NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Mimpi dan Keringat di Setiap Langkah

Hampir satu setengah tahun berlalu sejak Luna meninggalkan desanya dan mulai menaklukkan kerasnya hidup di kota besar itu. Wajahnya yang dulu masih terlihat sangat polos dan lugu, kini berubah jadi lebih dewasa, lebih matang, tapi kecantikan alaminya malah makin bersinar terang. Usianya sekarang sudah menginjak sembilan belas tahun. Kulitnya tetap putih bersih dan halus meski tiap hari terpapar debu dan panas matahari, matanya yang bulat bening itu kini memancarkan keteguhan hati yang luar biasa, dan senyum manisnya yang tulus itu selalu berhasil membuat siapa saja yang melihatnya ikut tersenyum juga.

Di warung Bu Yati, Luna sudah dianggap bukan lagi sekadar karyawan biasa. Bu Yati sangat sayang padanya, bahkan sering kali menganggap Luna sama persis seperti anak kandungnya sendiri. Gadis itu rajinnya bukan main, jujur, dan pekerjaannya bersih sempurna. Tiap pagi, Luna selalu orang pertama yang bangun, menyalakan kompor, menyiapkan bumbu, menyapu halaman, dan menata segala sesuatu sebelum pembeli pertama datang. Tiap malam, dia orang terakhir yang pulang, memastikan semua peralatan sudah bersih, aman, dan rapi tersimpan. Tak pernah sekalipun Luna mengeluh, meski kadang kakinya bengkak karena berdiri seharian, atau tangannya penuh kapalan dan luka kecil terkena pinggiran panci tajam.

"Luna," panggil Bu Yati suatu sore saat suasana warung sedang sepi. Wanita paruh baya itu duduk di kursi kayu tua sambil mengipas-ngipas badannya, menatap Luna yang sedang dengan telaten melap piring-piring sampai berkilau. "Kamu itu aneh deh. Kerja keras banget, irit banget hidupnya, nggak pernah lihat kamu beli baju baru atau jajan enak. Emangnya uang yang kamu kumpulin sebanyak itu mau dibawa ke mana, Nak? Kamu kan nggak punya orang tua lagi, ngapain mati-matian nabung kayak gitu?"

Luna berhenti sejenak, mengelap tangannya ke kain lap yang tergantung di pinggangnya, lalu berbalik menghadap Bu Yati dengan senyum manis khasnya. Dia berjalan mendekat, duduk di bangku pendek di samping Bu Yati. Matanya menatap jauh ke depan, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat orang lain.

"Ibu tau kan, kalau saya nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini? Dulu saya sempat punya, sempat ngerasain dipanggil Ayah sama Ibu, sempat ngerasain tidur nyenyak tanpa takut besok mau makan apa. Tapi... Tuhan ambil mereka dengan cara yang sangat kejam," jawab Luna pelan, suaranya bergetar sedikit tapi tetap tegar. Dia menunduk, memainkan ujung kain bajunya yang sudah agak tipis. "Uang ini, Bu... bukan sekadar kertas buat beli barang. Ini harga diri saya. Ini langkah awal saya buat balas dendam sama nasib, sama orang jahat yang udah bikin saya jadi yatim piatu lagi. Saya janji sama Ayah sama Ibu sebelum mereka pergi, saya bakal sukses. Saya bakal jadi orang besar, punya tempat tinggal sendiri, punya usaha sendiri, biar nanti kalau saya ketemu sama pembunuh mereka, saya punya kuasa buat minta pertanggungjawaban."

Bu Yati menghela napas panjang, lalu mengusap lembut kepala Luna dengan penuh kasih sayang. Dia tau sejarah hidup gadis malang ini, dia tau betapa berat beban yang dipikul bahu mungil itu. "Ibu ngerti, Nak. Ibu minta maaf ya kalau tadi Ibu tanya. Kamu emang hebat banget, lebih hebat dari cewek-cewek lain seumuran kamu. Kamu punya mimpi gede, punya hati baja. Yaudah, lanjutin aja. Ibu bakal bantuin semampu Ibu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan ngomong sama Ibu ya? Anggap aja Ibu ini pengganti Ibu Sumi kamu dulu."

Mata Luna langsung berkaca-kaca mendengar itu. Dia langsung memeluk pinggang Bu Yati erat-erat. "Makasih banyak ya, Bu... Ibu emang orang paling baik setelah Ayah sama Ibu saya. Kalau nanti saya sukses, saya nggak bakal lupa sama kebaikan Ibu. Saya bakal rawat Ibu kayak ibu saya sendiri."

Hari-hari pun terus berlalu. Semangat Luna makin membara. Dia bukan cuma kerja di warung aja, kalau ada waktu luang atau hari libur, dia selalu nyari kerjaan tambahan. Kadang dia bantu tetangga nyuci baju setumpuk penuh, kadang dia bersihin rumah-rumah warga yang mau ada acara, kadang dia bawa kue-kue buatan sendiri hasil sisa bahan di warung buat dijual keliling ke pasar atau ke pinggir jalan raya.

Semua hasil uang tambahan itu, sama sekali nggak dia pegang buat jajan atau beli apa-apa. Langsung masuk ke dalam kain jahitan kecil yang tersimpan rapat di balik kasur tipisnya. Tiap malam sebelum tidur, rutinitas Luna selalu sama: menghitung kembali uang simpanannya, melipatnya rapi, lalu menatap langit-langit kamar sambil berdoa. Jumlahnya sekarang udah lumayan banyak, udah tebal kain pembungkusnya. Hampir cukup, pikirnya. Sebentar lagi, sebentar lagi dia bakal wujudin mimpinya.

Salah satu kebiasaan Luna yang nggak pernah hilang adalah kalau dia lagi istirahat sore, dia pasti duduk di pinggir trotoar agak jauh dari warung, menatap ke arah jalan raya besar yang lebar dan bersih di depannya. Di sana, pemandangannya selalu sama: mobil-mobil mewah berwarna hitam mengkilap melaju kencang, beriringan menuju pusat kota, menuju gedung-gedung pencakar langit yang berkilau kena sinar matahari. Dan di antara gedung-gedung itu, ada satu gedung yang paling tinggi, paling megah, dan paling bikin orang merinding kalau mendengar namanya: Gedung Pratama Group.

Dari obrolan para pembeli warung yang kebanyakan adalah pekerja kantoran, Luna udah hafal betul siapa pemilik gedung itu. Namanya Aditya Pratama. Sosok yang diibaratkan raja di kota ini. Masih sangat muda, belum genap dua puluh sembilan tahun, wajahnya konon sangat tampan sampai bikin cewek-cewek pingsan, tapi auranya sedingin es, sifatnya sekejam serigala, dan kekuasaannya nyaris sebesar penguasa negara.

Katanya, Aditya Pratama itu nggak pernah kenal ampun. Kalau ada orang yang berani berbuat salah sedikit aja sama dia atau sama perusahaannya, nasibnya bakal hancur seketika. Bisa bangkrut, bisa masuk penjara, atau hilang ditelan bumi tanpa jejak. Uang dia nggak bakal habis buat beli apa aja, dan kuasa dia bisa mengubah aturan semau dia.

Tiap kali mendengar cerita-cerita itu, Luna selalu bergidik ngeri. "Jangan sampai aku ketemu orang kayak gitu deh," batinnya selalu. "Seram banget. Mending aku jauh-jauh aja dari dunia mereka. Dunia orang kaya itu keras banget, kejam banget. Aku cukup jalanin jalanku sendiri, nabung, buka usaha kecil-kecilan, biar aman dan tenang."

Luna sama sekali nggak nyangka, kalau takdir punya rencana lain. Dia yang berniat menjauh, malah bakal didorong paksa masuk ke dalam lingkaran dunia itu. Dan laki-laki dingin yang paling dia takuti namanya itu, bakal jadi orang yang paling berperan ngubah seluruh hidupnya.

Siang itu cuaca sangat cerah, matahari bersinar terik sekali. Warung Bu Yati sangat rame, antrean pembeli sampai memanjang ke luar pagar. Luna sibuk banget, tangannya bergerak lincah mengambilkan piring, menuang kuah, membungkus pesanan, dan menerima uang kembalian. Keringat bercucuran di dahinya, tapi senyum manisnya nggak pernah hilang sedikit pun. Dia melayani semua orang dengan ramah, sama rata, nggak membeda-bedakan siapa pun.

Tiba-tiba, ada keributan kecil di depan warung. Ada seorang ibu-ibu yang tergesa-gesa nyebrang jalan, tapi hampir saja tertabrak sepeda motor yang melaju kencang. Ibu itu kaget sampai jatuh terduduk di pinggir jalan, barang-barang bawaannya berserakan ke aspal.

Tanpa pikir panjang, Luna langsung berlari keluar. "Hati-hati, Bu!" serunya.

Dia sigap membantu ibu itu berdiri, lalu jongkok buat mengumpulkan barang-barang yang berjatuhan itu. Ada beras, telur, gula, dan bumbu-bumbuan.

"Masih ada yang pecah nggak ya, Bu? Maaf ya kalau ada yang hancur kena aspal," kata Luna cemas sambil menyodorkan barang-barang itu kembali ke tangan ibu itu.

Ibu itu sangat berterima kasih. "Makasih banyak ya, Dik! Kalau nggak ada kamu, habis deh belanjaan Ibu, bisa hancur semua. Kamu ini baik banget, cantik pula. Semoga rezekimu lancar terus ya, Nak."

Luna cuma tersenyum malu-malu, mengusap debu di lututnya yang kotor kena aspal. "Sama-sama, Bu. Syukurlah kalau aman. Hati-hati lagi ya jalannya."

Momen sederhana itu, kebaikan hati yang tulus itu, ternyata diam-diam dilihat oleh sepasang mata dari dalam sebuah mobil sedan hitam besar yang sedang berhenti di lampu merah tak jauh dari situ. Di balik kaca jendela yang gelap, ada laki-laki tampan dengan wajah dingin sedang duduk santai di kursi belakang. Dia adalah Aditya Pratama.

Dia kebetulan lewat jalan itu dalam perjalanan pulang ke rumah mewahnya. Awalnya dia biasa aja, natap jalanan dengan tatapan bosan dan kosong. Dunia di matanya cuma hitam dan putih, semua orang sama aja: ada yang mau ambil keuntungan, ada yang mau menjilat, ada yang takut, ada yang iri. Tapi pas dia lihat pemandangan cewek muda cantik berjubah baju kurung sederhana itu keluar dari warung kumuh, sigap menolong orang, tersenyum tulus, dan sama sekali nggak berharap imbalan... ada sesuatu yang berdenyut pelan di dada Aditya.

Sesuatu yang asing. Sesuatu yang sudah lama banget hilang dari pandangannya: ketulusan.

"Siapa cewek itu?" gumam Aditya pelan, suaranya berat dan rendah.

Sopirnya yang duduk di depan menoleh sedikit. "Yang mana, Tuan? Yang di pinggir jalan itu? Sepertinya cuma pembantu warung biasa, Tuan. Anak kampung kayaknya."

Aditya diam saja, matanya masih terpaku menatap Luna yang kini sudah kembali masuk ke dalam warung, sibuk lagi melayani pembeli dengan semangat yang sama. Wajah cewek itu... dia yakin belum pernah melihatnya sebelumnya. Tapi ada garis wajah, ada sorot mata yang entah kenapa membuat hatinya berdesir aneh. Mata itu bening banget, persis sama dengan mata seseorang yang hilang bertahun-tahun lalu. Seseorang yang dia cari tapi nggak pernah ketemu.

"Lanjut jalan," perintah Aditya singkat saat lampu sudah berubah hijau. Mobil mewah itu pun melaju meninggalkan lokasi itu, membelah keramaian kota.

Tapi di dalam kepala Aditya, bayangan wajah Luna masih tertinggal jelas. Dia nggak tau nama cewek itu, dia nggak tau siapa dia. Dia pikir itu cuma sekilas pandang biasa aja, dan dia bakal lupa nanti. Tapi ternyata nggak. Entah kenapa, pertemuan singkat itu terus aja terngiang di pikirannya sepanjang hari.

Sedangkan di sisi lain, Luna sama sekali nggak sadar kalau dia baru aja dilihat oleh orang paling berkuasa di kota itu. Dia sama sekali nggak tau kalau dia baru aja masuk ke dalam pandangan laki-laki yang nanti bakal ngubah hidupnya. Dia masih sibuk dengan dunianya sendiri: cucian piring, belanjaan, tabungan, dan mimpi indah buat buka usaha sendiri.

Malam itu, seperti biasa, sebelum tidur Luna menghitung ulang uangnya. Senyumnya mekar lebar banget.

"Hampir cukup... besok kalau gajian, pasti pas jumlahnya," bisiknya senang. "Besok atau lusa, aku bakal cari tempat sewa lapak. Akhirnya, mimpinya bakal kejadian juga, Ayah... Ibu... Luna berhasil ya..."

Dia menatap foto kecil kedua orang tuanya, lalu menciumnya lembut sebelum diselipkan kembali di bawah bantal. Dia tidur dengan hati yang damai dan penuh harap. Dia nggak tau, kalau besok atau lusa itu... bukan cuma bakal jadi hari dia mau buka usaha, tapi bakal jadi hari di mana dunianya jungkir balik total. Hari di mana dia bakal berhadapan langsung sama Aditya Pratama, bukan sebagai orang asing yang lewat, tapi sebagai pelaku kesalahan yang harus bertanggung jawab

.(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!