebuah pabrik baja yang baru saja diakuisisi secara paksa oleh perusahaan mereka. Juna kecil yang mengenakan kemeja rapi dan sepatu bersih terlihat sangat tidak nyaman dengan debu, asap, dan suara bising di sekitarnya.

​Di tengah sesi inspeksi yang dipandu oleh kepala pabrik, seorang buruh pabrik tua yang terlihat sangat kurus, kelelahan, dan pucat pasi, tiba-tiba jatuh pingsan di dekat jalur mesin operasional yang berbahaya. Tangannya nyaris terpotong oleh mesin pemotong hidrolik jika saja teman-temannya tidak segera berteriak dan menariknya menjauh.

​Juna remaja, yang secara insting masih memiliki empati kemanusiaan murni seorang anak, langsung berlari ke arah buruh yang pingsan itu dengan panik. Ia mengambil botol air minum mineral dari tas punggungnya dan mencoba memberikannya pada pria malang tersebut, berniat membantunya. "Bapak tidak apa-apa? Bapak butuh dokter? Tolong panggil ambulans!"

​Namun, sebelum Juna bisa menyentuh kepala buruh itu, sebuah tangan besar dan kasar mencengkeram kerah belakang kemejanya, menariknya mundur dengan sangat keras hingga ia nyaris terjengkang.

​Sang Ayah berdiri menjulang di belakang Juna. Wajah pria tua itu sangat murka, urat-urat di lehernya menonjol.

​"Apa yang kaulakukan, Arjuna?!" bentak sang Ayah, suaranya mengalahkan bising mesin pabrik, menggema seperti guntur. Ia menunjuk ke arah buruh malang yang masih pingsan itu dengan ujung tongkatnya. "Dia hanyalah alat produksi! Sebuah mesin yang kehabisan bahan bakar karena inkompetensi fisiknya sendiri! Jika dia rusak, kita buang dan kita ganti dengan komponen manusia yang baru!"

​Sang Ayah menarik Juna mendekat ke wajahnya, menekan bahu putranya dengan menyakitkan, dan menatap putranya dengan mata yang sedingin es kutub.

​"Jangan pernah... dengar Ayah, JANGAN PERNAH menunjukkan simpati, rasa kasihan, atau empati kepada bawahanmu!" desis ayahnya dengan kekejaman yang absolut. "Saat seorang pemimpin menunjukkan kepedulian secara personal pada pekerjanya, ia telah kehilangan separuh otoritasnya. Mereka akan mulai menuntut belas kasihanmu, mereka akan melihat kelemahan di hatimu, dan pada akhirnya mereka akan memakanmu hidup-hidup. Simpati adalah penyakit menular yang akan membunuh seorang raja dari dalam kerajaannya sendiri!"

​Sebagai hukuman atas 'kelemahan' Juna hari itu, sang Ayah dengan kejam memerintahkan kepala pabrik saat itu juga untuk memecat buruh yang pingsan tersebut tanpa memberikan pesangon sepeser pun, tepat di depan mata Juna yang hanya bisa berdiri mematung dan menangis dalam diam karena merasa bersalah. Niat baiknya justru menghancurkan hidup orang lain.

​Kamera melakukan zoom in secara lambat namun mengikat ke arah wajah Juna remaja. Kepolosannya, harapan masa kecilnya, dan sisi hangat kemanusiaannya menguap dan mati di detik itu juga. Rahangnya mengeras dengan menyakitkan. Ia belajar dengan cara yang paling brutal di usia mudanya: bahwa peduli pada seseorang, hanya akan membawa kehancuran bagi orang yang ia pedulikan tersebut.

​Kamera secara sinematik beralih (fade out), kembali ke masa kini. Wajah Arjuna Dirgantara dewasa yang mematikan, kaku, dan penuh arogansi, duduk sendirian di kursi CEO-nya. Kilas balik itu menjelaskan seluruh paradoks psikologisnya saat ini: Ia memaksa Naya pergi ke Bali bersamanya karena ia ingin melindunginya secara langsung dari kerasnya pekerjaan vendor dan memastikan pilar itu sempurna, namun di saat yang sama, ia harus terus bertingkah seperti monster tanpa hati. Karena ia telah didoktrin secara traumatis bahwa menunjukkan kepedulian secara terbuka adalah cara tercepat untuk menghancurkan wanita yang diam-diam ia pedulikan tersebut.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!