NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Karomah di Jalur Pantura ​

Arjuna Wijaya melangkah meninggalkan perbukitan Giri dengan tongkat kayu jati yang kini mengeluarkan aroma wangi gaharu setiap kali menyentuh tanah. Fajar di Gresik pagi itu nampak sangat indah, dengan gumpalan awan yang membentuk siluet orang sedang bersujud di atas langit utara.

​.

​"Gusti... niki langkah kulo ingkang kaping sewu, mugi saben jangkah niki saget nglebur duso-duso kulo wonten Sidoarjo lan Jakarta," bisik Arjuna sambil menunduk takzim.

(Tuhan... ini langkah saya yang ke seribu, semoga setiap langkah ini bisa melebur dosa-dosa saya di Sidoarjo dan Jakarta.)

​.

​Saat ia sampai di pesisir pantai Tuban yang gersang dan panas menyengat, Arjuna melihat seorang petani garam yang sedang menangis di pinggir ladangnya. Ternyata, air laut di ladangnya tidak kunjung mengkristal menjadi garam, padahal ia sangat butuh uang untuk biaya sekolah anaknya.

​.

​Arjuna merasa iba. Ia teringat masa lalunya yang sering menghamburkan uang jutaan rupiah hanya untuk kesenangan sesaat. Dengan perlahan, Arjuna mendekati petani tersebut dan menyentuh air laut di ladang itu dengan ujung tongkat kayu jatinya sambil merapalkan dzikir sirri.

​.

​"Sabar Pak, Gusti Allah mboten sare. Kersane kerso, niki dipun cobo malih," ucap Arjuna dengan senyum yang sangat menyejukkan.

(Sabar Pak, Allah tidak tidur. Jika berkenan, silakan dicoba lagi.)

​.

​Seketika itu juga, keajaiban terjadi. Air laut yang tadinya bening tiba-tiba memutih dan mengkristal menjadi butiran garam yang sangat bersih dan berkilau seperti permata dalam hitungan detik. Petani itu terbelalak, ia jatuh tersungkur melihat karomah yang ada di depan matanya.

​.

​"Ya Allah! Sampeyan niku sinten, Gus? Niki mboten mungkin, niki mukjizat!" teriak petani itu sambil mencoba mencium tangan Arjuna.

(Ya Allah! Anda itu siapa, Gus? Ini tidak mungkin, ini mukjizat!)

​.

​Arjuna segera menarik tangannya dengan rendah hati. "Kulo dudu sinten-sinten Pak, kulo namung lebu. Niki sedoyo kersane Gusti Allah, sanes kulo. Ampun dipun ceritakake dumateng sinten-sinten nggih," jawab Arjuna lembut sebelum ia menghilang dengan cepat di balik kabut pantai yang tiba-tiba turun menyelimuti jalanan.

(Saya bukan siapa-siapa Pak, saya hanyalah debu. Ini semua kehendak Allah, bukan saya. Jangan diceritakan kepada siapa pun ya.)

​.

​Perjalanan berlanjut. Arjuna merasa haus yang luar biasa, namun tidak ada satu pun warung di sepanjang jalan hutan jati yang sunyi itu. Ia kemudian duduk bersila di bawah pohon beringin tua dan memutar tasbih kayu cendananya sambil memejamkan mata.

​.

​"Ya Lathif... Ya Lathif... Ya Lathif..." suara dzikir Arjuna bergema di alam malakut.

​.

​Tiba-tiba, dari sela-sela akar pohon beringin yang kering, muncul mata air yang sangat jernih dan mengeluarkan uap dingin. Air itu tidak hanya menghilangkan dahaga Arjuna, tetapi juga membuat tubuhnya yang kusam tiba-tiba mengeluarkan aroma bunga melati yang sangat harum.

​.

​Arjuna tidak menyadari bahwa di belakangnya, macan putih pelindungnya kini sedang bertarung secara gaib dengan sosok hitam besar berkuku panjang yang mencoba menghalangi langkahnya. Sosok hitam itu adalah manifestasi dari nafsu kesombongan yang masih mencoba menggoda batin Arjuna.

​.

​"Ojo ganggu calon wali iki! Dalan iki wis ditulis ning Lauhul Mahfudz!" suara macan putih itu menggelegar di dimensi gaib, membuat sosok hitam itu hancur menjadi debu hitam yang tertiup angin laut.

(Jangan ganggu calon wali ini! Jalan ini sudah tertulis di Lauhul Mahfudz!)

​.

​Arjuna membuka matanya dan merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan. Ia bisa melangkah sangat cepat, seolah-olah bumi yang ia pijak melipat diri. Jarak yang seharusnya ditempuh berjam-jam, kini hanya ia lalui dalam beberapa menit saja menuju jantung kota Tuban.

​.

Arjuna Wijaya menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang makam Sunan Bonang. Kerumunan orang nampak panik mengelilingi seorang pemuda yang sedang kesurupan hebat. Pemuda itu merayap di tanah seperti ular dengan mata yang melotot merah dan mengeluarkan suara desisan yang sangat mengerikan.

​.

​"Sopo kowe?! Ojo melu-melu urusanku! Bocah iki wis dadi milikku mergo bapake kakehan duso!" teriak pemuda yang kesurupan itu dengan suara parau yang menggetarkan kaca-kaca di sekitar makam.

(Siapa kamu?! Jangan ikut campur urusanku! Anak ini sudah jadi milikku karena ayahnya terlalu banyak dosa!)

​.

​Arjuna tidak gentar sedikit pun. Ia melihat dengan mata batinnya bahwa ada sosok bayangan hitam besar yang sedang mencengkeram leher pemuda itu. Arjuna menggenggam tasbih kayu cendananya, lalu melangkah maju dengan penuh ketenangan, memancarkan aura hijau yang menyejukkan bagi siapa saja yang melihatnya.

​.

​"Mboten wonten sing nggadhahi menungso kejaba Gusti Allah. Metu saiki, utawa kowe bakal kobong mergo cahya niki!" ucap Arjuna dengan nada yang sangat rendah namun mengandung getaran yang sangat dahsyat.

(Tidak ada yang memiliki manusia kecuali Allah. Keluar sekarang, atau kamu akan terbakar karena cahaya ini!)

​.

​Arjuna kemudian menyentuh dahi pemuda tersebut dengan ujung telunjuknya yang baru saja digunakan untuk berdzikir. Seketika itu juga, kepulan asap hitam pekat keluar dari mulut pemuda itu disertai jeritan melengking yang menyakitkan telinga. Pemuda itu langsung lunglai dan jatuh pingsan di pangkuan ayahnya.

​.

​"Matur nuwun, Gus! Sampeyan niku pancen utusanipun Gusti Allah sing dikirim mriki," ucap sang ayah sambil menangis dan hendak mencium kaki Arjuna.

(Terima kasih, Gus! Anda itu memang utusan Allah yang dikirim ke sini.)

​.

​Arjuna segera menahan bahu pria itu dengan tangan gemetar karena ia merasa tidak pantas menerima penghormatan seperti itu. "Ampun ngoten Pak, kulo niki namung tiyang duso ingkang nembe pados ridhonipun Gusti. Niki sedoyo barokahipun Kanjeng Sunan Bonang," jawab Arjuna dengan sangat rendah hati.

(Jangan begitu Pak, saya ini hanya orang berdosa yang sedang mencari ridho Tuhan. Ini semua berkahnya Kanjeng Sunan Bonang.)

​.

​Sebelum orang-orang mulai berkerumun lebih banyak, Arjuna segera melangkah masuk ke dalam area cungkup makam yang sangat harum. Anehnya, meskipun peziarah sangat padat, jalan di depan Arjuna seolah-olah membuka dengan sendirinya tanpa ia perlu berdesakan.

​.

​Di depan pusara Sunan Bonang, Arjuna duduk bersimpuh. Ia merasakan getaran batin yang luar biasa, seolah-olah ia sedang mendengarkan alunan gamelan gaib yang membawakan lagu "Tombo Ati" langsung ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

​.

​"Arjuna... karomah iku dudu kanggo pamer kesaktian, nanging kanggo nuntun menungso supaya eling marang Sing Kuwasa," sebuah bisikan gaib terdengar jelas di telinganya, suara yang penuh dengan kelembutan namun sangat tegas.

(Arjuna... karomah itu bukan untuk pamer kesaktian, tapi untuk menuntun manusia supaya ingat kepada Yang Maha Kuasa.)

​.

​Arjuna menunduk takzim, air matanya menetes membasahi tasbihnya. Ia menyadari bahwa perjalanannya sebagai calon pemimpin Pondok Al-Hikam masih sangat jauh, dan ia harus terus membersihkan hatinya dari debu kesombongan yang sewaktu-waktu bisa muncul kembali.

​.

​Di luar ruangan, macan putih itu kembali terlihat merunduk di bawah pohon sawo kecik, matanya tetap waspada menjaga sang musafir yang sedang tenggelam dalam samudera makrifat di tengah malam yang sunyi.

​.

​"Kulo pasrahaken urip lan pati kulo dumateng Panjenengan, Gusti," bisik Arjuna sebelum ia tenggelam dalam sujud panjangnya yang penuh dengan rahasia ketuhanan.

(Saya pasrahkan hidup dan mati saya kepada Engkau, Tuhan.)

Malam semakin larut di pusara Sunan Bonang, namun Arjuna Wijaya masih terpaku dalam sujudnya. Tiba-tiba, aroma wangi melati yang tadi lembut berubah menjadi aroma kayu cendana yang sangat menyengat, memenuhi seluruh ruangan makam yang sunyi itu.

​.

​"Arjuna... tangio, Le. Perjalananmu isih adoh, ojo turu ing dhuwur kasur kamulyan," sebuah suara berwibawa kembali bergema di dalam batinnya.

(Arjuna... bangunlah, Nak. Perjalananmu masih jauh, jangan tidur di atas kasur kemuliaan.)

​.

​Arjuna tersentak dan mengangkat kepalanya. Di depannya, ia melihat bayangan samar seorang lelaki tua berjubah putih yang sedang memegang tasbih raksasa. Sosok itu tersenyum, lalu menunjuk ke arah pintu keluar makam yang mengarah ke arah barat, menuju jalanan gelap yang menuju ke arah Tuban pinggiran.

​.

​"Nyuwun pangapunten, Mbah... nopo kulo sampun angsal nglajengaken laku niki?" tanya Arjuna dengan suara yang sangat bergetar karena rasa hormat.

(Mohon maaf, Mbah... apakah saya sudah boleh melanjutkan perjalanan ini?)

​.

​Sosok itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan memberikan sebuah bungkusan kecil berisi nasi kuning yang masih hangat. "Pangano iki kanggo sangu. Yen kowe nemu wong sing luwih luwe, bagekno. Karomah iku dudu nggo kowe dewe, nanging nggo wong liyo," pesan sosok itu sebelum perlahan menghilang tertiup angin malam.

(Makanlah ini untuk bekal. Kalau kamu bertemu orang yang lebih lapar, bagikanlah. Karomah itu bukan untuk dirimu sendiri, tapi untuk orang lain.)

​.

​Arjuna segera merapikan ransel bututnya. Ia melangkah keluar dari cungkup makam dengan perasaan yang lebih mantap. Di pintu gerbang, para penjaga makam yang tadi tidak melihatnya, kini serentak berdiri dan menunduk hormat saat Arjuna lewat, seolah-olah mereka melihat seorang raja yang sedang menyamar.

​.

​"Matur nuwun, Gusti... sampun dipun paringi kekiyatan," gumam Arjuna sambil mulai berjalan menyusuri jalanan Tuban yang mulai sepi.

(Terima kasih, Tuhan... sudah diberi kekuatan.)

​.

​Saat ia sampai di pinggiran hutan jati yang gelap, Arjuna melihat seorang nenek tua yang sedang terduduk lemas di bawah lampu jalan yang remang-remang. Nenek itu nampak sangat kelaparan, persis seperti pesan yang ia terima di dalam makam tadi.

​.

​Tanpa ragu sedikit pun, Arjuna memberikan nasi kuning pemberian sosok gaib tadi kepada si nenek. Anehnya, saat nasi itu dimakan oleh si nenek, nasi yang tadinya hanya satu bungkus kecil itu tidak habis-habis meskipun sudah dimakan berkali-kali, bahkan bisa mengenyangkan beberapa musafir lain yang kebetulan lewat di sana.

​.

​"Sampeyan niku malaikat nggih, Nak?" tanya si nenek dengan mata berkaca-kaca.

(Anda itu malaikat ya, Nak?)

​.

​Arjuna hanya menggeleng sambil tersenyum tulus. "Kulo namung hamba Allah, Mbah. Monggo dipun telaske," jawabnya sambil kembali melangkah memasuki kegelapan hutan.

(Saya hanya hamba Allah, Mbah. Silakan dihabiskan.)

​.

​Di belakangnya, macan putih itu kembali menampakkan wujudnya, berjalan beriringan dengan Arjuna menuju arah Demak. Langkah Arjuna kini tidak lagi menyentuh tanah, ia seolah-olah melayang beberapa sentimeter di atas aspal, sebuah karomah thoyyul ardhi yang semakin sempurna karena ketulusan hatinya.

​.

​"Dalan iki isih dowo, nanging ridho-Mu sing dadi pepadhangku," batin Arjuna Wijaya dengan penuh keyakinan.

(Jalan ini masih panjang, tapi ridho-Mu yang menjadi penerangku.)

Arjuna Wijaya terus melangkah menembus kabut malam yang semakin tebal di perbatasan Tuban dan Rembang. Anehnya, meskipun ia berjalan di tengah hutan jati yang terkenal angker, tidak ada satu pun makhluk halus yang berani mendekat. Mereka semua menunduk di balik pepohonan, seolah-olah melihat pancaran nur (cahaya) yang sangat menyilaukan dari tubuh kusam Arjuna.

​.

​"Gusti... niki jati diri kulo ingkang sak tenane. Mboten mbeto bondo, mboten mbeto mulyo, namung mbeto iman wonten dodo," bisik Arjuna sambil menatap bintang-bintang yang seolah mengikuti langkah kakinya.

(Tuhan... ini jati diri saya yang sebenarnya. Tidak membawa harta, tidak membawa kemuliaan, hanya membawa iman di dalam dada.)

​.

​Tongkat kayu jatinya sesekali mengeluarkan percikan cahaya keemasan saat beradu dengan batu jalanan. Arjuna merasa setiap sel di tubuhnya bergetar mengikuti irama alam semesta. Ia tidak lagi merasakan lapar, haus, ataupun lelah. Jiwanya seolah-olah sudah lepas dari ikatan duniawi yang selama ini membelenggunya di Jakarta dan Sidoarjo.

​.

​Di sebuah tikungan jalan yang sangat sepi, Arjuna berhenti sejenak. Ia melihat bayangan macan putih pelindungnya berhenti dan menggeram rendah ke arah semak-semak gelap. Dari balik kegelapan itu, muncul sesosok pria tua berpakaian hitam dengan ikat kepala wulung yang nampak sangat berwibawa.

​.

​"Cukup semene anggonmu mlaku bengi iki, Arjuna. Atimu wis mulai bening koyo banyu sumber," ucap pria tua itu dengan suara yang merambat di udara seperti getaran lonceng.

(Cukup sampai di sini jalanmu malam ini, Arjuna. Hatimu sudah mulai bening seperti air sumber.)

​.

​Arjuna segera membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan. "Ngapunten Mbah, menawi kulo tasih kathah kirange. Kulo namung badhe sowan dumateng pesareanipun poro wali," jawab Arjuna dengan sangat tawadhu (rendah hati).

(Mohon maaf Mbah, jika saya masih banyak kurangnya. Saya hanya ingin berkunjung ke makam para wali.)

​.

​Pria tua itu tersenyum, lalu memberikan sebuah ikat kepala kain berwarna hijau lumut kepada Arjuna. "Gowo iki. Iki dudu jimat, nanging iki tondho yen kowe wis dadi bagean soko njogo bumi Jowo. Terusno lakumu menyang Kadilangu, Sunan Kalijaga wis nunggu sasmita kanggo kowe."

(Bawa ini. Ini bukan jimat, tapi ini tanda kalau kamu sudah jadi bagian dari penjaga bumi Jawa. Teruskan langkahmu ke Kadilangu, Sunan Kalijaga sudah menunggu isyarat untukmu.)

​.

​Begitu Arjuna menerima kain tersebut, pria tua itu lenyap seketika, berubah menjadi gumpalan kabut putih yang harum. Arjuna mencium kain itu, aroma wangi yang belum pernah ia temukan di parfum termahal manapun di dunia. Ia mengikatkan kain tersebut di kepalanya, menutupi rambutnya yang acak-acakan.

​.

​"Bismillah... dumateng Demak, kulo lajengaken," tegas Arjuna dengan mata yang berbinar penuh semangat spiritual.

(Bismillah... menuju Demak, saya lanjutkan.)

​.

​Arjuna kembali melangkah, dan kali ini setiap jejak kakinya di tanah meninggalkan bekas berupa tulisan asma Allah yang bercahaya sebelum akhirnya hilang perlahan. Babak baru di tanah Demak Bintoro telah menanti sang calon pemimpin besar Al-Hikam ini dengan rahasia yang lebih dalam lagi.

​.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!