Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Tempat Lama
Sore itu, langit di atas kafe pinggir kota itu tampak mendung, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti hati mereka yang akan bertemu. Kafe kecil itu masih sama persis seperti dulu—bangunan kayu dengan jendela besar yang menghadap ke taman, aroma kopi yang hangat, dan suasana tenang yang dulu sering menjadi saksi bisu tawa dan janji manis Heesung serta Sooah. Namun hari ini, tempat itu tidak lagi berisi cinta yang indah, melainkan pertarungan untuk kebenaran dan masa depan.
Heesung tiba lebih dulu. Ia mengenakan pakaian sederhana, berusaha tidak menarik perhatian, namun aura bintangnya tetap sulit disembunyikan. Ia duduk di meja sudut, tempat favorit mereka dulu, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan gelisah. Di dalam saku jaketnya, ada ponsel yang tersambung diam-diam dengan Hyeri, yang kini menunggu di dalam mobil yang terparkir agak jauh, siap mendengarkan setiap kata yang terucap dan merekam segalanya sebagai bukti.
Pintu kafe terbuka, dan Jung Sooah masuk.
Ia mengenakan gaun berwarna putih bersih, sama seperti saat mereka terakhir berpisah bertahun-tahun lalu. Ia sengaja berpakaian begitu, berusaha mengingatkan Heesung pada kenangan masa lalu, berusaha membangkitkan kembali perasaan yang dulu ada di sana. Wajahnya cantik dan tenang, namun matanya berkilat penuh percaya diri—yakin sepenuhnya bahwa hari ini ia akan memenangkan segalanya.
Sooah berjalan mendekat dengan langkah anggun, lalu duduk di hadapan Heesung dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kau akhirnya datang," ucap Sooah lembut, suaranya bernada manja seolah mereka masih sepasang kekasih. "Aku tahu kau akan memilih jalan yang benar pada akhirnya. Kau tidak mungkin membiarkan kariermu hancur hanya demi wanita asing itu."
Heesung menatap wanita itu lekat-lekat, berusaha mencari jejak sosok Sooah yang dulu ia cintai di balik wajah yang sama itu. Namun ia tak menemukannya. Yang ada di hadapannya sekarang hanyalah wanita yang buta oleh obsesi dan keinginan untuk memiliki.
"Aku datang bukan untuk kembali padamu, Sooah," jawab Heesung dingin dan tegas, tanpa basa-basi. "Aku datang karena aku ingin tahu apa sebenarnya yang kau punya, dan aku ingin kau menghentikan semua ini. Sekarang juga."
Senyum Sooah memudar perlahan. Ia bersandar di kursi, menatap Heesung dengan pandangan yang berubah—dari lembut menjadi tajam dan penuh tantangan.
"Masih keras kepala, ya?" gumam Sooah sambil menggeleng pelan. Ia lalu mengeluarkan sebuah berkas tebal dari tas tangannya, meletakkannya di atas meja dan mendorongnya ke arah Heesung. "Baiklah. Kalau kau belum percaya, lihatlah ini. Ini adalah salinan lengkap perjanjian pernikahan kontrakmu dengan Hyeri. Isinya sangat rinci: berapa banyak uang yang kau bayarkan padanya, berapa lama perjanjian ini berlangsung, aturan-aturan pura-pura bahagia… semuanya ada di sini."
Heesung mengambil berkas itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya, dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Isinya benar-benar dokumen asli, lengkap dengan tanda tangan mereka—atau setidaknya salinan yang sangat mirip hingga sulit dibedakan.
"Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Heesung, suaranya rendah dan bergetar karena marah. "Kau menyusupkan orang ke agensiku, ya? Kau memata-matakanku, mencuri dokumen rahasia. Itu tindakan kriminal, Sooah. Kau sadar tidak apa yang kau lakukan ini melanggar hukum?"
Sooah tertawa kecil, tertawa yang terdengar menyeramkan dan bebas rasa bersalah. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap lurus ke mata Heesung.
"Aku tidak peduli dengan hukum, Heesung. Aku hanya peduli padamu. Dan aku rela melakukan apa saja demi mendapatkanmu kembali. Kau lihat? Seluruh dunia akan tahu kebenaran dalam waktu 48 jam lagi, kecuali kau menuruti kemauanku."
Sooah berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lembut namun penuh tekanan.
"Kau harus mengumumkan perpisahan dengan Hyeri. Katakan pada publik bahwa hubungan kalian tidak berhasil. Tinggalkan wanita itu, dan kembali padaku. Kita akan pergi ke luar negeri, memulai hidup baru, persis seperti yang dulu pernah kita impikan. Kariermu di sini mungkin akan sedikit rusak, tapi aku punya kekayaan dan koneksi untuk membangunkanmu kembali di tempat lain. Kau tidak butuh mereka. Kau hanya butuh aku."
Di dalam mobil, Hyeri mendengar semuanya dengan napas tertahan. Tangannya mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa marah dan sedih bercampur aduk. Wanita ini benar-benar menganggap Heesung sebagai barang miliknya, dan menganggap dirinya—Hyeri—hanya sekadar pengganggu yang bisa disingkirkan sesuka hati.
Di dalam kafe, Heesung menutup berkas itu dan mendorongnya kembali ke tengah meja. Ia menatap Sooah dengan pandangan yang sangat dingin, pandangan yang belum pernah diberikan pada siapa pun sebelumnya.
"Kau salah besar, Sooah," ucap Heesung pelan namun tegas, kata-katanya menusuk tajam. "Kau bilang kau melakukan ini karena mencintaiku? Kau salah. Kau tidak mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu sendiri dan keinginanmu untuk memilikiku. Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tidak akan menghancurkan kariermu, reputasiku, dan hidupku hanya demi keinginanmu sendiri. Jika kau mencintaiku, kau akan bahagia melihatku berhasil dan bahagia, meski bukan bersamamu."
Heesung berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih mantap.
"Dan kau juga salah soal satu hal lagi. Kau bilang Hyeri hanya wanita asing yang dibayar? Kau tidak tahu apa-apa. Dia ada di sisiku saat aku paling sulit, saat aku bingung, saat aku hampir hancur karena bayang-bayang masa lalu seperti dirimu. Dia tidak pernah menuntut apa pun, dia selalu sabar, dan dia… dia yang membuatku mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta yang menuntut dan mengancam, tapi cinta yang mendukung dan memberi kebebasan."
Mata Sooah membelalak kaget. Ia tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu dari mulut Heesung. Selama ini ia yakin Heesung hanya terjebak dan belum sadar, tapi kenyataan yang ia dengar sekarang merobek semua keyakinannya.
"Kau… kau berbohong!" seru Sooah, suaranya mulai meninggi dan tidak stabil. "Kau hanya takut! Kau hanya takut kehilangan semuanya! Begitu aku menyebarkan dokumen ini, kau akan lihat… kau akan lihat siapa yang akan tetap bersamamu saat kau sudah tidak punya apa-apa lagi! Hyeri pasti akan lari meninggalkanmu begitu namamu rusak!"
"Itu kesalahan terbesarmu, Sooah," jawab suara lain dari dekat pintu kafe.
Keduanya menoleh serentak. Hyeri berdiri di sana, mengenakan mantel panjang dan wajahnya tenang namun penuh wibawa. Ia berjalan masuk perlahan, melangkah mendekati meja mereka, lalu berhenti tepat di samping kursi Heesung.
"Kau pikir aku ada di sini hanya demi uang atau nama baik?" tanya Hyeri menatap lurus ke arah Sooah, tanpa gentar sedikit pun. "Kau pikir aku akan pergi saat Heesung jatuh? Kau salah. Justru saat itulah aku akan tetap ada di sisinya. Karena bagiku, dia bukan sekadar idola, bukan sekadar suami kontrak… dia adalah pria yang aku cintai, apa pun kondisinya."
Sooah mundur terkejut, matanya berkilat marah dan benci melihat kehadiran wanita itu. "Kau… kau berani datang ke sini?! Kau pencuri! Kau mencuri tempatku!"
"Aku tidak mencuri apa pun," potong Hyeri tegas. "Tempatku ada di sini, di samping Heesung, karena dia yang memberikannya padaku. Dan kau… kau hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah dia tinggalkan jauh-jauh. Kau datang membawa ancaman dan kebohongan, berpikir kau bisa memenangkan dia dengan cara kotor? Kau salah besar."
Heesung berdiri, meraih tangan Hyeri dan menggenggamnya erat di hadapan Sooah. Genggaman itu jelas, kuat, dan penuh kepemilikan.
"Dengar baik-baik, Sooah," ucap Heesung dengan nada terakhir dan penutup. "Dokumen yang kau punya itu memang salinan perjanjian lama. Tapi kau lupa satu hal penting: perjanjian itu sudah diubah dan diperbarui dua bulan lalu. Isinya tidak lagi sama. Dan yang lebih penting… perasaan dan janji yang ada di antara aku dan Hyeri sekarang jauh lebih kuat daripada sekadar kertas apa pun yang kau pegang."
Heesung menunjuk berkas di meja itu.
"Silakan saja sebarkan itu. Kami sudah siap. Publik akan tahu kebenarannya, dan kami akan menjelaskan semuanya. Biarkan dunia menilai. Tapi ketahuilah satu hal: apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah kembali padamu. Cinta kita sudah berakhir sejak lama, saat kau memilih untuk pergi. Dan sekarang, aku sudah menemukan kebahagiaanku. Bersama dia."
Wajah Sooah berubah pucat pasi, lalu perlahan memerah karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. Segala rencananya, segala persiapannya, semua ancamannya… semuanya runtuh seketika di hadapan persatuan yang kokoh itu. Ia sadar, ia tidak lagi punya kekuasaan apa pun atas Heesung. Ia kalah. Kalah telak bukan karena strategi yang buruk, tapi karena Heesung sudah tidak lagi mencintainya.
"Kau… kau akan menyesal!" desis Sooah dengan suara gemetar, air mata kemarahan mulai jatuh di pipinya. Ia menyambar berkas itu kembali ke pelukannya, lalu berdiri dengan langkah tak seimbang. "Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia… aku akan lakukan apa saja… apa saja…"
Sooah berbalik dan berlari keluar dari kafe itu, menghilang di balik pintu dengan langkah tergesa-gesa, meninggalkan Heesung dan Hyeri yang masih berdiri berpegangan tangan.
Keheningan kembali menyelimuti kafe itu, namun kali ini keheningan yang lega. Heesung menghela napas panjang, seolah beban bertahun-tahun baru saja diangkat dari bahunya. Ia menoleh ke arah Hyeri, menatap wanita itu dengan pandangan yang penuh rasa syukur dan cinta yang tak lagi disembunyikan.
"Kau berani sekali masuk ke sini," ucap Heesung pelan, tersenyum lembut. "Kau tahu, kau sangat cantik dan hebat saat sedang berani melawan orang lain demi aku."
Hyeri tersenyum balik, matanya berbinar bahagia meski masih ada sisa ketegangan. Ia meremas tangan Heesung. "Aku bilang kan? Kita hadapi bersama. Aku tidak akan membiarkan dia merendahkanmu atau hubungan kita."
Heesung mengangguk, lalu menarik tangan Hyeri hingga wanita itu berdiri lebih dekat padanya. Di tempat yang dulu penuh kenangan masa lalu ini, Heesung membuat kenangan baru yang jauh lebih indah dan nyata.
"Dia belum menyerah sepenuhnya," ucap Heesung pelan, matanya menatap pintu kepergian Sooah. "Dia masih marah, masih sakit hati. Dia mungkin akan mencoba hal lain, hal yang lebih nekat."
"Biarkan dia mencoba," jawab Hyeri tenang dan mantap. "Selama kita berdua berdiri sama kuat dan sama teguh, dia tidak akan pernah bisa memisahkan kita."
Heesung menatap Hyeri lekat-lekat, lalu perlahan mengangkat tangan bebasnya, menyentuh pipi wanita itu dengan lembut.
"Kau benar. Mulai hari ini, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi peran pura-pura. Mulai hari ini, aku ingin kita bersama bukan karena kewajiban, tapi karena kita saling menginginkan. Hyeri… maukah kau tetap di sisiku, selamanya?"
Jantung Hyeri berdebar kencang, bahagia yang luar biasa memenuhi seluruh dadanya. Ia mengangguk cepat, air mata bahagia mulai mengalir.
"Mau, Heesung. Aku mau."
Namun, di luar sana, di dalam mobilnya yang terparkir agak jauh, Jung Sooah melihat semuanya dari kaca jendela yang gelap. Ia melihat Heesung dan Hyeri saling menatap penuh cinta, melihat genggaman tangan yang tak terpisahkan itu. Rasa benci dan dendam yang gelap perlahan memenuhi seluruh hatinya.
"Kau pikir ini selesai, Heesung? Kau pikir kau bisa bahagia bersamanya? Tidak. Jika aku tidak bisa memilikimu… maka tidak ada yang boleh memilikimu."
Di tangannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang disewanya, seseorang yang memiliki kemampuan untuk merusak segalanya lebih parah dari sekadar dokumen kertas.
Perang mungkin baru saja berubah bentuk, dan ancaman yang sesungguhnya mungkin baru saja dimulai.