tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Tulisan Tangan Raka
Sari mulai membacakan tulisan tangan Raka yang tertulis bertahun-tahun silam itu:
----------------------------------
"Pohon yang baru tumbuh hanya butuh air dan matahari untuk hidup. Tapi saat pohon itu menjadi raksasa, besar dan tinggi, ia butuh akar yang semakin dalam dan kuat untuk menopang tubuhnya, menahan badai, dan menyerap makanan yang cukup agar daun dan buahnya tetap lebat. Begitu juga dengan usaha dan nama baik kita. Semakin besar kita, semakin luas jangkauan kita, semakin banyak orang yang bekerja bersama kita, maka semakin dalam pula kita harus menanamkan akar nilai-nilai kita. Jangan pernah berharap semua orang yang datang ke sini sudah membawa hati yang baik. Tugas kita bukan hanya membangun gedung, tapi membangun manusia. Mendidik karakter. Menanamkan keyakinan. Jika kita sibuk membangun gedung tinggi tapi lupa menanam akar di dalam hati orang-orangnya, maka kita sedang membangun menara di atas awan. Indah dilihat, tapi tidak akan bertahan lama."
Sari menutup bukunya perlahan, lalu menatap mata anaknya.
"Rian, Nak," lanjut Sari dengan tegas. "Ayahmu tidak meninggalkan warisan berupa uang atau gedung saja. Beliau meninggalkan warisan berupa cara pandang. Sekarang, tantanganmu bukan lagi melawan pesaing bisnis seperti yang dilakukan Ayahmu dulu. Tantangan terbesar sekarang ada di dalam diri perusahaan kita sendiri: kelalaian, kenyamanan, dan lupa diri. Jika kamu diam saja karena takut menyinggung orang, atau karena takut keuntungan turun sedikit, berarti kamu baru menjadi pemimpin yang mengurus aset, bukan pemimpin yang mengurus warisan."
Kata-kata ibunya menusuk tepat ke dalam hati Rian, namun bukan menusuk untuk melukai, melainkan menusuk untuk membangunkan. Rian mengangkat wajahnya, semangatnya yang sempat meredup kembali menyala berkobar. Ia sadar apa yang harus ia lakukan. Ia tidak boleh ragu. Ia tidak boleh takut. Untuk menjaga kebesaran nama Raka, ia harus berani melakukan pembenahan, meski itu sulit, meski itu menimbulkan keributan, dan meski harus mengorbankan sebagian keuntungan sesaat demi keabadian nilai di masa depan.
Pagi itu juga, Rian memanggil seluruh jajaran direksi, manajer, dan kepala divisi dari seluruh cabang, berkumpul di ruang rapat utama pusat. Ruangan itu penuh sesak, berisi ratusan orang penting yang menggerakkan roda perusahaan ini. Mereka semua datang dengan perasaan gembira dan bangga, mengira akan ada pengumuman ekspansi besar-besaran atau pembagian bonus tahunan yang melimpah.
Namun, saat Rian masuk ke ruangan itu, wajahnya tidak berseri seperti biasa. Ia tampak serius, tenang, namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan, persis seperti aura sang Ayah saat sedang mengambil keputusan penting. Di sebelahnya, berdiri Ibu Sari, menjadi saksi bisu dan peneguh ketetapan ini.
Rian berdiri di depan panggung, menatap satu per satu wajah orang-orang di hadapannya. Suasana menjadi hening total. Tidak ada bisik-bisik, tidak ada suara pena. Semua orang menahan napas.
"Teman-teman sekalian, keluarga besar PT Raka Karya Utama," mulai Rian dengan suara lantang yang terdengar jelas di seluruh penjuru ruangan. "Hari ini kita berkumpul bukan untuk merayakan keuntungan, bukan pula untuk merencanakan pembangunan gedung baru. Kita berkumpul untuk membicarakan hal yang jauh lebih penting daripada itu: masa depan perusahaan ini, dan kesucian nama baik pendiri kita, Bapak Raka."
Rian berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Saya melihat bahwa di tengah kesuksesan dan kemegahan yang kita nikmati saat ini, ada hal-hal kecil yang mulai hilang. Ada yang mulai menganggap kualitas sebagai beban, ada yang mulai menganggap kewajiban sosial sebagai pengeluaran yang sia-sia, dan ada yang mulai merasa bahwa nama besar kita adalah hak istimewa untuk bertindak semena-mena. Saya dengar ada yang berkata:
'Ah, yang penting proyek selesai, yang penting uang masuk. Biarlah sedikit kurang bagus, orang juga tidak akan tahu.'"
Rian mengeraskan suaranya, matanya menatap tajam namun penuh keprihatinan.
"Ingatlah! Orang mungkin tidak tahu perbedaan kecil kualitas bahan di balik tembok, tapi Tuhan tahu. Ayah saya tahu. Dan hati nurani kita tahu. Perusahaan ini dibangun bukan di atas kertas neraca keuangan, tapi dibangun di atas kepercayaan. Kepercayaan pemerintah, kepercayaan masyarakat, kepercayaan para pekerja, dan kepercayaan diri kita sendiri. Satu saja ada bangunan kita yang retak karena kita berhemat di tempat yang salah, satu saja ada warga yang terluka karena kita lupa bertanggung jawab, maka selama itulah nama Raka yang telah berjuang bertahun-tahun akan tercoreng selamanya."
Rian mengambil selembar kertas dari meja di depannya.
"Maka dari itu, hari ini saya tetapkan kebijakan baru. Mulai detik ini juga, kita tidak lagi hanya memiliki departemen Pengawasan Keuangan atau Pengawasan Teknis. Kita dirikan sebuah lembaga baru,bernama
Lembaga Warisan Raka.
Tugas utamanya bukan mengawasi uang, tapi mengawasi hati dan tindakan kita. Mereka akan memastikan bahwa di setiap proyek, kualitas harus melebihi standar, bukan sekadar memenuhi standar.
Mereka akan memastikan bahwa anggaran sosial dan bantuan warga tidak boleh dikurangi, justru harus ditambah seiring bertambahnya keuntungan. Dan yang paling penting: siapa pun, dari jabatan terendah hingga direktur utama, jika terbukti mengutamakan keuntungan di atas prinsip, atau bersikap sombong dan tidak jujur, tidak peduli seberapa hebat kemampuannya, seberapa besar keuntungan yang ia hasilkan... ia harus pergi dari sini. Kita tidak butuh orang pintar yang rusak karakter. Kita lebih memilih orang biasa yang memegang teguh nilai luhur kita."
Suasana hening sejenak, terkejut dengan ketegasan keputusan itu. Beberapa wajah tampak cemas, ada yang tampak lega, namun semuanya sadar: ini adalah titik balik.
"Kita tidak akan tumbuh menjadi perusahaan terbesar di dunia hanya dengan ukuran kekayaan," lanjut Rian, nada bicaranya melunak namun penuh keyakinan.
"Kita akan tumbuh menjadi yang terbesar karena kita adalah yang paling bisa dipercaya, paling bertanggung jawab, dan paling bermanfaat. Ayah saya menanam benih pohon ini dengan keringatnya. Tugas kita sekarang bukan hanya memanen buahnya, tapi menanam akarnya semakin dalam ke dalam bumi, agar badai sebesar apa pun tidak akan mampu menumbangkan kita. Ingatlah selalu: Kejujuran adalah akar, Kualitas adalah batang, dan Kebaikan adalah buahnya."
Tepuk tangan meledak, bukan tepuk tangan formal biasa, tapi tepuk tangan yang penuh kesadaran dan rasa hormat. Semangat yang tadinya mulai kendur dan berorientasi materi, kembali terpusat ke jalur yang benar. Para pemimpin di ruangan itu sadar, penerus yang mereka miliki ini bukanlah orang yang lemah atau sekadar pewaris pasif. Rian adalah pemimpin yang tegas, yang mengerti jiwa perusahaan ini lebih dalam dari siapa pun.
Siang itu, setelah rapat usai, Rian berjalan keluar gedung ditemani ibunya. Mereka berjalan menuju taman di halaman depan, mendekati patung perunggu Raka yang berdiri gagah di sana. Angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka, membawa aroma bunga-bunga yang ditanam langsung oleh tangan Raka bertahun-tahun silam.
Sari menatap patung itu, lalu menatap putranya yang kini berdiri tegak dan berwibawa. Senyum bangga mengembang di bibirnya.