Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Udara di koridor asrama lantai tiga terasa membeku saat Kensington berjalan berdampingan dengan Audrey.
Audrey melangkah dengan punggung tegak yang dipaksakan, meski setiap sendinya terasa ngilu dan langkahnya sedikit goyah. Ia tidak ingin menunjukkan kerapuhan sedikit pun di hadapan pria yang baru saja meruntuhkan dunianya dalam satu malam.
Kensington, di sisi lain, berjalan dengan ketenangan seorang raja yang baru saja mengamankan wilayah kekuasaannya. Wajahnya datar, tangannya disaku celana, seolah-olah mengantar gadis yang baru saja ia "ambil" kesuciannya adalah rutinitas pagi yang biasa.
Tepat di depan pintu kamar 302, Audrey berhenti. Ia tidak menoleh. Ia tidak ingin melihat mata perak itu lagi.
"Masuklah," ucap Kensington rendah. "Istirahat. Aku akan menghubungimu nanti sore."
Audrey hanya mendengus sinis tanpa suara, lalu membuka pintu kamar dengan kasar.
Di dalam, Vivian sedang duduk di tepi ranjangnya, memegang secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya langsung tertuju pada Audrey—melihat kemeja yang sedikit berantakan, mata sembab, dan aura kelelahan yang luar biasa. Kemudian matanya beralih pada Kensington yang berdiri di ambang pintu.
Vivian telah mengenal Kensington selama bertahun-tahun. Ia tahu setiap inci kebusukan dan kebangsawanan pria itu. Ia tahu Ken tidak pernah serius, tidak pernah mengizinkan wanita mana pun masuk ke ruang pribadinya. Namun, melihat pemandangan ini, Vivian merasakan firasat buruk yang merayap di tengkuknya.
Audrey langsung menuju ranjangnya tanpa menyapa, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia ingin menghilang.
Kensington hendak berbalik, namun Vivian berdiri. "Ken, bisa kita bicara sebentar?"
Kensington mengangguk pelan, melangkah mundur ke koridor sepi. Vivian menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu menarik lengan jaket Kensington dengan paksa.
"Apa ini, Ken? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Vivian dengan suara tertahan, matanya berkilat penuh tuntutan.
Kensington menatap tangan Vivian di lengannya, lalu kembali menatap mata sahabatnya. "Seperti yang kau lihat, Vi. Kami menghabiskan malam bersama. Aku menjemputnya, dan sekarang aku mengantarnya pulang."
"Jangan beri aku jawaban sampah itu!" desis Vivian. "Kau tahu Audrey bukan salah satu dari gadis-gadis fakultas seni yang bisa kau bayar dengan tas desainer setelah kau bosan berkencan. Dia berbeda. Dan kau... kau tidak pernah serius. Kenapa harus dia?"
Kensington mendesah, menyandarkan punggungnya di dinding koridor. "Sayangnya, dia menuntut kata cinta dariku pagi ini, Vi. Dan aku tidak mungkin memberikan kebodohan itu. Kau tahu prinsipku. Aku tidak percaya pada narasi konyol itu." Ia menjeda, bibirnya membentuk seringai tipis yang pahit. "Lagipula, dia juga pasti masih mencintai Sander. Tidak mungkin hanya dalam sebulan, karena sebuah pengkhianatan, dia langsung melupakan bocah SMA itu. Aku hanya memberinya realitas yang lebih masuk akal."
"Jangan main-main dengannya, Ken," Vivian memperingatkan, jarinya menunjuk tepat ke dada Kensington. "Dia temanku. Temanku berarti temanmu juga. Jika kau hanya ingin memenangkan taruhan gila dari Marco, kau benar-benar bajingan."
"Tidak," Kensington menepis tangan Vivian dengan lembut namun tegas. "Aku benar-benar serius padanya. Aku ingin dia di sampingku. Aku tidak berniat mempermainkannya. Kau tahu perbedaan besar itu, Vi. Jika aku mempermainkannya, aku tidak akan membawanya ke apartemen pribadiku. Aku tidak akan membawanya ke Ranjang ku, Aku serius ingin memilikinya."
Vivian hanya bisa terdiam, menatap punggung Kensington yang mulai menjauh. Ia tahu "serius" versi Kensington adalah jenis obsesi yang lebih berbahaya daripada sekadar main-main. Serius bagi Ken berarti kepemilikan tanpa melibatkan hati. Dan bagi gadis seperti Audrey, itu adalah hukuman seumur hidup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kensington keluar dari gedung asrama, namun ia tidak menuju penthouse-nya. Ia masuk ke dalam mobilnya, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Ada satu masalah besar yang harus ia selesaikan. Masalah yang telah meracuni malamnya dan merusak rencana indahnya.
Mobilnya melesat meninggalkan pusat kota, menuju sebuah kawasan industri tua yang terbengkalai di pinggiran Los Angeles. Bangunan-bangunan gudang tua di sana berdiri seperti nisan raksasa di bawah langit mendung.
Di dalam sebuah gedung tua yang lembap dan berbau karat, Bianca terduduk di lantai yang kotor. Penampilannya hancur. Maskaranya luntur membentuk garis-garis hitam di pipinya, rambutnya yang merah acak-acakan, dan napasnya tersengal oleh isak tangis yang tak kunjung usai.
Di sekelilingnya, beberapa pria suruhan Kensington berdiri berjaga dengan wajah tanpa ekspresi.
Suara langkah kaki Kensington menggema di ruangan luas itu. Bianca mendongak, matanya yang merah menatap Ken dengan kebencian dan cinta yang bercampur menjadi racun.
"Kau benar-benar brengsek, Ken!" teriak Bianca, suaranya serak dan pecah. "Kau melakukan ini padaku?! Setelah semua yang kuberikan padamu?!"
Kensington berdiri di depannya, menatap Bianca dari ketinggian seolah wanita itu hanyalah serangga yang mengganggu.
"Aku? Brengsek?" Ken terkekeh pelan. "Tidak sama sekali, Bianca. Aku masih memperlakukanmu dengan sangat baik. Lihat... kau masih bisa bernapas. Kau masih punya lidah untuk memakiku. Kurang baik apa aku padamu, hm?"
"Mereka menyentuhku sejak tadi! Mereka memperlakukanku seperti sampah!" Bianca meratap, menunjuk para pria penjaga. "Itu menjijikkan, Ken! Aku melakukan itu semalam karena aku mencintaimu! Aku ingin kau sadar bahwa gadis suci itu tidak pantas untukmu! Kenapa kau tidak pernah bisa melihat cintaku?"
Kensington berjongkok di depan Bianca, menjambak sedikit rambut merahnya agar wanita itu menatap matanya. Wajah Ken tidak menunjukkan amarah, hanya kekosongan yang mengerikan.
"Sudah kukatakan padamu dari awal, Bianca... cinta itu pembodohan. Itu adalah rantai yang kau buat sendiri untuk menjerat lehermu," ucap Kensington dengan suara yang sangat lembut namun tajam. "Lihat dirimu sekarang? Kau begitu bodoh. Kau mengorbankan dirimu, martabatmu, dan harga dirimu demi sesuatu yang bahkan tidak ada dalam kamusku."
"Kau jahat, Ken..."
"Bukan aku yang jahat. Harapanmu yang jahat," lanjut Kensington. "Kau pikir dengan memberiku obat itu, aku akan membenci Audrey? Tidak. Kau justru memberiku kunci untuk membuka gerbang yang selama ini tertutup. Kau membantuku memenangkan taruhanku, dan kau pikir aku akan berterima kasih dengan cara mencintaimu? Itu pengorbanan paling sia-sia yang pernah kulihat."
Kensington berdiri, membersihkan debu di celananya. "Luka yang kau rasakan sekarang adalah hasil dari egomu sendiri. Kau ingin bermain api denganku, tapi kau lupa bahwa aku adalah apinya. Mulai hari ini, jangan pernah muncul lagi di hadapanku atau Audrey. Jika kau menyentuhnya lagi, bahkan dengan bayanganmu sekalipun... aku akan memastikan kau merindukan rasa sakit yang kau rasakan hari ini."
Kensington berjalan pergi tanpa menoleh lagi ke arah Bianca yang menjerit histeris di belakangnya. Baginya, Bianca adalah bab yang sudah tamat. Ia sudah membereskan masa lalunya yang mengganggu.
Namun, saat ia masuk kembali ke dalam mobilnya, bayangan tamparan Audrey pagi tadi kembali muncul. Kensington menatap telapak tangannya. Ia telah memenangkan segalanya—ia memiliki Audrey, ia telah menyingkirkan Bianca, dan ia tetap memegang prinsipnya untuk tidak jatuh cinta.
Tapi kenapa di tengah kemenangan telak ini, ia merasa seperti sedang membaca sebuah novel tragedi di mana sang pahlawan memenangkan perang, namun kehilangan satu-satunya alasan mengapa perang itu harus dimenangkan?
"Cinta itu pembodohan," bisik Kensington pada dirinya sendiri, sebuah mantra untuk menenangkan badai di dalam dadanya. "Dan aku... aku terlalu pintar untuk menjadi bodoh."
Ego Kensington telah menang, namun ia belum sadar bahwa di kamar asrama yang sepi, Audrey sedang menyusun kepingan-kepingan kehancurannya untuk menjadi senjata yang akan meruntuhkan singgasana pria itu suatu hari nanti.
Permainan yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang meniduri siapa, tapi tentang siapa yang akan hancur paling terakhir.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭