NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas

Plakat kaca di depan pintu ruangan baru itu kini telah diganti, menampilkan nama barunya yang lebih bersih: Andra Bayu – Account Executive. Namun, ketenangan di dalam ruangan privat itu buyar seketika setelah pesan ancaman dari Gunawan masuk ke telepon genggam jadul milik Andra.

Andra berdiri dari kursi kerjanya, berjalan mondar-mandir di dalam ruangan yang mendadak terasa sempit akibat tekanan mental yang datang bertubi-tubi. Ia menatap layar HP monokromnya sekali lagi. Ancaman Gunawan bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Pria itu memiliki saham besar di Apex Media dan jaringan kekuasaan yang bisa dengan mudah mendepak orang kecil seperti dirinya dari ibu kota, bahkan mungkin bisa mencelakai keluarganya di desa.

Andra menarik napas panjang, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. Sebagai anak desa yang dididik untuk selalu tegar menghadapi badai, ia menolak untuk terlihat gentar. Ia memasukkan kembali HP jadulnya ke dalam saku celana, lalu mengambil map tebal proyek kosmetik yang tadi dibawa oleh Citra. Jika ia ingin bertahan di sini dan melindungi Nadia, ia harus membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pajangan, melainkan pria yang memiliki kapabilitas nyata.

Baru saja Andra hendak membuka lembar pertama analisis pasar, pintu ruangannya kembali diketuk. Kali ini, pintu langsung terbuka tanpa menunggu izinnya.

Nadia melangkah masuk dengan gerakan yang sangat anggun namun sigap. Ia segera menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu menurunkan tirai gulung yang membatasi pandangan dari koridor luar, membuat ruangan itu menjadi sangat privat dan terisolasi dari dunia luar kantor.

Nadia menatap Andra dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan. "Andra, kamu baik-baik saja? Tadi Citra bilang dia sudah menyerahkan berkas proyek SCBD kepadamu. Apa ada kendala?"

Andra menatap bos wanitanya—wanita yang beberapa malam lalu menyerahkan seluruh kerapuhannya dalam pelukannya. Rasa iba dan keinginan untuk melindungi kembali mendominasi hati Andra. Ia memilih untuk menyembunyikan pesan ancaman dari Gunawan agar tidak menambah beban pikiran Nadia yang sudah cukup berat.

"Semua aman, Mbak Nadia. Saya sedang mempelajari draf kontraknya. Hanya saja..." Andra menjeda kalimatnya, menunjukkan memo kuning tulisan tangan Diana yang tadi ia remas di atas meja. "Ibu Diana dari pihak kosmetik mengirimkan memo ini lewat berkas tadi. Beliau meminta saya menghubungi nomor pribadinya siang ini untuk membahas kelanjutan kontrak."

Nadia melangkah mendekati meja kerja Andra, menyambar memo kuning tersebut dengan gerakan cepat. Begitu membaca tulisan tangan bertinta emas milik Diana, rahang Nadia tampak mengencang. Kilatan kecemburuan dan rasa tidak rela kembali membakar sepasang mata indahnya.

Nadia melempar memo itu ke dalam tempat sampah di bawah meja Andra dengan gusar. "Diana benar-benar bergerak cepat. Dia tahu bagaimana memanfaatkan celah bisnis untuk mendekatimu, Andra."

Nadia berjalan memutari meja, berdiri sangat dekat di samping kursi Andra. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di bahu tegap Andra, meremasnya lembut dengan sentuhan yang sangat intim dan posesif. "Kamu adalah perwakilan resmi Apex Media untuk proyek ini, Andra. Jalankan tugasmu secara profesional. Jika harus bertemu dengannya, lakukan di tempat umum dan hanya bahas tentang pasal kontrak. Jangan biarkan dia membawamu masuk ke dalam lingkaran pribadinya."

Andra mendongak, menatap wajah cantik Nadia yang berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Aroma melati yang menguar dari tubuh Nadia kembali mengaburkan fokusnya. "Nggih, Mbak. Fokus saya hanya untuk pekerjaan dan memastikan posisi divisi kita aman."

Nadia tersenyum manis, merasa puas dengan kepatuhan Andra. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit lebih rendah, mendaratkan sebuah kecupan hangat yang singkat namun sarat akan gairah di pipi sawo matang Andra. "Bagus. Saya mempromosikanmu ke ruangan ini agar kita bisa memiliki waktu berdua tanpa dicurigai staf lain. Jangan mengecewakan saya, Andra."

Nadia kemudian menegakkan tubuhnya kembali, merapikan blazernya, dan berjalan keluar ruangan setelah membuka kembali tirai gulung, meninggalkan Andra yang kembali mengembus napas berat.

Tepat pukul satu siang, sesuai dengan kewajiban profesionalnya, Andra akhirnya mengambil telepon kabel di mejanya. Ia menekan deretan nomor kantor perusahaan kosmetik di SCBD, bermaksud menghubungi ekstensi divisi hukum untuk berbicara dengan Diana secara resmi, bukan lewat nomor pribadi yang pernah ditawarkan.

Panggilan tersambung pada nada ketiga.

"Selamat siang, Divisi Hukum dengan Diana di sini," suara jernih, tegas, dan penuh wibawa milik Diana terdengar di seberang telepon.

"Selamat siang, Ibu Diana. Saya Andra Bayu dari Apex Media. Saya menghubungi Ibu untuk mengonfirmasi draf kontrak final yang sudah kami terima dari tim kreatif," ucap Andra dengan nada suara yang diatur sangat formal.

Di seberang sana, terdengar kekehan kecil yang sangat renyah dari Diana. "Andra Bayu... suara yang sangat saya tunggu-tunggu sejak pagi ini. Saya tahu kamu pasti akan menelepon lewat jalur kantor karena Nadia pasti mengawasimu dengan ketat. Tapi draf kontrak itu tidak bisa diselesaikan hanya lewat telepon, Andra. Sore ini pukul empat, datanglah ke kafe di lobi menara SCBD. Kita butuh pertemuan tatap muka untuk menandatangani dokumen revisi ini secara sah. Dan tenang saja, ini murni urusan bisnis... untuk saat ini."

Diana langsung memutus panggilan telepon secara sepihak, tidak memberikan ruang bagi Andra untuk menolak. Andra perlahan meletakkan kembali gagang teleponnya. Pertemuan sore nanti di SCBD di bawah pengawasan mata tajam Diana, di tengah teror rahasia dari Gunawan, dan kecemburuan posesif dari Nadia, akan menjadi ujian pertama yang sangat berat bagi Andra di posisi barunya sebagai seorang Account Executive.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!