Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Takhta di Atas Tulang
Jika Benua Tengah adalah jantung dari dunia, maka wilayah **Lembah Pedang Suci** yang dikuasai oleh keturunan **Lin Xia** kini telah berubah menjadi lubang hitam yang menghisap cahaya kehidupan. Di sini, filosofi kultivasi tidak lagi tentang harmoni dengan alam, melainkan penaklukan paksa terhadap takdir.
Di puncak Menara Pedang Hitam, aula utama tidak lagi diterangi oleh lampion sutra, melainkan oleh kobaran **Api Iblis Ungu** yang menempel di dinding tulang. Di tengah aula, sebuah kolam besar berisi cairan merah pekat bergejolak. Ini bukanlah air biasa, melainkan esensi darah dari ribuan kultivator klan cabang yang dikumpulkan selama berbulan-bulan.
**Wang Zhun**, pemimpin Klan Wang-Xia, berdiri di tepi kolam dengan wajah yang memancarkan kegilaan religius. Di sampingnya, **Wang Ruo** berdiri dengan pedang hitamnya yang terus berdenyut, seolah-olah senjata itu memiliki jantung yang berdetak.
"Ayah, pengorbanan hari ini telah mencapai batas minimal," ucap Wang Ruo datar. Matanya kini sepenuhnya merah, tanda bahwa ia telah menelan terlalu banyak jiwa melalui pedangnya. "Gura telah tewas. Si sampah Wang Jian itu menggunakan teknik yang merusak hukum ruang. Haruskah aku turun tangan secara pribadi?"
Wang Zhun tertawa, suara tawa yang terdengar seperti logam yang berkarat. "Gura hanyalah bidak yang bisa diganti, anakku. Biarkan Wang Jian merasa kuat untuk sementara. Semakin tinggi ia terbang, semakin manis rasa darahnya saat kita menjatuhkannya ke dalam kolam ini. Sekarang, fokuslah pada kebangkitan agung."
### **Wasiat Terlarang Lin Xia**
Tiba-tiba, cairan di dalam kolam darah mulai membentuk pusaran. Sebuah bayangan wanita cantik namun mengerikan mulai termanifestasi di atas permukaan cairan. Itu adalah sisa jiwa **Lin Xia**, Istri Keempat Wang Tian yang legendaris.
Dalam legenda umum, Lin Xia digambarkan sebagai sosok rubah yang menjadi manusia karena cinta. Namun, sejarah yang ditulis oleh klan ini berbeda. Lin Xia tidak pernah mencintai Wang Tian; ia mendambakan kekuatannya. Baginya, menjadi istri keempat adalah penghinaan posisi, sebuah tempat di bawah kaki Lin Xuelan (Istri ke-1) dan Sui Ren (Istri ke-2).
*"Keturunanku..."* suara Lin Xia bergema langsung di dalam jiwa setiap orang di dalam ruangan. *"Ribuan tahun aku mendekam dalam kehampaan, menonton Wang Tian memuja 'Keseimbangan' yang membosankan itu. Keseimbangan adalah rantai bagi mereka yang lemah. Kekuatan adalah satu-satunya kebenaran."*
Wang Zhun berlutut dengan khidmat. "Ibunda Agung, kami telah menyiapkan wadah untuk kebangkitanmu. Seluruh klan Wang-Xia telah bersumpah untuk menjadikan dunia ini sebagai ladang perburuanmu."
Lin Xia menatap Wang Ruo, pangeran iblis klan tersebut. *"Kau memiliki aura yang mirip dengannya, tapi lebih tajam. Bagus. Untuk membangkitkan tubuh Primordial-ku sepenuhnya, aku tidak hanya butuh darah. Aku butuh **Hati dari Garis Keturunan Angin** dan **Jiwa dari Garis Keturunan Samudra**."*
Wang Ruo menyeringai lebar. "Wang Jian dan Wang Meili. Kebetulan sekali, mereka sedang menuju ke arah kita seperti laron yang mendekati api."
### **Sistem Kultivasi Iblis: Teknik Pemutus Takdir**
Klan Wang-Xia tidak lagi mengikuti 17 Ranah Kultivasi dengan cara yang benar. Mereka menemukan jalan pintas yang mengerikan yang mereka sebut **"Kultivasi Pembalikan Sembilan Langit"**.
Di bawah instruksi bayangan Lin Xia, Wang Ruo melompat ke tengah kolam darah. Ia tidak tenggelam. Sebaliknya, ribuan benang darah mulai merambat masuk ke pori-porinya. Ini adalah proses **Ranah Kristalisasi Inti** yang dipaksakan.
Bukannya membentuk kristal yang jernih, Dantian Wang Ruo mulai membentuk sebuah **Inti Hitam Bergerigi**.
"Bintang 1... Bintang 4... Bintang 9!"
Energi Ruo meledak. Tekanan mental (Aura Raja) mulai terpancar darinya, padahal ia belum mencapai Ranah Raja Dewa. Ini adalah anomali. Dengan bantuan darah leluhur dan pengorbanan nyawa manusia, ia melompati batasan logika kultivasi.
"Rasakan ini!" Ruo mengayunkan tangannya. Sebuah gelombang energi hitam memotong menara itu menjadi dua, namun menara itu tetap berdiri karena ditahan oleh sihir hitam. "Dengan kekuatan ini, bahkan ahli **Ranah Nascent Soul** dari Fase Langit pun akan gemetar di hadapanku!"
### **Misi Pertama: Pembersihan Garis Keturunan**
Lin Xia memerintahkan Wang Zhun untuk mengirimkan pasukan **"Mayat Pedang"**. Mereka adalah para pendekar yang telah mati namun dimumikan dan diisi dengan energi pedang haus darah.
"Pergilah ke Benua Tengah," perintah Lin Xia. "Hancurkan setiap kuil yang memuja Wang Tian. Ganti semua patungnya dengan sosokku. Siapa pun yang menolak, jadikan mereka bahan bakar untuk menara ini. Aku ingin Wang Tian melihat dari dimensinya yang sunyi, bagaimana dunia yang ia bangun dihancurkan oleh keturunannya sendiri."
Di bawah langit yang semakin gelap, ribuan Mayat Pedang mulai berbaris keluar dari Lembah Pedang Suci. Mereka tidak butuh makan, tidak butuh tidur, dan tidak memiliki rasa takut. Setiap pedang yang mereka bawa telah diolesi dengan racun yang mampu membekukan Qi musuh dalam satu goresan.
Wang Ruo memimpin di depan, terbang di atas awan hitam dengan Pedang Pemakan Surga yang kini bersinar ungu pekat. Target pertamanya bukan lagi Wang Jian, melainkan kota-kota besar yang selama ini menjadi pusat perdagangan klan-klan lain.
"Dunia akan belajar," bisik Ruo sambil menatap cakrawala, "bahwa angin bisa dihentikan, air bisa dikeringkan, dan bayangan bisa diterangi. Tapi pedang... pedang akan selalu menyisakan luka."
### **Kondisi Antagonis (Bab 34):**
* **Pemimpin:** Wang Zhun (Ranah Nascent Soul Bintang 3).
* **Champion:** Wang Ruo (Ranah Kristalisasi Inti Bintang 9 - Kekuatan tempur setara Ranah Nascent Soul Bintang 1).
* **Entitas Penggerak:** Jiwa Lin Xia (Setengah Bangkit).
* **Pasukan:** 10.000 Mayat Pedang (Setara Ranah Penguatan Tulang hingga Pemurnian Qi).
**Fokus cerita kini bergeser pada agresi gila-gilaan klan Istri Keempat. Bagaimana nasib kota-kota di Benua Tengah saat badai pedang hitam ini tiba? Dan seberapa jauh Wang Ruo akan melangkah untuk memuaskan rasa haus darah nenek moyangnya?**
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah