NovelToon NovelToon
Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Diputusin Tunangan, Dilamar Aktor Tampan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Showbiz
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 – Naya

Bab 3 – Naya

Cincin kawin yang berhias sebuah batu permata itu berkilau terkena pantulan cahaya matahari sore hari yang menyelinap dari balik jendela kamarku. Setiap hari, setelah Alfian memutuskan pertunangan melalui WA, aku terus-terusan diteror untuk ketemuan dengannya. Dia minta aku mengembalikan cincin kawin yang diberikannya ketika lamaran.

Kerudung yang baru saja aku seterika, terbentang di atas kasur. Aku yang duduk di lantai dan bersandar di dinding, termenung melihat langit-langit kamar. Baru sadar kalau atap kamarku ternyata tinggi juga, ya.

Terdengar bunyi notifikasi pesan di ponselku.

Alfian   : Aku sudah di tempat.

Jam di ponsel masih menujukkan jam 4 sore. Padahal janjian jam 5. Halah! Lagi giliran minta dikembalikan cincinnya aja dateng on time! Kataku dalam hati sambil buru-buru menyeprotkan parfum ke kerudung, lalu memakainya dan mengikat ujung depannya ke belakang.

Sambil memesan ojol, aku keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Papa dan mamaku lagi ada di ruang tengah, menonton channel youtube tentang orang yang tinggal di desa. “Aku pergi dulu, Ma, Pa,” kataku sambil salim dengan mereka berdua.

“Kerja?” tanya papa.

“Masa hari minggu kerja!” sahut mama.

“Ya kan dia kalau kerja kadang weekend. Minggu kemaren, kerjanya weekend!” papa sudah tahu cara kerja aku, tentu saja lebih sering kerja ketika weekend, karena aku kerja di Wedding organizer.

“Iya, kan itu kalau ada pernikahan, kalau nggak, ya meeting hari biasa, iya kan?” tanya mamaku padaku. Mamaku lebih logis sih sebenernya. Lebih hafal apa yang aku kerjakan.

“Iya, betul,” kataku sambil memberikan jempol dan senyuman.

“Jadi sekarang mau ketemu siapa?” papaku bertanya dengan polos dan kepo.

“Ketemu Alfian?” mamaku lebih parah lagi, nanya tapi nggak mikirin perasaan orang lain, main tanya aja. Polos dan suka-suka.

“Iya,” aku memeluk erat tas selempangku yang berisi cincin kawin. Bener sih, aku emang janjian sama dia, tapi…

“Bahas gedung, baju, apa undangan?” tanya mamaku lebih ke sekalian menyuruh alias pasif agresif.

“Udah ya, ojolnya udah dateng!” kataku bergegas keluar dari rumah. Benar kok. Ojek sudah datang. Karena tahu bakal naik ojol – dan karena aku pengen bisa sembunyi juga, aku pergi memakai jumper berhoodie. Aku pasang hoodie di kepalaku, lalu memakai helm.

--

Kami janjian di sebuah kafe yang berada di kawasan Sudirman, di tengah-tengah gedung perkantoran. Kafe itu ada di sebuah area yang terdiri dari beberapa kafe, restoran, dan supermarket. Meski ramai, tapi tidak seramai hari kerja.

Di lorong, Devi bersandar ke dinding sambil menatap ponselnya. Aku mendekatinya diam-diam, lalu menepuknya, “Neng, sendirian aja!”

“Astagfirullah alazim!” Devi melompat kaget. “Elu mau ketemuan sama mantan, apa mau maling?” Devi melihatku masih memakai hoodie jumper hitamku.

“Ssst! Kan elu yang mau ketemuan,” aku mengeluarkan paper bag kecil berisi kotak cincin kawin, lalu aku berikan padanya. Devi adalah temanku sejak kecil. Meski beda kampus, tidak ada yang bisa menghalangiku menceritakan apapun padanya.

“Loh, kenapa gue?” Devi agak sedikit kaget. Aku memang minta dia menemaniku menemui Alfian, tapi aku berubah pikiran.

“Elu aja. Gue liat aja dari jauh. Gue takut kalau gue ketemu dia langsung, gue…,”

“Nangis?”

“Masih mending, kalau tiba-tiba gue mau nyiram dia pake kopi, gimana?”

Devi menghela napas, terpaksa mengambil paper bag kecil dari tanganku, “Terus nanti gue bilang apa?”

“Terserah.”

“Kok terserah?”

“Dep, gue tau elu temen gue yang paling super duper bijaksini!”

“Bijaksana!”

“Nah iya itu. Makanya gue minta tolong elu, bukan minta tolong Kak Risa. Kalau gue minta tolong Kak Risa, dia bukan cuma bakalan nyiram pake kopi. Mungkin juga udah…. heeeek!” kataku sambil membuat garis lurus di leher.

“Apa sih!” Devi cemberut, lalu berdiri tegak. “Ayo! Di mana kafenya? Katanya dia udah di sini?”

“Di kafe Bali, di pojokan sana kalau nggak salah.”

“Terus elu di mana?”

“Gue nunggu di sini aja,” kataku menunjuk kursi-kursi di tengah lorong terbuka yang dikelilingi oleh tenant makanan dan minuman.

“Ya udah! Jangan kabur!” Devi melotot kepadaku.

“Nggak. Udah cepet! Gue pengen cepet beres!”

Setelah Devi pergi, aku memesan minuman milk tea, lalu duduk di salah satu kursi paling pojok yang tidak terlalu kena sinar matahari sore. Tiba-tiba ada yang menepukku dari belakang. Aku menoleh ke arahnya, membuatku kesedek bola boba. Orang itu Bima!

“Eh, sori,” katanya mengeluarkan saputangan putih dan memberikannya untukku mengelap muncratan air dari mulutku.

Siaaal! Kenapa setiap ketemu orang ini, aku kaya orang bloon, sih!

Aku mengelap mulutku sambil berusaha menenangkan tanganku yang bergetar karena deg-degan. Saputangan ini wangi sekali.

“Kamu yang panitia di pernikahannya Nanda minggu kemarin kan?” tanya Bima duduk di sebelahku.

Aku cuma bisa mengangguk pelan. Astagfirullah alazim! Ya Allah, ini orang wangi banget. Bersih banget kulitnya. Tangannya mulus banget, beda sama tanganku yang buluan. Aku langsung berusaha memastikan jumper lengan panjangku menutupi tanganku.

“Aku Bima,” katanya mengulurkan tangan.

Semua orang tahu lah, kamu Bima! Aku menatap tangannya, lalu menatap matanya. Tidak percaya Bima mau kenalan denganku.

“Nama kamu siapa?” tanya Bima sambil masih mengulurkan tangannya.

“Aku…nanya?”

“Hah?”

“Naya!” aku menyalami tangannya dengan cepat. Aku nggak mau dia tahu tanganku kasar gara-gara sering kapalan karena sering cuci piring.

“Oh, Naya,” katanya tersenyum. Bima mengeluarkan ponselnya, “Boleh minta nomor teleponnya?” Dia menyodorkan ponselnya kepadaku.

Tanpa bicara, aku memasukkan nomorku di ponselnya.

“Makasih,” katanya sambil tersenyum.

Ya Allah, senyumnya. Bener-bener lebih ganteng aselinya dari pada di film-film!

“Aku ada urusan, nanti aku WA boleh ya?” katanya sambil berdiri. Kali ini dia memakai celana jins biru dan kaus putih. Yap. Cuma pakai kaos begitu aja, tapi aura orang kayanya memancar keluar sekali.

Aku mengangguk pelan.

“Bye!” katanya sambil melambaikan tangan lalu melangkah pergi.

Aku menundukkan kepala di meja. Apa yang barusan terjadi? Halu? Mimpi?

Tiba-tiba ada orang yang menepuk pundakku. Aku berpaling, mengira Bima kembali, “Bima?”

Devi melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Dia berkata heran, “Bima ape?”

“Kirain Bima.”

“Bima siapa?” kata Devi duduk di sebelahku.

“Tadi ada Bima.”

“Iya, Bima siapa, Nayaa Suraya maraya baraya!” Devi terdengar kesal alias penasaran.

“Bima Dewantara. Tadi dia minta nomor telepon gue!”

“Oh, iya! Tadi dia juga ketemu gue di sana, minta foto sama gue. Gue bilang, sori, gue nggak boleh foto sembarangan!” Devi mengejekku.

“Auah! Beneran kok, tadi dia ke sini, minta nomor telepon gue! Gue kan minggu kemaren ketemuan juga sama dia di nikahannya klien gue!”

“Ya udah, iya. Terserah.” Devi pura-pura batuk, “Halu.”

“Ya udah lah kalau nggak percaya,” kataku manyun. “Gimana si kampret itu?”

“Nggak gimana-gimana. Dia cuma makasih udah dikembaliin, terus titip salam, sori katanya.”

“Cih! Sori. Huek!” aku membuat gestur pengen muntah.

“Sabar ya,” Devi mengusap pundakku, “Kita karaoke aja yuk?”

“Ayooo!”

Setelah dua jam karaoke melepaskan semua kekesalan atas masalah batal nikah. Dari mulai Karma-Cokelat, sampai Mati Lampu – Nazar, semua aku nyanyikan sambil teriak. Akhirnya aku pulang ke rumah, dengan kembali menghadapi pertanyaan papa dan mama.

“Jadinya mau di gedung apa? Pakai adat sunda, kan?”

“Naya, kamu kan nikah enam bulan lagi, loh!”

Tanpa jawaban, aku langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur dan menjatuhkan tas selempangku di lantai. Semua barang keluar dari dalam tas. Aku kemudian sadar dan bangkit dari kasur. Saputangan Bima ada di antara barang yang keluar dari tas. Aku ambil saputangan yang masih wangi itu, lalu teriak, “AKU NGGAK HALU!”

1
Q. Adisti
menyala bimaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!