Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU
ANDRA
Hatiku yang sedang kesal dengan ulah Resti bertambah parah mendengar ucapan bi Cicah. Kalau dokter Reiga memeriksa Affan, artinya ia masuk rumah dan bertemu Armila.
"Sampai jam berapa dokter Reiga di rumah? Periksanya di mana?"
Bi Cicah mengerenyitkan dahi sambil menatap lekat padaku. Pasti perempuan itu kaget atas pertanyaan spontan ini.
"Sampai dek Affan tidur, periksanya di ruang depan, Pak. Ibu Armila gak kayak Bu Resti, beliau sangat menjaga kehormatan. Saya saksinya!"
Setelah bicara begitu bi Cicah pergi. Sekilas kulihat bibirnya cemberut, matapun tajam. Ia pasti tersinggung sebab majikannya dicurigai. Sebegitu dekatnya mereka sampai berani bicara begitu padaku.
Aku yakin bi Cicah pasti tak suka pada Resti. Itu karena solidaritas sesama wanita pada Armila. Juga saking dekatnya mereka, bukan seperti pembantu dan majikan, tapi ibarat ibu yang sayang pada anaknya.
Kuhela napas agar tak tersulut emosi.
Sementara simpan dulu urusan cemburu pada dokter Reiga. Sekarang aku harus fokus pada klarifikasi kenapa tak datang saat Affan sakit.
Hati-hati kudekati Armila yang sedang menggendong putranya. Setelah mengecup keduanya, aku menggendong Affan
"Maafkan papa, ya gak datang pas kamu sakit. Papa gak tahu. Kabar dari bi Cicah gak sampai."
Aku bicara pada Armila tapi seolah sedang bicara pada Affan. Aku tak berani bicara langsung sebab takut makin marah. Lagipula pasti tak direspon.
"Alhamdulillah, sekarang Affan sudah sehat. Papa sayang Affan!"
Aku menimang bayi mungil yang tengah menatapku. Ia tertawa saat bibir ini menyentuh perutnya. Karena itu aku makin gemas dan menciumnya berkali-kali.
Armila pergi meninggalkanku yang maju mundur ingin bicara soal Reiga. Hati ini berperang antara membahas atau tidak.
Situasinya tak menguntungkan memang bicara hal itu. Namun, dipendam juga bikin emosi jiwa.
"Fan, Papa harus bagaimana biar mama gak kepincut dokter Reiga? Fan, kalau sudah besar rayu mama, ya biar gak ngambek lagi."
Dan, Affan tiba-tiba histeris. Loh, loh, kenapakah?
*
"Apa-apaan kamu menghapus pesan dari. Bi Cicah soal Affan!"
Aku tak lagi bisa bersikap lembut pada Resti setelah apa yang ia lakukan.. Ini sudah keterlaluan, bahkan bisa disebut kejahatan.
"Kamu ngomong apa, sih, Mas?"
"Gak usah sok polos kamu. Dengar, Resti aku menikahimu bukan berarti akan membuang Armila dan Affan. Jangan pernah sekali lagi melakukan hal seperti itu atau-!"
"Atau apa, mau menceraikanku, ceraikan saja, siapa takut. Aku masih bisa dapat yang lebih dari kamu!"
"Kamu benar-benar gak punya akhlak, ya. Bukannya minta maaf malah nantangin! Dengar Resti, aku gak keberatan sama sekali untuk menceraikan kamu. Aku pasti akan milih Armila sebab dia lebih baik seribu kali dari kamu!"
"Mas, teganya kamu ngomong gitu! Kamu pikir Armila itu suci apa. Kamu gak tahu aja aslinya dia. Buka mata kamu, lihat sedang sama siapa dia, dokter Reiga yang gantengnya luar biasa! Mereka belanja bareng, loh! Emang, sih, cuma belanja, tapi'kan kita gak tahu sebelum dan sesudahnya! Ini ada lagi nih ngapain coba malam-malam ngobrol. Ini juga, ehm ketawa-tawa kayaknya!"
Benar, yang ada di foto-foto itu Armila dan Reiga. Seketika kemarahanku pada Resti teralihkan. Berganti kobaran api cemburu pada Armila.
"Kasihan, deh kamu dikadalin sama istri sok suci itu!"
Tak kupedulikan lagi ucapan Resti. Aku Tak kupedulikan lagi ucapan Resti. Aku kembali naik mobil untuk pergi ke rumah Armila..
"Pantas kamu makin dingin padaku, rupanya kamu bermain di belakang. Dasar munafik!"
*
Ketika memasuki pekarangan rumah Armila, dadaku makin membara. aku melihat pemandangan memuakkan. Di depan pintu ada Reiga yang sedang berbincang dengan Armila.
Meski tak tahu apa yang diomongkan, terlihat sekali keakrabannya. Bahkan Armila sempat tertawa. Satu hal yang tak pernah lagi dilakukan di hadapanku, ia lakukan di depan selingkuhannya.
Panas, panas!
"Baru pulang, Mas!"
Armila menyapa dan meraih Armila menyapa dan meraih punggung tanganku untuk dicium. Ia sedang pencitraan tentang keharmonisan hubungan kami di depan orang lain. Hebat juga permainan dramanya.
"Kalau begitu aku permisi, Mil. Mas Andra saya pamit mau tugas lagi. Tadi mampir dulu ke sini untuk kirim oleh-oleh sedikit!"
Aku hanya mengatakan iya, setelah itu langsung mengajak Armila masuk.
"Dokter Reiga perhatian banget, ya sampai bela-belain datang untuk nganter oleh-oleh!" sindirku sambil berjalan menuju kamar.
Sebenarnya aku tak tahan ingin segera mencecar Armila. Gumpalan kemurkaan di dada ini rasanya telah menabrak-nabrak ingin segera dimuntahkan.
"Tolong jelaskan tentang foto-foto ini, Mil. Aksi diammu itu hentikan dulu. Kita harus bicara agar clear persoalan ini!"
Armila melebarkan mata saat melihat layar HP yang kusodorkan di dalam kamar. Lepas itu mengarahkan pandangan padaku dengan ekspresi yang tak bisa kupahami.
"Kupikir kau suci, nyatanya munafik. Kau marah aku menikah lagi dengan Resti hingga mendiamkanku. Apa tak cukup membalas sakit hati dengan cara itu. Mengapa harus menambah dengan perselingkuhan, mengapa, Mil? Jawab, jawab!"
Aku melemparkan alat kosmetik Armila kala ia tak jua bicara. Aku sakit kau anggap tak ada, tapi tak seberapa dibanding tahu bahwa kau menambatkan hati pada pria lain.
"Jangan diam saja, Armila! Jawab!"
Armila tetap diam
"Apa kamu mencintai Reiga, kamu ingin menikah dengannya kalau bercerai dariku?"
Aku mencengkram bahu Armila.
Kutatap tajam sorot mata serupa saljunya. Bibirnya perlahan terbuka, ia pun berkata, "Iya, aku mencintai Reiga, dan aku akan ingin menikah dengannya jika kau ceraikan!"