NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 — Lautan Kepahitan Terbuka!

Tiga tahun berlalu sejak malam badai salju itu.

Li Yao kini berusia tiga tahun. Ia tumbuh menjadi anak kecil yang lincah, dengan rambut hitam pekat dan mata yang selalu tampak lebih tua dari usianya. Di Lingxu Dongtian, ia dikenal sebagai “anak pungut Tetua Wu Qingfeng” — sebuah status yang tidak tinggi namun juga tidak diremehkan.

Wu Qingfeng tidak pernah mengizinkan Li Yao memanggilnya “ayah” atau “kakek”. “Panggil aku Tetua,” katanya pada suatu hari, tanpa penjelasan lebih lanjut. Li Yao tidak bertanya mengapa. Ia hanya mengangguk, lalu sejak saat itu ia memanggilnya “Tetua” seperti murid-murid lainnya.

Lagi pula, Li Yao juga tidak terlalu menginginkan hubungan yang terlalu dalam. Meskipun sedikit kecewa, tapi setidaknya hutang karma dengan Tetua Wu Qingfeng tidak lah besar.

Mereka tinggal di gubuk kecil di belakang gunung, jauh dari keramaian murid-murid lain. Setiap pagi, Wu Qingfeng mengajaknya berjalan-jalan di pegunungan, menunjukkan berbagai jenis tanaman, menjelaskan sifat-sifatnya, dan kadang-kadang bercerita tentang dunia kultivasi yang luas di luar sana.

“Kau sudah cukup umur untuk mulai belajar,” kata Wu Qingfeng suatu sore. Mereka sedang duduk di atas batu datar di tepi sungai kecil, air mengalir jernih di antara bebatuan. “Aku akan mengajarimu tentang fondasi kultivasi.”

Li Yao duduk dengan tenang, memperhatikan.

Wu Qingfeng mengambil setangkai ranting, lalu menggambar lingkaran di tanah. “Di dalam tubuh setiap makhluk hidup,” ia mulai menjelaskan, “ada sebuah pusat kehidupan. Di dunia kultivasi, kami menyebutnya Roda Kehidupan.”

Tetua Wu Qingfeng menggambar lingkaran lain di dalam lingkaran pertama.

“Roda Kehidupan adalah fondasi segalanya. Di sanalah energi vital kita bersemayam. Namun bagi kebanyakan makhluk, roda itu tertutup—terkunci oleh kotoran duniawi, oleh dosa, oleh penderitaan yang menumpuk selama hidup.”

Li Yao mengamati gambar itu dengan saksama.

“Lapisan kotoran yang menyelimuti Roda Kehidupan itu kami sebut Lautan Pahit,” lanjut Wu Qingfeng. “Lautan Pahit adalah penghalang pertama yang harus ditembus oleh setiap kultivator. Selama Lautan Pahit belum terbuka, seseorang tidak bisa memulai kultivasi sejati.”

“Bagaimana cara membukanya?” tanya Li Yao. Suaranya masih kecil, tapi nada bicaranya tenang, tidak seperti anak seusianya.

Wu Qingfeng tersenyum tipis. “Dengan tekad. Dengan konsentrasi. Dengan energi spiritual yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Seperti mengetuk pintu besi ribuan kali hingga akhirnya pintu itu retak.”

Ia menatap Li Yao dalam-dalam. “Banyak orang yang tidak pernah berhasil. Mereka mati sebagai manusia fana, tanpa pernah merasakan setetes pun air kehidupan dari dalam Roda mereka.”

“Tapi kau berhasil,” kata Li Yao pelan. Bukan pertanyaan, ini lebih seperti pernyataan.

Wu Qingfeng mengangguk. “Aku berhasil. Tapi butuh waktu bertahun-tahun. Dan hasilnya... tidak seberapa.” Ia tertawa kecil, merasa getir. “Lihatlah aku. Hanya di ranah Jembatan Ilahi. Masih jauh dari level para tetua sejati.”

Li Yao diam. Ia tidak tahu bagaimana harus menghibur Tetuanya. Jadi ia hanya duduk di sampingnya, mendengarkan gemericik air sungai.

Seminggu kemudian, Wu Qingfeng mulai mengajarkan teknik dasar meditasi kepada Li Yao.

“Duduklah bersila. Pejamkan mata. Rasakan napasmu. Rasakan aliran darahmu. Rasakan sesuatu di pusar—di bawah pusar, tepat di sana—seperti bola kecil yang hangat.”

Li Yao melakukannya persis seperti yang diajarkan.

Ia tidak kesulitan. Sejak lahir, ia sudah terbiasa merasakan aliran energi dalam tubuhnya. Mungkin karena Tubuh Kekacauan-nya. Entah bagaimana, ia tahu persis di mana Roda Kehidupannya berada—sesuatu yang biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dirasakan oleh murid baru.

Namun Li Yao tidak mengatakan itu pada Tetua Wu Qingfeng. Ia hanya duduk diam, berpura-pura belajar seperti anak biasa.

Setiap hari, Wu Qingfeng mengajarinya. Setiap hari, Li Yao mengikuti dengan tekun. Tiga bulan berlalu. Lalu enam bulan.

Tidak ada perubahan yang terlihat. Lautan Pahit Li Yao tetap terkunci rapat, tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.

“Tidak apa-apa,” kata Wu Qingfeng suatu hari. “Kau baru berusia tiga tahun. Beberapa orang butuh waktu hingga remaja untuk membuka Lautan Pahit. Tidak perlu terburu-buru.”

Li Yao hanya mengangguk. Namun di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Setiap kali ia bermeditasi, ia merasakan dinding di dalam tubuhnya—dinding yang keras, berat, seperti batu raksasa yang menghalangi pintu. Li Yao tahu itu adalah Lautan Pahitnya. Li Yao juga tahu bahwa ia bisa mendorongnya kapan saja!

Tapi ia tidak melakukannya.

Karena ia ingin tahu—seberapa kuat dorongan yang dibutuhkan? Dan apa yang akan terjadi jika ia mendorong terlalu keras?

Pada suatu malam, saat bulan purnama menyinari gubuk kecil mereka, Li Yao duduk bersila di halaman belakang. Wu Qingfeng sudah tertidur di dalam.

Ia memejamkan mata.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Kali ini, Li Yao tidak menahan.

Ia mengumpulkan seluruh kesadarannya, memfokuskannya ke titik di bawah pusar—ke Roda Kehidupan yang tersembunyi di balik Lautan Pahit. Ia tidak mendorong pelan-pelan seperti yang diajarkan Tetuanya. Ia mendorong dengan sekuat tenaga.

Buka!

Seperti palu raksasa yang menghantam dinding batu.

Getaran menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang retak—tidak keras, tidak berisik, lebih seperti suara es yang pecah di kedalaman air.

Dan kemudian—

Air kehidupan memancar.

Setetes.

Dua tetes.

Lalu seperti air terjun kecil yang keluar dari celah-celah batu.

Li Yao membuka matanya. Nafasnya sedikit terengah, tapi tubuhnya terasa hangat, ringan, berbeda dari sebelumnya.

Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Tidak ada cahaya yang keluar. Tidak ada fenomena langit. Hanya sensasi aneh di dalam tubuhnya—seolah ada sungai kecil yang mulai mengalir di tempat yang sebelumnya kering.

“Jadi ini rasanya,” bisik Li Yao.

Pagi harinya, Wu Qingfeng hampir menjatuhkan cangkir tehnya.

“Apa?!”

Li Yao duduk di hadapannya dengan tenang. “Lautan Pahitku terbuka, Tetua.”

Wu Qingfeng menatapnya dengan mata membulat. Ia mengulurkan tangan, meletakkan jari-jarinya di pergelangan tangan Li Yao. Energi spiritualnya menyelidiki.

Dia membeku.

“Ini... tidak mungkin.” Suaranya bergetar. “Kau baru berusia tiga tahun! Tiga tahun! Butuh waktu sepuluh tahun bagi murid paling berbakat di Lingxu Dongtian untuk membuka Lautan Pahitnya!”

Ia menarik tangannya, lalu meletakkannya lagi, seolah tidak percaya dengan apa yang dirasakannya.

“Kau benar-benar membukanya,” gumamnya. “Dan air kehidupanmu... tidak sedikit. Tidak seperti pemula.”

Ia menatap Li Yao dengan ekspresi rumit—antara kagum, takut, dan bingung.

“Siapa kau sebenarnya, Nak?”

Li Yao menatap balik dengan tenang. “Aku Li Yao, Tetua. Anak pungut yang kau temukan di gerbang.”

Wu Qingfeng terdiam cukup lama.

Akhirnya, ia menghela napas panjang.

“Anak ini...” Ia menggelengkan kepala. “Baik. Kalau Lautan Pahitmu sudah terbuka, maka kau resmi bisa memulai kultivasi. Tapi ingat—ini baru langkah pertama. Masih ada Ranah Mata Air Kehidupan. Masih ada Jembatan Roh, Ranah Dao Palace, dan seterusnya. Jalanmu masih sangat panjang.”

“Aku tahu, Tetua,” kata Li Yao, mengangguk patuh.

Wu Qingfeng menatapnya.

“Tiga tahun,” ulangnya lirih, seolah masih tidak percaya. “Tiga tahun...” dia yakin bahwa anak ini Li Yao, merupakan sebuah keajaiban!

Di luar, matahari mulai terbit, menyinari puncak gunung Lingxu Dongtian dengan cahaya keemasan.

Seorang anak berusia tiga tahun telah membuka Lautan Pahitnya—sebuah prestasi yang bahkan para jenius Lingxu Dongtian tidak pernah capai.

Tapi Li Yao tidak merasa bangga. Ia hanya merasa... itu sudah seharusnya terjadi.

Karena ia bukan hanya satu, masih ada empat tubuh yang tersisa. Dan Li Yao Yakin, bahwa semua tubuh juga merasakan hal sama.

Li Yao menghela nafas kecil, " Huf... jalan masih panjang."

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!