NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Teratai Di Atas Abu

Bab 21 — Turnamen Murid Luar

Berita bergema ke seluruh penjuru Sekte Gunung Awan Putih: diadakan Turnamen Murid Luar, sebuah ajang penyaringan besar yang diadakan lima tahun sekali. Para tetua memutuskan memilih sepuluh peserta terkuat untuk diangkat menjadi murid inti, masuk ke kediaman utama, dan diajari ilmu puncak sekte. Bagi semua murid luar, ini adalah kesempatan emas — satu-satunya jalan untuk keluar dari bayang-bayang dan menapaki jalan kultivasi yang sesungguhnya.

Selama beberapa hari, seluruh wilayah kediaman bawah riuh rendah. Para pemuda berlatih mati-matian, bertukar informasi, dan menebak-nebak siapa saja yang akan menjadi juara. Nama-nama besar disebut-sebut: ada Zhang Hao yang meski terluka parah namun masih diperhitungkan, ada beberapa murid berbakat yang baru masuk dua tahun lalu, dan tentu saja Gu Qing Cheng — satu-satunya perempuan yang dianggap memiliki peluang besar masuk jajaran teratas.

Namun satu nama tak pernah disebut, atau jika disebut, hanya disertai gelak tawa: Lian Hua.

Meski berita tentang satu pukulan ke Zhao Feng sudah menyebar, dan meski ia selamat dari Hutan Kabut Roh saat banyak yang terluka, pandangan mayoritas tak berubah. Bagi mereka, kejadian itu hanyalah kebetulan atau keberuntungan. Mereka menganggap Lian Hua hanya punya kekuatan fisik kasar, tak punya teknik, tak punya ilmu silat, dan tak mungkin bertahan lama dalam pertarungan sesungguhnya.

"Kau dengar? Lian Hua mendaftar juga!" seru seorang murid sambil tertawa keras di kantin umum.

"Hahaha! Benarkah? Anak sampah itu? Dia kira turnamen ini apa? Adu kekuatan angkat batu?"

"Sudah kubilang, dia ini keras kepala dan tak tahu diri. Dulu berani melawan Zhao Feng, sekarang malah bermimpi jadi murid inti. Memalukan saja!"

"Nanti lihat saja, begitu naik ke panggung, dia akan tumbang di ronde pertama. Aku jamin, dia akan jadi bahan tertawaan sepanjang masa sekte kita."

Ejekan dan cemoohan terdengar di mana-mana. Di jalan, di lapangan latihan, di tempat makan, di mana pun Lian Hua lewat, bisikan mengejarnya. Ada yang menatapnya kasihan, ada yang jijik, tapi hampir tak ada yang percaya ia punya peluang sedikit pun.

Kabar itu sampai juga ke telinga Zhao Feng yang sedang beristirahat di kamarnya. Ia tertawa puas sambil menepuk dada yang masih terbalut perban. "Bagus sekali. Semakin tinggi ia terbang, semakin keras ia jatuh. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Nanti di panggung, aku akan pastikan dia dipermalukan habis-habisan, di depan semua orang, sampai ia tak punya muka lagi tinggal di sini."

Sementara itu, di kediaman utama, ruang dewan para tetua kembali berkumpul.

"Anak itu mendaftar," ujar Tetua Utama sambil menatap nama di daftar peserta. "Apakah ini berani, atau hanya kebodohan belaka?"

Tetua Bai tersenyum tipis, matanya berkilat penuh harap. "Dia tahu apa yang dia lakukan. Aku sudah mengamatinya bertahun-tahun. Dia tak pernah melakukan hal sia-sia. Jika dia berani maju, berarti dia punya alasan kuat."

"Kita lihat saja nanti," sahut tetua lainnya. "Turnamen ini terbuka untuk semua. Biarkan saja dia maju. Di panggung pertarungan, kekuatan nyata tak bisa disembunyikan atau dibohongi. Di sana, kita akan tahu siapa dia sebenarnya."

Hari pelaksanaan pun tiba. Lapangan pertarungan utama, yang biasanya hanya dipakai murid inti, kini dipenuhi ribuan penonton. Panggung batu besar berukuran seratus langkah, dikelilingi tribun penonton bertingkat-tingkat. Di kursi kehormatan di sisi utara, duduk para tetua dan pengurus besar, menatap ke bawah dengan wajah tenang namun tajam.

Saat nama-nama peserta dipanggil maju satu per satu, sorak sorai dan tepuk tangan menggema untuk nama-nama populer. Gu Qing Cheng dipanggil, dan seruan kekaguman terdengar di mana-mana. Gadis itu berdiri tegak, jubah putihnya bersih dan rapi, wajahnya tenang namun matanya terus mencari satu sosok di antara kerumunan peserta.

Hingga akhirnya, penyiar berseru lantang:

"Peserta nomor tujuh puluh dua — Lian Hua!"

Suasana seketika berubah. Sorak sorai mati seketika, digantikan oleh riuh rendah tawa dan cemoohan yang meledak.

"Lihat! Itu dia si murid sampah!"

"Akhirnya muncul juga. Wah, berani benar dia menampakkan wajah di sini."

"Lihat bajunya! Masih jubah biru tua lusuh itu. Pedang kayu pun tak bawa. Dia mau bertarung pakai apa? Tinju saja?"

"Dasar mimpi siang bolong. Nanti kalau menangis kalah, jangan minta belas kasihan ya!"

Lian Hua melangkah maju perlahan, tenang dan tegak, seolah tak mendengar apa pun. Ia berjalan melewati barisan peserta lain yang menatapnya sinis atau menyeringai. Ia berhenti di tempat yang ditentukan, berdiri diam dengan kedua tangan di sisi tubuh, tatapannya lurus ke depan, dingin dan kosong.

Di pinggir tribun, Gu Qing Cheng menatapnya lekat-lekat, hatinya berdebar kencang. Ia tahu Lian Hua punya kekuatan tersembunyi, ia pernah melihatnya bertarung melawan Serigala Bulan Merah. Tapi ini berbeda. Di sini lawannya adalah murid-murid terbaik, yang punya teknik lengkap, ilmu tinggi, dan pengalaman bertarung. Ia khawatir, kekuatan Lian Hua belum cukup, atau ia akan menahan diri lagi dan menyembunyikan kemampuannya.

Di kursi kehormatan, Tetua Bai tersenyum makin lebar. Ia melihat ketenangan yang luar biasa di wajah pemuda itu — bukan ketenangan orang yang takut, tapi ketenangan orang yang tahu persis apa yang akan ia lakukan, dan apa yang akan ia capai.

Lian Hua berdiri diam di tengah sorakan ejekan ribuan orang. Di telinganya, suara-suara itu tak berbeda dengan angin lalu. Di matanya, hanya ada satu tujuan: naik ke puncak, menjadi murid inti, mendapatkan akses ke seluruh perpustakaan dan rahasia sekte, dan mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk menghadapi Menara Darah Hitam yang mulai bergerak.

Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap ke arah para tetua di atas, lalu menatap seluruh peserta di sekelilingnya.

Tertawalah sekarang. Hina aku sepuas hatimu hari ini. Karena nanti, saat aku mulai bergerak... kalian semua akan tahu, betapa besarnya jurang pemisah antara kalian dan aku.

Di tengah lapangan yang penuh cemoohan itu, sosok Lian Hua berdiri tegak bagai sebatang pohon muda yang kokoh, menunggu sinyal dimulainya pertarungan, diam-diam menyimpan kekuatan besar yang siap meledak, dan bersiap mengejutkan seluruh Sekte Gunung Awan Putih hingga ke akar-akarnya.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!