“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: KONTRAK KERJA YANG TIDAK ADIL
Ruang kerja Matteo malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Hanya ada suara detak jam dinding antik dan desis halus dari mesin pemanas ruangan.
Matteo duduk di balik meja mahoninya, menatap Alesha yang baru saja masuk setelah dipanggil melalui Marcello.
Di depan Matteo, tergeletak sebuah map kulit berwarna hitam dengan logo emas keluarga Al-Ricci.
"Kau merindukan mesin jahitmu, bukan?" Matteo membuka pembicaraan tanpa basa-basi.
Alesha menarik kursi di depan meja itu, duduk dengan gaya menantang.
"Aku merindukan kebebasanku, Matteo. Mesin jahit hanyalah alat untuk mencapainya."
Matteo mengangguk kecil.
Ia mendorong map hitam itu ke arah Alesha. "Aku sudah melihat sketsamu di kertas tagihanku tempo hari. Kau punya bakat yang... tidak lazim. Sayang sekali jika bakat itu hanya digunakan untuk merobek seragam pelayanku."
Alesha membuka map tersebut. Matanya membelalak melihat isinya, dokumen kepemilikan sebuah butik kecil namun strategis di Via del Corso, jantung mode kota Roma.
Dilengkapi dengan anggaran operasional, daftar pemasok kain premium, dan surat izin usaha yang sudah lengkap.
"Kau memberiku butik?" Alesha menatap Matteo dengan curiga.
"Sejak kapan patung es sepertimu menjadi dermawan?"
"Ini bukan hadiah, Alesha. Ini adalah kesepakatan bisnis," suara Matteo merendah, matanya menatap tajam ke dalam mata Alesha.
"Kau bisa mengelola butik itu. Kau bisa menggunakan semua fasilitas yang kuberikan untuk membangun namamu sendiri. Tapi ada syaratnya."
Alesha menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada.
"Aku tahu pasti ada udang di balik batu. Apa syaratnya?"
"Rahasiakan identitasmu," ucap Matteo dingin.
"Tidak ada yang boleh tahu bahwa pemilik butik itu adalah istri dari Matteo Al-Ricci. Kau akan beroperasi menggunakan nama samaran atau hanya nama depanmu. Di depan publik, kita tetaplah pasangan yang tertutup. Aku tidak ingin citra perusahaan Al-Ricci yang kaku dan konservatif terganggu oleh desain-desain 'bar-bar' milikmu sebelum kau membuktikan bahwa kau bisa menghasilkan profit."
Darah Alesha mendidih seketika.
"Jadi, kau malu memilikiku sebagai istri?"
"Ini soal strategi, bukan perasaan," balas Matteo tanpa ekspresi.
"Dunia bisnis Roma sangat kejam. Jika mereka tahu kau adalah istriku, mereka akan memujimu hanya karena takut padaku, atau menghancurkanmu hanya untuk menyerangku. Aku ingin tahu, tanpa nama Al-Ricci di belakangmu, apakah kau benar-benar seorang desainer... atau hanya seorang gadis yang beruntung?"
Alesha mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa terhina. Matteo ingin menyembunyikannya seperti sebuah rahasia kotor di ruang bawah tanah, sementara ia tetap bersinar di puncak menaranya.
Harga diri Alesha memberontak, ia ingin melempar map itu ke wajah Matteo dan berteriak bahwa ia tidak butuh sedekahnya.
Namun, otaknya yang cerdik mulai bekerja. Ia menatap butik itu, sebuah tempat di pusat kota, akses ke kain-kain terbaik dunia, dan kesempatan untuk membuktikan pada ayahnya, pada Kiara, dan pada seluruh Roma bahwa ia bukan sekadar "pengganti".
Gunakan uang si sombong ini untuk membangun kerajaanku sendiri, bisik sebuah suara di kepalanya.
Jika dia ingin aku bersembunyi, biarlah. Aku akan membangun kekuatanku di balik bayang-bayang sampai suatu hari nanti, dialah yang akan memohon untuk berdiri di sampingku.
Alesha meraih pena emas di atas meja. "Kau ingin aku menjadi rahasiamu? Baiklah. Tapi ingat ini, Matteo. Suatu hari nanti, nama butik ini akan lebih besar dari namamu. Dan saat itu terjadi, jangan harap kau bisa mengklaim kesuksesanku sebagai bagian dari 'strategi' bisnismu."
"Tunjukkan padaku hasilnya dulu, baru kau boleh sombong," sahut Matteo datar.
Alesha menandatangani dokumen itu dengan tanda tangan yang besar dan tajam, merobek serat kertasnya sedikit sebagai bentuk protes.
Ia kemudian menutup map itu dengan dentuman keras.
"Kapan aku bisa mulai?"
"Besok pagi Marcello akan mengantarmu ke sana. Tapi ingat, kau pergi sebagai Alesha, rakyat jelata yang sedang mencoba peruntungan, bukan sebagai Nyonya besar di rumah ini."
Alesha bangkit, memberikan senyum licik yang membuat Matteo sedikit mengernyit.
"Jangan khawatir. Menjadi rakyat jelata jauh lebih menyenangkan daripada menjadi patung es sepertimu. Aku akan menikmati setiap sen uangmu untuk menghancurkan kebosanan di kota ini."
Setelah Alesha keluar dengan langkah kaki yang riang, Matteo menyandarkan punggungnya ke kursi roda. Ia mengambil dokumen yang baru saja ditandatangani Alesha, menatap nama wanita itu.
Sebuah bayangan muncul dari balik tirai ruang kerja. Seorang pria berpakaian abu-abu gelap, tangan kanannya. Seorang informan bernama Marco.
"Tuan, apakah ini bijaksana?" bisik Marco.
"Butik di lokasi itu... Anda tahu siapa yang memiliki bangunan di seberangnya."
Matteo menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu kota Roma yang berkilauan.
"Aku tahu. Keluarga Lorenzo sudah lama mengincar wilayah itu. Mereka pikir mereka bisa menjebakku melalui aset properti."
"Lalu kenapa Anda menempatkan Nyonya Alesha di sana? Itu seperti menempatkan domba di kandang serigala," Marco tampak cemas.
Matteo menyentuh permukaan meja mahoninya, matanya berkilat dingin.
"Alesha bukan domba, Marco. Dia adalah badai. Lorenzo sedang menunggu celah untuk menyerang citraku. Dia akan mencari tahu siapa pemilik baru butik itu. Biarkan dia mengira dia sedang menghadapi seorang desainer amatir yang lemah."
Matteo menjeda sejenak, bayangan Alesha yang merobek kertas protokol dan menghina para sosialita kembali terlintas di benaknya.
"Lorenzo tidak tahu bahwa dia akan berhadapan dengan wanita yang berani menodongkan gunting ke leherku," gumam Matteo dengan suara rendah yang penuh intrik.
"Jika butik itu adalah medan perangnya, maka Alesha adalah senjata rahasia yang tidak akan pernah mereka duga."
Di sisi lain kota, di sebuah gedung tua yang megah namun suram, seorang pria paruh baya dengan cerutu di tangannya menatap foto butik di Via del Corso yang baru saja dibuka status sewanya.
"Pemilik baru tanpa latar belakang? Hanya seorang wanita bernama Alesha?" pria itu, Lorenzo, tertawa serak.
"Matteo mulai ceroboh. Cari tahu siapa wanita ini. Jika dia punya hubungan dengan Matteo, kita akan menjadikannya alasan untuk meruntuhkan kekaisaran Al-Ricci."
Alesha tidak tahu, bahwa saat ia menandatangani kontrak itu, ia tidak hanya menandatangani kebebasannya, tapi juga surat undangan menuju pusat pusaran konspirasi yang jauh lebih berbahaya dari yang bisa ia bayangkan.
Perang mode baru saja dimulai, dan di bawah tanah Roma, para serigala sudah mulai mengasah taring mereka.