NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: KEBANGKITAN SANG MUTIARA

​Pagi di Singapura biasanya disambut dengan kesibukan yang teratur, namun bagi penghuni penthouse "The Ark", udara pagi itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Di dalam kamar utama yang menghadap langsung ke arah patung Merlion yang menyemburkan air di kejauhan, Aaliyah Humaira berdiri mematung di depan cermin besar. Ia mengenakan gamis sutra berwarna biru gelap yang elegan, pemberian Zayn, dengan niqab baru bersulam benang perak yang sangat indah.

​Tangannya yang ramping gemetar saat ia merapikan helai kain di wajahnya. Cermin itu memantulkan sepasang mata yang indah, namun menyimpan duka yang sangat dalam.

​(Batin Aaliyah: Ya Allah... hari ini adalah harinya. Hari di mana hamba harus mengumumkan kepada dunia bahwa hamba masih bernapas. Dunia yang beberapa hari lalu mencaci hamba, dunia yang percaya bahwa hamba telah mati dalam kehinaan. Apakah hamba sanggup menatap lensa kamera itu? Apakah hamba sanggup mendengar bisikan-bisikan orang yang akan kembali menghakimi masa lalu hamba? Zayn bilang dia akan menjagaku, tapi mengapa ketakutan ini masih mencekik leherku? Ayah... andai engkau bisa melihat ini. Putri kecilmu sedang berusaha menjemput kembali mahkota kehormatanmu yang mereka rampas.)

​Aaliyah memejamkan matanya, menghirup napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang lembut terdengar. Pintu terbuka perlahan, dan Zayn Al-Fatih melangkah masuk. Pria itu tampak sangat luar biasa pagi ini. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna hitam pekat dengan kemeja putih bersih dan dasi senada. Rambutnya disisir ke belakang dengan sangat rapi, memberikan kesan seorang pemimpin yang tak tergoyahkan.

​Zayn berhenti beberapa langkah di belakang Aaliyah, menatap bayangan wanita itu di cermin. Tatapannya yang dulu penuh kebencian, kini telah sepenuhnya berubah menjadi tatapan penuh kekaguman dan proteksi yang sangat kuat.

​(Zayn membatin: Lihatlah dia... meskipun wajahnya tertutup kain, aura kemuliaannya memancar begitu kuat hingga menyilaukan mataku. Aaliyah... kau tampak seperti mutiara yang baru saja diangkat dari dasar samudera yang paling dalam. Maafkan aku jika aku harus membawamu kembali ke pusat badai ini. Aku tahu kau takut, aku bisa melihat getaran di jemarimu. Tapi percayalah, perisai yang kubangun tidak akan membiarkan satu peluru fitnah pun menyentuh kulitmu hari ini. Aku akan menunjukkan pada dunia bahwa siapa pun yang berani menyentuhmu, mereka sedang mengundang kehancuran bagi diri mereka sendiri.)

​"Mobil sudah menunggu di bawah, Aaliyah," ucap Zayn, suaranya berat dan menenangkan, memberikan efek magnetis yang seketika meredakan sedikit kegelisahan Aaliyah.

​Aaliyah berbalik, menunduk sedikit. "Apakah... apakah saya harus melakukannya, Zayn? Bolehkah saya tetap menjadi Maryam saja?"

​Zayn melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh bahu Aaliyah, namun ia menahannya dengan sopan. "Maryam adalah topeng untuk perlindunganmu, Aaliyah. Tapi dunia butuh melihat cahaya Aaliyah untuk membakar habis kegelapan fitnah itu. Jika kau tetap menjadi Maryam, maka Baskoro dan Sabrina akan tetap menang. Kau ingin melihat mereka membangun kasino di atas tanah ayahmu?"

​Mendengar kata "kasino", mata Aaliyah seketika berkilat penuh determinasi. Ketakutannya mendadak menguap, digantikan oleh semangat perlawanan yang membara.

​"Tidak. Saya tidak akan membiarkannya," jawab Aaliyah mantap.

​"Bagus. Itu baru partner-ku," Zayn tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa sangat hangat bagi Aaliyah. "Ayo. Para jurnalis internasional sudah berkumpul di The Fullerton. Kita akan membuat sejarah hari ini."

​The Fullerton Hotel, Singapura - 10:00 AM

​Ruangan ballroom hotel mewah itu dipenuhi oleh kilatan lampu kamera dari ratusan jurnalis berbagai negara. Berita tentang konferensi pers mendadak dari CEO Al-Ghifari Group, Zayn Al-Fatih, telah menjadi magnet luar biasa. Apalagi beredar rumor bahwa ini berkaitan dengan skandal Yayasan Al-Azhar yang sempat viral di Indonesia.

​Zayn melangkah masuk ke ruangan dengan langkah yang sangat berwibawa, diikuti oleh Aaliyah yang berjalan dengan tenang di sampingnya. Begitu mereka muncul, suara jepretan kamera terdengar seperti rentetan senjata mesin. Bisikan-bisikan mulai memenuhi ruangan.

​"Siapa wanita bercadar itu?" "Apakah itu Maryam pelayannya?" "Ataukah itu..."

​Zayn duduk di depan mikrofon, wajahnya dingin dan tanpa ekspresi, khas seorang The Cold Lion. Aaliyah duduk di sampingnya, kedua tangannya terlipat rapi di atas meja.

​"Selamat pagi rekan-rekan media," suara Zayn menggema dengan otoritas penuh. "Saya berdiri di sini hari ini bukan hanya sebagai CEO Al-Ghifari Group, tapi sebagai seorang pria yang telah menyaksikan salah satu kejahatan kemanusiaan dan siber paling keji di abad ini. Selama beberapa minggu terakhir, masyarakat Indonesia dan dunia telah disuguhi narasi bohong tentang seorang wanita bernama Aaliyah Humaira."

​Zayn melirik ke arah kamera utama yang sedang menyiarkan acara itu secara langsung ke seluruh stasiun televisi di Indonesia.

​"Banyak yang mengatakan dia adalah seorang pezina. Banyak yang mengatakan dia telah meninggal dunia karena bunuh diri dalam kehinaan. Namun, hari ini, saya membawa bukti otentik bahwa semua itu adalah fabrikasi digital yang dirancang untuk merampas aset sebuah yayasan suci."

​Zayn memberikan isyarat pada asistennya. Sebuah layar raksasa di belakang mereka menyala, menampilkan video teknis yang menunjukkan bagaimana foto-foto fitnah itu dibuat menggunakan teknologi Deepfake tingkat tinggi. Layar itu juga menampilkan aliran dana suap dari rekening Baskoro Group ke berbagai pihak.

​Ruangan itu seketika riuh. Para jurnalis mulai berebut melontarkan pertanyaan.

​"Lalu di mana Aaliyah Humaira sekarang, Tuan Zayn?!" teriak salah satu jurnalis.

​Zayn menoleh ke arah Aaliyah. Aaliyah menarik napas panjang, lalu ia berdiri. Suasana mendadak hening.

​"Saya... adalah Aaliyah Humaira," suara Aaliyah keluar lembut namun sangat jelas melalui mikrofon. "Saya tidak mati. Dan saya tidak pernah melakukan apa yang mereka tuduhkan."

​Jakarta - Di Saat yang Sama

​Di dalam rumah mewahnya, Sabrina sedang duduk di depan televisi dengan segelas sampanye di tangan, bersiap merayakan pengumuman merger perusahaannya. Namun, saat melihat siaran langsung dari Singapura, gelas di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping.

​Wajah Sabrina memucat pasi, bibirnya bergetar hebat.

​"T-tidak... tidak mungkin! Itu tidak mungkin dia!" Sabrina berteriak histeris, menunjuk ke arah layar televisi yang menampilkan Aaliyah. "Dia sudah mati! Rian bilang dia sudah tenggelam! Papa! Papa, lihat ini!"

​Tuan Baskoro masuk ke ruangan dengan wajah yang jauh lebih pucat dari putrinya. Ia menjatuhkan ponselnya ke lantai. "Sabrina... kita tamat. Saham kita di bursa Singapura baru saja dihentikan perdagangannya. Jaksa Singapura baru saja mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional untuk kita atas tuduhan kejahatan siber dan penipuan."

​(Sabrina membatin: Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku adalah Sabrina Baskoro! Aku tidak mungkin kalah oleh pelayan ninja itu! Zayn... kenapa kamu mengkhianatiku sejauh ini? Kenapa kamu malah melindunginya?! Ya Tuhan... jika polisi datang, aku akan membusuk di penjara! Aku harus lari! Aku harus lari sekarang juga!)

​Sabrina berlari menuju kamarnya, mencoba mengambil koper, namun langkahnya terhenti saat ia melihat melalui jendela. Tiga mobil polisi Jakarta sudah berhenti di depan gerbang rumahnya. Sirine mereka terdengar seperti lonceng kematian bagi Sabrina.

​Kembali ke Singapura

​Konferensi pers masih berlangsung dengan panas. Aaliyah kini sedang menjelaskan secara teknis bagaimana ia meretas kembali sistem yang menjebaknya—tanpa mengungkap identitasnya sebagai H_Zero secara gamblang.

​"Kebenaran adalah seperti air. Anda bisa membendungnya, Anda bisa mengotorinya, tapi Anda tidak bisa menghentikannya untuk mengalir," ucap Aaliyah dengan penuh wibawa.

​Seorang jurnalis bertanya, "Nona Aaliyah, apa yang akan Anda lakukan sekarang setelah dunia tahu Anda masih hidup?"

​Aaliyah menoleh ke arah Zayn sejenak, dan Zayn memberikan anggukan kecil penuh dukungan.

​"Saya akan pulang," jawab Aaliyah mantap. "Saya akan pulang ke pesantren ayah saya. Saya akan membersihkan debu-debu fitnah dari tembok-temboknya. Dan saya akan memastikan bahwa tidak ada lagi wanita yang dihancurkan hidupnya oleh kebohongan digital seperti saya."

​Zayn kemudian mengambil alih mikrofon. "Dan sebagai tambahan informasi, Al-Ghifari Group telah mengakuisisi seluruh kewajiban utang Yayasan Al-Azhar. Mulai hari ini, yayasan tersebut berada di bawah perlindungan hukum kami. Siapa pun yang mencoba mengusik tanah tersebut, mereka akan berhadapan dengan seluruh kekuatan hukum Al-Ghifari."

​(Zayn membatin: Akhirnya... aku mengucapkannya. Aku telah menebus dosaku padamu, Aaliyah. Lihatlah wajahmu di layar itu... kau tampak begitu mulia. Aku tahu, setelah ini perjuangan kita masih panjang. Baskoro akan melawan dengan segala cara. Tapi selama kau ada di sampingku, aku merasa sanggup menghadapi pasukan manapun. Aku mencintaimu, Aaliyah... meskipun lidahku masih terlalu kaku untuk mengatakannya di depan dunia.)

​Konferensi pers berakhir dengan tepuk tangan meriah dari para jurnalis yang kagum dengan keberanian mereka. Saat mereka berjalan keluar dari ruangan melalui jalur khusus, Zayn menarik Aaliyah ke sebuah sudut yang sepi.

​Zayn menatap Aaliyah dengan sangat dalam. "Kau melakukannya dengan luar biasa, Aaliyah. Aku bangga padamu."

​Aaliyah menundukkan kepalanya, air mata syukur menetes di balik niqabnya. "Ini semua berkat bantuan Anda, Zayn. Jika bukan karena sapu tangan yang Anda berikan semalam... saya mungkin sudah menyerah."

​Zayn meraih tangan Aaliyah, menggenggamnya dengan sangat lembut. "Sapu tangan itu hanya kain, Aaliyah. Kekuatan itu ada di dalam hatimu. Dan sekarang, dunia tahu siapa mutiara yang sebenarnya."

​Tiba-tiba, ponsel Zayn bergetar. Sebuah pesan masuk dari tim keamanannya di Jakarta. “Sabrina dan Baskoro sudah diamankan kepolisian. Rian mencoba melarikan diri namun tertangkap di bandara.”

​Zayn menunjukkan pesan itu pada Aaliyah. Aaliyah terduduk lemas di sofa, sujud syukur secara spontan di atas lantai hotel tersebut.

​(Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... keadilan-Mu nyata! Ayah... bangunlah... namamu sudah bersih. Pesantren kita selamat. Terima kasih telah mengirimkan Zayn ke dalam hidup hamba. Meskipun pertemuan kami diawali dengan badai, namun Engkau menjadikannya pelangi di akhir cerita ini.)

​Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah bayangan hitam masih mengintai. Di sebuah ruangan gelap di pinggiran Jakarta, seseorang yang merupakan "atasan" asli Baskoro sedang menatap layar televisi dengan penuh dendam.

​"Kalian pikir ini sudah selesai?" gumam pria misterius itu sembari mematikan cerutunya di atas foto Zayn dan Aaliyah. "Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

​Sinetron kehidupan ini belum berakhir. Kemenangan di Singapura hanyalah bab pembuka untuk perang yang lebih besar di tanah air.

1
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!